King Of Universe

King Of Universe
Arc 2 Bab 137


__ADS_3

Bima melesat dengan Perfect Susano'o yang berukuran sangat besar dan menyamai ukuran Naga itu.


"Hydra! kapan kau bangkit sialan!" teriak Bima langsung melesat membantu Silvia.


[Sialan, kapan dia bangkit ya? padahal dulu sudah aku musnahkan]


Pertarungan dahsyat pun pecah, duet antara Bima dan Silvia yang mengendalikan Titan penguasa Api membuat Hydra sangat kewalahan.


Hari yang seharusnya bahagia kini berubah menjadi mencekam dan penuh dengan tangis pilu karena kehilangan orang-orang terdekat.


"Lawanmu aku Ashura!" teriak seekor monster bertubuh manusia, berkepala gurita, dan memiliki sayap elang melesat menyerang Bima.


Bima dengan sigap langsung melompat mundur menarik Silvia yang sangat fokus menyerang Hydra.


"Kamu sanggup lawan Hydra?" tanya Bima dengan nafas terengah-engah.


"Serahkan padaku!" jawab Silvia tegas.


"Baiklah!" ucap Bima melesat menyerang monster aneh itu.


Silvia pun sama, dia ikut melesat menyerang Hydra dengan kekuatan penuh. Pertarungan yang sangat sengit antara Silvia melawan Hydra yang terus meregenerasi sel tubuhnya yang terluka.


Di sisi lain, Riski dan kawan-kawan sibuk menahan para monster supaya memudahkan para hunter mengevakuasi korban luka dan korban tewas.


"Lakukan sesuatu! perlihatkan pada Bima kalau kalian pantas!" teriak Julian saat menyadari Ria, Kelly, Bella dan Jason terdiam mematung dengan wajah kebingungan dan ketakutan.


Mendengar teriakan Julian, mereka langsung tersadar dan ikut membantu menahan para monster yang datang dari segala penjuru.


"Sialan! makin banyak!" teriak Kevin kesal.


"Pace!" teriak Riski melompat setinggi mungkin.


Arie paham, dia ikut melompat ke sebelah Riski. Keduanya melakukan kombinasi dadakan dari skill baru Riski yang tadi dia pamerkan.


Woshhhh....


Groahhhhhh....


Auuuuu....


Kyakkkk....


Ketiga hewan itu melesat dengan memakai zirah perang dari elemen Cahaya Arie. Keduanya melompat mundur untuk mengendalikan ketiga hewan itu.


Tidak mau kalah, Julian mengeluarkan Roh Spiritual nya sebagai partner bertarung. Begitupun Albert dan Henry, keduanya memakai Susano'o wujud asli dan melesat mengobrak-abrik kumpulan monster yang terus mencoba mendobrak pertahanan para pilar negara dan guild guild besar.


"Berpencar! 4 arah mata angin!" teriak Julian.


Tim Senior langsung bergegas pergi dengan terus membunuh para monster sepanjang perjalanan menuju lokasinya masing-masing.


Julian tetap di tempat untuk terus mengawasi tim Junior yang masih kurang kompak dalam pertarungan. Sedangkan di sisi lain, Bima sedang bertarung secara hebat dengan monster aneh yang tiba tiba muncul menantangnya.


Kini bukan lagi perfect Susano'o, tetapi Ashura Susano'o yang Bima gunakan. Bima tidak hanya fokus pada pertarungannya, tetapi dia juga memperhatikan Silvia yang sangat terpojok.


"Bajingannnn!" teriak Bima membuka 1000% kekuatannya dan menyerang monster aneh di depannya dengan sangat brutal.


"Kong!!!" teriak Bima.


Groahhhhhhh.....


Kong keluar dengan mode Combat nya, dia mengaum keras yang membuat seluruh orang di stadion menengok.


"Bantu yang lain! cepattt!" teriak Bima.


Woshhhhh....


Kong melesat dengan amarah yang sangat membara, dia mengobrak-abrik semua monster yang jumlahnya tidak terhitung.


Bima yang sudah muak dengan semua ini langsung membunuh monster aneh itu dengan sekali kombo. Setelah itu dia membantu Silvia yang sangat kewalahan.

__ADS_1


"Bajingan kau!" teriak Bima menendang dada Hydra lalu menyerangnya dengan sangat brutal.


"Kuro!" teriak Bima.


Groahhhhhhh....


Seekor Naga Hitam muncul dengan mengaum sangat keras dan mengeluarkan aura kegelapan yang sangat pekat.


"Bantu Riski!" teriak Bima.


Woshhhh....


Kuro melesat ke tempat Riski dan Arie bertarung, dia mengamuk di hadapan Riski dan Arie yang sudah sangat kelelahan.


Kuro membunuh para monster dengan sangat sadis dan brutal, sama seperti yang di lakukan Kong di garda terdepan.


"Mati kau!!!" teriak Bima melempar cakram api hitam ke dada Hydra.


Booommmmm....


Groahhhhhhhhhh.....


Tubuh Hydra meledak menjadi butiran debu, Bima tidak beristirahat, dia langsung melesat membantu Albert dan Henry di sisi utara.


Booommm...


Boommm..


Boomm...


Bima benar-benar mengamuk, dia menunjukkan sisi kerasnya pada semua orang. Setelah monster di sisi utara habis, Bima lanjut ke sisi selatan tempat Arie, Riski dan Kuro bertarung.


Lagi lagi Bima memberantas semua monster di sana dengan menggunakan Ashura Susano'o. Setelah habis, Bima lanjut ke bagian timur yang masih terdapat ratusan ribu monster.


