King Of Universe

King Of Universe
Bab 56


__ADS_3

Bima pergi ke dapur untuk membuat kopi, saat sedang melamun menunggu air mendidih, datanglah Berliana bersama ketiga anak tirinya.


"Ada apa mah?" tanya Bima tersadar dari lamunannya.


"Sayang, mereka ingin berbicara." jawab Berliana.


"Hm? bicara apa?" tanya Bima menengok ke arah tiga pemuda pemudi yang bersembunyi di belakang tubuh Berliana.


"Bicaralah, moodnya sedang bagus." bisik Berliana.


"Kak, hehehe...aku minta maaf ya dulu sering menghina dan membentakmu." ucap Bian malu.


"Aihh, santai saja, yang lalu biarlah berlalu." jawab Bima santai.


"Kami juga minta maaf sudah berpikiran buruk tentang kakak." ucap Devi adik pertama Bian.


"Iya kak, kami minta maaf." ucap Diva adik terakhir Bian.


"Santai saja, tak usah di pikirkan." jawab Bima santai.


"Terimakasih kak sudah mau memaafkan kami." ucap Devi.


"Iya.." jawab Bima menganggukkan kepala.


Sadar akan air yang sudah mendidih, Bima langsung menuangkan air itu ke dalam gelas yang sudah terdapat kopi hitam pahit di sana.


"Aku ke belakang dulu ya, mau nyantai." ucap Bima melambaikan tangan.


"Tenangkan dirimu nak." ucap Berliana tersenyum tipis.


Bima terus berjalan ke halaman belakang, dia memilih untuk duduk di bawah pohon mangga. Bima mengeluarkan buku yang biasa digunakan untuk memuntahkan uneg unegnya, membakar rokok lalu mulai menulis.


Dari perjalanan hidup, takdir, kekuatan, sampai penyakit Bima tulis dengan sangat detail. Kecuali tentang keberadaan sistem, Bima tidak menceritakan tentang sistem.


Beberapa kali Bima melamun dengan tatapan kosong, rasa hampa, sepi, sedih, kecewa, semua Bima rasakan di dalam hatinya. Tidak ada lagi rasa sakit yang Bima rasakan, Bima seperti kebal akan sebuah perasaan.


Tidak ada rasa bahagia, tidak ada rasa senang, tidak ada rasa sedih, tidak ada rasa sakit, Bima sudah mati rasa. Hidupnya sudah seperti mayat.


"Bima, ayo makan nak, sudah siang." panggil Aurora.


"Baik bunda." jawab Bima bergegas membereskan semua barang-barangnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


Di ruang TV, mereka menunggu kedatangan Bima untuk makan bersama, ternyata ada alasan yang membuat mereka makan di ruang TV.


Bima melihat ada Billy dan keluarga yang datang berkunjung setelah beberapa minggu tinggal di Inggris, tempatnya bertugas sebagai Kepala Asosiasi Hunter Internasional.


Bima duduk di pojok ruangan, di samping Piu dan Pom yang senantiasa ada di sisi Bima. Bima agak mengambil jarak dengan teman-temannya karena ada perasaan malu dan aneh.


"Bima..." panggil Alena.


"Iya nek?" jawab Bima.


"Kamu kenapa nak? ada masalah apa?" tanya Alena.


"Tidak ada nek, Bima cuma lagi mau sendiri." jawab Bima tersenyum manis.


"Kamu pucet nak, jangan bohong." ucap Alena tau ada yang Bima sembunyikan.


"Sakit perut nek, gara gara minum kopi sebelum makan hehehe..." jawab Bima beralasan.


"Kamu ini kebiasaan nak." ucap Alena tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Tuan, sayang ingin berbicara, bisakah ke alam Surgawi? ini menyangkut penyakit langka milikmu." ucap sebuah suara berat yang tiba tiba menggema di seluruh ruangan.


"Siapa itu?" tanya Bima menengok ke kanan kiri.


'Roarrr..'


"Hm? Deku? ow, baiklah." ucap Bima yang paham akan auman Piu.


"Kenapa?" tanya Bima merasa di tatap tajam oleh Aulia dan semua orang di sana.


"Penyakit langka apa?" tanya Zoya dingin.


"Kalian tak perlu tau, ini urusanku oke? bye." jawab Bima santai lalu menghilang diikuti Piu dan Pom.


"Kau sudah menemukannya vin?" tanya Julian.


"Sudah, jamur 7 warna, yang mustahil di temukan, hanya 0,01% saja. Itupun hanya hidup di alam Dewa di hutan Kematian yang sangat berbahaya. Belum lagi harus di gabungkan dengan 2 bulu Phoenix Cahaya, 1 cakar gagak emas, dan ¼ tulang rusuk Naga Penguasa Langit Ke 7." jawab Kevin yang membuat Julian putus asa.


"Itu mustahil vin, sangat mustahil." ucap Julian lemas.


"Makanya Bima bilang gak ada obatnya! itu alasannya! belum lagi dia harus ngorbanin salah satu beastnya!" jawab Kevin kesal sendiri.


"Apa nama penyakitnya?" tanya Zoya pernah mendengar obatnya.


"Kutukan penguasa, penyakit yang di sebabkan karena terlalu banyak menyimpan energi dahsyat di dalam tubuh." jawab Kevin.


"Sial! itu yang di derita ayahnya dulu! sial! sial! sial!" ucap Zoya memukul telapak tangannya sendiri.


"Paman William?" tanya Kevin kaget.


