
Selesai sarapan Bima dan Silvia pergi ke ruang TV untuk menonton TV bersama. Bima tiduran di paha Silvia sambil mengelus tangan lembut istrinya itu.
Silvia juga membelai dengan lembut pipi suami yang sudah sangat lama dia idam idamkan itu.
[Latihan libur dulu bos! aku mau upgrade level dungeon dulu]
'Baiklah bob.' jawab Bima hanya nurut.
"Tidur ya?" tanya Julian dengan suara pelan.
Silvia menganggukkan kepala.
"Kayaknya beneran pusing, nih, nanti habis makan siang suruh minum." bisik Julian.
"Makasih ya." ucap Silvia berbisik.
Julian mengacungkan jempolnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang terlihat sangat mesra.
"Istirahat ya bi." gumam Silvia tersenyum manis sambil mengelus pipi Bima.
Silvia menatap dalam dalam tato di punggung tangannya, dulu dia selalu berdoa untuk di jodohkan dengan pemilik nama di tatonya. Ternyata kini do'a nya terkabul, dia bisa kembali ke pelukan pria idamannya, sosok pria cuek namun kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini.
"Terimakasih ya Tuhan." gumam Silvia tersenyum haru.
Bima ngulet, dia berubah posisi dengan wajah bersembunyi di perut Silvia.
"Bi, minum obat dulu kalau pusing." ucap Silvia dengan suara lembut.
Bima hanya menggelengkan kepala dan lanjut tidur dengan aroma harum sebagai penenang pikiran.
'Ngapain ya enaknya?' batin Bima.
'Buat anakk!' teriak Kong.
'Yaaaa! kami butuh baby bosss!' teriak Zhong.
'Kami butuh penerus!' teriak Grock mengangkat papan bertuliskan 'Hidup Baby Boss!'.
'Aku masih lemas bodoh! diamlah!' ucap Bima kesal.
'Cepat buat anak bossss!' teriak Kong.
'Diam bodoh!' ucap Bima semakin kesal.
'Cepatt bosss!' teriak Kong lagi.
Bima yang sangat kesal pun bangun dari tidurnya, wajah nya menunjukkan rasa kesal.
"Kenapa bi?" tanya Silvia mengecup pipi Bima lembut.
Dari rasa kesal yang teramat besar, Bima tiba tiba merasakan rasa senang di hatinya. Bima memeluk Silvia dengan manjanya.
"Kenapa sih? manja banget." tanya Silvia tersenyum manis.
"Emang gak boleh?" tanya Bima balik.
"Bolehh banget kok, sini sini." jawab Silvia memanjakan Bima dengan penuh kasih sayang.
'Wangiiii!' batin Bima sangat senang menghirup aroma tubuh Silvia.
[Besok kau berani latihan lagi bos?]
'Beranilah, buat apa takut takut!' jawab Bima.
[Baiklah! besok kita mulai latihan serius bos! aku ada beberapa skill baru untukmu yang berguna di masa depan!]
"Yang..." panggil Bima.
__ADS_1
"Kenapa?" jawab Silvia yang sedang fokus menonton drakor.
"Besok aku mau latihan ya." ucap Bima.
"Kalau kamu ngerasa udah siap ya tinggal latihan bi, gak usah minta ijin. Yang wajib minta ijin buat kemana-mana itu aku sebagai seorang istri yang baik dan benar." jawab Silvia.
Bima yang merasa di hormati langsung menciumi wajah Silvia berkali-kali.
"Tapi, nanti malam ya." bisik Silvia mencubit hidung Bima pelan.
"Buat kamu apa sih ya enggak sayangnya aku!" ucap Bima mencium pipi Silvia.
Mereka berdua saling bermesraan di ruang TV sambil menonton drakor. Bima sebenarnya tidak terlalu suka drama-drama seperti ini, tapi demi berduaan dengan istrinya dia rela melakukan apapun itu.
"Udah ah bi, aku mau masak dulu. Kamu mau di masakin apa?" tanya Silvia.
"Terserah kamu, masakan kamu enak semua kok." jawab Bima.
"Awas ya kalau protes!" ucap Silvia lalu pergi ke dapur.
Setelah kepergian Silvia, Bima duduk diam di ruang TV sendirian. Dia bingung mau melakukan apa.
"Terus aku ngapain?" gumam Bima tolah toleh.
Saat kebingungan ingin melakukan apa, Julian datang dengan menggendong anaknya yang baru beberapa hari itu.
"Dah minum obat kau?" tanya Julian.
"Belum makan blok! nanti habis makan baru aku minum." jawab Bima.
"Riski kemana?" tanya Julian.
"Gak tau, dari tadi aku gak liat." jawab Bima.
Baru saja menanyakan Riski, orang itu langsung datang dengan membawa secangkir kopi.
"Main PS sama Arie di belakang." jawab Riski santai.
"Arie?" tanya Julian.
"Telponan di belakang." jawab Riski.
"Siapa namanya jul?" tanya Bima.
"Arya Brandon, ambil marga keluargaku." jawab Julian.
"Coba aja kau gak ikut kemarin, bisa nemenin istrimu lahiran jul." ucap Bima.
"Gak papa, yang penting dua duanya selamat." jawab Julian.
Mereka bertiga berbincang-bincang sampai di panggil untuk makan siang. Julian pergi ke kamarnya untuk mengembalikan anaknya pada ibunya dan pergi ke ruang makan.
