
Keesokan harinya, Bima bangun pukul 05.00, berganti pakaian olahraga lalu pergi Jogging bersama Pom dan Piu. Bima lari keliling komplek untuk pemanasan sebelum gym.
Setelah puas jogging, Bima pun kembali ke basecamp. Dia pergi ke ruang gym pada pukul 06.00 yang ternyata sudah ada Silvia di sana dengan pakaian olahraga yang lebih tertutup dari yang lainnya.
"Kamu gak gerah yang pakai itu?" tanya Bima sambil menyiapkan beban barbell.
"Enggak, yang penting gak terbuka aku gak masalah." jawab Silvia sambil lari di treadmill.
Bima tersenyum puas lalu mulai angkat beban, Bima fokus melenturkan kedua lengannya supaya saat bertarung bisa bergerak secara lentur.
Puas dengan Barbell, Bima pindah ke pull up barbar untuk melatih otot bagian atas yang terasa sangat kaku. Bima terus berolahraga dengan fokus penuh sampai tidak menyadari kalau Silvia telah pergi.
Bima beristirahat pukul 07.00, dia duduk lesehan sambil minum air mineral dingin yang selalu di stok oleh Thomas setiap hari di sana.
"Bibi! sarapan dulu!" ucap Silvia yang datang membawa nampan sambil tersenyum manis.
Bima tersenyum senang, dia menerima nampan berisi segelas susu murni, segelas jus jeruk, buah buahan, dan roti panggang rasa blueberry, Stroberi, dan coklat.
"Yang lain udah sarapan?" tanya Bima.
"Udah, lagi pada sarapan di ruang makan. Thomas yang bangunin mereka, soalnya tau kalau hari ini ada latihan penting." jawab Silvia.
"Kamu? kamu udah sarapan?" tanya Bima.
"Belum hehehe...yang penting kamu dulu." jawab Silvia cengengesan.
"Nih makan, jangan lupain diri sendiri demi orang lain. Gak boleh kayak gitu, kamu harus perhatian sama tubuh kamu sendiri." ucap Bima memberikan roti panggang rasa blueberry nya.
"Makasih bibi!" ucap Silvia mencium pipi Bima.
"Sama-sama, minum aja jus nya, aku gak terlalu suka jeruk soalnya." jawab Bima.
"Ahh! aku lupa bi! maaf ya! besok aku bikinin yang lain." ucap Silvia baru ingat akan hal kecil ini.
"Gak papa." jawab Bima mengusap kepala Silvia sambil tersenyum.
"Nanti siang mau makan apa bi?" tanya Silvia.
"Apa ajalah, terserah kamu, nanti kalau lagi pingin sesuatu aku bilang." jawab Bima.
"Okey bi!" ucap Silvia tersenyum senang karena suaminya tidak rewel soal makanan.
Selesai sarapan, Silvia pun pergi membawa piring dan gelas kosong ke dapur untuk di cuci. Sedangkan Bima segera pergi ke halaman belakang untuk menemui yang lainnya.
Bima tertawa cekikikan saat melihat mereka sedang di ceramahi oleh Thomas.
"Sudah besar bukanya sadar kalau bangun pagi itu penting! malah masih ngorok! dasar!" ucap Thomas kesal.
"Aku lupa hari ini latihan!" ucap Riski dengan wajah kesal.
"Lupa lupa! sudah! sana menghadap ke tuan muda!" ucap Thomas lalu berjalan pergi.
"Huh! kalau bukan anak buah Bima sudah aku pukuli dia!" ucap Riski.
"Apa kau bilang?!" teriak Thomas mengacungkan rotan legendaris nya.
Mereka langsung kabur menghampiri Bima karena takut Thomas mengamuk.
"Ppfffttttt..." Bima menahan tawanya saat melihat teman-temannya berlari secara kompak.
"Mengerikan sekali!" ucap Riski.
"Sudah sudah! cepat pemanasan!" ucap Bima setelah puas tertawa.
