
Apa yang dilakukan oleh wanita tersebut adalah untuk menyelamatkan nyawanya. Ia tidak mau mati begitu saja setelah jiwanya dibangkitkan.
"Hmph.. Baiklah aku setuju" ujar Yaoguai sambil menarik kembali kabut pekat yang menyelimuti tubuh wanita tersebut.
Tanpa menunggu waktu lagi, Yaoguai segera menarik tubuh Jia Hien dengan kasar.
"Jangan sekarang, aku belum siap" ujar Dewi Penguasa Malam dengan lirih.
"Sekarang atau nanti sama saja" sahut Yaoguai yang tidak mau melewatkan kesempatan.
Dalam hatinya ia sudah tahu apa yang sedang direncanakan oleh wanita yang berada di depannya, oleh karena itu ia tidak akan melepaskan kesempatan yang sudah berada di depan mata.
Sebuah kabut gelap kembali muncul menghalangi pandangan pemimpin kelima pilar. Tubuh Jia Hien yang kini sudah mulai tak berdaya harus menghadapi serangan benda tumpul dari Yaoguai. Dengan teknik kultivasi ganda, tubuh Jia Hien justru dijadikan sasaran empuk untuk menyerap Qi dan hawa Yin secara langsung.
"Aaaahhh"
Jia Hien hanya bisa menjerit panjang saat tubuhnya berada di bawah Yaoguai. Ada tatapan penyesalan dan kebencian di matanya.
Secara perlahan jiwa Dewi Penguasa Malam terserap dengan sempurna dan melebur menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Yaoguai kini merasakan kekuatannya sudah sempurna, ia tersenyum dengan puas dan terus menyerap hingga tubuh wanita muda itu mengejang.
Di akhir hayatnya, Jia Hien melihat seorang pria yang tengah menyetubuhinya sedang tersenyum puas. Jia Hien tidak mengerti dengan apa yang saat ini menimpanya, kesadarannya kembali terhenti saat ia terakhir kali berada di Kuil Jiwa Kota Xiening.
Pada saat ini ia merasakan tubuhnya begitu nyeri dan rasa lemas yang menggerogoti hingga ke sumsum tulang. Seluruh memorinya kembali terangkai dalam untaian ingatan yang perlahan mulai bias seiring melemahnya energi vitalitasnya.
"Ayah.. Maafkan aku" ucap Jia Hien pelan diiringi air mata yang terus membasahi wajahnya.
"Aarrgghh" raung Jia Hien dengan keras sebelum suaranya terdiam dan menghilang untuk selamanya.
"Hahaha..." Suara tawa Yaoguai terdengar keras dibarengi dengan getaran yang menyelimuti tempatnya berada.
Kelima pemimpin pilar utama Aula Jiwa merasakan kekuatan yang sangat kuat tengah menggetarkan seluruh isi bangunan. Sebuah retakan panjang tercipta dari bawah tanah, menimbulkan sebuah portal dimensi waktu dengan aura penuh kegelapan.
"Akhirnya aku memiliki kekuatan Dewa Kegelapan" ucap Yaoguai dengan bangga.
__ADS_1
Kabut pekat yang menghalangi pandangan kelima orang pemimpin pilar Aula Jiwa kini dapat melihat dengan jelas sosok Yaoguai dan tubuh seorang wanita yang hampir mengering dan tanpa ditutupi selembar benangpun.
"Selamat Ketua" ucap kelima orang tersebut dengan kompak.
"Hahaha.. Sudah saatnya kita bergerak secara terbuka" ucap Yaoguai yang kini tampak dua puluh tahun lebih muda.
Setelah menyerap kekuatan wanita di depannya, ia tampak lebih muda dan terlihat lebih gagah. Wajah keriputnya tergantikan dengan otot wajah yang lebih muda, ia sendiri tidak menduga jika kekuatan wanita tersebut mengandung efek peremajaan.
Yaoguai merasakan aliran tenaga dalamnya sudah berada di tingkat yang berbeda dari sebelumnya, kini ia bisa mengedarkan indra spiritual dengan jangkauan yang lebih jelas dari sebelumnya.
"Keluarlah" teriak Yaoguai dengan nada yang keras.
Tiba-tiba dari dalam lubang dimensi waktu, ratusan makhluk dari ras siluman muncul. Mereka memiliki tubuh seperti manusia namun memiliki bentuk yang menyeramkan.
