King Of Universe

King Of Universe
Bab 55


__ADS_3

Bima terbangun dari pingsannya, dia melihat sekitarnya yang ternyata sudah ada di kamar basecamp. Bima menghela nafas berat menyadari kalau dia kembali ke realita yang kejam.


"Lemes banget." gumam Bima mengucek metanya.


[Bos bodoh! kenapa kau memasang ilusi di tubuhmu! dasar bodoh!]


"Hahahah..." Bima tertawa geli mendengar suara sistem yang marah marah.


'Hey hey hey! siapa ini?!' seru Kong kaget melihat dua Titan yang sangat mendominasi itu.


'Itu bawahan baru, teman baru kalian. Yang akrab ya.' ucap Bima.


'Ow ow ow! tuan tuan, tempat kalian ada di goa itu ya, semoga betah.' ucap Kong.


'Terimakasih.' jawab Deku.


'Sudah full bos! jangan bawa bawahan lagi!' ucap Kong.


'Ya.' jawab Bima.


'Kamu kenapa menyembunyikan penyakit separah ini nak?' tanya Adrian.


'Tak apa ayah, hanya penyakit sepele saja.' jawab Bima tak mau membebani orang-orang di sana.


'Sepele matamu! ini penyakit langka! penyakit yang belum ada obatnya!' teriak Smith marah.


'Ahahaha...maaf ya.' ucap Bima terkekeh.


'Enak sekali kamu bilang maaf! dasar!' ucap Smith marah.


Bima merubah posisinya menjadi duduk lalu membakar rokoknya untuk menenangkan pikiran. Saat sedang melamun, pintu kamarnya terbuka dan masuklah Diana yang berniat ingin mengecek keadaan Bima.


"Syukurlah! kamu sudah bangun nak!" ucap Diana lega.


"Hehehe...iya bunda." jawab Bima cengengesan.


"Kamu sebenarnya sakit apa?" tanya Diana langsung.


"Kebanyakan rokok bunda, gak parah kok." jawab Bima masih berusaha bohong.


"Jujur sama bunda nak, bunda gak mau kamu kenapa kenapa." ucap Diana membujuk.


"Asli bun, Bima gak papa." jawab Bima.


"Bunda gak mau ya kalau kamu terus bohong gini! bunda benci kebohongan!" ucap Diana marah.


"Beneran bun, Bima tuh gak papa" ucap Bima mencoba meyakinkan.


"Ayo turun!" ajak Diana ketus.


"Oke." jawab Bima nurut saja.


Bima berjalan turun ke bawah mengikuti Diana yang merasa sangat jengkel dengan Bima. Sesampainya di bawah, Bima langsung dicerca banyak pertanyaan oleh Aurora dan Berliana.


"Aku gak papa! cuma kebanyakan rokok!" ucap Bima kesal.


"Gak mungkin! kamu jangan bohong ya!" teriak Zoya marah.


"Bohong apanya sih?!" tanya Bima kesal.


"Di tubuh kamu itu ada penyakit misterius! kamu pikir aku gak tau!" ucap Zoya sangat sangat kesal.


"Mana ada! halu kamu." ucap Bima.


Plakkk...


"Kamu sakit apa!!!" teriak Aulia sangat marah.


Bima terdiam mengelus pipinya yang terasa panas karena tamparan keras Aulia. Bima berjalan pergi ke dapur untuk membuat kopi tanpa menjawab pertanyaan Aulia.


"Panasnya anjink!" gumam Bima mengelus pipinya.


'Makanya kalau di tanya jawab jujur tuan.' ucap Drago.


"Jujur juga cuma bikin repot, mending gak usah." ucap Bima yang di dengar oleh Doni.


"Kalau demi kesembuhanmu gak ada yang repot bim." ucap Doni yang sedang asik makan.


"Kau jangan ember." ucap Bima cuek.


"Gak, aku bukan tipe kayak gitu." jawab Doni.


"Baguslah." ucap Bima berlalu pergi membawa kopinya.

__ADS_1


Bima berjalan kembali ke kamarnya menghiraukan teriakan Aulia yang di barengi tangisan. Bima masuk ke kamar, mengunci pintu lalu duduk di balkon kamar.


