
"Kau udah beresin ruang rapat kan jul?" tanya Riski.
"Udah, udah beres semua, barusan tante Berli keluar buat beli beberapa perlengkapan buat ruang rapat. Kayak proyektor, komputer, dan lain-lain." jawab Julian.
"Duit siapa cok?" tanya Bima.
"Kas guild lah, uang kita melimpah ruah bro!" jawab Riski memainkan alisnya.
"Istrimu bakalan sibuk sih ris." ucap Bima.
"Gak papa, dia malah seneng banget bisa bantu perkembangan guild. Dia pernah cerita kalau kerja sama kau itu salah satu impiannya sejak lama." jawab Riski.
"Bintang bro! kau dengar gak jul! aku punya fans cok!" ucap Bima sangat bangga.
"Lain kali jangan cerita gitu lagi, aku muak dengar kesombongannya!" ucap Julian pada Riski.
"Aku menyesal." ucap Riski datar.
Mereka terus berbincang-bincang sampai akhirnya ketiganya di panggil oleh Berliana. Mereka bertiga pergi mengikuti Berliana setelah mematikan TV di gazebo.
"Kalian setting ya, sesuaikan dengan kebutuhan." ucap Berliana saat Bima, Riski, dan Julian masuk ke ruang rapat yang sangat luas dengan meja besar di tengah.
"Oke mah." jawab Bima.
"Mamah mau istirahat dulu, panas banget cuaca hari ini." ucap Berliana berlalu pergi.
"Mau gimana cok?" tanya Riski pada Bima yang terlihat sedang berpikir keras.
"Taruh atas aja proyektor nya, nanti Screen nya taruh di sini biar gampang di lihat." jawab Bima menunjuk tengah-tengah tembok yang satu arah dengan meja besar.
"Oke." ucap Riski mulai bekerja dengan di bantu Julian dan Jhon.
Sedangkan Bima sibuk merakit komputer tempat Lidia bekerja. Setelah semua beres, mereka pun beristirahat di ruang TV sambil minum es sirup buatan Diana.
"Istrimu belum pulang, nyasar dia?" tanya Julian.
"Macet paling, apa sekalian makan siang juga sama Adel." jawab Bima santai.
"Masuk akal." ucap Julian.
Tak lama, Kevin dan yang lainnya pun datang dengan beberapa luka di tubuh mereka.
"Jam 6 kita rapat ya, jangan lupa." ucap Bima.
"Okee..." jawab mereka lanjut berjalan ke kamarnya masing-masing.
"Aku mau mandi dulu lah! dah sore." ucap Bima.
Bima pun pergi ke kamarnya untuk mandi, selesai mandi Bima kembali ke ruang TV untuk lanjut menonton TV. Bima menonton berita yang menayangkan portal kelas Dewa yang akan mereka tangani besok.
"Sebuah portal kelas Dewa berwarna merah muncul di pusat kota tepat di depan Asosiasi. Portal liar yang dengan cepat langsung di amankan oleh pihak Asosiasi pusat. Kabarnya guild Legendaris kita yaitu The Devil's Crew adalah guild yang akan menangani portal ini dengan di bantu beberapa guild senior lain yang tanggal berdirinya sama dengan guild legendaris ini." Bima mendengarkan berita dengan serius.
"Ayah!" panggil Adel sedikit berteriak karena berkali-kali dia memanggil Bima namun tidak ada respon.
"Hahh! iya!" jawab Bima kaget.
"Hahaha...cium tangan ayah." ucap Adel tertawa geli sambil mencium tangan Bima.
"Serius banget sih buy." ucap Jennifer tersenyum sambil mencium tangan Bima.
"Hehehe...sudah sudah, sana mandi dulu." ucap Bima.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan Bima menuju kamarnya. Sedangkan Bima masih tetap menonton TV sambil mengalirkan energi Dewa ke lengan kirinya supaya lebih cepat sembuh.
__ADS_1
[Kenapa kau baru melakukannya bodoh!]
'Aku lupa bodoh.' jawab Bima.
[Cih! bilang saja terpaksa!]
'Diamlah!! ucap Bima kesal.
Setelah rasa nyerinya hilang total, Bima pun bernafas lega sembari menggerakkan lengan kirinya yang terasa sangat kaku.
"Udah sembuh?" tanya Rizal.
"Udah, kaku banget anjink lah!" jawab Bima kesal.
"Iyalah! patah tulang! gimana gak kaku anjink!" ucap Rizal.
"Jam berapa cok sekarang?" tanya Bima.
"Masih jam 5." jawab Rizal.
"Kau gak makan makan dulu?" tanya Bima.
"Gak, tadi udah ngemil dikit waktu istirahat di Asosiasi." jawab Rizal.
"Ambil misi tingkat apa tadi?" tanya Bima.
"Cuma kelas SS, itu aja di paksain. Kau lihat sendiri kan tadi pada luka luka." jawab Rizal.
"Wajarlah, pemula harus ada punya rasa penasaran ke tingkat selanjutnya." ucap Bima.
"Bener, eh iya, kau besok ke pusat kota kan? ada job." tanya Rizal.
"Iya, mau sekalian lemesin tangan juga aku." jawab Bima.
"Rencananya sih aku bawa full tim, biar anak anak baru bisa ngerasain medan pertempuran tingkat tinggi." jawab Bima.
"Boleh tuh, itung itung latihan mental." ucap Rizal setuju.
"Makanya itu." jawab Bima.
