
Bima menjalani hari harinya dengan latihan keras, kadang dia meluangkan waktu untuk bersantai dengan Anubis dan Dewa Amral di pinggir danau atau berbincang-bincang dengan para bawahannya yang cemburu akan kedekatannya dengan Anubis.
Bima hanya tertawa keras mendengar curhatan beastnya yang sangat cemburu pada Anubis. Bima juga sudah mulai sering curhat dan membuka diri atas luka lamanya di masa lalu.
Tentu saja ini di sambut baik oleh Adrian, Smith dan para beast spiritual. Mereka mendengarkan cerita Bima dan memberikan pendapat sesuai apa yang mereka ketahui selama ini.
Anubis juga perlahan dekat dengan bawahan Bima yang lain, walaupun wujudnya iblis, tapi Anubis ini memiliki kepribadian yang sangat baik dan sopan. Tidak seperti iblis pada umumnya yang arogan dan merendahkan makhluk lain.
Bima terus berlatih dengan pengawasan penuh dari Adrian, Smith, dan Sistem. Sampai akhirnya Bima mencapai titik yang dia inginkan sejak dulu setelah berlatih jutaan tahun lamanya.
Bima yang sangat amat senang langsung mengajak Kong dan Grock party.
"Party kita!" teriak Bima heboh.
"Woooo!!!" teriak Grock penuh semangat.
"Ayo bosss!!" teriak Kong semangat.
Bima mengeluarkan sound system, lalu menyetel lagu dangdut koplo sebagai pengiring party.
"Ihiyy! asekkkk boss!" ucap Kong bergoyang.
"Asik juga musiknya." ucap Dexter mangguk mangguk.
"Goyangin dong!" ucap Bima.
"Aseeekkkk!" ucap Dexter akhirnya ikut goyang.
[Rusaakkk! rusak sudah! tapi asik juga dangdut koplo ini]
Mereka terus berpesta meminum arak sampai mabuk dan tepar, Drago, Leo, Bao, dan Ben hanya bisa menggelengkan kepala melihat kebodohan mereka.
"Dimana Bima?" tanya Aron pada Leo.
"Itu." jawab Leo menunjuk Bima yang nungging dengan mata tertutup dan iler terus mengalir.
"Astaga...mereka pesta semalaman?" tanya Aron menepuk dahinya.
"Iya, semalaman suntuk." jawab Leo.
"Bodohnya anak ini! hari ini adalah hari pentingnya!" ucap Aron mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bawa saja, seret saja, dia tak akan bangun. Efeknya paling cuma bertahan 3 jam lagi." ucap Leo.
"Baiklah, aku pinjam dulu ya." ucap Aron menyeret tubuh Bima pergi.
"Hati hati." ucap Leo.
"Yaaa..." jawab Aron.
Aron menyeret tubuh Bima menghampiri Amon yang berdiri di altar teleportasi.
"Mabuk?" tanya Amon menepuk dahinya.
"Kebodohannya tak pernah reda." jawab Aron kesal.
"Nanti biar tuan Adrian yang menyadarkan dia, kita bawa saja." ucap Amon.
"Baiklah." jawab Aron.
Woooshhhhh..
Mereka pun teleport ke sebuah kerajaan besar yang ada di alam Dewa. Bima di seret ke sebuah ruangan tempat Adrian dan yang lain menunggu.
"Astagaaa....anak ini mabuk di saat yang tidak tepat!" ucap Indi menepuk dahinya.
__ADS_1
"Bangun, nak, bangun." ucap Adrian mencoba membangunkan Bima.
"Kebakaran!!!" teriak Smith yang langsung membangunkan Bima.
"Mana? mana yang kebakaran?!" tanya Bima kebingungan.
Plakk..
"Sadar!" ucap Smith menampar Bima pelan.
"Hoammmm....ada apa paman?" tanya Bima menggaruk pipinya.
"Kamu harus menikah hari ini." jawab Smith yang membuat Bima melotot.
"Noo! katakan tidak untuk pernikahan!" ucap Bima menolak mentah-mentah.
"Kalau menolak nanti kekuatanmu di ambil, kamu mau usahamu selama ini hangus begitu saja?" ucap Smith.
"Waduh!" gumam Bima panik bercampur kebingungan.
"Aku masih trauma paman! aku takut kalau kejadian yang lalu kembali terulang." ucap Bima lirih.
"Kamu lihat dulu siapa pengantin wanitanya, baru menyimpulkan." ucap Smith membujuk Bima.
"Siapapun itu aku tidak akan bisa paman, hatiku beku." ucap Bima.
"Kami berikan kamu waktu untuk berpikir, 1 jam, kalau tidak ada keputusan yang jelas, kami akan menyeret mu ke dalam ruangan." ucap Adrian tegas.
"B-baiklah." jawab Bima.
"Ayo keluar dulu." ajak Adrian.
Mereka semua pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Bima yang melamun mengingat rasa sakit yang dulu pernah singgah.