"Bukan! Adrian Neilson Nara, Penguasa Jagat Raya yang melegenda! dia yang berhasil menaklukkan semua Dewa Para Beast, dia yang mampu menaklukkan semua Dewa Titan, dia yang merombak total hukum alam semesta. Dialah Dewa Penguasa yang paling di takuti, ayah kandung dari jiwa Bima." jawab Bima yang membuat mereka melongo.


"Terus bagaimana?" tanya Albert khawatir.


"Apa maksud kamu?" tanya Diana kaget.


"Tidak ada jalan pilihan lain selain menunggu kematiannya bun, kecuali ada yang mau mencari obatnya. Usianya juga sudah tidak lama lagi, paling setelah membunuh Albedo." jawab Kevin terus terang walaupun dia tidak rela kehilangan guru sekaligus sahabatnya.


"Gimana ini pah?! mamah gak mau kehilangan Bima! dia anak yang dititipkan Austin!" ucap Diana pada Jhon sembari menangis histeris.


"Biar aku yang bicara dengan Bima." ucap Doni.


"Yakin kau don? dia keras kepala cukk." tanya Rizal ragu.


"Jangan gegabah, dia bukan Bima yang dulu." ucap Aulia sedih.


"Kamu mungkin merasa seperti itu, tapi sifatnya sekarang adalah sifat aslinya. Sifatnya saat dulu di kucilkan, bisa dibilang aku yang paling dekat dengannya. Aku tau semua cerita kelamnya, kamu tenang saja." jawab Doni.


"Pasang mic biar kami bisa denger." ucap Tigers.


"Nanti kita atur saja." jawab Doni.


Di sisi lain, Bima kini sedang berada di alam Surgawi mendengarkan ceramah dari Adrian dan Smith. Keduanya terus mengoceh memarahi Bima karena sifatnya yang terlalu tertutup.


'Mana bukti kata katamu kemarin? mana? apakah ini Bima yang sudah aku momong jutaan tahun? apakah ini Bima sang penguasa itu? mana buktinya? mana?' tanya sebuah suara di benak Bima.


"Baiklah!!! iya iya! aku minta maaf!" ucap Bima kesal.


"Maaf katanya? kau dengar Zhong? sialan sekali dia!" ucap Kong menunjuk Bima dengan kesal.


"Cih! sialan sekali dia!" jawab Zhong juga kesal.

__ADS_1


"Aku akan cari obatnya setelah lawan Albedo besok! hentikan ceramah kalian!" ucap Bima sudah capek.


"Omong kosong! kamu pikir ayah tidak tau yang kamu pikirkan?!" ucap Adrian sinis.


"Kalian terima jadi saja! aku yang urus semua!" ucap Bima.


"Kau mau apa tuan?" tanya Drago.


"Mati." jawab Bima singkat tanpa ada rasa bersalah.


"Matamu! kalau kau mati terus nasib kami bagaimana bodoh!" teriak Drago marah.


"Mau bagaimana lagi! cuma itu cara satu satunya! kau mau cari jamur 7 warna yang hanya tumbuh 0,01% di hutan kematian yang sangat luas?! kau mau mengorbankan ¼ tulang rusukmu?! mau?!!!" teriak Bima penuh amarah.


"Sialan! kalian di beri enaknya saja tidak mau! biar aku yang susah! biar aku yang terima hukumannya! kalian tinggal duduk manis!" ucap Bima kesal.


"Kau pikir beban ku ringan hah?!! tidak! kau pikir aku mau merasakan rasa sakit yang menyiksa ini?! tidak! semua ini karma! pohon yang aku tanam dulu sekarang sedang aku unduh! kalian itu seharusnya bersyukur karena tidak ikut merasakan bebanku!" ucap Bima penuh kekesalan.


"Ceramah 4 jam gak ada jalan keluar! sialan!" teriak Bima lalu keluar dari alam Surgawi.


[Kita bicarakan setelah dia tenang]


"Baiklah." jawab Adrian menghela nafas berat.


Bima muncul di atap basecamp bersama Piu dan Pom, dia duduk di sana menenangkan diri dengan melamun dan memainkan rokoknya.


"Kau tau pom? aku sangat lelah dengan ini semua. Hahaha...kalau di suruh untuk memilih, lebih baik aku mati saat ini dan di siksa di neraka daripada harus hidup dengan penuh kesengsaraan." ucap Bima sembari mengelus kepala Pom dan Piu.


'Rrrrrr....woogggg...'


Pom mengeram keras dan menggonggong memperlihatkan kemarahannya atas putus asanya Bima.


"Kau marah padaku karena putus asa? hahaha...kau memang yang paling pengertian denganku. Baiklah aku akan kembali semangat." ucap Bima tertawa.


'Woogggg...woggg...'


"Yaa, aku juga senang melihatmu senang begini." ucap Bima tersenyum melihat gembiranya Pom.


"Kita mulai dari mana untuk kebangkitan ini?" tanya Bima berfikir keras.


'Roarrrr...'


Piu mengaum pelan dengan gerakan kepala menyundul lengan Bima.


"Aulia? kita mulai dari sana?" tanya Bima.


Keduanya mengangguk bersamaan, setelah itu Bima pun melompat turun bersama keduanya. Bima berjalan masuk kedalam rumah, dia berjalan menuju ruang TV yang ternyata sudah ada Doni disana sedang bermain ponsel.


"Kau gak jemput anakmu don?" tanya Bima duduk di sofa dan menghidupkan TV.


"Dah di jemput om Jhon barusan." jawab Doni santai.


"Ohhh..." ucap Bima lalu fokus melihat berita.


"Gimana?" tanya Doni.


"Apa?" tanya Bima balik.


"Penyakit mu." jawab Doni.


"Ohh, gak ada perkembangan, malah tambah parah ***." jawab Bima santai.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2