King Of Universe

King Of Universe
Bab 37


__ADS_3

Sorenya, Bima bangun dari tidurnya dan langsung pergi mandi. Selesai mandi dia turun ke bawah untuk bersantai menonton TV.


"Aku mau tanya." ucap Albert yang juga ikut menonton TV.


"Apa?" tanya Bima.


"Kapan kau menikah?" tanya Albert.


"Kapan kapan." jawab Bima malas.


"Umurmu sudah tua, cepatlah buat anak, biar bunda ada teman." ucap Albert cuek.


"Kenapa tidak kau saja?" tanya Bima.


"Aku masih muda." jawab Albert datar.


"Terserah kau lah bert!" ucap Bima kesal.


"Tadi kau kemana?" tanya Albert.


"Jalan jalan." jawab Bima.


Hening...


Mereka terus menonton TV sampai jam makan malam, tanpa obrolan sama sekali seperti orang yang baru kenal.


"Ayo makan!" teriak Aurora dari dapur.


Mereka pun pergi ke ruang makan dan makan malam bersama. Setelah makan malam, seperti biasa Bima membuat kopi dan pergi ke balkon samping kamar untuk nongkrong.


[Tidak ada niatan yang lain bos?]


"Apa?" tanya Bima.


[Menemui sahabat?]


"Nanti dulu, masih mau sendiri." jawab Bima.


[Baiklah]


Bima melamun di balkon sangat lama, tidak ada yang dia pikirkan, hanya merasakan semua kepahitan yang sedang dia rasakan belakangan ini.


[Sekedar info bos, Naga penguasa langit ke 7 di tubuhmu telah kabur dan kemungkinan akan mengamuk beberapa hari ke depan]


"Terus?" tanya Bima.


[Cuma info bos, tidak ada hal lain]


"Baiklah." jawab Bima.


Setelah puas melamun di balkon, Bima pun pergi tidur walaupun agak susah.


Keesokan harinya, karena bosan tidak ada aktivitas Bima pun izin untuk pergi ke taman dekat komplek basecamp nya dulu.


Di sore hari yang cerah, Bima duduk di bangku taman dengan segelas kopi yang tadi dia beli di cafe dan sebungkus rokok Sampoerna Mild.


Saat sedang bermain ponsel, tiba tiba seorang kakek tua muncul di samping Bima dengan aura yang sangat agung dan sangat berkharisma.


"Kakek siapa?" tanya Bima cuek karena sudah sering dia di datangi tiba tiba seperti ini.


"Aku adalah kakek buyutmu nak, cikal-bakal dari clan Nara, aku juga wadah pertama Naga penguasa langit ke 7 yang akan mengamuk beberapa hari lagi. Nama kakek adalah Yan, panggil saja kakek Yan." jawab kakek tua itu.


"Ada apa kakek menemui aku?" tanya Bima.


"Kakek hanya ingin melihat generasi terakhir kakek, generasi paling kuat di clan Nara sepanjang sejarah. Kakek sangat senang melihatmu sehat dan bisa hidup normal seperti makhluk lainnya." jawab Yan tersenyum lebar.


"Iya kek, Bima juga bersyukur bisa hidup normal." ucap Bima tersenyum


"Senyuman palsu, setelah kejadian beberapa tahun lalu, semua senyuman mu menjadi palsu nak, ada apa?" tanya Yan.


"Ternyata ada yang sadar ya, hahahaha..." ucap Bima tertawa.


"Ada apa? ceritalah nak." tanya Yan.

__ADS_1


"Kematian ayah yang paling aku sayangi kek, ayah yang paling mengerti semua gerak gerik ku, orang yang menyayangi aku tanpa memandangku sebagai apa." jawab Bima.


"Jadi begitu..." ucap Yan tersenyum manis.


"Iya kek, rasanya setengah duniaku yang berwarna hangus begitu saja, kebahagiaan yang dulu selalu terpancar dari senyumannya hangus terbakar." ucap Bima menunduk sedih.


"Sudahkah kamu bersyukur nak?" tanya Yan menatap Bima dalam dalam.


"Bersyukur?" tanya Bima bingung.