Saat sedang asik ngobrol, Riski pun datang dengan membawa secangkir kopi dan duduk di sebelah Rizal.
"Gimana Riana? lancar?" tanya Riski menepuk kepala Rizal.
"Lancar tai apa! dia selingkuh anjink!" jawab Rizal kesal.
"Malangnya nasibmu zal ck..ck..ck...." ucap Riski menggelengkan kepalanya.
"Kevin gimana?" tanya Bima penasaran.
"Pisah sama tante Abigail setahun setelah perang besar waktu itu. Mereka udah tunangan, tapi entah kenapa malah pisah." jawab Rizal.
"Sekarang kalian gimana? jomblo?" tanya Riski.
"Iya, udah beberapa kali nyari, tapi gak ada yang cocok." jawab Rizal.
"Sayang sekali, padahal aku sama Julian dan punya anak. Coba kalau anak Julian yang besar cowok, bisa kita adu cok!" ucap Riski.
"Seru ya kalau di adu gitu! anjink!" ucap Bima malah membayangkan perseteruan anak mereka berdua.
"Iyakan! sayang sekali! takdir berkata lain!" ucap Riski.
"Pembahasan apa sih ini sialan!" teriak Rizal kesal.
__ADS_1
"Kau di tim combo sama siapa cok?" tanya Riski penasaran.
"Sama anaknya om Doni, dia job Archer Mage." jawab Rizal.
"Kalau si Ria sama Bella?" tanya Riski.
"Mereka berdua Mage Suport, jadi bisa nyerang plus ngeheal." jawab Rizal.
"Wih! mantep juga tuh kalau udah mateng sempurna." ucap Riski.
Tak lama Doni bersama yang lainnya pun keluar dari kamar dan langsung masuk ke ruang rapat sesuai petunjuk Bima.
"Udah semua?" tanya Bima pada Rizal.
"Udah, tinggal kita." jawab Rizal.
"Ya udah ayok." ajak Bima beranjak pergi.
Mereka pun pergi ke ruang TV dengan Riski yang membawa kopinya yang masih setengah. Di ruang rapat, Lidia sudah menyiapkan semuanya dengan di bantu oleh Berliana di mejanya.
"Kertas tadi mana ya?" tanya Bima lupa.
"Di aku kak, tadi jatuh di halaman belakang." jawab Lidia.
"Mana? coba aku lihat lagi." ucap Bima menghampiri Lidia.
Bima mengecek keseluruhan data guild di dalam kertas tersebut, dari kondisi keuangan, dana masuk, dana keluar, dan yang lainnya.
"Aku perlu banyak informasi untuk besok, kamu sudah di beri informasi lebih lanjut dari Asosiasi?" tanya Bima.
"Sudah kak, sore tadi baru di kirim." jawab Lidia.
"Nanti kamu jelaskan ya, aku mau bahas tentang dua hari terakhir." ucap Bima yang di angguki Lidia.
"Oke, ini adalah rapat serius pertama kita, ada beberapa hal yang mau aku sampaikan." ucap Bima.
Semua orang menatap Bima dengan serius.
"Pertama, dari rekaman drone yang aku lihat gerakan kalian masih amburadul. Ria, Bella, sama Kelly masih banyak melakukan gerakan tidak penting yang menguras Mana. Rizal masih sering miss target, Doni banyak diemnya padahal kau itu Guardian, Kevin sama Tigers bingung mau kemana." ucap Bima menengok ke arah layar yang mempertontonkan cuplikan pertarungan tim Junior dua hari terakhir.
"Nah, lihat, gak ada rasa waspada di diri kalian masing-masing. Reflek pun gak ada, insting kalian sebagai hunter itu benar-benar nol besar. Kalau kayak gini, di pertempuran yang sebenernya kalian bakalan jadi sasaran empuk musuh dan mati konyol." ucap Bima.
"Itu evaluasi dari aku untuk pertarungan kalian, yang kedua, jubah guild sudah jadi. Tadi siang di antar sama pemilik pabriknya langsung kesini. Nanti biar Lidia atau Mamah yang bagiin sesuai ukuran kalian." ucap Bima lagi.
"Ketiga, besok pagi tim Senior dapat panggilan job untuk mengatasi portal liar kelas Dewa. Aku mau bawa guild full tim, biar kalian bisa rasain gimana mencekamnya lawan ratusan ribu monster raksasa tingkat tinggi. Tenang saja, kalian cukup menonton, yang kerja biar kita." lanjut Bima.
"3 poin penting di rapat malam ini, selanjutnya bisa aku lihat informasi lanjutan tentang portal itu." ucap Bima menengok ke arah Lidia.
"Baik kak." jawab Lidia langsung menunjukkan berbagai informasi tambahan mengenai portal liar besok.
Bima membaca dengan teliti, ciri ciri, warna, dan aura yang tertulis secara lengkap di sana.
"Gimana kak? kau tau kan portal apa ini?" tanya Bima menengok ke arah Henry.
"Gate Of End tingkat pertama, kemungkinan besar akan lawan Tiamat." jawab Henry.
"Benar sekali! tapi aku masih belum terlalu yakin kalau itu benar-benar Gate Of End. Kita lihat saja besok, pokoknya kita berangkat pukul 09.00 full tim." ucap Bima.
Mereka mengangguk paham.
"Itu saja yang ingin aku bicarakan, silahkan ambil jubah kalian." ucap Bima menyudahi rapat malam itu.
Bersambung...
__ADS_1