
Setelah cukup beristirahat, Bima pun memasuki portal hitam itu dengan persiapan yang sudah matang. Dalam sekejap mata, Bima muncul di sebuah rawa rawa yang sudah di tunggu oleh ratusan monster kelas Dewa Neraka.
Bima tersenyum tipis lalu melesat menyerang para monster dengan semangat. Tidak ada kesulitan dalam membunuh para monster di sana, namun saat sedang fokus bertarung, Bima sekilas melihat sosok wanita yang terkapar penuh luka parah di bawah sebuah pohon.
Bima dengan cepat menyelesaikan pertarungan lalu menghampiri tubuh wanita yang sudah compang-camping dan memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang sangat mulus.
"Sial!" gumam Bima menggelengkan kepala lalu melakukan pengobatan pada tubuh wanita tersebut.
30 menit Bima mengobati wanita itu, setelah selesai Bima pun beristirahat di samping tubuh wanita yang sudah Bima tutupi dengan selimut tebal.
Bima menghidupkan api unggun, membakar ayam yang sudah dia stok dari lama, lalu memasak air untuk membuat kopi. Sembari menunggu, Bima pun menyulut rokoknya dan duduk dengan santainya.
'Sayang sekali ya, coba ** nya gede dikit.' batin Bima.
"Woyy! mulutmu Kong! busuk!" seru Bima kesal.
'Apa bos!! sialan!!' teriak Kong kesal karena tiba tiba di tuduh.
[Parah Kong!]
'Dua makhluk sialan ini benar-benar membuatku kesal setiap hari!' ucap Kong kesal.
10 menit kemudian wanita itu pun terbangun dari pingsannya, wajahnya terlihat panik bercampur kebingungan. Dia melihat pakaiannya yang sudah compang-camping malah tambah panik, dan saat menengok ke samping, amarahnya benar-benar memuncak.
"Brengsek! kau pria brengsek!" teriak wanita itu menunjuk Bima yang sedang asik makan ayam bakar.
Bima menengok sebentar lalu lanjut makan ayam bakar buatannya yang sangat nikmat.
"Kau tega melakukan ini! kau tega melakukan ini pada wanita yang sedang berjuang menafkahi anak semata wayangnya! kau pria brengsek!" ucap wanita itu mulai menangis.
"Mana nafsu aku sama cewek berdada kecil." ucap Bima cuek.
Wanita itu langsung kaget dan menutupi dadanya yang sedikit terekspos.
"Nah, makan, tidak usah banyak drama." ucap Bima melempar seekor ayam bakar yang masih hangat.
"Cuih! lebih baik aku pulang dari pada menikmati makanan pria brengsek seperti mu!" ucap wanita itu mencoba berdiri namun tidak bisa karena luka parah di kakinya.
"Lukamu belum pulih, istirahat lah sebentar." ucap Bima cuek.
Wanita itu mendengus kesal dan memakan ayam bakar pemberian Bima.
[Selanjutnya mau kemana bos?]
'Lanjut ke Kerajaan Flowering, ada beberapa masalah di sana.' jawab Bima santai.
[Baiklah]
'Ada stok rokok bob?' tanya Bima.
[Ada bos, pilih saja di menu Shop]
'Baiklah.' jawab Bima membeli beberapa rokok, obat merah dan perban.
Bima beranjak dari duduknya menghampiri wanita yang sedang asik makan itu.
"Kau mau apa sialan!" teriak wanita itu ketakutan.
"Diamlah, aku cuma mau mengobati kakimu." ucap Bima cuek.
"Aku bisa sendiri!" ucap wanita itu ketus.
__ADS_1
"Kau makan saja bodoh! aku masih sabar! jangan pancing emosiku!" ucap Bima kesal.
Wanita itu pun terdiam dan memperhatikan Bima yang sedang mengobati luka di kakinya.
"Awww! s-sakit..." rintih pelan wanita itu.
"Payah." ucap Bima.
"Aku ini wanita! jangan kau samakan dengan pria seperti mu!" ucap wanita itu kesal.
Bima tidak lagi menanggapi ucapan wanita di hadapannya, dia fokus membalut luka di kaki wanita itu dengan perban. Setelah selesai, Bima pun segera membereskan barang barangnya.
"Kau mau kemana?!" tanya wanita itu ketus.
"Pulang lah, mau apa lagi." jawab Bima.
"Aku?" tanya wanita itu.
"Katanya bisa pulang sendiri!" jawab Bima ketus.
"Kau benar-benar pria sialan! sudah menikmati tubuhku! tidak mau tanggungjawab! dasar brengsek! pria bajingan!" teriak wanita itu.
"Ck! merepotkan!" ucap Bima kesal.
Akhirnya karena tidak mau berdebat, Bima pun terpaksa menggendong wanita itu keluar portal. Bima mengantarkan wanita itu ke rumahnya sesuai arah yang dia tunjukkan.
"Stop! stop dulu!" seru wanita itu di tengah perjalanan.
"Apa lagi?!" tanya Bima kesal.
"Aku mau ganti baju dulu bodoh!" jawab wanita itu memukul pundak Bima dengan kesal.
Bima menunggu di bawah pohon sembari melihat lihat menu Shop kalau ada barang bagus di sana. 5 menit kemudian wanita tadi memanggil Bima karena sudah selesai berganti pakaian.
Bima pun kembali menggendong wanita itu menuju rumahnya menyusuri hutan belantara yang mengarah ke ibukota Kerajaan Mazzarri.