Sambil menunggu mereka pemanasan, Bima duduk di bawah pohon menikmati udara pagi yang segar.
__ADS_1
"Kalian sudah baca SOP evakuasi warga dari Lidia kan?" tanya Bima setelah mereka selesai pemanasan.
"Sudah." jawab mereka bersamaan.
"Nanti di akhir latihan aku beri beberapa tambahan, sekarang kita latihan fisik terlebih dahulu." ucap Bima.
Bima membuat banyak boneka kayu sebagai target pelatihan mereka semua. Bima berdiri memperhatikan teman-temannya dengan teliti. Dia akan mengkoreksi setiap gerakan yang salah dengan sangat keras.
"Hey bodoh! gerakanmu banyak celah! kau sudah sampai ke titik ini tapi dalam teknik tangan kosong masih payah! bodoh sekali!" ucap Bima menampar pipi Henry dengan keras.
"Di sini tidak ada kakak atau adik! kalau kau salah kau harus menerima konsekuensinya!" ucap Albert menjitak Henry saat melihat Henry ingin membela diri.
"Lihat gerakan adikmu!" ucap Bima memberi kode pada Albert.
Albert memberikan contoh gerakan yang baik dan benar pada Henry. Gerakan yang cepat, on point, dan memiliki power adalah ciri khas dari teknik yang Bima ajarkan.
"Jangan terpaku pada kecepatan, gerakan on point dan berpower itu lebih penting. Masalah kecepatan itu bisa kau kembangkan seiring berjalannya waktu." ucap Bima.
"Praktekkan." ucap Bima berlalu pergi.
Setelah cukup dengan pelatihan fisik, Bima lanjut ke pelatihan stamina. Bima menyuruh mereka semua untuk lari di siang bolong keliling komplek sebanyak 5 putaran.
"Keliling komplek 5 putaran, 2 jam belum sampai sini, jangan harap kalian dapat makan siang! lakukan!" teriak Bima.
Mereka semua langsung berlari keluar basecamp, dalam latihan kali ini, teknik pernafasan adalah teknik paling penting. Jika tidak memiliki teknik pernafasan yang baik, mereka akan kelelahan dalam putaran ke dua.
Bima mengikuti mereka dengan mengendarai motor bebek, santai sekali sambil merokok.
"Perhatikan teknik pernafasan kalian!" teriak Bima.
Setelah berhasil melaksanakan 5 putaran, mereka pun langsung tepar di halaman belakang. Kaki bergetar hebat, nafas ngos-ngosan, dan keringat terus mengucur dari mana mana.
"Payahh! baru 5 putaran seperti sudah mau mati!" teriak Bima dari gazebo sambil minum segelas es sirup.
"Makan siang, istirahat 15 menit, terus kita lanjut latih tanding!" ucap Bima berjalan pergi ke ruang makan.
"Sial! aku sudah lama tidak olahraga! stamina ku jadi payah begini!" ucap Riski.
"Sama! sialan! dia tau saja kelemahan kita!" ucap Julian kesal.
"Hoy! kalian mau makan tidak?!" teriak Bima dari pintu dapur.
Mereka langsung berlari menuju ruang makan secara bersama-sama. Mereka makan sangat lahap, masakan yang sangat banyak habis dalam waktu singkat.
Diana dan Berliana hanya bisa tersenyum geli melihat nafsu makan mereka yang tiba tiba naik.
"Latihan selanjutnya kalian akan di bimbingan langsung oleh Kong dan Zhong bawahanku. Spoiler, mereka berdua sangat keras." ucap Bima.
"Kau mau kemana?" tanya Julian sedikit takut saat mendengar dua nama yang akan mengawasi mereka.
"Latihan, aku juga memiliki beberapa treatment latihan khusus dengan paman pamanku." jawab Bima.
"Waduh! bonyok bonyok lah ini." gumam Riski langsung keringat dingin.
'Yuhuuu! aku suka mengajar!' teriak Kong sangat bahagia.