"Ya, sudahkah kamu bersyukur karena hanya ayahmu saja yang pergi? apakah kamu tau kalau di luar sana banyak anak anak yang tidak punya dua orang tua karena monster? kamu masih beruntung karena ada ayah pengganti dan sosok ibu tiri yang sangat menyayangimu? Nyonya Diana sangat terpukul mendengar kabar kematian tragismu." jawab Yan.


"Kamu masih beruntung karena masih sangat banyak orang yang menyayangimu, tapi karena wawasanmu masih kecil, jadi kamu tak tau seberapa banyak orang yang menyayangimu. Kamu sangat kurang bersyukur nak." lanjut Yan.


Bima hanya tersenyum tipis mendengar tsunami fakta yang melandanya.


[Tolong!!! aku tertimbun fakta!!!]


'Bob sialan!' teriak Zhong menahan tawa.


"Cobalah kamu lupakan orang yang sudah pergi nak, kamu harus membalas semua rasa sayang orang-orang yang masih ada. Yang pergi biarlah pergi, kamu harus melepaskannya supaya mereka bahagia." ucap Yan.


"Puncak tertinggi dari rasa cinta adalah merelakannya. Tapi kamu belum punya itu, ayo coba belajar merelakan dan belajar menerima semuanya." lanjut Yan.


"Baik kek, aku akan belajar menerima semua takdirku, aku akan belajar ikhlas. Terimakasih sudah memberi pencerahan saat hidupku tidak memiliki arah tujuan kek." ucap Bima tersenyum lebar.


"Sama sama, kamu hebat nak, kamu luar biasa, banggakan semua orang di sekitarmu. Tetap rendah hati, dan jangan sombong. Kakek selalu ada kalau kamu sedang buntu." ucap Yan memeluk Bima hangat.


"Terimakasih banyak kek." ucap Bima membalas pelukan Yan.


"Kalau begitu kakek pergi dulu, nenek buyutmu menunggu kakek di rumah. Sampai jumpa lagi cucuku yang paling kakek banggakan!" ucap Yan perlahan hilang menjadi butiran cahaya.


[Bagaimana bos? sudah menemukan jalan keluar?]


"aku tak tau ini jalan yang benar atau salah, tapi aku sudah menemukannya." jawab Bima.


[Semua benar bos, asal tujuannya baik]


Bima tersenyum lebar, dia berdiri dan meregangkan ototnya.


Aura penguasa jagat raya yang sudah hilang sebelumnya menyebar ke seluruh alam semesta mengagetkan para bawahan Bima dan para Dewa Dewi yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing.


"Aku kembali..." gumam Bima menyeringai.


'Wooooo! Let's go bosss!' teriak Zhong semangat.


[Hahahaha...ini dia tuan besarku!]


Bima menarik kembali auranya lalu pergi ke basecamp yang sudah lama tidak dia datangi. Bima berjalan santai sambil merokok, rasanya kehidupan yang dulu telah kembali menyinari Bima.


Sesampainya di depan gerbang basecamp, Bima langsung memencet bel. Seketika gerbang di buka oleh satpam yang berjaga.


"Mas Bima!" ucap satpam kaget.


"Siapa aja di dalem pak?" tanya Bima menjabat tangan satpam bernama Willy itu.


"Ada teman teman mas Bima, saya gak hapal namanya, terus nyonya Diana sama suami barunya, terus sama tuan Andi paman mas Bima. Cuma itu kayaknya mas." jawab Willy berpikir keras.


"Aku masuk dulu kalau gitu." ucap Bima.


"Iya mas, silahkan!" ucap Willy semangat.


Bima langsung berjalan masuk ke dalam rumah mewah itu, saat memasuki pintu Bima melihat teman-temannya sedang asik menonton TV bersama Andi dan Diana serta Lina sedang asik berbincang-bincang di ruang makan.


Bima tersenyum lebar lalu melangkah menghampiri teman-temannya yang fokus menonton TV. Karena bingung mau menyapa bagaimana, Bima langsung duduk di samping Doni tanpa berbicara apapun.


Doni menengok dengan wajah bingung karena otaknya ngefreez.


"Don.." panggil Kevin yang masih fokus menonton TV.


"Don!" panggil Kevin lagi.


