
Bima kembali ke gazebo bergabung dengan yang lainnya nongkrong santai di sana. Mereka ngobrol santai sampai sore, namun di tengah keasikan mereka, tiba tiba muncul segerombolan orang yang membuat suasana hancur.
[Ck! apalah mereka ini bos! mengganggu saja!]
"Aku mau mandi dulu, capek juga seharian nongkrong." ucap Bima beranjak pergi namun di tahan oleh seseorang.
Ya, yang datang adalah Kevin dan kawan-kawan bersama Billy dan yang lainnya.
"Mau kemana?" tanya Billy menahan tangan Bima.
"Tuli?" tanya Bima dingin.
"Aku datang kesini untuk menemuimu, minimal sambutlah sebentar." ucap Billy.
Bima tersenyum sinis dan menepis tangan Billy, tanpa banyak bicara Bima langsung pergi begitu saja.
"Ngapain kesini? ini bukan wilayah kalian." ucap Riski santai sambil main gaple bersama Julian.
"Ris, ayolah!." ucap Rizal.
"Ngapa? ini pilihanku kok, bebas dong." jawab Riski santai.
"Woy! empat sama empat tolol! malah naruh enam!" ucap Julian kesal.
"Loh, di kurang dua kan empat jul." ucap Riski.
"Gak gitu cara mainnya blokkk!" ucap Julian menjitak kepala Riski.
"Kalah cokk aku!" ucap Riski saat melihat kartu gaple di tangannya.
"Payah!" ucap Julian menaruh kartu gaple dengan wajah penuh kemenangan.
"Ris! ayolah cok! jangan bubar! kita udah punya planing bersama cok buat kedepannya!" ucap Rizal.
"Apasih! pulang aja sana! ganggu!" ucap Riski kesal.
"Jul, aku minta maaf Jul, kita udah jadi keluarga Jul, ayolah." ucap Kevin.
"Kita? keluarga? cuih! gak sudi anjink!" ucap Julian meludah.
"Jul! kau bawa sabun gak? anjink! aku lupa bawa cok!" teriak Bima dari dapur.
"Tolol anjink! di kamar mandi deket dapur tadi aku taruh satu botol!" jawab Julian.
"Lupa cok!" ucap Bima kembali masuk.
"Bodoh banget dia sekarang ris!" ucap Julian kesal.
"Hahaha...wajar lah, kebanyakan pikiran dia, jadinya pelupa." jawab Riski tertawa geli.
"Mikirin apa dia cok! istri gak ada, anak ada sih tapi entah kemana, guild gak ada, apa? bebannya ringan cok sekarang!" ucap Julian melirik ke arah Kevin.
"Iya juga ya! wahhh! pasti enak banget sekarang hidupnya! semoga aja gak ada lagi ya beban beban berikutnya!" ucap Riski.
"Eh! tapikan dia masih harus mikirin alam semesta ris, belum lagi nasib kita kedepannya, terus keselamatan masyarakat, ehh baru sadar aku!" ucap Julian.
"Ha'ah lahh! uihhh! sepertinya tidak seringan itu ya!" ucap Riski.
"Hihihihi..." Indah dan Lidia hanya bisa tertawa cekikikan mendengar celotehan kedua orang itu.
"Kasihan ya Bima, setiap punya istri pasti selingkuh, haihhh...parahnya yang ngembat sahabatnya sendiri. Gak nyangka aku jul, padahal dia udah di bimbing sampai ke titik tertinggi dari hidupnya cok! bener bener gila!" ucap Riski.
"Mind blowing!" ucap Julian.
"Ayo pulang ris, kita butuh kalian." ajak Doni.
__ADS_1
"Ini rumahku, ngapain pulang. ya gak Jul!" ucap Riski mengepalkan tinjunya.
"Yoiii!" jawab Julian meninju tangan Riski.
"Kita masih ada ikatan guild jul, jangan gitu, kita susah kalau gak ada kalian bertiga." ucap Doni.
"Aku keluar, tadi pagi kan udah bilang! kalian tuli atau gimana sih! apa perlu bukti?! apa perlu aku bakar jubahku di depan mata kalian?! hah!" ucap Julian marah.
"Aku mohon maaf jul, ris, gara gara aku guild jadi bubar gini." ucap Kevin dengan wajah memelas.
"Buat apa? udah telat! kita gak akan balik! kita bukan lagi tim! kita bukan lagi saudara! putus persaudaraan kita anjink!" ucap Julian.
"Kau pikir hanya dengan kata maaf kaca yang pecah bisa balik menyatu? tidak!" ucap Riski.
"Baru dua hari lho kak kami merayakan hari bahagia, baru dua hari! tapi apa? karena perbuatan bodoh kakak semuanya berubah! hancur berkeping-keping seperti kaca pecah! walaupun kakak berusaha menyatukannya, serpihan serpihan kecil masih banyak yang hilang!" ucap Lidia.
"Kalian ini pernah berpikir tidak sih? semakin kalian mendesak Bima, kalian juga semakin membuatnya jauh! sudah beban! bodoh! tukang kentu lagi! komplit anjink!" ucap Julian.
"Anjayy! tukang kentu gak tuh! keren juga julukanmu Jul!" ucap Riski.
"Anjink! threesome lho! bang*at! mending kalau ceweknya bukan dari kita! lha ini! istri orang cok! kan keliatan sifat aslinya!" ucap Julian.
Saat suasana sedang tegang dan perdebatan antara Kevin dan Julian sedang berlangsung, Bima tiba tiba datang dengan hanya memakai kolor, telanjang dada, dan di rambutnya masih ada busa shampoo.
"Ini kalau ada go pud tolong yak, anjink! di telpon mulu ******!" ucap Bima menyodorkan ponselnya pada Lidia.
