
Selesai makan malam, Bima langsung membuat kopi lalu pergi ke balkon samping kamarnya.
Bima kembali melamun dengan rokok dan kopi sebagai pendamping kesepiannya. Bima mengeluarkan buku beserta bolpoin dan menuliskan semua keluh kesahnya selama hidup.
Tumbuh dengan di selimuti dendam itu tidak enak, walaupun kita anak orang kaya, kalau tumbuh tanpa kasih sayang buat apa? aku malah iri melihat anak anak orang kurang mampu yang hidup bahagia.
Kalau waktu bisa di putar dan aku bisa memilih ingin lahir dari rahim siapa, aku akan memilih lahir dari rahim sosok ibu yang tidak ada kaitannya dengan dunia hunter. Aku ingin lahir dari rahim sosok ibu yang penyayang dan perhatian.
Tapi apalah dayaku, sekarang aku hanya bisa menjalani hidup menyedihkan ini, melindungi, menjaga, mengayomi, semua harus aku lakukan dengan apa yang aku punya sekarang.
Ya, walaupun aku belum bisa melakukannya sesempurna itu, tapi aku sudah mencobanya sebaik-baiknya, Semua yang ada di otakku hanya berisi kebaikan dan bagaimana cara supaya semua orang di sekitarku bisa hidup makmur.
Tapi semua itu buyar begitu saja karena satu kesalahan fatal yang aku lakukan demi sebuah kebaikan bagi seluruh orang di sekitarku. Aku di buang di dimensi lain, aku di berikan misi super berat, otak, hati, dan pemikiran ku di sana menjadi hitam.
Dendam, amarah, benci, sedih, dan rasa sakit yang aku rasakan selama ini tiba tiba menguasai ragaku. Aku tak bisa mengendalikan ragaku karena lima hal tadi, rasanya hanya ingin marah, marah, dan marah.
Di otakku hanya kata dendam yang terus berputar, aku harus membalaskan apa yang sudah aku terima selama ini, di otakku hanya terdapat kalimat itu.
Seketika aku membenci semua orang di hadapanku, para bawahan ku yang sudah mengabdikan diri selama jutaan tahun, ayah yang sudah membimbingku, semua, semua hal yang sudah menjadi pembimbingku dalam ke kehidupan yang lebih baik ini.
Intinya sekarang yang aku rasakan hanyalah dendam dan amarah, rasa sedih dan kesepian itu aku rasakan ketika aku sendirian seperti saat ini.
Hidupku seperti hampa tanpa adanya orang-orang tersayang ku di sekitar. Sahabatku yang selalu bertingkah konyol juga hilang, bukan karena aku membenci mereka, tapi aku sedang tak mau menemui mereka.
Pasangan juga sudah meninggalkan aku, bukan karena masalah dalam hubungan, tapi dia meninggalkan aku dan menikah lagi karena menganggap aku sudah mati.
Anak istriku yang menjadi bahan bakar semangatku hilang karena satu kesalahan tadi. Tapi aku hanya bisa ikhlas lahir batin karena ini semua sudah takdirku. Takdir menjadi makhluk paling menyedihkan di alam semesta.
Kesepian, kesedihan, dan rasa sakit hati yang bersarang kekal di hatiku ini membuatku merasa sengsara. Apakah ini kutukan yang hanya di tujukan pada makhluk haram sepertiku? aku tak tau.
Hahahahaha.....
Begitulah kira kira yang di tulis Bima dalam bukunya, cerita singkat tentang perjalanan hidupnya selama ini. Setelah puas menulis Bima menyimpan bukunya di inventaris dan lanjut melamun sampai jam 3 pagi.
Karena sudah merasa ngantuk, Bima pun pergi ke kamarnya untuk istirahat.
