King Of Universe

King Of Universe
Arc 2 Bab 110


__ADS_3

Di kamar, Bima hanya melamun di balkon kamar dengan rasa mual di perutnya. Hal ini membuat Bima tidak nafsu rokok ataupun minum, jadi Bima hanya duduk diam tidak melakukan apapun di balkon.


Sampai sore harinya, lamunan Bima terbuyar karena sentuhan lembut Jennifer di pundaknya.


"Kamu sakit?" tanya Jennifer lembut.


"Hem? enggak kok hehe.." jawab Bima tersenyum canggung.


"Sudah makan?" tanya Jennifer.


"Belum, aku lagi gak nafsu makan." jawab Bima.


"Makan yuk, aku udah lebih enakan ini, laper juga." ajak Jennifer.


"Kamu udah mandi kah?" tanya Bima.


"Kamu bengong sampai gak denger suara air hihihi...udah ayo makan dulu." jawab Jennifer terkekeh geli.


"Aku anter aja ya, bener bener gak nafsu makan aku." ucap Bima.


"Iya, ayok." jawab Jennifer tersenyum manis.


Keduanya pun keluar dari kamar menuju ruang makan, sesampainya di ruang makan, mereka di sambut oleh Julian yang juga baru bangun dari tidur siang.


"Tumben makan jam segini?" tanya Julian heran.


"Dia bangun tidur." jawab Bima santai dan duduk di selah Jennifer yang sedang mengambil makanannya.


"Ohh, kau?" tanya Julian.


"Enggak, aku lagi gak nafsu makan." jawab Bima santai walaupun masih menahan mual.


"Pucat gitu, makan aja kenapa si? dikit-dikit cok." ucap Julian.


"Enggak ah." jawab Bima malas dan memilih untuk membuka ponselnya.


Saat tengah asik bermain ponsel, Diana pun datang bersama Adel yang terlihat baru saja bangun tidur.


"Loh, kamu kenapa gak makan nak?" tanya Diana heran.


"Enggak nafsu bun, males juga." jawab Bima nyengir.


"Ayah ayo makan." ucap Adel sambil mengucek matanya.


"Adel saja yang makan ya." jawab Bima mengusap kepala Adel lembut.


"Ibu, lihat ayah! dia tidak mau makan! padahal pucat bu!" ucap Adel mengadu pada Jennifer.


"Biarkan saja, mungkin ayah sedang tidak enak badan. Kamu mau makan tidak? biar ibu suapi." jawab Jennifer.


"Adel masih kenyang bu, sebelum tidur tadi makan dulu soalnya." jawab Adel.


"Siapa yang suapi Adel?" tanya Jennifer lega karena Adel mau makan tanpa ada dia.


"Nenek Berliana tadi yang suapi Adel di taman sambil bermain dengan harimau pelihara ayah!" jawab Adel.


"Waahh Adel sudah mandiri ya! hebat! jadi tidak perlu ibu marahi dulu." ucap Jennifer senang.


"Adel sudah besar bu! harus bisa makan sendiri mulai sekarang!" jawab Adel penuh tekad.


"Bagus!" ucap Jennifer mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Kata paman Jason, kalau sudah tidur dengan kamar terpisah, Adel harus bisa mandiri bu!" ucap Adel.


"Benar! Adel harus belajar lebih mandiri ya!" ucap Jennifer.


"Iya bu!" jawab Adel.


"Aku ke taman sebentar ya." ucap Bima.


"Iya, tenangkan dirimu dulu." jawab Jennifer tersenyum manis.


Bima pun berlalu pergi meninggalkan ruang makan, namun baru 10 langkah, tiba tiba Bima ambruk tidak sadarkan diri.


"Ayah!!" teriak Adel histeris.


Seketika Julian langsung menghampiri Bima dan mengecek keadaannya. Begitupun Jennifer dan Diana, mereka menggotong tubuh Bima ke kamar dan memanggil Smith untuk mengecek keadaan Bima.


"Kenapa anak ini?" gumam Smith kebingungan karena tidak ada penyakit sama sekali di tubuh Bima.


"Apa yang terjadi?" tanya Jennifer khawatir.


"Aku pun tidak tau, dia tidak ada penyakit!" jawab Smith benar-benar bingung.


"Dia tidak berbicara tentang kondisinya padamu?" tanya Riana.


"Tidak, tapi saat aku bangun tidur tadi, Bima sedang melamun. Entah memikirkan apa, tapi dia tidak sadar sama sekali kalau aku sudah bangun." jawab Jennifer.


"Ayah...ayah kenapa?" tanya Adel memeluk tubuh Bima sambil menangis.


"Coba panggil tuan Fergie, mungkin dia tau ada apa dengan Bima." ucap Smith.


"Tunggu." jawab Aron yang langsung duduk bersila untuk memanggil Fergie.


Woshhhhh....


"Ada apa Aron?" tanya kakek tua bernama Fergie itu.


"Tuan, apakah anda bersedia mengecek kondisi Bima?" tanya Aron balik.


"Baiklah, apa yang tidak untuk cucu kesayanganku." jawab Fergie tersenyum manis.


"Anda siapa?" tanya Amon menatap aneh pria gagah di samping Fergie.


"Dia kakak Bima, kakak yang sudah lama aku cari keberadaannya. Anak dari Riana yang dulu di culik sekte aliran sesat." jawab Fergie sembari mengecek kondisi Bima.


