King Of Universe

King Of Universe
Bab 57


__ADS_3

"Kau gak mau cari obatnya?" tanya Doni.


"Gak, harus ngorbanin salah satu bawahanku, gak bisa aku kalau buat sembuh harus ngorbanin makhluk hidup." jawab Bima menggelengkan kepala.


"Terus gimana?" tanya Doni.


"Matilah, mau gimana lagi?" jawab Bima dengan santainya.


"Kok gitu? Aulia gimana? kalau dia hamil gimana?" tanya Doni.


"Iya juga ya, gimana ya?" ucap Bima baru sadar.


"Kau pikirin lebih mateng, mau gimana gimana nya." ucap Doni.


"Aku udah gak gitu gitu satu minggu don, mana mungkin dia hamil. Kecuali kalau sama yang lain, tapi gak mungkin lah, dia udah janji." ucap Bima teringat.


"Kau gak mau gituan lagi sama dia? waktumu masih banyak loh." tanya Doni.


"Gak, aku mau fokus ke penyakit dulu. Aku mau mati dulu." jawab Bima.


"Maksudmu?" tanya Doni bingung.


"Mati yang bener bener mati, salah satu metode buat hapus beberapa penyakit berbahaya. Habis selesaikan misi, terus ritual khusus. Ritual yang khusu di lakukan pada penguasa, kayak ayah ku dulu." jawab Bima santai.


"Kalau gagal?" tanya Doni.


"Ya udah, ke neraka, soalnya aku udah tinggalin tanggungjawab besar di dunia." jawab Bima dengan sangat santai.


"Bahaya juga." ucap Doni.


"Gak seberapa itu." jawab Bima terkekeh pelan.


"Hubungan mu sama Aulia gimana? baikan atau gimana?" tanya Doni.


"Ini cuma kau yang tau ya, sebenernya aku udah mati rasa ***, aku di tusuk aja gak kerasa apa apa. Bener bener hampa rasanya, kebas semua perasaan." jawab Bima berbisik.


"Kok bisa gitu?" tanya Doni aneh.


"Aku gak bisa ekspresikan rasa amarah dan dendamku selama ini, ini buat aku mati rasa, dendam sama amarah itu bikin semua perasaan di tubuhku mati. Sekarang jadi gini deh, senyum palsu, ketawa palsu, bahagia palsu, sedih palsu, semua palsu." jawab Bima.


"Semua kata kata motivasi gak bisa masuk nembus pikiranku yang udah mati ini. Sekarang aku hidup bener bener kayak mayat, gak ada perasaan apapun, gak ada arah tujuan sama sekali, di depan mata cuma ada kematian sama neraka." lanjut Bima.


"Gak ada yang bisa bimbing aku, Aulia? dia terlalu lembut dan mudah di atur, kurang tegas dan mudah menangis. Susah buat bimbing aku kemana. Mamah? Bunda Aurora? Bunda Diana? gak, gak bisa, mereka juga sama, tegas kalau lagi marah doang." lanjutnya.


"Kau bener bener hilang arah?" tanya Doni merasa miris dengan Bima.


"Iya, tempatku cerita itu cuma mereka berdua, dua makhluk yang senantiasa ada di sisiku, mendengarkan keluhanku, pokoknya yang terbaik mereka berdua ini." jawab Bima menunjuk Piu dan Pom yang sedang tertidur pulas.


"Bawahanmu?" tanya Doni.


"Mereka susah di ajak serius, di ajak curhat malah melenceng kemana mana, gak ada alasan buat aku pulang. Aku ngerasa udah gak ada rumah yang cocok buat hidup." jawab Bima tersenyum tipis.


[Omong kosong! rumahmu ada di kondisi teman-teman mu! alasanmu pulang ada di ketiga ibumu! alasanmu hidup ada di Aulia! cuma kau saja yang tidak peka! dasar bodoh!]


'Kau ada benarnya bob hehehehe....' ucap Bima terkekeh.


