
Bima tertidur sangat pulas dari pukul 11.00 sampai pagi hari berikutnya. Jennifer sudah mencoba membangunkan Bima berkali-kali namun Bima tetap tidur pulas sambil memeluk guling.
Keesokan harinya, pukul 04.00 Bima terbangun dari tidurnya dengan kondisi linglung.
"Jam berapa ini?" gumam Bima sambil menguap.
[Jam 4 pagi bos]
"Hoammmm....masih jam segini." ucap Bima kembali rebahan dan memeluk Jennifer.
Bima kembali tidur sampai pukul 07.00, bangun tidur, Bima langsung pergi mandi supaya rasa malasnya hilang. Selesai mandi, Bima berjalan keluar kamar untuk mencari Jennifer yang sudah entah kemana.
"Makan dulu nak." ucap Diana saat melihat Bima baru turun dari tangga.
"Jen kemana bun?" tanya Bima.
"Loh, daftarin Adel kan." jawab Diana.
"Katanya besok." ucap Bima aneh.
"Ya bunda gak tau, tadi perginya sama mamah kamu kok." jawab Diana.
"Ohh ya udah, Bima mau makan dulu." ucap Bima berlalu pergi ke ruang makan.
Bima sarapan dengan lahap sambil memikirkan topeng baru yang akan dia pakai.
'Aku ada topeng baru tuan, kau mau? ini spesial.' ucap Drago.
'Mana? aku mau lihat.' jawab Bima.
Woshhh....
Sebuah topeng Hannya berwarna merah, memiliki dua tanduk namun di salah satu sisi patah setengah, memiliki delapan taring, dan sebuah lubang untuk God Of Eyes di dahi.
"Boleh boleh nih." gumam Bima mencoba memakainya.
Woshhhhhh.....
Aura penguasa yang luar biasa dahsyatnya langsung menyebar ke seluruh sudut rumah sampai menggetarkan bangunan basecamp. Bahkan God Of Eyes dengan otomatis aktif dan semua gerakan wajah Bima di peragakan dengan sangat sempurna oleh topeng tersebut.
"Bimaaa!" teriak Henry dengan wajah sangat tertekan bersama Albert dan Julian di belakangnya.
Bima yang tersadar langsung menarik kembali auranya sehingga membuat mereka bisa bernafas lega.
"Keren gak?" tanya Bima berpose.
Pletak...
"Bodoh!" ucap Henry menjitak Bima dengan sangat kesal.
"Aduhhhhh...." ucap Bima melepas topengnya dan mengusap kepalanya.
"Sialan! aku kira ada apa!" teriak Julian kesal.
"Aku cuma coba topeng bodoh!" ucap Bima membela diri.
"Kamu ini masih berani membela diri ya!" ucap Henry mengunci leher Bima sambil menjitak Bima berkali-kali.
"Tidakkkk! ampunnn! aku salah kak!" teriak Bima meronta ronta.
"Cepat makan! katanya mau ke Asosiasi!" ucap Henry kesal.
"Iyaaaa!" jawab Bima ketus sambil mengusap kepalanya.
Mereka pun pergi meninggalkan Bima yang sedang makan dengan perasaan lega.
"Berbahaya sekali topeng ini!" gumam Bima.
'Tanya dulu sebelum coba bodoh!' ucap Drago kesal.
"Hehehehe...." Bima hanya nyengir sambil menyendok makanan.
__ADS_1
Selesai sarapan, Bima kembali ke kamar untuk ganti pakaian dan memakai jubah guild yang lama. Selesai ganti baju, Bima pergi ke bawah untuk menemui Albert dan Henry.
"Kau belum punya jubah ya?" tanya Bima baru ingat.
"Belumlah, aku saja masuk guildmu yang baru ini sehari yang lalu!" jawab Albert ketus.
"Pakai punyaku dulu aja, punya Riski juga masih utuh kok." ucap Julian menyodorkan jubah lamanya.
"Hooh, nah." jawab Riski menyodorkan jubah lamanya.