[*Aku akan memohon pada pemerintahan pusat untuk merubah takdir menyedbangunkan ini tuanku*]
Keesokan harinya, Bima bangun tidur pukul 11.00 dan langsung pergi mandi. Selesai mandi Bima langsung turun ke bawah untuk makan siang.
"Ada Ria, tumben ke sini." ucap Bima ketika melihat anak Tigers sedang duduk anteng memakan masakan Aurora bersama yang lainnya.
"Nenek Aurora yang mengundang paman." jawab Ria.
"Oww, paman kira ada apa." ucap Bima duduk di samping Albert yang asik dengan makanannya.
"Kamu tidur jam berapa nak? kok baru bangun?" tanya Aurora.
"Jam 3 bun, nongkrong dulu di balkon." jawab Bima santai.
"Jangan keseringan tidur larut sayang, gak baik buat kesehatan kamu." ucap Aurora.
"Iya bunda, nanti Bima coba ubah kebiasaan Bima." jawab Bima tersenyum.
"Dari dulu bilang begitu tapi tidak ada nyatanya." ucap Albert datar.
"Ck! anak kecil tak usah ikut campur!" ucap Bima kesal.
"Sudah sudah, cepat makan." ucap Aurora.
Selesai makan siang, Bima pergi membuat kopi dan duduk di teras sambil merokok santai. Bima melihat aktivitas para anggota gangster yang terlihat sedang sangat sibuk.
[Bos, di undang tuan Alvin ke Kerajaan Moonlight]
'Mau apa?' tanya Bima bingung.
__ADS_1
[Datang saja bos, katanya penting]
'Baiklah, aku izin bunda dulu.' ucap Bima.
Bima pergi ke dalam untuk meminta izin pada Aurora.
"Bunda, aku izin keluar ya, ada urusan dadakan." ucap Bima.
"Urusan organisasi?" tanya Aurora penasaran.
"Bukan, mau nongkrong sama temen-temen." jawab Bima.
"Ohh, jangan malam malam ya pulangnya." ucap Aurora.
"Iya bun." jawab Bima.
Setelah itu Bima pergi ke kamar dan membuka portal menuju Kerajaan Moonlight. Dalam sekejap mata Bima muncul di hadapan para bawahannya berikut Adrian dan Alvin termasuk Aron, Amon, dan seorang wanita cantik yang tak Bima kenali.
"Ada apa?" tanya Bima menghidupkan rokoknya.
"Jangan merokok di sini, ini tempat suci." ucap wanita cantik itu.
"Aku tidak bicara denganmu." ucap Bima menatap tajam wanita itu.
"Sudah sudah! aku memanggilmu kemari untuk menjelaskan apa saja yang semalam aku rapatkan oleh pemerintahan pusat." ucap Alvin.
"Apa?" tanya Bima penasaran.
"Semua permintaanmu yang kemarin akan di kabulkan asalkan kau mau kembali bergabung dengan para Dewa dan kembali melindungi para makhluk hidup di luar sana." jawab Alvin.
"Ada peraturan tersembunyi tidak?!" tanya Bima karena tak mau mengulang kejadian pahit.
"Bebas lepas tanpa batas, membunuh semua makhluk hidup asalkan mereka memiliki kesalahan yang sangat merugikan." jawab Alvin.
"Yakin? aku tak mau kalau ada perjanjian diam diam di belakang ini semua!" ucap Bima.
"Haaaa! sudah aku duga! sialan! mau mempermainkan aku kalian!" teriak Bima marah.
[Bos! ayolah! ini demi masa depan!]
"Apa yang kau pertaruhkan Bob! sialan!" tanya Bima.
[Anu...jiwaku hehehe....]
"Lebih baik aku hidup sengsara asal orang-orang di sekitarku hidup bahagia! asal kau tau itu! aku sangat benci kalau hidupku enak tapi orang-orang sekitarku malah sengsara! batal! semuanya batal!" ucap Bima.
"Keras kepala betul anak ini!" ucap Aron kesal.
Woshhh...
