
Bima berkeliling melihat beberapa Mansion rekomendasi dari sistem. Sudah 3 Mansion Bima cek, namun tidak ada satupun yang sesuai dengan kebutuhan guild.
"Jauhnya bob!" ucap Bima di tengah perjalanan menuju Mansion ke 4.
[Dari Jakarta Timur ke Selatan bos! dari pada harus berurusan dengan keluarga Stanford]
"Kasihan Adel blokk! masa mau PAUD aja harus ke Jakarta Timur!" ucap Bima.
[Tinggal pindah, kan ada cabang PAUD di Jakarta Selatan bos! PAUD tempat Adel itu milik Organisasi yang besar, jadi kalau mau pindah bakal gampang dan yang utama tidak harus bayar lagi]
"Transfer murid gitu?" tanya Bima.
[Nahh! itu yang aku maksud!]
"Baiklah kalau gitu." ucap Bima.
Hampir 1 jam Bima melakukan perjalanan dari jakarta timur ke jakarta selatan, padahal biasanya hanya 30 menit saja. Hal ini di karenakan macet parah yang ada di mana mana akibat dari demo besar besaran yang di lakukan oleh masyarakat.
"Haihhhh! sampai juga akhirnya!" ucap Bima saat sampai di Mansion ke 4 yang Sistem rekomendasikan.
Bima memutuskan untuk istirahat sejenak di teras Mansion sambil merokok. Setelah cukup, Bima pun pergi berkeliling mengecek seluruh area Mansion.
Bima benar-benar teliti mengecek satu persatu ruangan di Mansion tersebut, bahkan dia mencatat jumlah kamar, ruangan, luas taman depan, luas halaman belakang, dan furnitur di dalamnya.
Setelah beres, Bima pun pergi untuk mengecek Mansion terakhir yang juga sama sama ada di Jakarta Selatan. Jarak antara Mansion ke 4 dan ke 5 ini hanyalah 10km dan tidak ada macet sama sekali. Jadi Bima sampai hanya dalam waktu 20 menit saja.
Sama, Bima mengecek seluruh area Mansion dengan teliti, mencatat semuanya dengan rinci untuk di laporkan pada orang rumah dan meminta pendapat mereka. Bima juga memfoto taman depan, halaman belakang, dan wujud Mansion.
Setelah beres semua, Bima pun akhirnya pulang kembali ke basecamp dengan rute memutar supaya bebas dari macet. Perjalanan sama sama 1 jam, namun tidak ada macet parah dalam perjalanan pulang ini.
Sesampainya di basecamp, Bima langsung pergi ke ruang TV untuk istirahat.
"Anjirr! sampe jam segini kau cok!" ucap Riski kaget saat melihat Bima pulang sampai pukul 23.00.
"Macet parah cok!" jawab Bima.
"Gimana? dapet?" tanya Julian.
"Aku ada lima Mansion, ukuran sama tapi beda jumlah ruangan sama beda jumlah kamar. Halaman depan belakang juga beda ukuran." jawab Bima meletakkan buku tulis di meja ruang TV dan menunjukkan 20+ foto yang dia ambil di tempat.
Julian dan Riski melihatnya dengan sangat teliti, mereka tidak mau salah pilih basecamp lagi karena malas untuk pindahan.
"Kaka Bima, kenapa sampai jam segini e? tadi di cari Adel." tanya Arie yang datang membawa secangkir kopi.
"Macet rie, Demo ada di mana mana." jawab Bima.
"Iya sih, katanya belakangan lagi banyak masalah." ucap Arie.
"Yang ini aja bim, halaman belakangnya luas, kamar juga banyak." ucap Riski menunjuk foto Mansion ke 5.
"Ruangan besar cuma satu cok!" ucap Julian.
__ADS_1
"Emang butuhnya satu kan? ruangan olahraga, gudang besar, semua udah ada cok! komplit!" jawab Riski.
"Eh! iya juga! buat apa ruangan besar banyak banyak!" ucap Julian baru sadar.
"Iyaa! makanya itu! dah yang ke 5 aja Bim! lebih elegan juga!" ucap Riski.
"Yakin?" tanya Bima memastikan.
Keduanya mengangguk cepat dan penuh semangat.
"Ya udah, aku urus pembeliannya dulu." ucap Bima mengambil kembali ponselnya.
[Sudah aku urus semua bos, kau tinggal transfer 25M ke nomor Rekening yang sudah aku kirim]
'Anjink! nombok 5M!' batin Bima kesal.
[Uang tidak di bawa mati bos]
'Susah payah aku carinya bodoh!' ucap Bima kesal.