"Lidia, kamu gak ada kerjaan kan?" tanya Bima.
"Enggak sih kak, palingan cuma masukin beberapa data tim Junior hari ini doang." jawab Lidia.
"Kamu print SOP evakuasi warga terus bagiin ke Ria, Kelly, Bella, sama Jason. Besok aku mau fokus ke sana soalnya." ucap Bima.
"Oke kak." jawab Lidia.
"Mereka belum ada basic evakuasi ya?" tanya Bram.
"Belum om, basic mereka cuma sebagai petarung doang." jawab Bima.
"Wajib di kasih pembelajaran soal evakuasi sih, itu hal paling penting soalnya." ucap Bram.
Bima menganggukkan kepala tanda setuju. Mereka makan siang dengan lahap, selesai makan Bima langsung pergi ke gazebo untuk bersantai sekaligus merokok.
__ADS_1
[Di Inventaris aku sudah kirim beberapa berkas tentang evakuasi bos. Kau bisa baca untuk materi latihan besok]
'Terimakasih.' ucap Bima langsung mengeluarkan berkas-berkas yang sudah sistem siapkan.
Bima membaca dengan teliti, dia mencerna semua yang ada di kertas kertas itu. Bima juga memikirkan tentang materi lain untuk latihan besok.
'Fisik, stamina, dan insting itu yang paling penting untuk sekarang.' batin Bima.
'Untuk sementara waktu latih hal hal penting dulu bos. Soal kekuatan itu mereka bisa berkembang sendiri dengan cara mereka. Tugasmu hanya memberi mereka jalan selebar mungkin.' ucap Drago.
'Kau dari mana? tumben belakangan ini tidak keluar.' tanya Kong kaget saat melihat Drago keluar.
'Aku sedang bertapa.' jawab Drago.
'Pantas ukuranmu semakin besar ya.' ucap Kong mengangguk paham.
"Tiga poin penting itu yang jadi perhatianku." gumam Bima mangguk mangguk.
'Jangan lupa tentang kakakmu, janji harus di tepati.' ucap Leo.
"Aku sudah ingat, tenang saja, ada waktunya." jawab Bima santai.
'Kalau jadi guru itu harus memahami karakteristik murid, tidak sembarangan kita memberikan ilmu mahal.' ucap Ben.
Bima hanya tersenyum tipis dan lanjut membaca kertas kertas yang tadi sistem berikan. Bima terus membaca sambil merokok sampai Silvia datang membawa dua cangkir berisi kopi dan teh hangat.
"Kamu dah minum obat bi?" tanya Silvia duduk di sebelah Bima.
"Belum, lupa aku." jawab Bima.
"Minum dulu, aku ambilin air putih sebentar." ucap Silvia bergegas pergi.
Tak lama Silvia datang membawa segelas air putih hangat dan obat pemberian Julian tadi. Bima meminum obat itu sekali tegukan, setelah itu dia lanjut membaca.
"Baca apa bi?" tanya Silvia penasaran.
"SOP evakuasi buat materi latihan besok." jawab Bima.
Silvia mengangguk paham, dia duduk bersender di pundak Bima sambil menonton TV yang menayangkan berita tentang pameran Hunter besok Minggu. Asosiasi tidak memungut biaya, semua orang bisa menonton secara GRATIS di stadion besok minggu.
Semua kalangan, dari muda sampai tua, miskin sampai kaya, yang kuat sampai yang lemah, semua di perbolehkan tanpa syarat apapun. Pameran juga di tayangkan melalui layar lebar di luar stadion dan melalui televisi, hal ini karena banyak bintang tamu penting yang akan memeriahkan pameran Hunter ini.
"Aku boleh ikut gak bi besok?" tanya Silvia.
"Kemana?" tanya Bima heran.
"Nonton pameran bi." jawab Silvia.
"Bolehlah, ngapain aku larang, besok bareng mamah aja. Dia dapet ruangan VVIP kok. Yang lain juga ikutan, Indah aja ikut." ucap Bima.
"Yeyyy!" seru Silvia senang.
Bima tersenyum tipis dan lanjut membaca sambil meminum kopi buatan Silvia yang terasa lebih nikmat.
"Via, mau ikut ke mall enggak?" tanya Berliana dari teras belakang.
Silvia menengok ke arah Bima dengan tatapan penuh harap. Bima menganggukkan kepala tanda mengijinkan, Silvia langsung meminum habis teh nya lalu pergi setelah mencium pipi Bima.
Bima menggeleng pelan, lalu lanjut membaca dengan di temani Pom dan Piu yang asik bermain di halaman yang luas itu. Malamnya, selesai makan malam, Bima langsung pergi ke kamar untuk istirahat.
Sesuai janjinya dengan Silvia, Bima dan Silvia pun melakukan pergulatan panas di malam yang indah itu. Tidak terhitung ronde yang mereka jalani, keduanya hanya memikirkan bagaimana memuaskan nafsu satu sama lainnya.
"Aku sayang bibi." bisik Silvia memeluk Bima sangat erat.
"Aku sangat menyayangimu, jangan tinggalkan aku." bisik Bima membalas pelukan Silvia lebih erat.
Silvia tersenyum bahagia, hatinya sangat berbunga-bunga, dia tertidur dengan mimpi indah. Mimpi memiliki anak kembar dari Bima dan hidup bahagia di Khayangan bersama keluarga besar lainnya.
__ADS_1
Bersambung....