"Henry anakku!" ucap Riana langsung memeluk pria gagah itu sambil menangis haru.


"Ibu..." ucap pria bernama Henry itu.


Mereka berdua pun saling berpelukan melepas rindu karena telah lama tidak berjumpa. Sedangkan Fergie, dia melebarkan matanya karena kaget melihat kondisi Bima.


"Kenapa?" tanya Smith dengan feeling buruk.


"Sial! terjadi peperangan di ruang hampanya!" ucap Fergie menggelengkan kepala berkali-kali.


"Apa saja yang rusak?" tanya Smith sangat kaget.


"Semua organ tubuhnya luka parah! jiwanya hampir hancur! sialan! aku baru percaya dengan cerita legenda ini!" jawab Fergie.


"Kita harus bagaimana?" tanya Zoya sangat khawatir karena mau bagaimanapun Bima adalah anaknya.


"Tunggu dia sadar! itu cara satu satunya!" jawab Fergie karena bingung harus berbuat apa untuk menangani kasus ini.

__ADS_1


Walaupun sempat berdebat antara Adrian dengan Smith, akhirnya mereka pun menunggu di sana dengan perasaan khawatir bercampur takut.


Di Alam Surgawi, seluruh bawahan Bima berkumpul di sana, Anubis, Hade, dan Lexsus pun ikut berkumpul untuk mencari solusi akan tubuh Bima ini.


"Apa kita harus ikut berperang di ruang hampa bob?!" tanya Drago yang merasa sangat tidak rela untuk kehilangan tuanya.


"Jangan! jangan bodoh! kalau kita ikut berperang, yang ada bos akan mengalami luka yang jauh lebih parah!" jawab Sistem yang sudah dalam wujud manusianya.


"Lalu bagaimana?" tanya Drago.


"Untuk sementara, kita bantu regenerasi tubuh bos, biar Ben dan Dewa Amral yang mengurus ruang hampa!" jawab Sistem.


"Baiklah! ayo mulai bekerja!" teriak Kong yang terpaksa menahan amarahnya.


"Yaaa!" jawab mereka langsung pergi ke tempatnya masing-masing dan membantu meregenerasi tubuh Bima.


Di sisi lain, Bima kembali berada di sebuah ruang hampa yang tidak ada siapapun di sana. Bima di buat bingung karena dia bisa berada di sana, padahal dia belum mati atau sakit.


"Halooooo....." panggil Bima.


Hening....


Bima menoleh ke kanan dan kiri untuk mengecek apakah ada orang di sana, namun nihil, Bima tidak melihat siapapun di sana.


"Haloooo.....apa ada orang?" tanya Bima lagi.


Hening....


Tetap tidak ada jawaban, sangat lama Bima duduk di sana sambil memanggil berkali-kali. Sampai akhirnya, sebuah suara yang terdengar sangat berwibawa dan terasa sangat agung menjawab.


"Ashura anakku....." ucap suara itu yang langsung membuat Bima merinding.


"Y-ya..siapa di sana?" tanya Bima sangat ketakutan.


"Kamu tidak perlu tau siapa aku nak, yang jelas aku memanggilmu kemari untuk memberimu sebuah wahyu titipan dari Sang Penguasa." jawab suara itu.


"W-wahyu?" tanya Bima masih ketakutan.


"Ya, Wahyu Ketentraman, kamu adalah Dewa satu satunya yang mampu membuat ketentraman di seluruh alam semesta. Seperti yang sudah kamu lakukan belakangan ini anakku yang paling aku sayangi." jawab suara itu.


"Satu lagi, kapan kamu kembali ke bumi anakku? apakah kamu tega melihat hunter hunter tumbang karena mulai banyak portal portal tingkat tinggi yang kembali muncul? janganlah hanya fokus pada masalahmu di sini, tetaplah pantau semua Universe karena itulah tugas mu sebagai penguasa nak." ucap suara itu.


"Maksud anda?" tanya Bima yang kembali menguasai ketakutannya.


"Kembalilah ke bumi nak! Gate Of End telah menunggu!" teriak suara itu tegas.


Bima melebarkan matanya, adrenalin nya memuncak, darahnya berdesir, God Of Eyes bangkit tanpa Bima perintah, dan aura Penguasa Jagat Raya yang keluar dari tubuhnya menandakan betapa semangatnya seluruh kekuatannya setelah menunggu begitu lamanya momen ini.


"Ya! begitu! jangan jatuh dalam lembah keterpurukan! tunjukkan semangat membaramu! tunjukan bahwa kamu adalah Penguasa! kamu adalah anak spesial tanpa jalan takdir! kamu yang menciptakan kematianmu! bukan malaikat pencabut nyawa! kamu adalah malaikat pencabut nyawamu sendiri! tujukan padaku nak! kalau kamu adalah Penguasa!" ucap suara itu.


"Tapi, bagaimana dengan ruang hampaku?" tanya Bima.


"Kamu yang berkuasa! kamu sendiri yang harus turun tangan! jangan manja!" teriak suara itu dengan lantang.


"Baiklah!!! terimakasih!" teriak Bima berdiri tegap dan memberikan hormat.


"Terimalah Wahyu Ketentraman ini Ashura Neilson Nara!" ucap suara itu.


Depppp...


Pandangan Bima langsung menghitam, entah apa yang terjadi Bima tidak tau.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2