"Mati kalian semuaaa!!!!" teriak Bima melemparkan cakram api emas raksasa dari langit.


Woshhhhh....


Boomm..


Puluhan ribu monster langsung mati hangus terkena ledakan cakram api Bima. Setelah itu Bima melesat menghabisi sisa monster di sana bersama Kong dan Kuro yang ikut bergabung.


Ledakan demi ledakan terus terjadi mengiringi pembantaian yang di lakukan oleh Bima. Mereka yang melihat mengamuknya Bima bersama dua bawahannya di buat merinding bercampur kasihan.


Sampai akhirnya setelah 1 jam, semua monster habis tak tersisa. Kong membawa semua mayat ke alam Surgawi untuk stok makanannya. Bima menarik kembali Susano'o nya dan berjalan tertatih menghampiri kawan-kawan nya.


Lagi lagi Bima mendapatkan banyak sekali luka parah di tubuhnya, darah mengalir di mana mana membuat Silvia tidak tega.


Bima duduk di bawah gerbang stadion, bersandar di tembok dengan nafas terengah-engah. Silvia dan yang lainnya langsung menghampiri Bima untuk mengobati luka lukanya.


'Payah! cuman gangguan kecil harus di bayar luka sebanyak ini! payah! payah sekali!' batin Bima.


"Cuih!" Bima meludahkan seteguk darah ke samping.


"Minum dulu sayang." ucap Silvia memberikan sebotol air di tengah-tengah pekerjaan mengobati luka Bima.


Bima meminum air mineral itu, dia juga membasuh wajahnya yang di penuhi noda darah.


"Aku mau latihan tertutup 3 bulan." ucap Bima pada Silvia.


Silvia hanya tersenyum manis dan menganggukkan kepala tanda menyetujui permintaan Bima.


"Kamu gak papa kan aku tinggal tiga bulan?" tanya Bima mengusap kepala Silvia.


"Gak papa, nanti aku bisa ke tempat kak Howard untuk ikut berlatih." jawab Silvia tersenyum manis.


Bima tersenyum tipis mendengar jawaban istri tercintanya itu yang menurutnya sangat bijaksana. Tanpa di suruh dia sudah sadar akan kekurangannya.


"Dalem gak?" tanya Bima menengok ke arah kaki kanannya.

__ADS_1


"Lumayan." jawab Silvia.


"Gak dalem dalem banget kan?" tanya Bima.


"Enggak, cuma 3cm." jawab Silvia.


"Ohh ya udah." ucap Bima lega.


"Bisa bisanya dia sesantai itu!" ucap Riski pada Julian.


"Emang boleh sesantai itu ya?" tanya Julian.


"Pria bro! harus kuat!" jawab Bima mengulurkan tangan meminta bantuan untuk berdiri.


"Kuat kok minta bantuan!" ucap Julian menarik tangan Bima.


"Ikhlas gak?!" tanya Bima kesal.


"Hahaha...gitu aja marah!" ucap Julian tertawa geli.


Mereka berjalan ke parkiran untuk mengambil mobil dan pulang ke basecamp. Di basecamp Bima kembali di obati Silvia dengan peralatan yang lebih lengkap dan obat-obatan yang beli lengkap juga.


Bima menatap wajah serius Silvia yang terlihat jauh lebih cantik dari biasanya. Bima juga merasakan perasaan yang sudah lama hilang, ya, Bima kembali merasakan getaran cinta saat bersanding dengan Silvia.


"Kenapa? sakit ya?" tanya Silvia melirik Bima yang dari tadi menatapnya tanpa berkedip.


"Cantik." jawab Bima yang membuat Silvia tersenyum malu.


"Anjink! makanya gak kedip!" ucap Riski yang menerangi luka Bima dengan flash ponsel supaya Silvia lebih mudah membersihkan kotoran di luka Bima.


"Sialan cok anak ini!" ucap Julian kesal.


"Lagian tegang amat anjirr! hidupin TV kek!" ucap Bima.


Julian menghidupkan TV, dia memilih channel berita untuk mengetahui kabar terbaru jumlah korban jiwa di kejadian tadi.


"Udah yang! huhhh! capek!" ucap Silvia bernafas lega.


"Makasih." ucap Bima mengecup kening Silvia sebagai imbalan.


"Aku mandi duluan ya." ucap Silvia berlalu pergi.


Mereka bertiga menonton TV bersama sama untuk mengetahui perkembangan kasus tadi. Namun karena sudah lelah, jadi bawaannya bosan.


Bima pun pergi ke kamarnya dengan tertatih untuk istirahat, sesampainya di kamar Bima di buat melongo saat melihat Silvia ganti baju.


'Mati lampu!!!' teriak Zhong kaget.


[Bos! bosss! kau mati lagi boss?!]


'Diamlah!' ucap Bima ketus.


[Syukurlah!]


"Tutup bi! malu!" ucap Silvia.


Bima langsung menutup pintu kamar rapat rapat sekaligus menguncinya. Setelah itu dia rebahan di kasur dengan celana menonjol.


"Kamu lagi luka sayang, jangan mancing-mancing." ucap Silvia saat tonjolan di celana Bima bergerak-gerak.


"Biar cepet sembuh, ayo." ucap Bima.


"Kamu yang maksa ya!" ucap Silvia langsung menerkam Bima dengan ganasnya.


Keduanya pun melakukan olahraga panas sampai Bima benar-benar puas. Silvia lagi-lagi dibuat pasrah oleh Bima yang sedang terluka itu.


Bima menusukkan sedalam mungkin sebelum mengeluarkan cairan terakhirnya. Setelah itu dia dan Silvia tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2