
Keesokan harinya, matahari di Sekte Laohu bersinar lebih indah. Hal ini yang dapat dirasakan oleh Jia Hien, ia seperti mendapatkan kembali kehidupannya. Rasa pilu yang ia rasakan beberapa waktu yang lalu, perlahan mencair dengan hangatnya sinar mentari yang menyinari sudut kamarnya.
Seolah enggan bergerak, ia merasakan kenyamanan yang baru saja ia temukan kembali.
"Tok"
"Tok"
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Siapa?" tanya Jia Hien dengan enggan.
"Aku Nu Hume" jawab suara itu singkat.
Mendengar suara sahabatnya, Jia Hien turun dari tempat tidurnya. Sejak ia tumbuh dewasa, ia memiliki tempat tinggal pribadi yang lumayan luas. Sebagai putri seorang Tetua pada saat itu, ia mendapatkan fasilitas dan sumberdaya yang mumpuni. Hanya saja keputusan terakhirnya untuk meninggalkan sekte adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Nu Hume saat wajah Jia Hien terlihat dari balik pintu.
"Ya, tentu saja. Masa iya yang di depan mu ini hantu!" ucap Jia Hien yang tampak masih mengantuk.
Tidak lama setelah itu, muncul Nu Nian di belakang Nu Hume. Seperti biasa, kakak beradik itu selalu bersama.
"Aku sepertinya ingin beristirahat hari ini, belum bisa bergabung untuk latihan bersama" ucap Jia Hien sambil meraih cangkir minuman.
"Li Yuan masih hidup, ia berhasil kembali ke Sekte" ucap Nu Hume tanpa jeda.
Mendengar ucapan Nu Hume, seketika membuat tubuh Jia Hien berhenti bergerak. Cangkir di genggaman tangannya terlepas seketika.
__ADS_1
"Praankk"
suara pecahan cangkir terdengar di dalam kamar tersebut, ada keheningan sesaat.
"Bisa kau ulangi ucapanmu?" ucap Jia Hien.
"Kau bisa mengecek apa yang aku ucapkan di aula misi" kata Nu Hume dengan lugas.
Pada saat ini Jia Hien, merasakan sakit yang tidak terkira di dalam hatinya. Kekecewaan yang ia rasakan ketika di Istana Langit seolah bertambah ribuan kali lipat saat mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Baiklah aku akan memeriksanya" kata Jia Hien dengan ekspresi rumit.
Nu Hume dan Nu Nian tidak mengatakan apa-apa lagi, mereka menunggu Jia Hien untuk bergegas menuju aula misi. Sama seperti Jia Hien, berita ini juga mengejutkan Nu Nian. Pikirannya seolah menerawang ke Kota Nanguan, tempat dimana ia melihat seseorang yang memiliki kemiripan dengan Li Yuan.
"Ayo kita pergi sekarang" ajak Jia Hien kepada kedua orang sahabatnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka berdua tiba di aula misi dengan cepat. Di depan meja pencatatan, mereka bertemu dengan petugas yang biasa bertugas di sana.
"Bisakah aku melihat catatan misi Li Yuan" ucap Jia Hien datar.
"Mohon tunggu sebentar" jawab petugas tersebut.
Di dalam diri Jia Hien tengah terjadi pergulatan batin yang luar biasa hebat. Jika benar Li Yuan masih hidup maka ia benar-benar sudah melakukan kesalahan besar. Apa yang pernah disampaikan oleh Li Tong sebelum ia mengambil keputusan maka akan terjadi, begitu pula dengan apa yang pernah diucapkan oleh ayahnya.
"Ini Nona catatan kronologis Li Yuan" ucap petugas tersebut sambil menyodorkan sebuah catatan.
Saat menerima catatan tersebut, ada berbagai macam perasaan yang mendera pikiran Jia Hien.
__ADS_1
"Cepatlah buka" suara Nu Nian mengingatkan dengan tidak sabar.
Secara perlahan Jia Hien membuka lembar demi lembar tulisan tangan tersebut, Nu Hume yang ikut membacanya juga tercengang. Mereka tidak menduga pengalaman hidup Li Yuan begitu pahit selama tiga tahun terakhir, namun Nu Hume bisa menghela napas saat Li Yuan mendapatkan keberuntungan. Catatan terakhir menyebutkan jika ia bisa menerobos ke tanah Pendekar Raja dalam masa kurang dari tiga tahun.