"Aku pinjam dulu ya." ucap Henry menerima jubah Julian.
"Ambil saja, kita juga mau ganti jubah kok." jawab Julian.
"Baiklah, terimakasih." ucap Henry tersenyum senang.
"Santai." jawab Julian mengibaskan tangannya.
"Ayok." ajak Bima.
Mereka bertiga pun berangkat ke Asosiasi menggunakan mobil yang di kendarai Albert sebagai anak paling kecil.
"Pak tua itu masih hidup gak ya?" tanya Bima.
"Siapa?" tanya Albert balik.
"Billy." jawab Bima membuka jendela mobil lalu menyulut rokoknya.
"Entahlah, sudah 50 tahun kita hilang kak." ucap Albert.
"Tapikan Hunter memiliki umur yang 3x lipat lebih lama dari manusia biasa." ucap Bima.
"Mungkin masih hidup kak, tapi sudah sepuh." ucap Albert.
"Masuk akal." ucap Bima menganggukkan kepala.
"Kalian membicarakan apa sih?" tanya Henry yang selalu setia mendengarkan kedua adiknya ketika ngobrol.
"Cih!" dengus Henry kesal.
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di Asosiasi Hunter yang ramainya bukan main. Keramaian yang 2x lipat dari 50 tahun yang lalu, tidak hanya ramai hunter biasa seperti dulu, kini para hunter rata rata memiliki kekuatan di kelas Raja dan paling rendah ada di kelas SSS.
Bima memakai topeng lamanya dan berjalan menuju gedung utama yang juga sudah berkembang menjadi sangat besar dan jauh lebih luar dari dulu. Sepanjang perjalanan tadi pun Bima benar-benar di buat kagum dengan perkembangan zaman.
"Sialan! kenapa harus pakai topeng sih!" ucap Henry kesal.
"Ini ciri khas guild bodoh! kau ikut saja! mau aku latih mode bankai tidak?!" ucap Bima ketus.
"Ih! ngancem nya begitu!" ucap Henry kesal.
"Nurut saja kenapa sih!" ucap Albert kesal.
Henry pun hanya bisa pasrah, dia mengikuti kedua adiknya walaupun sangat tidak nyaman memakai topeng kaku itu. Mereka bertiga berjalan penuh kewibawaan dengan aura sangat kuat sehingga menjadi pusat perhatian.
Apalagi jubah legendaris dan topeng mereka yang sudah sangat terkenal. Dua atribut tersebut semakin membuat semua hunter penasaran dengan identitas mereka.
Saat mereka bertiga masuk gedung utama, suasana yang tadinya ramai menjadi hening karena aura mengerikan mereka bertiga yang sangat mendominasi.
Bima berjalan ke meja resepsionis yang di jaga oleh seorang wanita bernama Rindi Radinia.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Rindi menekan dalam-dalam rasa takutnya.
"Kita mau apa sih?" tanya Bima yang seketika lupa akan tujuannya karena kekagumannya atas perkembangan zaman.
"Aktifkan kembali guild." jawab Albert sambil menepuk jidatnya.
"Ohh ya! aku mau aktifkan kembali guildku yang dulu, maaf maaf, aku pelupa." ucap Bima sambil menyerahkan berkas-berkas yang sudah di persiapkan oleh sistem.
Rindi mengecek berkas-berkas tersebut dengan sangat teliti karena guild yang akan kembali di aktifkan adalah guild legendaris.
"Mohon maaf tuan, bisa saya lihat kartu member tuan Bima? utamakan yang asli." ucap Rindi.
"Nah." ucap Bima memberikan kartu member yang masih utuh namun sudah sedikit luntur karena di makan usia.
__ADS_1
Rindi mengeceknya dengan sangat teliti. Saat melihat tahun pembuatan kartu member tersebut, dia melotot, wajahnya menunjukkan rasa kaget yang benar-benar kaget.
"I-ini asli milik anda?" tanya Rindi sangat gugup sampai tangannya bergetar.