"Mulai sekarang kalian sudah dibangkitkan dan akan menjadi pengikut ku" ucap Yaoguai.
"Baik tuanku" jawab salah satu dari mereka yang kini sedang berlutut ke arah Yaoguai.
"Hahaha.. Sekarang kalian segera bersiap, kita akan menuju arah timur untuk menghadapi penjaga Alam Langit" ujar Yaoguai dengan penuh semangat.
"Baik Tuanku, kami akan mendengarkan mu" ucap mereka dengan kompak.
"Hidup Ketua"
"Hidup Ketua"
"Hidup Ketua"
Pekikan demi pekikan terdengar penuh semangat, mereka menyerukan teriakan penyemangat untuk segera berangkat menuju Provinsi Rajawali Emas. Menurut rencana, Istana Aula Jiwa akan didirikan di Kota Nanguan sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang di Alam Langit.
Setelah menyiapkan segala sesuatunya, mereka semua bergegas menuju Kota Nanguan di Provinsi Rajawali Emas guna melakukan invasi. Sementara itu tubuh Jia Hien yang sudah berubah menjadi mayat, dibiarkan begitu saja tanpa ada yang mempedulikannya.
Sementara itu Li Yuan yang masih memahami teknik tebasan jiwa masih berkonsentrasi penuh dalam kultivasinya. Di atas ranjang giok, energinya terus terjaga dan bahkan menyerap energi dari giok tersebut yang merupakan salah satu barang langka di Alam Langit.
__ADS_1
Hingga tengah malam, barulah Li Yuan membuka matanya melalui pemahaman yang mendalam akhirnya ia mencoba melewati kemacetannya dengan menggabungkan teknik yang terdapat di dalam kitab Kaisar Kematian.
Di dalam kitab Kaisar Kematian memuat tentang teori melenyapkan hawa keberadaan dengan memanfaatkan karekteristik jiwa. Setelah mendalaminya, Li Yuan baru mengerti jika sebenarnya energi Qi yang sangat besar akan disembunyikan melalui manipulasi hawa keberadaan itu sendiri.
Selain itu agar Qi tersebut tidak bocor, perlu dilakukan dengan secepat mungkin tanpa menunda waktu sedetikpun.
"Hmmph.. Baiklah jika begitu" ucap Li Yuan dengan ekspresi tenang.
Di luar gua, di terangi cahaya bulan Li Yuan bangkit dari kultivasinya. Dengan mantap ia menatap sebuah tebing sebagai obyek serangan.
Tidak ada fluktuasi Qi pada saat ini, dari awal berdiri Li Yuan terlihat sangat tenang, bahkan emosinya terlihat begitu stabil.
Dengan santainya pedang tiga elemen keluar dari sarungnya inci demi inci. Detik selanjutnya Li Yuan membuka kaki kanannya melakukan kuda-kuda teknik serangan.
"Jurus Tebasan Jiwa" ucap Li Yuan pelan.
Dalam sepersekian detik berikutnya tubuh Li Yuan sudah menghilang dari tempat asalnya berdiri. Kini ia berada tepat di depan tebing yang sebelumnya ia targetkan.
Seberkas cahaya putih membentuk garis horizontal, lalu dengan tenang Li Yuan menyarungkan kembali pedang tiga elemen ke dalam sarungnya.
"Bruugh"
Suara tebing ambruk terdengar bergemuruh di sepanjang ngarai, suaranya begitu menakutkan hingga jurang pemisah di puncak Gunung Hua bergetar dengan hebat.
Sebuah retakan yang ditimbulkan dari sabetan pedang jiwa, telah meninggalkan kerusakan yang sangat parah.
Melihat hal tersebut Li Yuan tersenyum senang, latihannya selama seminggu ini tidak terbuang percuma. Ia tidak ingin dimarahi oleh gurunya lagi, apalagi sampai melibatkan dua wanitanya.
"Aku harus kembali secepatnya" gumam Li Yuan yang kini merasakan sesuatu yang berbeda.
Pada saat ini ia merasakan guncangan di dalam jiwanya, meskipun beberapa kali ia memasuki lautan kesadarannya ia masih belum bisa menemukan penyebab rasa kegelisahannya tersebut.
"Sepertinya ini berhubungan dengan Yaoguai" pikir Li Yuan sambil menatap ke arah langit.
__ADS_1