[Teruslah hidup bos, aku belum pernah menemukan tuan yang seperti kau! tuan yang mengerti perasaan bawahannya, tuan yang menganggap bawahan sebagai teman, kau adalah satu-satunya di alam semesta ini]


"Cepet banget ***! lihat! portal iblis udah muncul!" ucap Bima menunjuk layar TV.

__ADS_1


"Kok gak ada auranya?" tanya Doni.


"Biasalah iblis, penuh ilusi. Itu dimana ya?" tanya Bima balik.


"Di Eropa kayaknya." jawab Doni.


"Harus secepatnya di evakuasi ke benua lain sih, bahaya banget." ucap Bima.


"Nanti aku bilangin ke kakek Billy.


"Aku ke kamar dulu, mau istirahat, pusing banget palaku." ucap Bima beranjak pergi.


Setelah kepergian Bima, Doni pun melepas microphone kecil di balik bajunya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bim bim, gini banget nasibmu." gumam Doni miris.


Tak berselang lama, yang lainya keluar dari kamar utama tempat Diana dan Jhon tidur. Mereka menenangkan Doni yang terlihat stress mendengar langsung curhatan Bima.


"Gak nyangka aku don." ucap Riski dengan wajah yang masih kaget.


"Aul, ayo ubah sifatmu menjadi tegas, bimbing dia yang sudah hilang arah. Cuma kamu yang bisa bimbing dia, aku tau dari dalam lubuk hati Bima pasti punya sebuah alasan untuk melakukan ini semua." ucap Doni.


"Apa alasannya?" tanya Aulia penasaran.


"Dia sudah menjadikanmu dunianya, mungkin bagi dunia kamu hanya seseorang, tapi baginya kamulah dunianya. Kamu pasti bisa membimbinya, berikan pencerahan untuk dia, berikan semangat padanya. Aku tau kamu bukan manusia biasa, jadi aku serahkan semua padamu." jawab Doni.


"Aku ke kamar dulu." ucap Aulia dingin lalu pergi begitu saja.


"Siapkan diri kalian, kita akan perang melawan iblis." ucap Kevin menengok ke layar TV.


"Secepat ini kah?" gumam Riski menunduk lesu.


"Aku gak bisa Zal, hilang arah aku kalau gak ada Bima, cuma dia yang bisa bimbing aku sampai ke titik ini. Gak ada dia aku gak bisa bayangin Zal, gimana bobroknya aku di masa depan." jawab Riski.


"Kan masih ada Lisa, kau bisa jadikan dia tujuan." ucap Julian.


"Jul, kau gak tau gimana kuatnya dia dulu kan? kau gak tau gimana kuatnya dia di samping hinaan, cacian, makian, yang dia terima? sekelas Lisa gak bisa gantiin posisi Bima yang dulu pernah buat semangatku bangkit." jawab Julian.


"Ssstttt! kamu harus kuat! tunjukkin sama Bima kalau kamu bisa! tunjukkin sama Bima kalau kamu bisa! kamu harus pamerin pencapaian yang sudah kamu dapat setelah berguru sama Bima!" ucap Aurora.


"Kalau gitu Riski bakal tunjukin ke Bima." ucap Riski tersenyum.


"Semangat!" ucap Aurora mengepalkan tangan.


Di sisi lain, Bima yang sedang melamun di kamarnya dibuat kaget dengan pintu yang terbuka sangat keras.


Plakkkk...


Belum selesai kagetnya, tiba tiba Bima mendapatkan tamparan keras dari Aulia dengan wajah yang sangat sangat kesal.


'Kesurupan apa anak ini.' batin Bima mengelus pipinya.


"Mau sampai kapan kamu kayak gini? hah?!" tanya Aulia keras.


"Kapan kapan." jawab Bima.


"Jawab yang bener!" ucap Aulia menatap tajam Bima.


"Gak tau." jawab Bima tak berani menatap mata Aulia yang terlihat sangat mengerikan saat marah begini.

__ADS_1


"Kamu tu sadar gak sih? aku, bunda, semua itu sayang sama kamu! kamu sadar gak?!" tanya Aulia.


