Legenda Li Yuan

Legenda Li Yuan
Ketulusan Fang Yin


__ADS_3

Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah perkampungan penduduk, sapaan dari orang-orang terlihat begitu ramah. Apalagi kabar kedatangan Li Yuan dan Li Tong sebelumnya sudah santer terdengar, para pemuda desa yang bertemu dengan mereka dengan cepat mengabarkan berita bahagia tersebut.


"Di sinilah rumahku dulu" ucap Li Yuan kepada Fang Yin ketika mereka berdua tiba di depan sebuah rumah sederhana dan nampak terawat.


Sementara Li Tong dan Fan Chi juga sudah memisahkan diri untuk menuju ke tempat tinggal Li Tong yang lama. Mereka sudah berjanji untuk kembali bersama pada malam hari, kesempatan ini akan mereka gunakan untuk mengenang masa-masa kecil mereka.


Fang Yin adalah putri bangsawan sejak ia dilahirkan, namun ia tidak sungkan berada di rumah sederhana yang kini ia sambangi.


"Apakah kamu merasa baik-baik saja di tempat ini?" ucap Li Yuan sesaat setelah mengenalkan tempat tinggal lamanya kepada Fang Yin.


"Yuan Gege, aku sangat senang berada di sini. Suasana pegunungan begitu nyaman, selain pemandangannya yang indah udara di sini juga masih sangat alami. Tidak berlebihan jika alam seperti ini bisa menghadirkan pendekar kuat seperti Yuan Gege" ucap Fang Yin sambil tersenyum anggun.


"Kamu sangat cantik" puji Li Yuan tanpa sadar.


Wajah Fang Yin memerah, ini adalah kata terindah yang pernah ia dengar dari mulut Li Yuan. Biasanya Li Yuan sangat sulit mengeluarkan kata pujian, baru ini ia mendengarnya dengan spontanitas.


Pada saat yang bersamaan, puluhan tetangga berdatangan mengunjungi rumah Li Yuan. Walau bagaimanapun sosok keluarga Li Yuan sudah dikenal luas di seluruh Desa Bambu Kuning, keberhasilan ayahnya dalam membangun Klan Li hingga menjadi keluarga nomor satu di Ibukota. Mereka juga mendengar jika Li Yuan sudah dijodohkan dengan putri tuan penguasa Ibukota, hal ini tentu menjadikan nama mereka semakin terkenal.


Kedatangan mereka membawa aneka makanan dan buah-buahan hasil bumi Desa Bambu Kuning, Fang Yin merasa hangat dengan adat istiadat masyarakat lokal. Hal tersebut semakin membuat hangat perasaannya serta semakin besar rasa cintanya kepada Li Yuan. Dari mulut para tetangga semua banyak menceritakan kebaikan dan sifat Li Yuan. Dari cerita tersebut Fang Yin menyimpulkan wajar jika Li Yuan sedikit kaku padanya, hal tersebut karena memang Li Yuan tidak pernah dekat dengan wanita manapun selama tinggal di Desa Bambu Kuning.


Di tempat yang berbeda, di Kota Xiening terdapat sebuah kuil yang sudah tidak terawat. Bangunan tersebut sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh orang-orang yang dulu pernah mengisinya. Tampak seorang wanita sedang memandang sebuah altar pemujaan dengan tatapan penuh kebencian dan keirian.

__ADS_1


Ada beberapa sajak kuno yang tertera pada meja altar kuno tersebut, tanpa diketahui maknanya wanita tersebut melafalkan sajak tersebut yang merupakan sebuah mantera bagi orang-orang Aula Jiwa. Tampaknya tempat ini ditinggalkan begitu saja oleh para penghuninya sebelum menghancurkan tempat persembahan.


Sebuah patung gagak hitam tampak menyeramkan berada di atas altar tersebut, namun peristiwa aneh terjadi sesaat setelah wanita tersebut melafalkan mantera yang tertera di meja altar. Tanpa wanita itu sadari, sebuah kekuatan jiwa telah merasuk ke dalam dirinya dan menguasai alam pikirannya.


Dengan sebuah pedang yang ia miliki, ujung jarinya ia lukai untuk mengeluarkan darah dan meneteskannya ke patung burung gagak hitam tersebut. Setelah beberapa saat, patung tersebut bergerak lewat vitalitas kehidupan dengan aura hitam yang sangat menyeramkan.