"Minimal siram dulu rambutmu blok!" ucap Riski kesal.
Bima meraba rambutnya dan ternyata masih ada bisa shampoo nya.
"Pantes pedes anjink mataku!" ucap Bima kesal lalu berlari untuk membasuh rambutnya.
"Ck! bodoh sekali dia!* ucap Riski kesal.
"Cepet banget! ya udah ayo!" jawab Indah.
Keduanya pun pergi meninggalkan mereka yang masih sibuk berdebat.
"Pulang! kita mau tenang! kita juga udah kirim dokumen buat bikin guild baru!" ucap Julian sudah capek.
"Jul! ayolah cokk! pikirin nasib yang lain! jangan pikirin nasib kalian sendiri!" ucap Kevin.
"Apa susahnya sih cari orang lain! anak anak muda yang lebih kuat banyak kali! gak cuma kita! buka matamu! jangan cuma cewek doang pikirannya!" ucap Julian.
"Lah! mana Lidia?" tanya Bima yang datang dengan kaos dan celana kolor sedengkul.
"Ambil makanan di depan." jawab Julian.
"Ohh udah sampe ya." ucap Bima duduk di samping Riski dan menyulut rokoknya.
"Bima, ayo pulang nak, bunda gak bisa tidur kalau kamu jauh dari bunda." ucap Aurora.
"Bunda tidur sini lah, apa susahnya." jawab Bima cuek.
"Mau kamu sekarang gimana nak? bunda ikut aja deh." ucap Aurora.
"Mau Bima bunda tinggal di sini sama Bima. Terus yang lain suruh pulang aja, gak penting." jawab Bima.
"Ya udah deh, besok bunda pindah ya." ucap Aurora nurut.
"Lagian Zoya juga tinggal si sini kok, jadi bunda gak usah khawatir soal temen bicara." ucap Bima santai.
"Iya, bunda nurut." jawab Aurora pasrah.
"Bima, jangan begitu sayang, ayo pulang, temen temen kamu butuh kamu banget sayang." ucap Berliana.
__ADS_1
"Mamah pulang sendiri aja, Bima mau di sini aja, Bima butuh suasana baru, teman baru, dan partner baru. Bima udah gak kuat lagi sama guild sampah ini." jawab Bima.
"Apa maksudmu?!" tanya Rizal tidak terima.
"Kamu jangan begitu bim, kalau gak ada mereka nama kamu juga gak akan setinggi ini." ucap Abigail.
"Kau dengar ris? lucu sekali orang baru ini." ucap Bima.
"Hahahaha...lucu banget rek! gak bisa sebesar ini katanya! Jul! lucu banget cokk!" ucap Riski tertawa keras.
"Yang ada kalau gak ada Bima nama kita gak akan setinggi ini!" ucap Julian.
"Kau jangan meremehkan kita ya! mentang mentang kau jadi ketua! kau bisa seenaknya ngatain kita! sialan kau!" ucap Rizal marah.
"Bibi, aku minta maaf." ucap Silvia.
"Siapa dia?" tanya Bima berbisik pada Riski.
"Aku gak tau, kayaknya simpenan baru Kevin." jawab Riski berbisik.
"Oooo! masuk akal!" ucap Bima menganggukkan kepala.
"Kalau kamu gak mau balik, terpaksa aku akan copot pembelaan Asosiasi terhadap title buronanmu." ucap Billy.
"Copot saja! buat apa melindungi orang tidak tau diri sepertinya!" ucap Rizal.
"Kalau ayah copot silahkan saja, tapi aku akan terus membela keponakanku. Di sini, di tanah kelahirannya, Indonesia, dia bebas melakukan apapun. Bahkan membunuhmu juga aku persilahkan." ucap Andi tegas.
"Apa apaan ini om! jangan bela dia! yang ada malah tambah besar kepala! sudah bagus bunuh dia saja biar dunia aman!" ucap Kevin sudah habis kesabaran.
"Kau mau membunuh kakakku? langkahi dulu mayatku!" ucap Albert mengeluarkan auranya.
"Cuihh! aura receh! aku ini Dewa Samudra! gak ada apa apanya auramu sampah!" ucap Kevin.
Woshhhh...
Boommm..
"Coba katakan sekali lagi." ucap Bima dengan suara berat.
Ya, Drago kembali mengambil alih tubuh Bima karena sudah sangat sangat marah.
"Tenanglah, ini bukan ranahmu." ucap Bima menarik auranya kembali.
"Bert, kau kembali ke markas besar saja sama Tigers, urus tentara bayaran kita di sana. Kalau mau berkunjung, berkunjung saja, bebas." ucap Bima.
"Baik kak, ayo." jawab Albert mengajak Tigers, Lia dan Ria pergi.
"Aku akan datang lagi ya!" ucap Tigers melambaikan tangan.
"Pergilah, sebelum sabarku habis, aku bukan tipe manusia yang lemah lembut." ucap Bima.
"Akan aku tunjukkan bahwa kami tidak bergantung padamu!" ucap Rizal mengelap darah yang mengalir di ujung bibirnya.
"Istrimu milikku! jangan mengemis padaku supaya dia kembali!" ucap Kevin dengan tatapan penuh dendam.
"Bawa saja, aku gak butuh wanita murah." jawab Bima santai.
"Besok bunda datang ya nak." ucap Aurora berlalu pergi.
Barulah setelah mereka pergi suasana kembali aman dan nyaman seperti sebelumnya. Karena hari sudah malam, mereka pun masuk ke dalam rumah untuk makan malam bersama.
Setelah makan malam, mereka pun langsung ke kamarnya untuk istirahat.
Bersambung....
__ADS_1