
Saat ini, di Paviliun Tetua Jia Fu ada ruangan pribadi yang tampak lengang. Di dalamnya duduk seorang pria paruh baya, di hadapannya ada beberapa kotak yang berisi hadiah serta barang-barang berharga. Jia Fu hanya tersenyum datar memandang barang-barang yang berada di depannya, itu semua adalah mahar dari Kaisar Langit sebagai mahar putrinya.
Ia tampak tidak tertarik, hanya menatapnya sekejap lalu berdiri menghampiri sudut jendela kamarnya. "Li Dan, maafkan aku" ucapnya pelan, pandangannya lirih ke arah langit biru.
Ia tidak hanyut dalam pujian dan ucapan selamat yang mengalir kepadanya, bahkan ia juga tidak ingin mengantar kepergian putri semata wayangnya menuju Ibukota Kekaisaran yang berada di Kota Jincheng, yang letaknya berada di tengah-tengah empat Provinsi besar. Kota Jincheng telah lama menjadi pesona yang sangat menggiurkan bagi para praktisi ilmu beladiri maupun warga kelas atas.
Pada kesempatan pernikahan Jia Hien dengan Kaisar Langit dari Sekte Laohu hanya mengirim beberapa orang Diaken atau murid senior dalam mendampingi Jia Hien menuju Istana Langit yang menjadi dambaan setiap orang. Adapun pada acara intinya nanti semua Pimpinan Sekte Laohu akan datang ke Istana Langit sebagai undangan khusus.
Sementara itu di Ibukota Qinghai, Fang Yin dan Li Yuan kini tiba di sebuah rumah makan yang bisa dikatakan tidak besar namun terkesan unik dan mewah.Terdapat papan nama bertuliskan "Bunga Sutera" di dekat pintu masuk.
Bangunan tersebut hanya dua lantai, namun ada begitu banyak antrian orang-orang yang hendak mencicipi makanan di rumah makan ini. Ada yang khas dari rumah makan ini, yakni setiap seminggu sekali akan ada menu khusus yang dimasak dan disajikan secara langsung oleh pemilik restoran, yakni Fang Yin.
Secara kebetulan saat ini Li Yuan mendapatkan kesempatan secara khusus untuk mendapatkan undangan secara pribadi. Ia berjalan dengan santai melewati antrian panjang di luar bangunan tersebut.
Menginjakkan kakinya di dalam rumah makan, Li Yuan sedikit kagum dengan tata letak bangunan. Dalam pemahamannya, desain dari arsitekturnya juga mengedepankan kenyamanan. Li Yuan lalu diajak ke lantai dua, ada ruangan khusus untuknya duduk.
"Mohon tunggu sebentar, aku akan menyiapkan segala sesuatunya untukmu" ucap Fang Yin sambil bergegas ke dapur untuk mulai memasak.
Perlu diketahui, setiap masakan yang dihidangkan olehnya akan bernilai lebih dari harga biasanya di hari normal. Harga yang berlaku adalah seperti sistem lelang, siapa yang berani membayar lebih tinggi maka ia berhak mendapatkan masakan dari nona Fang Yin.
Kebanyakan pelanggannya adalah para tuan muda dari keluarga besar di Kota Qinghai, bahkan tidak sedikit mereka yang berasal dari Ibukota kekaisaran. Mereka semua terpesona dengan kecantikan Fang Yin, selain anggun mempesona ia juga memiliki postur tubuh semampai yang sangat diidolakan oleh para lelaki.
Wajar saja jika Xie Haocun sebelumnya sangat tergoda oleh Fang Yin, sebagai putra seorang petinggi Istana Langit ia kerap mengabaikan kaidah masyarakat. Hal tersebut sangat tidak disukai oleh Fang Yin yang sangat sederhana, meskipun ia putri dari penguasa Kota Qinghai dan orang yang memiliki harta berlimpah, ia lebih menyukai berbisnis dengan membuka rumah makan.
__ADS_1
Tidak beberapa lama Li Yuan menunggu, ia sudah mendapatkan makanannya. Menu yang disajikan tampak tidak asing, sebagai orang yang lahir dan besar di Desa Bambu Kuning ia tentu saja mengenal baik makanan yang kini berada di atas meja makan.
"Silahkan dimakan" ucap Fang Yin dengan sopan, ada sekilas senyum yang terpampang dengan indah di wajah cantiknya.