'Penyakit gara gara kebanyakan nampung energi besar ya, haha...bodoh sekali.' ucap Bima dari hati yang paling dalam dan tidak bisa di dengar siapapun.


'Biarlah, mati pun siapa yang peduli hahaha...' ucap Bima lanjut melamun.


[Bos, ayolah bos]


'Kemana?' tanya Bima.


[Ck! kau ini susah sekali ya di ajak sehat! sialan!]


'Sudahlah bob, tak usah di pikirkan.' ucap Bima.


[Apa maksudmu?!!]


'Usiaku sudah tidak lama, mungkin setelah perang melawan Albedo sudah tamat.' jawab Bima.


[Bagaimana nasib pewaris Dewa Indra?! kau harus melawannya! belum lagi para Dewa Dewi penguasa yang mau memburumu!]


'Apa peduliku? biarkan saja, dengan kematianku kan dunia akan aman sentosa. Bukan begitu?' jawab Bima santai.


[Come on bos! bangkitlah!]


'Ini jalan yang aku ambil bob, sudahlah, aku mau santai.' ucap Bima.


[Terserah kau lah!]


Bima pun lanjut melamun dengan di temani secangkir kopi dan rokok yang selalu ada di saat apapun dan kapanpun itu.


Bima melamun sampai malam hari, dia tidak keluar untuk makan malam, melainkan langsung tidur tanpa mengisi perutnya.


Keesokan harinya, Bima bangun agak siang dan langsung pergi mandi. Selesai mandi Bima langsung makan dengan membeli makanan dari toko sistem. Selesai makan Bima keluar kamar dengan pakaian rapi, Bima berniat untuk tinggal di markas besar Gangster.


Namun baru saja menuruni tangga, Bima langsung di peluk oleh Aulia dengan sangat erat, Aulia terus meracau dengan tangis sesenggukan.


"Kemarin suruh jangan deket deket, ya aku pergi to." ucap Bima malas.


"Jangan! jangan pergi!" ucap Aulia memohon.


"Kau mau kemana?" tanya Kevin.


"Markas geng, mau di sana aja, di sini cuma ngerepotin." jawab Bima mencoba lepas dari pelukan Aulia.


"Siapa yang repot? gak ada loh yang repot di sini." ucap Kevin.


"Ayang! kamu pernah janji kan sama aku! mana janji kamu?! katanya laki laki harus menepati janjinya! mana buktinya!" ucap Aulia.


'Wah anjink! kemakan omonganku sendiri!' batin Bima kesal.


"Mana?!" tanya Aulia dengan nada tinggi.


"Iya iya! ish!" jawab Bima kesal.


"Iya apa?!" tanya Aulia menatap Bima.


"Iya gak jadi!" jawab Bima agak kesal.


"Janji?" tanya Aulia.


"Gak." jawab Bima tidak mau berjanji lagi.


"Janji dulu! kalau gak mau janji aku gak lepasin!" ucap Aulia.


"Iya janji." jawab Bima malas.


"Naahhh!" ucap Aulia lega.


"Aku mau ganti baju dulu, lepasin." ucap Bima.


"Ayo aku temenin, kamu pasti mau kabur!" ucap Aulia memeluk erat lengan Bima dan berjalan menuju kamar.


Bima ganti baju di kamar dengan di awasi Aulia, setelah selesai ganti baju Bima pun turun ke bawah dengan Aulia terus memeluk lengannya.


Bima duduk di ruang TV, menghidupkan TV dan menonton berita terbaru.


"Kamu kenapa si?" tanya Bima menengok pada Aulia yang masih sedih dan manyun.


"Gak." jawab Aulia singkat.


"Ya udah aku pergi." ucap Bima mengancam.


"Jangan!" ucap Aulia dengan suara ingin menangis.

__ADS_1


"Ya kenapa? kamu kenapa?" tanya Bima.


"Kamu penipu! kelihatan nya sehat! tapi nyatanya gak sehat! jahat!" jawab Aulia seperti suara anak kecil.


