
Hari berikutnya Li Yuan bangun pagi-pagi sekali, seperti biasa ia melakukan kegiatan berlari memutari puncak Gunung Hua sebelum matahari bersinar. Setelah melakukan kegiatan olah fisik tersebut ia berendam di Kolam Spiritual sejenak. Setelah dirasa cukup ia kembali dengan setelan pakaian yang sudah rapi.
Dari kejauhan Yuan Zang memperhatikan kegiatan rutin muridnya sambil tersenyum gembira. Li Yuan merupakan murid satu-satunya yang ia miliki sepanjang hidupnya, oleh karena itu Yuan Zang ingin memberikan pelatihan yang sungguh-sungguh kepada Li Yuan.
"Bagaimana? apakah kamu sudah siap?" tanya Yuan Zang kepada muridnya.
Mendengar suara gurunya yang muncul tiba-tiba, Li Yuan segera menjawab, "Sudah guru".
"Hmm ... Baiklah jika begitu mari kita segera menuju puncak Gunung Hua" ucap gurunya sambil melompat dan menghilang.
Li Yuan segera mengikuti ke arah puncak Gunung Hua dimana gurunya sudah berangkat duluan. Dengan ranah Pendekar Raja Tahap Akhir, Li Yuan bergerak dengan cepat, ia berlari dan melompat dengan penuh semangat.
Tidak lama kemudian ia sudah sampai di puncak Gunung Hua, ia mendapati gurunya yang tengah berdiri di tepi kawah. Bajunya berkibar terkena tiupan angin dari kawah gunung. Meskipun kawah tersebut cukup dalam, terpaan anginnya masih terasa hingga puncak Gunung Hua.
Li Yuan menarik napas dalam-dalam menghirup udara dingin di puncak gunung, ia merasakan energi Qi yang berada di sekelilingnya sangat pekat, jika dibandingkan dengan di Sekte Laohu maka kepekatannya beberapa kali lipat lebih kuat di sini.
"Ayo turun" suara Yuan Zang membuyarkan perhatian Li Yuan.
"Baik guru" jawab Li Yuan.
Li Yuan segera melompat diantara tebing dan pepohonan yang berada di sekitar kawah. Sementara Yuan Zang, tubuhnya melayang dengan sangat ringan. Seperti kapas yang melayang di udara, ia tidak terpengaruh dengan tekanan udara yang sangat besar dari bibir kawah gunung berapi.
__ADS_1
Sesampainya di dasar kawah, Li Yuan merenung sejenak, ia merasakan tekanan yang sangat besar, napasnya mulai terasa sesak. Ini adalah pengalaman pertamanya mengalami perasaan terintimidasi seperti ini, gelombang panas terus merembes keluar dari perut Gunung Hua. Angin yang bertiup memutar di sekitar kawah menciptakan gelombang yang dapat menghempaskan tubuh.
Yuan Zang kemudian memberikan beberapa arahan untuk bekal keselamatan muridnya selama berlatih.
"Biasakan tubuhmu, setelah beberapa bulan aku akan kembali memeriksamu" ucap gurunya sebelum menghilang bersama sapuan angin di kawah.
"Jangan kecewakan aku dengan tubuh Kaisar Langitmu" gumamnya dalam hati berbarengan dengan kepergian dirinya.
Yuan Zang percaya jika Li Yuan pasti akan berhasil menguasai Elemen Angin.
Seseorang yang sudah ditakdirkan memiliki tubuh Kaisar Langit, maka sudah dipastikan tubuhnya dapat memuat dua unsur elemen atau lebih. Bahkan Yuan Zang memiliki kemampuan menguasai tiga elemen.
Tidak heran jika pada masanya ia merupakan calon Kaisar Langit yang memimpin Alam Langit. Hanya saja dengan bakatnya, ia mengabaikan keadaan tersebut. Dirinya lebih memilih mengasingkan diri mengubur bakat serta keahliannya bersama alam. Yuan Zang mengalami suatu pemahaman bahwa hidup harus selaras dengan alam.
