
Keesokan harinya, publik di buat gempar dengan pencapaian guild The Devil's Crew yang mampu menyelesaikan 10 portal kelas Dewa hanya dalam waktu satu malam. Bahkan sekarang penghitungan inti core dan mayat monster masih berlangsung.
Berita yang menghebohkan ini tentu saja membuat beberapa guild teratas merasa terancam posisinya. Terutama Guild The Sky God yang sangat takut posisinya di geser.
Di basecamp, Arie, Riski, dan Julian langsung terkapar dengan tubuh meriang. Mereka benar-benar sakit setelah seharian penuh bertempur melawan monster.
Sedangkan Bima masih tertidur pulas di kamarnya karena kelelahan. Jam 1 siang Bima baru bangun tidur, tubuhnya masih terasa sangat pegal dan lemas, entah kenapa bisa begitu.
Setelah mengumpulkan nyawa, Bima pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Bima langsung turun ke bawah untuk makan siang.
"Wuihhh! tongseng kambing! iga bakar!" seru Bima ketika melihat lauk yang ada di atas meja.
Bima langsung memakannya dengan lahap karena perutnya kebetulan sedang kelaparan. Selesai makan, Bima duduk di ruang TV menunggu kabar dari Asosiasi mengenai pembayaran inti core, mayat monster, dan penyelesaian misi.
[Info bos, 5000% kekuatanmu kembali di bekukan, alasannya karena kau di anggap menyombongkan diri atas kekuatanmu]
'Baiklah...' jawab Bima masih menahan.
'Apa apaan bos! ini sudah sangat merugikan! 15000% kekuatanmu yang kau dapatkan secara susah payah dan menghadapi berbagai macam siksaan! tidak boleh di pamerkan?! apa apaan itu!' teriak Kong tidak terima.
'Diamlah Kong aku sedang malas.' ucap Bima malas berdebat.
'Bos! ayolah! gugat kayangan! jangan cuma diam menerima saja!' teriak Kong kesal.
'Apa kau sudah mulai membangkang Kong?' tanya Bima dingin.
'Ck! maaf!' jawab Kong langsung terdiam dan masuk ke dalam goa tempatnya tidur.
Bima lanjut menonton TV sekaligus menenangkan hatinya yang sangat kacau. Hingga tiba tiba ponselnya berdering dan menunjukkan nomor asing.
"Halo, dengan siapa saya bicara?" tanya Bima mengangkat telepon.
"Kami dari Asosiasi pak, mengabarkan kalau penghitungan yang bapak dan guild The Devil's Crew dapatkan telah selesai. Bisa bapak datang sekarang juga?" jawab seorang wanita.
"Baiklah, aku ke sana sekarang." ucap Bima.
"Kami tunggu pak." jawab seorang wanita lalu menutup telepon.
Setelah itu Bima langsung ke kamarnya untuk ganti baju dan memakai jubah serta topeng khas guild. Selesai berganti pakaian, Bima langsung berangkat ke Asosiasi.
Sesampainya di Asosiasi, Bima langsung berjalan cepat menuju gedung utama yang sudah ramai hunter dan wartawan yang sangat penasaran dengan guild ini.
Bima menghampiri meja resepsionis untuk konfirmasi, selanjutnya resepsionis itu mengarahkan Bima untuk ke bagian penarikan dana.
Bima menarik semua uang yang di hasilkan dari menyelesaikan 10 misi kemarin. Bima tidak menanggapi berbagai pertanyaan dari wartawan karena sedang fokus mengisi formulir.
"Semuanya 3 triliun ya tuan." ucap teller yang melayani Bima menyodorkan cek.
"Terimakasih ya." ucap Bima langsung berlalu pergi.
Bima mendengar berbagai makian dari para wartawan dan hunter yang ingin mewawancarai Bima. Namun Bima tetap cuek dan memilih untuk pergi kembali ke basecamp.
__ADS_1
"Kamu masukin ke kas ya, itung aja bersihnya berapa, lebihin ya buat gaji mereka." ucap Bima pada Lidia yang sedang fokus pada laptopnya.
"Ohh iya kak." jawab Lidia.
Setelah itu Bima pun kembali ke kamarnya untuk kembali istirahat.
[Bos, kau tidak mau jalan jalan? refreshing gitu?]
"Nanti malem sabi kali ya." ucap Bima.
[Terserah bos]
"Iyalah, ntar malem jalan jalan." ucap Bima.
Karena tubuhnya masih sangat lelah, Bima pun kembali tertidur pulas. Bima kembali bangun dari tidurnya karena sebuah panggilan telepon di ponselnya.
"Halo, siapa?" ucap Bima mengucek matanya.
"Aku Doni." jawab suara dari seberang.
"Napa?" tanya Bima malas.
"Bisa ketemuan gak ya? di cafe biasanya." jawabnya.
"Ya, jam 7 ya." ucap Bima.
"Yoo, aku tunggu." ucap Doni.
