Legenda Li Yuan

Legenda Li Yuan
Menemani Li Peiyu


__ADS_3

Li Yuan membuka matanya saat hari sudah pagi, namun ia masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Ia ingin menikmati suasana yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia menarik selimutnya lagi dan melanjutkan istirahatnya.


Pagi ini di Kota Huanxie, berita tentang hancurnya kelompok Kobra Hitam sudah tersebar. Mereka tewas saat aksi penyerangan ke keluarga Li Dan. Berita ini sontak menyulut kegelisahan Patriark Li Cuan, pamornya sebagai Patriark Klan Li terus merosot seiring dengan Kecemerlangan Li Dan.


"Brak!


Suara meja hancur berkeping-keping.


Kurang ajar!


Sentak Li Cuan penuh emosi.


"Tenang Patriark" ucap Li Chang berusaha menenangkan Li Cuan yang tengah terbakar emosi.


"Li Dan semakin kurang ajar, dia sudah mengambil alih mitra bisnis keluarga kita. Sekarang kekuatannya juga semakin bertambah" ucap Patriark Li dengan putus asa.


Mendengar ucapan Li Cuan, seisi ruangan menjadi hening. Mereka semua tidak menyangkal ucapan Patriark Li Cuan, perkembangan Li Dan memang sangat pesat. Ditambah musnahnya kelompok Kobra Hitam membuat pamornya semakin melonjak.


Berita lima orang Pendekar Langit tewas adalah paling fenomenal selama ini. Beberapa orang mulai goyah untuk bergabung bersama Li Dan.


Setelah hening, tetua Li Chang berkata, "Kita masih memiliki harapan, tuan muda Li Ming dan yang lainnya merupakan murid dari Sekte Laohu. Kelak kehadiran mereka akan membuat situasi seperti semula" Pungkas Li Chang.


Kemudian suasana menjadi sedikit lebih tenang. Ucapan Tetua Li Chang ada benarnya juga.


Pada siang harinya di dalam kamar Li Yuan.


Li Yuan membuka matanya, dia melihat sekelilingnya ternyata hari sudah siang. Ia beristirahat sangat nyaman kali ini, perlahan ia bangkit dan menuju jendela di sudut kamar. Li Yuan menengadahkan kepala, ia melihat matahari sudah tepat di atas langit. Segera ia membersihkan dirinya dan menggunakan pakaian barunya.


Li Yuan melangkah menuju ruang tengah, tampak Li Peiyu yang sedang menantinya.


“Huh, tuan muda lama sekali tidurnya” gerutu Li Peiyu dengan manja.


 “Hahaha.. Memangnya tuan putri mau kemana?” jawab Li Yuan dengan bercanda juga.


“Kak, aku mau jalan-jalan ke pusat Kota” ucap Li Peiyu.

__ADS_1


“Hmm.. Baiklah aku akan menemanimu” ujar Li Yuan sambil tersenyum.


“Baiklah kita berangkat sekarang saja” ucap Li Peiyu.


“Apakah tidak ada hal lainnya? Tanya Li Yuan


“Sudah siap, ayo berangkat! ajak Li Peiyu


Kedua kakak beradik itu berangkat menuju pusat kota dengan berjalan kaki, mereka sengaja tidak menggunakan kereta kuda. Jarak kediaman mereka dengan pusat kota tidak terlalu jauh, mereka mengenang saat-saat di Desa Bambu kuning saat mereka masih dalam keadaan susah. Selain itu Li Yuan tidak mau terkenal, ia ingin tetap rendah hati.


Di Kota Huanxie, keluarga ayahnya sudah hampir dipastikan menjadi keluarga nomor satu mengalahkan Patriark Li. Nama Li Dan semakin tersohor karena terobosan bisnisnya sangat luar biasa.


Tidak lama mereka berjalan, mereka semakin dekat dengan keramaian. Siang itu hembusan angin di Kota Huanxie begitu terasa di telinga Li Yuan, membuat hasrat terbangnya tiba-tiba muncul.


Sepanjang jalan Li Peiyu banyak bercerita tentang kemajuan Kota Huanxie, ia tampak seperti gadis berpengetahuan di samping Li Yuan. Li Yuan sangat senang melihat kegembiraan di wajah adiknya tersebut.