Jia Hien tidak bisa berbuat apa-apa, hal yang menyakitkan adalah tidak lama ia pergi meninggalkan Sekte, justru Li Yuan tiba di Sekte Laohu.
"Hahaha... " Jia Hien tertawa dingin, batinnya tercabik-cabik saat ia mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya. Kehormatan dirinya sebagai wanita sudah hilang, apalagi kini ia memiliki status yang ambigu. Ketidakjelasan statusnya sebagai calon istri dari Kaisar Langit pun semakin membuat langkahnya berat.
Nu Hume dan Nu Nian tersenyum puas, bukan karena menyindir keadaan Jia Hien. Mereka berdua pernah berhutang budi pada Li Yuan, mereka dengan jelas belum mengucapkan terimakasih. Kondisi saat itu di sarang Kelompok Mawar Hitam begitu menegangkan, antara hidup dan mati mereka rasakan.
"Bagaimana sekarang?" tanya Nu Nian kepada Jia Hien.
"Sebaiknya kamu temui ayahmu, kini statusnya sudah menjadi Wakil Ketua Sekte" ujar Nu Hume memotong pertanyaan Nu Nian.
"Baiklah aku juga belum melaporkan kedatangan ku" ujar Jia Hien sembari menyerahkan catatan misi kepada petugas jaga.
Pada kesempatan ini pandangan Jia Hien tertuju pada sebuah dinding. Dengan perlahan ia berjalan menuju dinding tersebut. Ia memperhatikan dengan seksama bagan pengurus Sekte Laohu yang baru. Selain nama ayahnya sebagai Wakil Ketua Sekte, ada juga nama Li Tong dan tiga orang kawannya yang berasal dari tempat yang sama.
Dalam bagan tersebut, tercatat pula kekuatan Li Tong dan yang lainnya berada pada ranah Pendekar Langit. Dengan kekuatan setara dengan para Tetua, membuat keempat orang murid tersebut berada pada posisi kepala Diaken. Masing-masing mereka membawahi para Diaken senior di tiap-tiap Paviliun.
"Bagaimana mungkin perkembangan orang-orang ini begitu pesat?" ucap Jia Hien menatap ke arah Nu Hume.
Nu Hume hanya mengangkat kedua bahunya. Ia sendiri bingung dengan pencapaian para murid di Paviliun Bao Zi, kekuatan mereka meningkat setelah Li Yuan kembali. Namun anehnya kekuatan Li Yuan sendiri berada pada ranah Pendekar Raja.
Sementara itu, di Kota Qinghai kabar tentang bergabungnya Klan Li ke Ibukota mulai santer terdengar. Pembangunan sebuah manor mewah sedang dikerjakan oleh ratusan orang pekerja. Setelah mendapat dukungan dari Sekte Laohu, kekuatan dan kecepatan perkembangan keluarga Li tidak dapat dibendung.
Bahkan secara pribadi, Gubernur Provinsi Naga Biru sudah beberapa kali mengirim utusan serta memberikan hadiah kepada Patriark Klan Li yang baru, Li Dan. Hubungan keluarga Li dan keluarga Fang mulai terjalin dengan baik, membuat pembangunan Manor Klan Li berjalan mulus.
__ADS_1
Pundi-pundi kekayaan Klan Li bertambah semakin banyak, orang-orang yang semula berada di bawah pengaruh Li Cuan kini mulai bisa menerima Li Dan. Kekuatan materi yang diberikan oleh orang tua Li Yuan sangat berbeda dengan Li Cuan saat menjabat sebagai Patriark Klan Li. Pengaruh Li Dan juga tumbuh di beberapa wilayah lainnya di Provinsi Naga Biru, semua ini berkat nama keluarga dari istrinya.
Seperti saling melengkapi, pasangan suami istri itu kini menjadi sorotan banyak orang. Kerajaan bisnis yang dijalani oleh Li Dan benar-benar bersifat taktis, ia tidak membuang kesempatan. Setiap orang di Klan Li ia berdayakan dengan baik, sehingga para anggota Klan merasa dihargai.