King Of Universe

King Of Universe
Arc 2 Bab 145


__ADS_3

Duarrrrr...


Sebuah ledakan dahsyat tiba tiba terjadi sampai membuat tanah bergetar hebat. Diikuti aura iblis yang sangat kuat dan dahsyat.


"Hahahahahaha...." suara tertawa dari dua orang terdengar jelas di telinga Bima dan teman-temannya.


'Sepertinya bukan iblis yang bisa di ajak bekerja sama tuan. Lebih baik anda musnahkan saja.' ucap Anubis.


Bima mengarahkan tangan kanannya ke tempat Henry dan Albert yang masih tertutup debu tebal. Bima melarapalkan mantra dengan cepat.


Woshhhhh....


Arghhhhhh....


Teriakan histeris dari dua suara tadi terdengar sangat memilukan. Mereka seperti di siksa hidup-hidup dengan sangat kejam sebelum teriakan memilukan itu hilang.


"Kau apakan bim?" tanya Julian dengan wajah pucat.


"Bunuhlah, buat apa pelihara makhluk yang gak bisa di ajak kerja sama." jawab Bima mengibaskan tangannya.


Angin berhembus kencang, membubarkan debu-debu yang beterbangan hingga memperlihatkan Henry dan Albert yang terkapar dengan luka parah di dadanya.


"Ada apa nak?!" tanya Diana panik.


"Hilangin kutukan bunda, itu tolong di urus ya, nanti kalau sudah sadar langsung suruh ke sini lagi." jawab Bima menunjuk Henry dan Albert.


Diana memanggil Lidia dan Lia untuk membantu mengangkat tubuh Henry dan Albert. Mereka berdua di bawa masuk ke dalam rumah dan langsung di tangani oleh Silvia.


Sedangkan Bima, dia lanjut melatih Riski, Julian, dan Arie dengan keras. Tidak hanya di halaman belakang, Bima juga mengajak mereka bertiga masuk ke dimensi pelatihan milik Bima dulu.


Ketiganya di push sampai titik maksimal oleh Bima, tidak ada istirahat, Bima terus menekan mereka untuk berlatih tanpa henti. Walaupun begitu, bukannya merasa marah atau putus asa, mereka bertiga malah tambah semangat.


7 hari di dimensi pelatihan sama dengan 7 jam di bumi, jadi setelah 7 hari berlatih mereka pun keluar dengan kondisi yang berbeda. Terasa lebih kuat dan penuh kewaspadaan.


"Keasikan kita cok! lanjut besok aja." ucap Bima.


"Sekarang hari apa?" tanya Riski.


"Kamis, besok pagi sampai sore kalian latihan. Nanti sore sampai malam tim Junior yang latihan." jawab Bima.


"Okelah kalau begitu!" ucap Riski menuruti Bima.


Mereka pergi ke kamarnya masing-masing untuk membersihkan diri dan istirahat sebelum makan malam.


"Yang!!!! kamu ngapain!!!" teriak Silvia menggedor gedor pintu kamar mandi sambil berteriak penuh amarah.


"Mandi!" jawab Bima.


"Keluarrr!" teriak Silvia sangat keras.


"Bentar." jawab Bima mempercepat mandinya.


5 menit kemudian dia keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai celana kolor saja.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Bima mengusap rambutnya dengan handuk.


"Ini siapa?!" teriak Silvia menunjukkan sebuah foto di ponsel Bima.


Bima melihat foto di ponselnya dengan teliti, dia baru ingat kalau di ponselnya masih tersimpan ratusan foto Jennifer.


"Aku lupa hapus yang hehehehe..." jawab Bima nyengir.


"Tega ya kamu! tega banget sama aku!" ucap Silvia mulai meneteskan air matanya.


"Lupa sumpah! aku gak ada hubungan lagi sama dia! aku juga gak pernah pegang HP belakangan ini! sumpah yang!" ucap Bima.


"Tega kamu! jahat! main di belakang aku waktu aku hamil! kamu laki-laki busuk!" ucap Silvia menunjuk wajah Bima penuh amarah.


"Sumpah! aku gak gitu yang! lagian buat apa sih aku main main sama kamu! gak ada gunanya yang! kamu juga udah hamil kan?! aku gak akan berani main main kayak begituan!" ucap Bima mencoba untuk menjelaskan.


Plakkk...


"Aku gak nyangka sama kamu!" ucap Silvia menampar keras pipi Bima lalu pergi begitu saja.


Bima menggelengkan kepala pelan lalu terduduk lemas di pinggiran kasur. Dia menatap ponselnya yang menjadi sumber masalah itu.


Bima melempar ponselnya dengan sekuat tenaga ke tembok kamar hingga hancur berkeping-keping. Setelah itu dia memakai baju dan pergi ke Alam Surgawi.


"Kenapa?" tanya Smith saat melihat Bima memukuli pohon sampai tangannya berdarah-darah.


