
Alam Semesta benar-benar menjadi tenang setelah kejadian pembantaian para Dewa Dewi Penguasa. Hal ini membuat seluruh makhluk hidup sadar akan kebusukan dari Dewa Dewi Olympia.
Mereka beramai-ramai mengirimkan do'a terhadap Bima supaya bisa di bebaskan lebih cepat. Seluruh makhluk hidup juga menetapkan hari di mana Bima membantai para Dewa Dewi penguasa sebagai hari suci dimana kehidupan aman dan tentram akan terbentuk.
Di saat seluruh makhluk hidup menjalani kehidupannya dengan tentram, Bima di dalam gunung Olympia malah sebaliknya. Dia merasa sangat tertekan karena mengingat kematian tragis David dan mayat mayat di Kerajaan Valhalla.
Di sinilah titik terendah dalam kehidupan Bima, dia merasa sangat tersiksa, tidak ada orang yang bisa dia jadikan tempat bercerita, sistem yang katanya melekat pada jiwanya pun entah kemana sekarang.
Di dalam gunung yang sepi, sunyi, dan gelap Bima terus menangis saat mengingat kematian orang-orang terdekatnya. Bima merasa walaupun dendamnya telah terbalaskan, semua rasa sakit yang telah di terima tidak akan bisa di ungkapkan pada siapapun.
Belum lagi Bima harus menjalani hidup di dalam gunung ini selama ribuan tahun. Bima benar-benar depresi, ingin bunuh diri tapi tanggung jawabnya besar, ingin lanjut ini sangat menyiksa diri, serba salah.
"Hiks...hiks...semua yang aku lakukan ternyata sia sia saja..." gumam Bima sembari menangis.
"Ya Tuhan, jika engkau merestui hamba-Mu ini untuk tetap hidup dan melanjutkan keturunan dari clan Nara, berilah aku kekuatan dan ketabahan hati Ya Tuhan!" ucap Bima berdo'a dengan sungguh sungguh.
Jederrrr....
Petir menyambar dengan sangat keras sampai terdengar di telinga Bima. Bima yang kaget langsung celingak celinguk dengan air mata yang sudah berhenti.
[Bos! sialan! kemana saja kau!]
"Siapa itu woy!" teriak Bima merinding.
[Aku bob bodoh!]
"Sialan! kemana saja kau!" teriak Bima kesal.
[Kau yang kemana bodoh! aku sudah cari ke seluruh sudut gunung selama berbulan-bulan! bukan menemukanmu tapi malah menemukan Anubis dan yang lain!]
"Matamu rabun bob!" ucap Bima.
[Mana mungkin! aku sering mengkonsumsi wortel!]
"Cih! mana bisa AI seperti mu makan wortel!" ucap Bima kesal.
[Aku ini spesial!]
"Spesial pake tai apa!" ucap Bima kesal.
[Oh iya, alam Surgawi tidak tersegel lho bos, kau mau kesana? tapi ada syaratnya]
"Apa?" tanya Bima sangat antusias.
[Kalau kau ke sana, kau harus berlatih sampai mencapai 100000% kekuatan! kau di segel disini selama 5000 tahun waktu Khayangan]
"Bedanya apa sama waktu alam kultivasi?" tanya Bima.
[Di alam dewa atau alam kultivasi, waktunya berbeda bos. Di sini 1000 tahun, di sana 100 tahun]
"Ohh! paham!" ucap Bima menganggukkan kepala.
[Bagaimana? mau tidak?]
"Memangnya apa yang mau aku latih bodoh! semuanya saja sudah aku lepas!" jawab Bima kesal.
[Lihat status dulu makanya bodoh!]
"Cek status!" ucap Bima.
[Status
Nama: Abimanyu Abraham (Ashura Neilson Nara)
Usia: 100 juta tahun+
Title: Pemilik Sistem, Sang MahaDewa Agung, Penguasa Jagat Raya, Kaisar Neraka
Job: All Mastered
Kultivasi: Penguasa Jagat Raya (Max)
Level Hunter: Max (Bebas memakai kelas apapun)
STR: ∞
AGI: ∞
__ADS_1
DEF: ∞
VIT: ∞
Elemen: Api, Air, Angin, Tanah, Petir, Kayu, Cahaya, Kegelapan
Teknik:
-Karate
-Taekwondo
-Void Sword
-Dual Sword
Skill:
-Death Stab
-Wind Slash
-Dragon Fire Of Death
-Thunder Strom
-Lighning Dragon
-Black Fire Ball
-Doubel Fire Slashes
-Giant Wood Man
-Spesial Giant Wood Man
-Destroyer Giant
-Susano'o
-Perfect Susano'o
-Ashura Susano'o
-Indra Susano'o
Beast Spirit: -
Titan: -
Mode:
-Mode Chakra (Energi)
-Mode Six Path
-Mode Bankai
-Mode Abyss
-Mode Iblis Murni
-Mode Penguasa
-Mode Dewa (Wujud asli Bima)
Roh Spiritual:
Total persentase kekuatan: 25000%
Kekayaan: Rp 3.000.000 triliun
Inventori:
-Pedang Kaisar Neraka
-Pedang Raja Surgawi
__ADS_1
\=>Shop
\=>Gacha]
[Hanya kekuatan dan skill, untuk Beast dan roh spiritual semua telah di hapus]
"Do'a ku di kabulkan bob! hahaha..." ucap Bima sangat bahagia.
