
"Sepertinya menarik" ucap Li Yuan dengan tenang.
"Lalu dimana Nona Fang Yin?" tanya Li Yuan kembali pada pelayan tersebut.
"Nona masih di dapur sedang menyiapkan masakan" jawab pelayan tersebut dengan hati-hati.
Sementara Tuan Fang Jing dan orang tua Li Yuan sudah mulai menikmati hidangan istimewa dari rumah makan Bunga Sutera.
"Rasanya memang enak, putrimu memang memiliki bakat dan selera yang tinggi dalam masakan" puji Li Dan dengan menekankan nada pujian.
"Terimakasih dan silahkan dihabiskan jika kalian suka" ucap Fang Jing menimpali ucapan Li Dan.
Li Peiyu dan ibunya mulai asyik menikmati hidangan yang tersedia, sementara Li Jieru dan Li Baojia tidak terlalu antusias. Mereka tampak tenang tidak mengeluarkan ekspresi berlebihan.
Saat ini tiba-tiba terdengar suara dari mulut Li Yuan.
"Kurasa teksturnya sedikit kasar. Bau tahunya hilang tersamarkan dengan aroma bumbu"
"Tolong sampaikan penilaian ku pada Nona kalian" ucap Li Yuan kepada pelayan tersebut dengan ekspresi serius.
Pelayan tersebut mengangguk pelan, namun dalam hatinya ia bergumam. Ini adalah pertama kalinya ia menyaksikan orang lain mengkritik masakan buatan Nona Fang Yin.
Pelayan yang lainnya pun terdiam, mereka tidak mengira jika Tuan muda keluarga Li akan memberikan penilaian yang begitu buruk terhadap kualitas masakan Nona Fang Yin. Dalam satu tahun ini, perkembangan rumah makan Bunga Sutera sudah dikenal karena reputasinya.
"Bilang juga kepada nona mu, bagaimana aku bisa memakan makanan seperti ini jika proses merendamnya masih terlalu lama, aroma bahan utamanya memudar serta teksturnya yang masih mudah pecah" ucap Li Yuan dengan tenang setelah mencicipi masakan khas tersebut.
Seorang pelayan tersebut segera turun menuju dapur, ia dengan segera membawa kembali masakan yang baru saja dikritik oleh Li Yuan.
"Nona, Tuan muda Klan Li sungguh kurang ajar" ucap pelayan tersebut sambil mendengus kesal.
"Ada apa?" tanya Fang Yin sambil melihat mangkuk kecil yang berisi masakannya.
Di tangan Fang Yin juga sedang memegang sebuah piring berisi sayuran yang sedang ia siapkan untuk menu penutup.
__ADS_1
"Tuan muda itu mengatakan jika tekstur masakan Nona masih kasar, bau tahunya tersamarkan dengan aroma bumbu" ucap pelayan itu dengan menahan kesal.
Namun reaksi Fang Yin berubah menjadi serius, gejolak hatinya mulai tidak menentu.
"Lalu apalagi yang ia katakan lagi?" tanya Fang Yin sambil menggertakkan gigi.
"Ia juga mengatakan jika masakan Nona terlalu mudah pecah teksturnya akibat proses perendaman yang terlalu lama" jawab pelayan itu lagi tanpa melihat ekspresi Fang Yin.
"Praaanngg.." tiba-tiba piring di tangan Fang Yin terlepas dan jatuh ke lantai.
Pecahannya bertebaran di sekeliling lantai dapur, membuat para pelayan yang sedang memasak menjadi terkejut.
"Bagaimana rupa orang itu" tanya Fang Yin menghiraukan pecahan piring yang baru saja pecah berkeping-keping.
"Wajahnya sangat tampan, jika ia berdiri tampaknya ia memiliki tinggi yang melebihi pemuda pada umumnya" jawab pelayan tersebut dengan hati-hati.
"Dia.. Ternyata memang dia" ucap Fang Yin pelan sambil melangkah cepat ke lantai dua.
Di lantai dua, tempat di mana Keluarga Li Yuan tengah menikmati hidangan kini suasananya sedikit kaku. Perkataan Li Yuan barusan cukup mengagetkan banyak orang, apalagi mereka dapat merasakan tidak ada masalah dalam hidangan yang disajikan.