"S-sadar." jawab Bima.


"Terus kenapa kamu harus gini?! kenapa?! mau buktiin seberapa besar kita sayang sama kamu? iya?! hah?!" tanya Aulia benar-benar marah.


"E-enggak kok." jawab Bima menggeleng cepat.


"Terus kenapa?!" tanya Aulia terus menatap tajam.


"A..anu...a-aku cuma gak mau ng-ngerepotin." jawab Bima.


"Bodoh! pemikiran bodoh!" teriak Aulia sangat marah.


'Ngerinya dia!' batin Bima ketakutan.


"Pemikiran kamu itu gak pernah berubah ternyata! kamu itu pemimpin teman teman kamu! kamu itu alpha mereka! kamu leader mereka! kalau kamu hilang arah gini, terus gimana nasib mereka?! harus nungguin kamu sampai mati gitu? iya?!" tanya Bima.


Bima terdiam membisu tidak bisa menjawab pertanyaan Aulia.


"Katanya pria, kok lemah? katanya penguasa? kok gampang putus asa? mulut dengan perilaku kok berkebalikan!" ucap Aulia.


"I-iya m-maaf." ucap Bima lirih.


"Iyi miif! sampah! kalau udah gini baru minta maaf! coba dari awal terus terang! kita kan bisa bantu cari jalan keluar! kamu anggap aku istri gak sih? kok setiap langkah yang mau kamu lewati gak pernah tanya pendapat aku?" tanya Aulia.


"I-iyalah, kamu aku anggap istri aku!" jawab Bima.


"Terus kamu tega gitu lihat aku tersiksa gini? aku tuh stress tau gak?! kamu itu terus menutup diri setiap aku tanya! aku bingung mau ngapain! bingung yang!" teriak Aulia.


"Atau jangan jangan kamu ada simpenan?! kamu tanya pendapat ke dia bukan aku! kamu lebih terbuka sama dia! kalau sama aku kamu cuma mau tuntasin nafsu kamu! gitu?!" ucap Aulia.


"E-enggak! kamu satu satunya kok." jawab Bima langsung klarifikasi.


"Sekarang terus terang! kamu mau gimana! jujur sama aku kalau kamu masih anggap aku istri! tapi bohongin aku aja kalau udah gak sayang lagi!" ucap Aulia.


"Iya iya, aku jujur!" jawab Bima cepat.


"Ngomong cepet!" ucap Aulia.


"Cepet." jawab Bima.


"Bukan gitu!!! ishhh! kamu jadi bodo banget sih!" ucap Aulia kesal.


"Duduk dulu, tenang, sabar, kalau kamu emosi gini aku gak bisa cerita." ucap Bima menepuk kasur.


"Awas ya kalau bohong!" ucap Aulia menunjukkan tinjunya.


"Iya." jawab Bima lembut.


Kemudian Bima pun memulai ceritanya, dia memberitahu langkah langkah yang sudah dia rangkai pada Aulia. Dari mulai ritual penghilang penyakit, sampai 10 langkah kedepannya Bima ceritakan dengan detail.


Bima juga mengungkapkan rasa senang dengan perubahan sifat Aulia yang lebih tegas. Bima juga mengatakan kalau dia mungkin tidak akan bisa bersanding lagi dengan Aulia.


"Kenapa?! kamu ada yang lain? aku udah gak menarik lagi ya?" tanya Aulia langsung memeluk lengan Bima erat.


"Aku udah di buru para Dewa Dewi penguasa sayang, belum lagi para hunter yang juga masih memburu. Aku gak mau kamu ikut jadi buronan, aku gak mau kamu kesusahan kayak aku sekarang." jawab Bima mengusap kepala Bima lembut.


"Kalau dunia melawan kamu, biarkan aku bersanding denganmu untuk melawan dunia. Walaupun nyawa sebagai taruhannya aku tidak akan pernah mau pisah dengan kamu." ucap Aulia dengan tatapan mata yang belum pernah Bima lihat sebelumnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2