Selesai mandi, Bima yang sudah lumayan segar pun menengok jam yang ternyata sudah pukul 18.00. Bima buru buru ganti baju lalu gas menuju cafe yang biasanya tempatnya dan kawan-kawan dulu nongkrong.
Sesampainya di lokasi, Bima langsung masuk ke dalam cafe dan mencari keberadaan Doni di sana.
"Oii!" panggil Doni melambaikan tangan.
Bima menengok lalu lanjut memesan makanan dan minuman sebagai teman ngobrol. Setelah memesan, Bima langsung berjalan menghampiri Doni yang duduk sendirian di pojok ruangan dekat kaca.
"Tumben ngajak ketemuan." ucap Bima menyulut rokoknya.
"Mau curhat aja si." jawab Doni.
"Napa cok?* tanya Bima heran.
"Guild udah di ambang kehancuran, udah ratusan orang kita seleksi buat masuk guild. Tapi sampai sekarang gak ada yang cocok. Malah kemarin nambah lagi satu masalah, aku sekeluarga yang lagi sendirian di rumah tiba tiba di serang sama manusia bertopeng yang dulu sempet nyerang bunda Aurora." jawab Doni bercerita.
"Terus? sekarang gimana istrimu? Bella gimana?" tanya Bima.
"Mereka luka bim, parah, sekarang lagi di rawat di rumah sakit. Kritis bim mereka, aku bingung sekarang mau gimana." jawab Doni dengan suara lirih.
"Kau jaga mereka lah, ngapain di sini blok!" ucap Bima.
"Aku gak ada uang lagi bim, semua tabungan udah habis, gak ada pemasukan lagi." ucap Doni.
__ADS_1
"Masalah uang gak usah di pikirin, yang penting kau jaga anak istrimu aja di sana." ucap Bima.
Doni terdiam dengan kepala menunduk karena bingung. Namun beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi, Doni membuka ponselnya dan terdapat notifikasi tentang uang 300M yang masuk ke rekeningnya.
"Pergi sana." ucap Bima santai.
Doni tersenyum haru lalu bergegas pergi menuju rumah sakit untuk membayar semua biaya pengobatan anak dan istrinya. Sedangkan Bima, dia lanjut nongkrong di cafe selama 2 jam, karena bosan tidak ada yang di ajak bicara, Bima memutuskan untuk pergi ke taman kota.
Bima duduk di kursi taman sendirian di malam hari yang dingin dengan sebatang rokok di tangannya. Bima berkali-kali menghembuskan nafas berat sambil menundukkan kepalanya.
Di kepalanya Bima hanya memikirkan satu hal, yaitu dendam, satu kata itu terus berputar di kepala Bima dengan berbagai kejadian ikut membuntuti.
"****!" gumam Bima mengepalkan tangan kirinya.
'Kalau aku lakukan perombakan besar itu, aku pasti akan di hukum sangat berat, atau bahkan akan dimusnahkan. Tapi kalau aku tidak melakukannya, hidupku dan hidup orang-orang akan stuck di hidup penuh siksaan ini selamanya!' batin Bima dengan hati terdalam.
'Di musnahkan dengan alasan menyelamatkan hidup orang bukankah keren? haha...sepertinya lebih mulia jika mati dengan senyum makhluk lain daripada mati dengan senyuman diri sendiri.' ucap Bima.
'Baiklah, aku akan melakukannya demi kesejahteraan rakyat ku.' ucap Bima sudah bulat.
"maksimal kekuatanku berapa bob?" tanya Bima.
[Kenapa? kenapa kau bertanya seperti itu?]
"Berapa?" tanya Bima.
[100000% bos, itupun kalau kau berlatih miliaran tahun]
"Miliaran? lama sekali!" ucap Bima.
[Itu karena kekuatanmu telah di segel lebih dari setengahnya]
"Baiklah, terimakasih." ucap Bima.
Bima lanjut melamun di sana sampai habis sebungkus rokok, karena sudah bingung mau kemana, Bima pun memutuskan untuk pulang ke basecamp.
Di tengah perjalanan, Bima memutuskan untuk membeli martabak telur dan martabak manis, Bima juga membeli roti bakar, pecel lele, dan ayam taliwang yang kebetulan buka sampai tengah malam.
Setelah semua terbeli, Bima lanjut kembali ke basecamp, sesampainya di basecamp Bima langsung pergi ke kamar untuk ganti baju.
Setelah ganti baju, Bima pergi ke dapur untuk menyiapkan berbagai macam makanan yang dia beli tadi. Setelah siap semua, Bima membawanya ke ruang TV lalu menghidupkan TV sebagai teman makannya.
'Tuan, kau punya rencana apa?' tanya Drago.
"Ssttt! diam dan ikuti saja!" jawab Bima.
'Aku paham tuan! baiklah!' ucap Drago menyeringai.
Bima tersenyum lalu lanjut makan, malam ini Bima begadang menonton bola dengan di temani roti bakar, martabak manis, dan martabak telur.
Bima baru tidur jam 4 pagi, setelah mencuci bersih piring bekasnya, Bima langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan tidur pulas.
__ADS_1
Bersambung...