'Aku harus bawa apa ya?!' ucap Zhong bingung.
'Kau bawa tongkat Zhong! wajib!' ucap Kong.
'Baiklah!!' jawab Zhong penuh semangat.
"Semangat ya." ucap Indah pada Kelly.
"Kelly pasti semangat bu! jangan khawatirkan Kelly!" jawab Kelly penuh tekad.
__ADS_1
"Jangan remehkan jiwa muda kami bibi!" ucap Jason tegas.
"Bagaimana kita memberitahu pada mereka?" tanya Arie berbisik pada Riski.
"Aku tidak tau rie, hiks..sebaiknya kita pikirkan diri kita saja." jawab Riski menunduk sedih.
"Semoga mereka baik baik saja." ucap Arie tertunduk lesu.
"Semoga wajah semangat mereka masih terlihat nanti malam." ucap Julian lirih.
"Kenapa ayah? kau terharu melihat tekad kami? iya? hahaha...kau harus bangga pada anakmu ini!" ucap Jason bangga.
"Puas puaskan rasa banggamu anakku." ucap Riski menepuk-nepuk pundak Jason sambil menatapnya dengan tatapan malang.
Bima dan Silvia hanya bisa menahan tawa ketika melihat wajah putus asa Riski, Julian, dan Arie. Selesai makan siang, mereka kembali ke halaman belakang untuk persiapan latih tanding.
Bima memanggil 4 golem yang terbuat dari batu Obsidian lalu mengeluarkan Kong dan Zhong dalam wujud kera putih untuk Kong, kera hitam untuk Zhong.
"Hey! kenapa kau pakai wujud kera! bodoh!" ucap Kong kesal.
"Aku naga! mana cocok melatih mereka! begini lebih enak dan lebih lincah!" jawab Zhong.
"Masuk akal juga." ucap Kong setuju.
"Latih mereka, satu persatu. Aku butuh reflek, insting, dan pengalaman bertarung. Terus tekan sampai ada perkembangan yang bagus. Aku mau latihan bersama Bob dulu." ucap Bima berbisik.
"Serahkan pada dua guru killer ini bos! kau akan menerima emas dari kami!" ucap Kong tegas.
"Aku pergi dulu." ucap Bima lalu menghilang begitu saja.
Kong dan Zhong berjalan ke hadapan Riski dan kawan-kawan yang masih asik duduk santai.
"Berdiri!" teriak Kong mengacungkan tongkat emasnya.
Riski, Julian, dan Arie dengan sigap langsung berdiri tegap dalam posisi siap. Sedangkan yang lainnya masih duduk terdiam dengan wajah bingung.
Tung..
Tung...
Tung...
"Kalian sudah tuli?! dasar bodoh!" teriak Zhong memukuli mereka semua menggunakan tongkat berlian miliknya.
Seketika mereka semua langsung berdiri tegap dalam posisi siap. Rasa semangat yang menggebu-gebu sebelumnya langsung sirna dan berubah menjadi rasa takut.
"Kau! sampah! maju! lawan empat golem itu!" teriak Kong menunjuk Jason.
Jason dengan cepat berlari ke tengah halaman untuk melawan empat golem buatan Bima. Jason bertarung dengan penuh semangat, dia berhasil bertahan walaupun mendapatkan beberapa luka lebam di tubuhnya.
Buaghhh...
"Bodoh! tolollll! matamu ada di mana bodohhh!" teriak Kong memukul pipi Jason dengan keras.
Plakkkk....
"Kau bisa menghindari serangannya! kenapa kau masih mendapatkan luka?!!! dasar anak bodoh!" teriak Zhong menampar pipi Jason dengan sangat keras.
"Anakku, semoga kau kuat." gumam Riski menatap Jason dengan tatapan malang.
"Selanjutnya! kau! wanita bodoh!" teriak Kong menunjuk Bella.
Bella dengan cepat langsung berjalan ke tengah halaman untuk melawan para golem.
Bersambung....
__ADS_1