[Bisa yuk bos, jangan terlalu lama melihat sepion]
[Masak kau menolak wanita kali ini sih? padahal dia rela meninggalkan sang suami demi mengayomi kau yang gagal berkali-kali dalam percintaan. Apa kau tega?]
"Siapa?" tanya Bima sangat penasaran.
[Sangat cantik, tubuhnya sexy tapi tertutup pakaian anggun, memakai kacamata, sedikit tato di tangannya, dadanya lumayan besar, namun pantatnya luar biasa indah]
"Ayolah bob! kau jangan buat aku penasaran!" ucap Bima kesal.
[Aku tidak akan memberi tau mu, biar kalau kau menolak kau akan menyesal seumur hidup, karena menolak seorang wanita setulus dia]
"Bob anjink!!!!" teriak Bima sangat kesal.
[Hahahahahaha....aku senang sekali melihatmu kesal dan stress seperti ini bos]
"Ketawamu jelek sialan!" ucap Bima ketus.
"Udah belum?!" teriak Aron dari luar.
"Sebentar! aku masih bimbang!" teriak Bima.
Bima pun diam sejenak, dia menimbang berbagai keputusan, dia menghitung semua yang akan terjadi dari berbagai keputusan.
"Kalau aku tolak nanti jadi penasaran, tapi kalau aku terima nanti sakit kek dulu lagi. Arghhhhh! sialan! kenapa harus begini!" teriak Bima frustasi.
Bruakkkk...
Tiba tiba Aron membuka pintu dan menyeret Bima dengan dibantu oleh Adrian menuju ruangan upacara pernikahan.
"Tolong!" teriak Bima memberontak.
__ADS_1
"Mikir nikah aja kayak mikir angsuran bulan depan!" ucap Aron kesal.
"Jangan! jangan paman! aku mohon!" teriak Bima.
Bruakkkk....
Tiba tiba tubuh Bima di lempar ke sebuah tempat duduk lesehan yang sudah ada seorang wanita berpakaian gaun pernikahan putih dan seorang pria yang sangat Bima kenali menjadi wakil wanita itu.
"Kamu menolak?" tanya wanita itu melirik Bima dengan tatapan membunuh.
"Nyonya Silvia!!!!! Noooooo!" teriak Bima ingin kabur namun tubuhnya seperti kaku dan tidak bisa bergerak.
"Bima, ayolah, dia mau berkorban demi kamu nak." ucap Howard.
"Tidak! aku tidak mau! kalian sudah aku anggap atasan dan sosok yang paling aku hormati setelah orang tua!" jawab Bima.
"Bima...." panggil Silvia pelan namun penuh penekanan.
"Y-ya nyonya." jawab Bima langsung terdiam.
"Nurut saja ya, dari pada aku bertindak kasar." ucap Silvia lembut namun terdengar mengerikan di telinga Bima.
"B-baiklah." jawab Bima akhirnya pasrah.
"Silahkan di mulai pak." ucap Silvia.
Upacara pernikahan yang sangat sakral pun di mulai, Bima mengucap janji suci pernikahan dan mencium kening Silvia. Acara selanjutnya juga di laksanakan dengan khidmat, lancar dan penuh kebahagiaan.
Selesai upacara pernikahan, Bima di ajak ke sebuah ruangan oleh Howard dan Silvia untuk menjelaskan semuanya.
"Bima, jujur saja ya, Silvia ini adikku, bukan istriku, kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku sangat bahagia karena akhirnya ada pria yang dia pilih untuk menjadi suaminya." ucap Howard.
"Bukan itu masalahnya tuan." jawab Bima.
"Lantas?" tanya Howard heran.
"Aku masih teringat bayang bayang rasa sakit di masalalu yang membuat hatiku beku, tidak ada rasa cinta di sana, bahkan gembira tidak ada di sana." jawab Bima.
"Aku akan meluluhkan hatimu sayang." ucap Silvia tersenyum manis.
"Lagi pula aku tak tau akan hidup atau mati setelah ritual besok." ucap Bima.
"Aku yakin denganmu Bima, tolong jaga adikku ya, jangan kamu sakiti, aku masih ada tugas. Sampai jumpa." ucap Howard menghilang begitu saja.
"Aku akan coba menjadi yang terbaik di hidup kamu." ucap Silvia tersenyum manis.
"Semoga kamu tidak kecewa." jawab Bima tersenyum sendu.
"Ayo kita pulang." ajak Silvia.
Mereka pun kembali ke Alam Surgawi, di alam Surgawi, Bima di sambut meriah oleh para bawahan nya dan terus memberikan doa terbaik untuk hubungan keduanya.
[Info bos! portal iblis meledak!]
"Bob sialan! tidak paham waktu! huuuuu!" ucap Kong kesal.
"Itu lebih penting bodoh!" ucap Drago kesal.
"Aku ganti baju dulu." ucap Bima bergegas pergi.
"Sangat menantang ya." gumam Silvia tersenyum manis.
Silvia pun ikut mengganti bajunya dan pergi bersama Bima ke Benua Eropa.
Bersambung.....
__ADS_1
(Silvia)