"Anjink! kau-" ucap Kevin terpotong ketika melihat Bima sudah duduk di samping Doni.

__ADS_1


"Cokkkk!" teriak Kevin menunjuk Bima.


"Hehehehe...." Bima hanya nyengir seperti tidak punya dosa.


Semua orang di ruang TV langsung menengok secara bersamaan dan ikut kaget melihat kemunculan Bima di sana.


"Diem diem bae." ucap Bima bingung.


Seketika Bima langsung di peluk bersama sama dengan isak tangis kebahagiaan. Diana yang tadi kaget mendengar teriakan Kevin langsung menghampiri mereka karena penasaran.


"Halo bunda." sapa Bima di samping tubuhnya yang di peluk.


"Astaga...." Diana menutup mulutnya karena syok melihat kejadian di depannya.


"Udah udah woy! apa apaan sih!" teriak Bima kesal.


Mereka pun melepas pelukannya dan mengelap air matanya. Bima berdiri dan memeluk Diana, Diana menyadari kalau ini bukan mimpi langsung memeluk Bima erat.


"Kamu kemana saja nak?" tanya Diana sambil menangis.


"Ada misi khusus dari seseorang bun, emang agak lama sih hehehe..." jawab Bima.


"Kenapa tidak kabari bunda? atau Zoya? kalau kamu masih hidup?! kalau kamu kabari kan Zoya bisa menunggu kamu!" ucap Diana menangis histeris.


"Tak apa bunda, Bima sudah rela kok. Yang penting semuanya bahagia Bima juga ikut bahagia." ucap Bima santai.


"Kamu sudah makan? bunda bisa masakin sekarang." tanya Diana melepas pelukannya.


"Udah bun, nanti di rumah aja." jawab Bima.


"Kalau gitu bunda kabari orang rumah dulu buat kabari kalau kamu masih hidup." ucap Diana ingin pergi mengambil ponsel.


"Jangan bunda, Bima mau gini dulu, gak usah banyak orang yang tau. Bima males kalau harus di wawancarai banyak orang." ucap Bima menahan Diana.


"Ya udah deh, bunda nurut aja." ucap Diana menurut saja.


"Bima mau balik dulu, besok ke sini lagi, kasihan orang rumah nungguin." ucap Bima.


"Bentar banget!" protes Diana.


"Besok ke sini lagi bun, tenang aja Bima gak bakal hilang lagi." jawab Bima.


"Ya udah, salam buat orang rumah ya." ucap Diana paham.


"Balik dulu ya!" ucap Bima lalu hilang begitu saja.


"Kemarin bukan ilusi vin! aku pikir kemarin cuman halu doang ***!" ucap Riski senang bukan main.


"Ya emang bukan bodoh!" jawab Kevin kesal.


"Kalian dah ketemu?" tanya Andi.


"Udah om kemarin, tapi ya gitu, Bima masih cuek banget, gak kayak biasanya. Jadi kita pikir dia butuh waktu buat ketemu lagi." jawab Kevin.


"Jangan bilang ke siapa siapa dulu ya om, takutnya Bima kecewa lagi. Bima lagi coba sembuhin rasa kecewa sekaligus traumanya." ucap Julian.


"Kau tau dari mana bodoh?" tanya Kevin kaget.


"Bro! semalem aku mimpi di datengin sosok wanita super cantik! dia bilang begitu!" jawab Julian.


"Beruntung banget kau bodoh!" ucap Kevin iri.


"Hahahaha...." Julian hanya tertawa keras.


Di sisi lain, Bima yang sudah berada di rumah menceritakan semuanya pada Aurora, hari itu Bima berubah menjadi cerewet. Sifatnya tiba tiba menjadi seperti anak kecil dan murah senyum, tidak seperti biayanya yang pendiam dan cuek.


"Ya udah, kamu istirahat aja, besok pagi di lanjut lagi ceritanya." ucap Aurora bahagia melihat perubahan Bima.


"Iya deh, Bima juga capek, Bima tidur duluan ya bunda!" ucap Bima.


"Malam sayang.." ucap Aurora mencium pipi Bima.


"Malam bunda!" ucap Bima membalas ciuman Aurora dan pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2