"Aku di tuduh selingkuh paman, aku kemarin lupa hapus foto foto jen di HP." jawab Bima memandangi tangannya yang terus mengucurkan darah segar.


"Mood wanita hamil itu memang susah di tebak nak, kamu harus menjelaskan semuanya pada via supaya hubunganmu baik baik saja. Kalau kamu marah marah sendiri di sini, masalahmu tidak akan selesai." ucap Smith.


"Latihan pun juga kau tidak akan bisa fokus bos, minta maaflah dan jelaskan semua." ucap Kong.


Bima tetap diam tidak menjawab, Bima hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Dia tidak memperdulikan omongan dua makhluk itu, bahkan Bima tidak memperdulikan luka di tangannya.


[Keluar bos, waktunya makan. Ada beberapa informasi penting juga]


Bima tidak menjawab, dia langsung pergi menghilang begitu saja.


"Haihhh....dia sangat keras." ucap Smith pusing.


Bima muncul di halaman belakang, dia berjalan memasuki ruang makan sambil membalut kedua tangannya menggunakan perban.


"Kamu dari mana sih nak? Julian nyariin dari tadi." tanya Berliana.


"Nemuin Kong bentar." jawab Bima datar lalu duduk di sebelah Silvia masih dengan membalut kedua tangannya.


"Kau kenapa?" tanya Kevin heran.


"Tadi gelud sama Kong." jawab Bima cuek.


"Tumben musuhan." ucap Kevin kaget.


Bima tetap cuek, dia mengambil makanan ke piringnya lalu mulai makan dengan perlahan.

__ADS_1


"Kak Bima, tadi aku dapat informasi dari Asosiasi. Beberapa portal liar dengan tingkat yang jauh lebih kuat dari kelas Dewa Murni muncul bersamaan di beberapa kota. Kota kota itu ada di satu provinsi kak, yaitu di Jawa." ucap Lidia membuka percakapan.


"Lalu?" tanya Bima.


"Mereka meminta kita untuk menuntaskan semua kak, mereka akan memberi bayaran besar kalau kak Bima menyanggupi misi ini. Mereka juga menjanjikan bonus besar jika kita bisa menuntaskan semuanya tanpa menimbulkan korban jiwa." jawab Lidia.


"Jumlah?" tanya Bima.


"Ada 20 portal kak, semua ada di atas kelas Dewa Murni." jawab Lidia.


"Besok pagi biar aku sendiri yang urus. Kamu jawab saja kami sanggup." ucap Bima langsung membuat seisi ruang makan tersedak.


[Ketceh banget broooo!]


'Ngeri ngeri bos kita ini!' ucap Kong tersenyum bangga.


"Ada kita bim, kau jangan bertindak bodoh." ucap Julian setelah batuknya hilang.


"Kalian fokus latihan saja, nanti Kong sama Zhong yang bakal dampingi kalian." ucap Bima datar.


"Huss! gak boleh kayak gitu! kalian tim, jangan berjalan sendiri sendiri!" ucap Diana.


"Tim senior tidak lengkap, Henry sama Albert masih sakit. Tim Junior gak akan sanggup, siapa lagi? guild lain? mau setor nyawa seperti ayah dulu?" tanya Bima langsung membuat Diana terdiam bisu.


"Kalau mereka sanggup aku tidak akan memaksakan diri, ini juga demi menjaga popularitas mereka supaya tidak malu saat gagal menangani masalah ini." ucap Bima.


"Seenggaknya kasih mereka ikut buat beberapa portal nak." ucap Berliana.


"Terserah." jawab Bima cuek.


"Dua portal ya bim, aku mau coba ketahanan tubuh cok. Biar kalau ada kekurangan bisa langsung aku perbaiki." ucap Riski.


"Terserah kalian." jawab Bima cuek.


"Besok siap siap rie! kita berangkat pagi!" ucap Riski.


"Siap kaka!" jawab Arie semangat.


Bima menyelesaikan makannya lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka semua. Bima pergi ke kamarnya dan duduk di balkon memandang bintang bintang yang indah dj atas langit.


[Apa rencanamu?]


"Media latihan." jawab Bima singkat.


[Media latihan atau berusaha mematikan diri?]


"Media latihan, buat apa aku bunuh diri." jawab Bima datar.


[Aku harap otakmu tidak rusak bos, aku mau istirahat dulu]


Bima menyulut rokoknya sambil memandangi bintang di langit malam yang sunyi itu. Satu barang habis, Bima langsung pergi tidur, Bima tidak tidur di atas kasur, melainkan di lantai dengan alas kasur lipat dan berselimutkan sarung.


Bima tertidur pulas walaupun sedikit kedinginan, sampai saat Silvia memasuki kamar dia kaget melihat Bima tidur di bawah bukan di kasur. Ingin sekali Silvia membangunkan Bima untuk tidur di kasur bersama, tapi karena teringat tentang keributan tadi, Silvia pun mengurungkan niatnya dan pergi tidur tanpa membangunkan Bima.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2