[Pelit! kau bukan cina bos]
'Anjink!' ucap Bima kesal.
Bima mengirim uang ke rekening yang sistem kirimkan, setelah itu Bima pergi ke kamar untuk istirahat.
[Surat-surat sudah di Inventaris ya bos]
'Yoo...' jawab Bima.
"Kok belum tidur?" tanya Bima menghampiri Adel yang terlihat sudah sangat mengantuk namun belum juga mau tidur.
"Adel menunggu ayah pulang dari tadi." jawab Adel.
"Ini ayah sudah pulang, Adel tidur ya, nanti ayah menyusul." ucap Bima.
"Baik ayah." jawab Adel yang langsung tidur memeluk Jennifer.
Bima pun masuk ke kamar mandi untuk berganti baju dan cuci muka serta cuci kaki. Setelah itu Bima pun ikut tidur dengan memunggungi Jennifer dan Adel karena tidak mau membangunkan keduanya.
Keesokan harinya, saat sarapan bersama Bima memberi tahu akan kepindahan mereka ke Mansion baru.
"Mau pindah kapan? aku udah dapet tempatnya." tanya Bima membuka percakapan.
"Di mana sih? deket sini?" tanya Rizal.
"Jakarta Selatan, di sini mah gak ada cok!" jawab Bima.
"Uhuk...uhuk..." Jennifer tersedak ketika mendengar jawaban Bima.
"Minum minum! pelan pelan kalau makan!" ucap Bima langsung memberikan segelas air putih pada Jennifer.
__ADS_1
"Jauh banget nak dari sini, kasihan Adel." ucap Berliana.
"Kan bisa pindah mah, di sana ada cabangnya kok, kemarin aku tanya tanya, katanya gak perlu biaya tambahan buat pindah." jawab Bima.
"Tidak mau! Adel maunya di sini ayahh!" rengek Adel.
"Terus gimana? masa gak jadi? 25M loh!" ucap Bima.
"Soal Adel gampang sayang, yang penting pindah dulu, sayang uangnya." ucap Jennifer.
"Tak cari lagi aja nanti! ribet!" ucap Bima ketus.
"Adel gak mau kemana mana ayah! Adel mau disini! di rumah ini! huaaaaa!" teriak Adel yang menangis keras.
"Rewel? mau rewel iya? ha?" tanya Jennifer menatap tajam Adel.
"Hiks...tapi...tapi..Adel tidak mau pindah buu! Adel tidak mau kehilangan teman lagi buuuu!" jawab Adel sambil menangis.
"Kamu di sini sendirian saja! di temani hantu hantu yang ada di sini! mau?!" ucap Jennifer marah.
"Tidakk! tidak bu! Adel mau pindah saja! iya! iya! Adel mau pindah!" jawab Adel langsung berubah pikiran.
"Besok habis Adel pulang kita pindah sayang, jangan khawatir." ucap Jennifer pada Bima yang terlihat sedang sibuk pada ponselnya untuk mencari Mansion baru.
"Enggak, nanti aku cariin yang lebih dekat aja." jawab Bima cuek.
"Minta maaf sama ayah." ucap Jennifer dingin.
"Ayah! Adel minta maaf ayah!" ucap Adel memeluk Bima sambil menangis karena merasa sangat bersalah.
"Adel makan aja, gak usah mikirin tentang pindah rumah ya. Biar ayah yang pikirin." jawab Bima tersenyum tipis.
Adel dengan rasa bersalah yang tinggi pun terpaksa melanjutkan sarapannya. Selesai makan, Bima langsung pergi meninggalkan ruang makan untuk berganti pakaian.
"Padahal rumahnya bagus cok! luas, ada air mancurnya! argghhh! itu rumah impian banget!" ucap Riski pada Julian.
"Kejauhan ris, mau gimana lagi kan." ucap Julian dengan nada kecewa.
"Cuma 30 menitan kan dari sini ke jaksel?" tanya Rizal.
"20 menit kalau kau tau jalan tikusnya cok." jawab Riski.
"Iya, 20 menitan kalau kau tau jalan yang gak macet." ucap Doni.
Saat sedang asik ngobrol sambil makan, terlihat Bima pergi keluar dengan pakaian rapi dan menyangking sebuah tas slempang hitam.
"Mau kemana dia?" tanya Kevin.
"Cari Mansion lah! mau kemana lagi bodoh!" jawab Julian kesal.
"Masuk akal juga." ucap Kevin.
__ADS_1
"Sudah sudah, cepat makan." ucap Diana merasa kasihan pada Berliana yang terlihat merasa bersalah.
Bersambung.....