Li Yuan melangkah maju ke sebuah batu yang berdiri tegak sekitar tiga meter. Dari atas batu tersebut Li Yuan berdiri dengan berkonsentrasi mengingat Teknik dasar tentang angin. Ia melangkah di kehampaan, dan ia pun terjatuh. Kejadian tersebut terjadi secara berulang. Seharian ia mencoba dengan hasil yang sama. Ia belum menemukan keberuntungan hingga malam hari menjelang.
Setelah dirasakan cukup, ia beristirahat dengan duduk sila. Suhu udara di Kawah semakin malam semakin dingin berada pada suhu paling ekstrim, pakaian yang digunakan Li Yuan sudah dilapisi es tipis. Dengan menggunakan kultivasi Aura Naga, tubuhnya terus menyerap energi alam dengan rakus.
Hari berganti hari hingga satu bulan terlewati. Li Yuan merasakan Inti Energi angin di dalam tubuhnya hampir terbentuk namun pada saat krusial, ia selalu gagal menyatukan energi tersebut.
Setelah sekian lama berkultivasi, ia merasakan lapar. Li Yuan membuka matanya, lalu melangkah ke salah satu sudut kawah. Ia menghampiri pohon Apel hitam, lalu memetiknya beberapa buah.
__ADS_1
"Huh" ternyata tidak mudah membangun kekuatan Elemen Angin" ucap Li Yuan sambil memakan buah Apel Hitam yang baru saja ia petik.
Setelah menikmati beberapa buah, pandangan Li Yuan tiba-tiba tertuju pada daun pohon Apel yang sedang melambai. Daun tersebut tidak gugur berjatuhan saat diterpa oleh angin yang bertiup kencang. Bahkan Li Yuan juga memperhatikan pohon Apel tersebut yang mampu bertahan ratusan tahun, pohon tersebut tetap berdiri kokoh di bawah tekanan suhu yang ekstrim. Li Yuan sejenak termenung, lalu ia menghubungkan dengan teori yang ia miliki tentang penguasaan Elemen Angin.
Setelah perutnya terisi ia kembali menuju ke atas batu tegak untuk berlatih. Li Yuan memejamkan matanya, memusatkan energi yang berada dalam tubuhnya. Perlahan ia merasakan terpaan angin yang bertiup di sekelilingnya bergerak lebih lambat, semakin lama semakin lambat sehingga pada titik krusial ia berhasil menyatukan energi menjadi untaian Inti Energi yang baru.
Di atas angin kini tubuhnya melayang, berjalan dengan beberapa langkah ia mulai membuka matanya.
"Akhirnya berhasil" ucap Li Yuan pelan dengan perasaan gembira.
Sementara dari balik awan, Yuan Zang menatap dengan takjub. Ia tidak menyangka kecepatan muridnya dalam menaklukan angin lebih cepat dari yang ia perkirakan.
"Anak itu sungguh tidak mengecewakanku" gumamnya dalam hati.
Li Yuan yang tengah bergembira, ia terus melakukan pergerakan. Langkahnya semakin cepat dan ia berupaya untuk terus bergerak lebih bervariasi. Meski ia juga mengalami beberapa kali insiden berupa jatuh dari ketinggian, namun dengan pencapaiannya ia merasa senang.
Perlahan ia akan pelajari, kekurangan yang ada pada dirinya, ia juga menyadari tidak mungkin suatu Teknik bisa dipelajari sampai seratus persen. Semuanya perlu proses dan latihan pembiasaan diri.
Malam harinya Li Yuan kembali melakukan kultivasi menyerap esensi Qi yang terdapat di kawah Gunung Hua, siang harinya ia memperlancar teknik penguasaan angin, sesekali ia mencoba teknik langkah petir. Namun ia masih harus mencoba berulang untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
__ADS_1
Kecepatan melangkahnya di udara perlahan semakin baik. Waktu berjalan dua bulan, ia berkultivasi tanpa beban. Ia menikmati semua proses perjalanan seni beladirinya tidak dengan terburu-buru, saat ini ia berhasil meningkatkan kekuatannya kembali menjadi ranah Pendekar Langit Tahap Awal.
Energi Qi di kawah Gunung Hua sangat membantu kultivasinya dalam meningkatkan kekuatan. Ditambah banyaknya buah Apel abadi yang membantu dalam pemenuhan nutrisi tubuhnya, semua saling melengkapi.