Seorang wanita super cantik dengan pakaian sopan dan tertutup namun sangat anggun muncul di hadapan Bima.
"Siapa lagi ini sialan!" gumam Bima kesal.
Plak..
"Jaga mulutmu sayang, hormati setiap orang asing yang kamu temui." ucap wanita itu menampar pelan pipi Bima.
'Anjink! boleh aku bunuh wanita ini Bob?!' ucap Bima kesal.
[Apa apa bunuh! apa apa bunuh! kendalikan emosimu bodoh!]
'Maaf maaf, aku kelepasan Bob bodoh!' ucap Bima.
[Merepotkan!]
__ADS_1
"Perkenalkan, namaku Chalinda Abigail, panggil saja Linda. Aku kemari membawa kabar baik padamu Ashuraku sayang." ucap wanita itu lembut dengan senyum indah merekah.
"Bilang sayang ku tampar kau!" ucap Bima risih.
"Maafkan aku, hehehehe..." ucap Linda terkekeh geli.
"Kabar apa yang kau bawa?" tanya Bima dengan tatapan dingin.
"Kamu bisa mendapatkan semua yang Alvin bilang tadi tanpa ada yang harus di korbankan. Tapi dengan syarat...." jawab Linda terputus.
"Apa?" tanya Bima penasaran.
"Nikahi aku." jawab Linda.
"Ah anjink!" umpat Bima langsung menghilang begitu saja.
"Dia sudah tak suka wanita ya?" tanya Aron heran.
"Bos aneh sekali Kong, tak biasanya dia begini." ucap Dexter heran.
[Maaf sebelumnya, bos sedang mengalami trauma berat dalam urusan percintaan, jadi jangan singgung masalah percintaan untuk sekarang]
"Bob! bawa aku ke alam Surgawi!" teriak Kong heboh.
[Tak bisa bodoh! sudah di huni beast baru]
"Siapa?! sialan!" teriak Kong marah bercampur cemburu.
[Naga penguasa elemen]
"Waduh! berat ini!" gumam Kong menunduk dengan otak berpikir keras.
[Nona Linda bisa datang lain kali, nanti saya kabari waktu yang tepat]
"Ohh, maaf kalau begitu sudah membuat Ashura teringat dengan lukanya." ucap Linda merasa bersalah.
[Tak apa nona, nanti saya kabari lagi, sampai jumpa]
Bima yang masih sangat trauma dengan sebuah hubungan langsung pergi ke taman kota dekat komplek basecamp nya dulu.
Bima duduk melamun sambil merokok mengingat semua momen indah yang dia lalui bersama Zoya dulu. Hal yang tak pernah Bima duga adalah Kevin yang tiba tiba duduk di sampingnya di ikuti oleh Julian dan Riski.
"Kenapa?" tanya Kevin.
'Wahhh anjink! anjink! sial banget hari ini ******!' teriak Bima dalam hati.
"Jawab satt!" ucap Riski menahan tangisnya.
"Duduk." jawab Bima sedapetnya.
"Aku tau anjink kalau kau lagi duduk! yang aku maksud itu kenapa kau melamun!" ucap Kevin kesal.
"Terserah akulah." jawab Bima.
"Anjink! susah anak ini kalau di lembutin!" ucap Riski kesal.
"Aku mau balik, bye." ucap Bima langsung menghilang begitu saja.
"Bang*at!" umpat Riski kesal.
"Gak papa, yang penting kita tau kalau dia masih hidup." ucap Julian lega.
"Ayo balik, jangan sampai orang-orang tau soal ini. Biar Bima nenangin diri dulu." ucap Kevin.
"Sialan anak itu!" ucap Riski sangat kesal.
__ADS_1
Bima kembali ke rumah dengan perasaan kesal karena rencananya ingin menjadi pria misterius gagal. Karena tak mau marah marah, Bima pun memilih untuk tidur.
Bersambung...