"Yang sakit aku kenapa kamu yang nangis? aneh banget." tanya Bima.


"Aku gak bisa lihat kamu sakit! aku gak mau kehilangan kamu!" jawab Aulia kembali menangis.


"Dah dah, gak usah di pikirin, kamu anggap aku sehat aja." ucap Bima menenangkan Aulia.


"Gak bisa! kamu harus sehat!" ucap Aulia.


"Ini sehat." jawab Bima.


"Gak! kamu sakit!" ucap Aulia.


"Iya iya udah." jawab Bima tersenyum geli melihat wajah Aulia.


'Kau tau siapa nama pewaris Dewa Indra bob?' tanya Bima.


[Gak]


'Oww, ya udah kalau begitu.' ucap Bima santai.


Tak berselang lama, Albert dan yang lainnya datang setelah semalam menjalankan misi dadakan. Albert dan Julian juga berusaha keras mencari tau soal penyakit Bima melalui para tabib dan para Alchemist.


Namun nihil, keduanya tidak menemukan informasi apapun mengenai penyakit Bima.


"Dari mana?" tanya Bima.


"Ada job semalem, cuma portal kecil." jawab Rizal.


"Kevin kok gak ikut?" tanya Bima aneh.


"Males katanya." jawab Rizal.


"Ooo, ya udah istirahat dulu." ucap Bima.


"Yooo..." jawab Rizal.


Rizal pergi ke kamar untuk beristirahat diikuti teman-teman lainnya kecuali Julian dan Albert. Mereka berdua duduk di sofa menatap Bima dengan serius.


"Dah pulang kalian, gimana?" tanya Kevin yang baru saja selesai sarapan.


"Aman, cuman portal kecil." jawab Julian.


"Baguslah kalau gitu." ucap Kevin ikut duduk di sofa.


"Kau mengidap penyakit apa?" tanya Albert langsung.


"Nah, baca, halaman 308." jawab Bima melempar buku kuno yang sangat tebal.


Ketiganya langsung membuka buku itu, mereka membaca halaman yang di katakan oleh Bima. Betapa terkejutnya mereka membaca tipe penyakit yang Bima idap.


"Paham?" tanya Bima tersenyum.


"Gak mungkin! semua penyakit ada obatnya! buku ini penipu!" teriak Julian marah.


"Itu kenyataannya, mau bagaimana lagi? hahahaha....." ucap Bima tertawa.


"Aku mau baca! bawa sini!" ucap Aulia ketus.


Julian memberikan bukunya dan langsung Aulia baca, beberapa menit kemudian Aulia menatap Bima dengan tatapan sayu.


"Cukup kalian yang tau, yang lainnya jangan ya, aku tidak mau merepotkan mereka." ucap Bima tersenyum.


"Sialan!" ucap Julian lalu pergi meninggalkan mereka.


"Aku akan mencari obatnya!" ucap Albert dingin lalu pergi.


"Aku coba baca baca buku lainnya, semoga dapat obatnya." ucap Kevin tersenyum lalu pergi.


"Batu banget mereka ini." ucap Bima menggelengkan kepala.


"Kamu kenapa jadi begini? kenapa? kenapa harus di saat aku sebahagia ini?" tanya Aulia menatap Bima dalam dalam.


"Aku juga gak mau kayak gini sayang, aku masih mau bahagiain kamu, tapi bagaimana lagi? mungkin ini karma dari perbuatanku dulu." jawab Bima membelai kedua pipi Aulia.


"Kamu jahat banget ya?! udah bikin aku sebahagia, senyaman, secinta ini, terus kamu mau pergi tinggalin aku! jahat banget kamu!" ucap Aulia menepis kedua tangan Bima.


"Maafin aku ya, aku gak bisa berbuat banyak." ucap Bima tersenyum tipis.


"Aku gak akan maafin kamu! selamanya!" ucap Aulia lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


'Haihhhhh! bermula dari kesepian, mendapatkan banyak sahabat, di cintai, lalu kembali kesepian dan di benci. Hahahaha...bodoh.' batin Bima tersenyum sinis.


Bersambung....


__ADS_2