Li Yuan juga sempat beberapa kali tercengang, ia tidak menyangka perubahan Kota Huanxie secepat ini. Banyak bangunan baru sebagai pusat bisnis kota Huanxie yang tertata rapi, sebagai seorang pebisnis ayahnya juga mengedepankan estetika.


Di seberang jalan, Li Yuan mendapati seorang anak kecil. Pakaiannya lusuh dengan kulitnya yang sedikit hitam karena terjemur matahari. Anak lelaki tersebut tersenyum ke arah Li Yuan, mengayunkan tangannya hendak memanggil.


Di jalanan tampak pejalan kaki yang berlalu lalang, bahkan diantara mereka ada yang membawa pedang yang digantungkan di pinggangnya.


Sementara Li Peiyu memandang kakaknya sambil menghela napas dan berkata, Apakah kita akan menghampiri anak lelaki itu”? tanya Li Peiyu.


“Ya” jawab kakaknya singkat.


Li Peiyu hanya mengangguk ringan saat kakaknya sudah mendekati anak lelaki tersebut. Di samping anak lelaki tersebut terdapat pasangan suami istri yang tengah mengobrol.  Li Yuan melihat ada kecemasan di wajah kedua orang pasangan suami istri tersebut.


Anak lelaki tersebut menggoyangkan baju Li Yuan, menarik bajunya seolah sambil menunjuk dagangan kedua orang tuanya. Li Yuan melihat jajanan manisan yang tersusun rapi di atas meja. Tanpa ragu Li Yuan segera berkata, “Bu, aku mau manisan yang disebelah sana” ucap Li Yuan sambil menunjuk manisan yang dimaksud.


“Baik tuan muda"


jawab perempuan tersebut sambil melayani Li Yuan dengan ramah.


Li Yuan menerima beberapa manisan dengan tangan kanannya, “Berapa bu harganya? tanya Li Yuan dengan sopan.

__ADS_1


Tangan kanannya menyodorkan manisan kepada Li Peiyu.


“Sepuluh koin perak” jawab ibu tersebut sambil menghela napas.


Di Kota Huanxie perak dan emas menjadi alat tukar utama untuk bertransaksi. Sedangkan batu energi digunakan


untuk transaksi yang nilainya lebih besar.


Li Yuan terdiam, “Sepuluh koin perak?” tanya Li Yuan.


“Apakah terlalu mahal” tanya wanita tersebut sedikit bingung.


“Tidak mahal” ucap Li Yuan sambil tersenyum cerah. Ia lalu mengeluarkan sekantung uang lalu menyerahkannya kepada wanita tersebut.


“Ini..Ini terlalu banyak tuan muda” ucap wanita tersebut setelah memeriksa kantung uang tersebut.


Wanita pedagang tersebut melihat koin emas yang begitu banyak, bahkan sangat


banyak untuk ukuran orang sepertinya.


“Terimalah, sisanya bisa ibu gunakan untuk membuka rumah makan yang lebih layak” ucap Li Yuan. Sebelumnya ia mendengar bahwa pasangan suami tersebut sedang berkeluh kesah tentang kesulitan ekonomi.


Tak beberapa lama kemudian, muncul tiga orang pria menggunakan pakaian berwarna biru. Mereka menghampiri penjual tersebut dan mengelilinginya dengan wajah buas.


"Cepat! Keluarkan pajak kalian" ucap salah seorang dari mereka dengan nada memaksa.


"Pajak apa lagi tuan?" tanya wanita pemilik kios tersebut.


"Pajak pembangunan" ucap orang pertama tadi. Sementara dua orang lainnya berdiri dengan arogan.


Li Yuan yang hendak pergi menjadi terdiam. Ia menahan lengan adiknya memberi isyarat untuk tetap tinggal. Li Yuan menjadi sedikit tertarik dengan kata pajak pembangunan.


"Kami dari Asosiasi Sumber Kehidupan, kami adalah pengumpul pajak untuk membangun kota ini. Apakah kalian tidak melihat pembangunan yang sudah ada?" ucap orang tersebut.


"Ampun tuan-tuan bukankah itu memakai uang sendiri tuan Li?" ucap pemilik kios tersebut sambil memegang tangan putranya yang masih kecil.

__ADS_1


"Kalian mau bayar atau tidak? atau kami hancurkan tempat kalian" ucap orang tersebut dengan nada mengancam.


__ADS_2