"Tentu saja, buat apa aku memalsukan kartu member." jawab Bima santai.
Rindi hanya menganggukkan kepala dengan cepat lalu memproses semua berkas-berkas milik Bima masih dengan tangan yang tremor.
"Mohon maaf tuan, untuk mengaktifkan guild The Devil's Crew kami harus meminta izin pada kepala Asosiasi Nasional dan Kepala Asosiasi Internasional. Mungkin memerlukan waktu dua hari atau tiga hari." ucap Rindi.
"Oh, cepat ya, aku kira satu bulan lebih, baiklah, aku tunggu ya." ucap Bima agak kaget.
"Kami akan hubungi kembali setelah kepala Asosiasi Nasional maupun Internasional sudah menyetujui berkas-berkas ini." ucap Rindi.
"Baiklah, terimakasih ya." ucap Bima lalu pergi.
Ketiganya pun pergi dari Asosiasi, hanya 30 menit mereka di sana, padahal perkiraan Bima dan Albert bisa lebih dari 3 jam.
"Di luar perkiraan! aku kira tiga jam lebih!" ucap Bima masih kaget.
"Tidak ada antrian juga kak, aneh sekali!" ucap Albert.
"Memang biasanya bagaimana?" tanya Henry aneh dengan kedua adiknya itu.
"Biasanya harus antri sampai berjam-jam, belum lagi kalau harus nunggu acc berkas-berkas nya bisa sampai 3 bulan." jawab Bima.
"Lama juga ya." ucap Henry kaget.
"Makanya itu!" ucap Bima.
Sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol tentang perkembangan kota yang sudah sangat maju dan terlihat juga berbagai beast spiritual yang beterbangan dengan di kendalikan sang tuan.
Sesampainya di basecamp, Julian dan Riski yang sedang asik nongkrong di teras depan di buat bingung dengan kedatangan mereka.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Riski.
"Gak usah balik cok! kalau ada yang ketinggalan kan tinggal telpon, nanti aku anterin." ucap Julian.
"Udah selesai anjink!" jawab Bima yang membuat keduanya kaget.
"Lah! cepet banget!" ucap Riski kaget.
"Gak tau cok! gak ada antrian juga anjink! aneh banget!" ucap Bima.
"Kita terlalu kuno cok! ketinggalan jaman!" ucap Julian.
"Di luar nalarrr!" ucap Riski.
Saat sedang saling bercerita, datanglah sebuah mobil asing berwarna hitam. Seketika perbincangan asik barusan langsung berhenti dan mereka saling tatap seperti bertanya satu sama lain.
Keluarlah seorang wanita yang sangat cantik dan sexy dengan aura yang lumayan kuat serta di ikuti oleh dua bodyguard di belakangnya.
"Kalian siapa? berani beraninya menempati rumahku." tanya wanita yang bernama Angel Stanford itu.
'Lah! katanya ini masih miliku bob! gimana sih kau?!' teriak Bima kesal.
[Ini memang masih milikmu bos, surat suratnya juga masih terdaftar secara resmi di pemerintahan setempat]
"Ini rumahku, kau yang siapa." ucap Bima sinis.
"Semua rumah di Jakarta Timur milik keluarga Stanford! otomatis Mansion ini adalah milikku! kenapa? karena aku adalah putri pewaris tahta kepala keluarga Stanford! aku beri waktu satu minggu! kalau tidak pergi, jangan salahkan aku kalau para hunter membunuh kalian semua!" ucap Angel lalu kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.
"Apalah dia itu! kentot juga lama lama!" ucap Albert kesal.
"Woi! kasar! di ajari siapa kau sialan!" ucap Bima menjitak Albert.
"Ampun kakkkk!" teriak Albert sambil berlari kabur.
"Aku mau ganti bajulah, gerah banget cok jubahnya! anjink!" ucap Bima sambil berjalan meninggalkan mereka.
Henry ikut masuk ke dalam rumah meninggalkan Julian dan Riski yang masih asik nongkrong di teras.
Bersambung....
__ADS_1