3 jam berjalan, akhirnya mereka sampai di rumah kediaman wanita itu di pagi hari. Kepulangan wanita itu pun di sambut haru oleh orang tua dan anak laki-laki nya yang masih berusia 5 tahun.
"Ibu kenapa? ibu terluka?" tanya sang anak dengan khawatir.
"Ibu tidak apa apa nak." jawab wanita itu tersenyum lembut.
"Ibu dengan siapa? apa itu ayah baru?" tanya sang anak menoleh ke arah Bima yang duduk di bawah pohon depan rumah.
"Huss! jangan asal bicara!" jawab wanita itu marah.
"Itu siapa nak?" tanya sang ibu.
"Dia yang menyelamatkan aku bu." jawab wanita itu berubah menjadi marah saat menengok ke arah Bima.
Bima yang merasa tidak punya waktu banyak pun memutuskan untuk berpamitan pada mereka.
"Paman, Bibi, saya pamit ya, masih banyak urusan, maaf tidak bisa tinggal lebih lama lagi." ucap Bima.
"Terimakasih tuan, terimakasih banyak telah mengantar putri saya." ucap sang ibu.
"Terimakasih ya paman! ibuku bisa pulang dengan selamat walaupun ada luka di kakinya." ucap anak wanita itu.
"Sama sama, saya pamit ya, permisi." ucap Bima lalu melesat dengan kecepatan penuh.
"Wowww!" ucap sang anak dengan wajah takjub.
__ADS_1
"Sudah sudah, ayo masuk, ibumu harus istirahat." ucap sang ibu.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan mengobati wanita itu lebih lanjut. Sedangkan Bima, dia saat ini sudah berada di Kerajaan Flowering.
Bima saat ini sedang berbincang-bincang dengan raja di Kerajaan itu, Bima mendengarkan berbagai masalah yang ada di Kerajaan Flowering.
Masalah itu antara lain adalah banyaknya preman yang memalak para pedangan kaki lima dan jika tidak mendapatkan imbalannya mereka akan langsung membunuh pedagang tersebut.
Ada lagi masalah tentang sekte aliran hitam yang mulai berani menunjukkan jati dirinya di Khayangan yang suci ini. Dan satu lagi masalah yang paling membuat Bima naik pitam, yaitu masalah mengenai Ben yang di jadikan sumber kekuatan di sebuah Sekte aliran Putih.
"Tuan, saya perkenankan anda untuk membantai mereka semua, saya tidak mau kalau masyarakat resah dan tidak tega melihat salah satu Roh Spiritual tuan di manfaatkan dengan keji." ucap raja bernama Eddy.
"Anda tetap selesaikan masalah masalah lainnya sendiri, saya sendiri yang akan menyelesaikan tiga masalah inti di Kerajaan ini." ucap Bima.
"Terimakasih banyak tuan, saya sangat bersyukur memiliki penguasa seperti anda." ucap Eddy tersenyum bahagia.
"Sama sama, kalau begitu saya pergi dulu." ucap Bima langsung menghilang begitu saja setelah berpamitan.
Karena perutnya yang belum terisi dari pagi sampai siang, Bima pun memutuskan untuk singgah di sebuah restoran untuk mengisi perutnya sekaligus beristirahat.
Bima memesan beberapa menu lalu menunggu sembari merokok santai. Tak berselang lama, makanan dan minuman yang Bima pesan pun datang, Bima yang sudah kelaparan pun langsung menyantapnya dengan lahap.
Namun di tengah makan siangnya, tiba tiba segerombolan pria bertato dan membawa pedang besar masuk ke dalam restoran sembari berteriak.
'Siapa mereka?' tanya Bima heran.
[Mereka preman yang di katakan tuan Eddy bos, ini hanya sebagian kecil saja. Yang lainnya sedang ada di markas besar mereka di bibir hutan kabut]
'Tunjukkan lokasinya bob.' ucap Bima.
Di depan Bima terpampang map yang sudah terdapat tiga titik merah dimana lokasi itu adalah lokasi yang menjadi 3 masalah inti di Kerajaan Flowering.
'Terimakasih.' ucap Bima.
[Sama sama bos]
Bima pun lanjut makan tanpa memperdulikan kegaduhan yang sedang terjadi.
"Semua keluar dan tinggalkan barang berharga kalian!" teriak salah satu preman.
Seketika seluruh pelanggan resto berlari keluar dengan meninggalkan perhiasan, uang serta barang berharga mereka. Namun tidak dengan Bima yang tetap asik menikmati makanannya.
Hal ini membuat para preman sangat marah dan menghampiri meja Bima untuk membunuhnya.
"Hey! sampah! kau mau mati ya?!" teriak salah satu preman mengacungkan pedangnya di depan Bima.
Bima menengok dengan wajah datar, dia menekan pucuk pedang besar itu.
Krackk..
Pyarrrr....
Dalam sekali tekan, pedang besar itu pun hancur berkeping-keping membuat seluruh preman kaget bukan main.
"Mati? kalian?" tanya Bima membentuk pedang dari Gudodama dan membantai semua preman itu dengan brutal.
Tebasan, tusukan, dan cincangan Bima layangkan pada mereka. Hanya dalam waktu 10 menit, seluruh preman yang berjumlah 20 orang itu tewas mengenaskan.
Bima tersenyum tipis lalu berjalan keluar restoran dan melesat pergi ke lokasi sesuai map yang sistem berikan.
Bersambung....
__ADS_1