" Tap! Tap! Tap! " saat ini terdengar langkah pelan namun suaranya masih terdengar di telinga Li Yuan.
Tampak Fang Yin melangkah dengan perlahan, ada rasa keraguan namun ada pula rasa kerinduan yang sangat besar tengah mendera hatinya saat ini.
"Putriku, ke marilah" ucap Fang Jing dengan raut gembira.
Namun Fang Yin tidak bereaksi atas ucapan ayahnya, ia tampak serius memperhatikan sosok pemuda yang tengah duduk membelakanginya.
"Apa yang kau katakan tentang masakanku?" tanya Fang Yin kemudian.
Setelah meletakkan cangkir teh, Li Yuan lalu berkata.
"Seperti yang kubilang pada pelayanmu bahwa teksturnya masakanmu sedikit kasar. Bau tahunya hilang tersamarkan dengan aroma bumbu".
__ADS_1
Fang Yin terpaku mendengar suara yang selalu terekam dengan baik di dalam memorinya. Ia sungguh tidak menduga jika pemuda di depannya adalah orang yang selama ini ia nantikan.
"Aku pikir kamu akan memperbaikinya saat aku mencicipi masakanmu bersama keluargaku. Dan hari ini apa yang telah aku ucapkan padamu sebelumnya telah aku lakukan" ucap Li Yuan sambil membalikkan badannya.
Keluarga Li Yuan sedikit tidak mengerti dengan apa yang baru saja Li Yuan ucapkan. Hanya Li Peiyu yang sudah mulai menemukan titik terang.
"Kamu benar-benar terlalu pintar menyembunyikan diri" ucap Fang Yin sambil melangkah maju.
Melihat tubuh Li Yuan, ia tidak bisa menahan diri untuk memukul dadanya beberapa kali.
"Apakah kamu ingin membuatku mati dalam penantian"? ucap Fang Yin dengan berlinang air mata.
Keteguhan dan kemandiriannya sebagai wanita tangguh langsung hilang seketika di hadapan Li Yuan. Tanpa canggung lagi ia segera memeluk tubuh Li Yuan dengan erat. Semua rasa penasaran serta pencariannya selama ini ia tumpahkan dalam air mata.
Seisi ruangan menjadi hening, namun wajah Fang Jing yang merupakan ayah dari Fang Yin tersenyum puas. Ia juga tidak menyangka jika hubungan putrinya dengan Li Yuan sudah sedekat itu.
"Kenapa kamu menangis? Apakah ucapanku telah menyakiti mu"? tanya Li Yuan sedikit tidak mengerti dengan ekspresi berlebih Fang Yin.
"Dasar bodoh" jawab Fang Yin dengan wajah memerah.
"Tuan Fang, tampaknya putra putri kita sudah mendahului kita" ucap Li Dan mencoba menghangatkan kembali keheningan.
"Benar, kita sudah tertinggal jauh dengan mereka" sahut Fang Jing dengan ekspresi gembira.
Sementara Li Yuan segera mengurai pelukan Fang Yin dan berkata.
"Kamu duduk lah sini" ucap Li Yuan sambil mempersilahkan Fang Yin untuk duduk di sebelah Li Yuan.
Sambil menyeka air mata, Fang Yin dengan patuh duduk di samping Li Yuan.
"Salam paman, salam bibi" ucap Fang Yin dengan sopan kepada orang tua Li Yuan.
"Setelah apa yang kami saksikan, kamu masih memanggil kami paman dan bibi?" ucap Li Dan sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Fang Yin yang mendengar ucapan ayah Li Yuan menjadi memerah, ia juga tidak menduga perasaannya bisa dengan mudah terekspos pada saat ini.
Li Peiyu pun ikut tersenyum bahagia, ia benar-benar salut kepada kakaknya karena berhasil menaklukkan Nona Fang Yin dengan mudah. Hal ini juga pertanda baik bagi Li Peiyu, sebagai sesama wanita ia juga mengagumi sosok Fang Yin. Pemikiran dan pemahamannya tentang bisnis telah membuka wawasan Li Peiyu. Bahkan ia ingin sekali belajar konsep bisnis kepada Nona Fang yin. Namun setelah hari ini, hal tersebut tentu tidak akan sulit lagi.