[Jadi, mau latihan tidak?]
"Gas!" jawab Bima semangat.
[Baiklah! ayo bos!]
Bima pun memasuki portal menuju alam Surgawi untuk melaksanakan latihan kerasnya.
Di sisi lain, tepatnya di Kerajaan Valhalla, saat ini sedang berjalan pesta meriah atas menikahnya Silvia dengan salah satu pangeran dari Kerajaan di alam Dewa. Namanya adalah Rio, kekuatannya sangat luar biasa kuat, namun tidak sekuat tiga serangkai yang sampai saat ini belum ada yang bisa menandingi.
"Semoga dia bisa bahagia." ucap Riski tersenyum tipis mengingat Bima.
"Haiihhhh.... memang sudah takdirnya begini ris." ucap Julian.
"Arie! kau kemarin baru pengangkatan kan? kau dapat title apa?" tanya Riski saat melihat Arie datang bersama Kelly anak perempuan Julian yang sangat akrab dengan Arie.
"Saya? kemarin itu saya dapat Dewa Cahaya, mungkin karena saya sering pakai energi cahaya e." jawab Arie.
"Keren cuy! kau dapat apa ris?" tanya Julian memangku Kelly sang anak.
"Aku sih Dewa Petir, soalnya aku lebih sering pakai elemen petir belakangan ini." jawab Riski.
"Kita sudah berapa bulan e disini?" tanya Arie.
"Hampir tiga tahunan ri, bukan bulan lagi cok." jawab Julian mengingat sejak kedatangannya tiga tahun lalu.
"Iya, tiga tahun lebih malah kita disini." ucap Riski.
"Lama juga e, saya jadi kangen dengan saya punya mama di bumi." ucap Arie.
"Turun saja, apa susahnya, sekarang hukum dewa tidak seketat dan se mengerikan dulu." ucap Albert.
"Iya, turun aja beberapa hari." ucap Julian.
"Jangan di paksa, urusan orang tua itu berat." ucap Albert sembari menghisap rokoknya.
"Besok lah saya turun, pusing saya mikirin mereka berdua." ucap Arie.
Mereka terus berbincang-bincang sembari menikmati pesta, sampai akhirnya Rio dengan Silvia ikut duduk di meja mereka.
"Capek, nari nari gak jelas." ucap Rio meneguk segelas air putih yang tersedia di setiap meja.
Riski dan yang lain hanya tersenyum canggung karena belum terlalu akrab dengan Rio ini.
"Aku penasaran sama Bima Bima yang sering jadi pembicara orang-orang. Kalian kan yang paling dekat dengannya, bisa aku tau seberapa besar kekuatannya dulu?" ucap Rio membuka pembicaraan.
"Maaf ya, bukan apa apa, tapi untuk masalah itu kami masih belum bisa menceritakan nya dengan detail. Anda bisa menanyakan langsung pada nona Silvia, dia jauh lebih tau dari kami." jawab Julian.
"Apa pedulimu tentang kakakku?" tanya Albert datar dengan tatapan tajam pada Rio.
"Bukan apa apa, aku hanya ingin mencoba melampaui kekuatannya saja." jawab Rio dengan santainya.
"Cih! derajatmu dengan kakakku saja sudah kalah jauh, ibarat kau di dalam inti bumi dan kakakku ada di langit ke tujuh." ucap Albert sinis.
"Dari segi clan saja sudah kalah, sudah tidak usah di kulik lagi. Nikmati saja hidupmu yang belum pernah melihat kekejamannya." ucap Tigers.
"Kalian terlalu menuhankan Bima, dia itu hanya seonggok krikil yang ada di dalam cengkraman raksasa. Dia tidak jauh beda dengan dewa pada umumnya, aku tidak akan percaya kalau kekuatannya sedahsyat itu." ucap Rio sinis.
"Itu hakmu, hargai apa yang orang lain percaya, jangan asal menghakimi." ucap Riski mulai tidak suka dengan Rio.
"Baiklah baiklah." ucap Rio mengangkat tangannya.
Mereka pun tidak lagi membahas tentang Bima, mereka lebih ngobrol santai, namun di sini terlihat kedatangan Rio tidak di sambut baik oleh Riski dan kawan-kawan.
"Haihhh... sudahlah, ayo istirahat saja sayang." ucap Rio akhirnya menyerah mendekati mereka.
"Baiklah." jawab Silvia menurut lalu pergi bersama Rio menuju kamar mereka.
Sedangkan Riski dan kawan-kawan masih asik menikmati pesta yang berlanjut sampai tengah malam. Mereka terus menikmati pesta, sedangkan anak dan istri mereka sudah tidur lebih dahulu karena ngantuk.
__ADS_1
Mereka terus menikmati pesta dengan beberapa perbincangan ringan tentang dunia perdewaan. Hingga akhirnya karena sudah mengantuk dan lelah, mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Bersambung....