"Selamat datang tuanku" ucap burung gagak tersebut yang bisa berbicara.


"Kamu siapa" tanya wanita tersebut sambil memegangi kepalanya yang sakit.


"Aku adalah pelayan setiamu, Wuya" jawab burung gagak tersebut.


"Bagaimana bisa aku mengenalmu? Bukankah aku hanya berniat istirahat saja di tempat ini" jawab wanita tersebut yang wajahnya sangat mirip dengan Jia Hien.


"Apa itu darah Chou Hen?" tanya Jia Hien yang kini mulai kembali mengingat dirinya.


"Itu adalah darah yang mengandung kebencian serta dendam yang sangat kuat" ujar burung gagak yang bernama Wuya tersebut.


Jia Hien tertegun, ia tidak mengira jika kebenciannya sudah mendarah daging. Namun jika dipikir-pikir lagi memang tidak keliru, kebenciannya kepada Kaisar Tang Shiji sangat besar karena sudah membohonginya dan merusak masa depannya. Selain itu rasa iri kepada wanita yang kini berada di dekat Li Yuan tidak bisa ia pungkiri.


"Sebaiknya tuan putri menyesuaikan kekuatan tuan putri di tempat ini" ucap Wuya dengan tenang.

__ADS_1


Namun setiap kata yang keluar dari mulutnya mengandung kekuatan jiwa yang dapat mempengaruhi pikiran orang lain, terutama jika kekuatan mereka masih lemah maka dengan mudah akan terpengaruh oleh suara burung gagak tersebut.


"Kekuatan seperti apa yang kau maksud?" tanya Jia Hien dengan ekspresi mulai tertarik.


"Kekuatan yang akan tuan putri miliki sangat besar, sangat sulit untuk menemui lawan di Alam ini" jawab Wuya dengan nada yang meyakinkan.


Tiba-tiba dari kehampaan muncul sebuah Kristal berwarna merah darah, ukurannya sebesar kepalan tangan Jia Hien. Kristal tersebut melayang di udara lalu mendekat dan jatuh di genggaman tangan Jia Hien.


"Benda apa ini?" tanya Jia Hien sambi menaikkan kedua alisnya.


"Itu adalah Kristal Dansheng, yang berarti juga Kristal Kelahiran. Dengan menyerap inti sari Kristal tersebut maka kekuatan Tuan Putri seperti terlahir kembali, serta mampu mengendalikan kekuatan malam" ucap Wuya dengan tenang.


Kristal Dansheng sendiri sebenarnya merupakan kekuatan bawaan dari pemilik sebelumnya yang sudah meninggal. Kekuatan tersebut berhasil dipadatkan kembali dalam bentuk Kristal untuk selanjutnya diserap oleh sang penerus berikutnya.


Jia Hien tampak ragu sejenak, bayangan Sekte Laohu yang sudah membesarkannya serta wajah ayahnya terus teringat di dalam pikirannya. Tetapi keputusannya telah bulat untuk meninggalkan Sekte Laohu dan berpetualang di luar untuk meningkatkan kekuatan demi membalas dendam.


Kesempatan di depannya sangat bagus hanya saja kekuatan yang ditawarkan sangat mengkhawatirkan dirinya akan terjerembab ke dalam kebencian yang semakin dalam.


Wuya menyadari adanya pergulatan emosi dalam hati Jia Hien. Segera ia mengambil inisiatif untuk meningkatkan pengaruhnya atas diri Jia Hien.


"Tuan Putri, sebaiknya anda menyerap Kristal tersebut sebelum benda tersebut kembali lenyap" ucap Wuya dengan mempengaruhi pikiran Jia Hien.

__ADS_1


"Ini adalah kesempatan terbaikku untuk meningkatkan balas dendam, dengan bertambahnya kekuatanku maka aku pasti akan bisa mengontrol diriku lebih baik" gumam Jia Hien dalam hati.


Rasa kebencian dan dendamnya telah mengkristal di dalam hatinya, tanpa ia sadari iblis hati sudah semakin dalam merasuki jiwanya. Ia tidak akan pernah menyadari jika pilihannya kali ini akan merubah seluruh hidupnya.


__ADS_2