"Terima kasih" sahut Li Yuan yang mengabaikan keindahan yang saat ini terlukis di wajah wanita tersebut.
Fang Yin sedikit kecewa mendapati reaksi Li Yuan yang terkesan acuh. Baru kali ini ia mendapati pria yang mengabaikan dirinya, seolah ia bukanlah wanita yang selama ini dikagumi oleh banyak pria.
Li Yuan menatap semangkuk Kembang Tahu yang disajikan secara berbeda, ia mengambil sendok lalu mencicipinya secara perlahan. Dalam ingatannya, ini adalah makanan kesukaannya yang sering kali disajikan oleh ibunya sejak ia kecil.
"Bagaimana rasanya?" tanya Fang Yin penuh semangat. Itu adalah menu andalannya yang memang secara pribadi ia pelajari di Desa Bambu Kuning.
"Hmm.. kurasa teksturnya sedikit kasar. Bau tahunya hilang tersamarkan dengan aroma bumbu" ucap Li Yuan memberi penilaian.
"Sebaiknya kamu merendamnya tidak terlalu lama, agar aroma tahunya tetap terjaga dengan baik. Selain itu kamu juga harus melakukan penyaringan yang lebih teliti agar teksturnya lebih halus dan tidak mudah pecah" sambung Li Yuan memberikan saran.
Fang Yin hanya terdiam, ia benar-benar tidak menduga jika lelaki di hadapannya mengerti masakan dengan begitu detail. Biasanya seorang pendekar tidak memahami masakan secara detail, asal enak dan nikmat itu sudah cukup.
"Terimakasih atas sarannya tuan pendekar, ke depannya aku akan melakukan perbaikan" ucap Fang Yin dengan wajah yang sedikit gelap.
"Ngomong-ngomong aku belum mengetahui nama tuan pendekar" lanjut Fang Yin mencoba lebih akrab.
Li Yuan sedikit bingung dengan hal ini, saat ini ia sedang menyamar. Lalu ia berkata, "Kamu bisa memanggilku Pendekar Pedang Tiga Elemen" ucap Li Yuan sambil menurunkan pedangnya yang menggantung di punggungnya.
__ADS_1
"Pendekar Pedang Tiga Elemen?" tanya Fang Yin sambil mengerutkan dahinya.
"Ya" ucap Li Yuan singkat. Di atas meja kini tergeletak pedang panjang, dibungkus dengan sarung warna keemasan. Pedang tersebut mengeluarkan aura pedang yang sangat tajam.
Di depannya, Fang Yin tidak bisa berkata apa-apa. Matanya menyapu pedang panjang tersebut, dari ujung hingga gagang pedang. Pandangannya tertuju pada pangkal sarung pedang, ada lambang kuno yang mengartikan bahwa pedang tersebut bernama pedang tiga elemen.
Fang Yin tidak terlalu paham tentang pedang, ia hanya mengangguk sebentar lalu berkata, "Ke depannya jika aku ingin bertemu denganmu bagaimana caranya?" tanya Fang Yin yang kini mulai tertarik dengan Li Yuan.
"Dalam beberapa tahun ke depan kamu bisa bertemu denganku di Provinsi Rajawali Emas" jawab Li Yuan tanpa ragu.
Jika diurut dari rencananya, memang benar jika Li Yuan akan mengunjungi Provinsi Rajawali Emas, ia ingin memperdalam teknik angin yang sudah ia kuasai. Ilmu yang ia dapatkan dari gurunya semuanya bersumber dari Kitab-kitab tingkat Dewa, semuanya bersifat membunuh dan menghancurkan. Jadi Li Yuan ingin mendapatkan teknik tingkat atas yang hanya membunuh dalam skala kecil atau perorangan.
"Baiklah jika begitu" ucap Fang Yin sambil tersenyum. Ia semakin tertarik dengan kemisteriusan pria yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba di luar rumah makan terjadi keramaian, ada serombongan pasukan dengan senjata lengkap mengelilingi rumah makan Bunga Sutera.
Menghadapi situasi seperti ini Li Yuan tidak terkejut, ia sedari tadi dapat merasakan pergerakan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar rumah makan. Li Yuan sengaja membiarkan hal tersebut, walau bagaimanapun ia akan membersihkan secara tuntas terkait masalah yang baru saja ia timbulkan.
Melihat kumpulan prajurit yang datang, semua pengunjung segera berhamburan secara teratur. Prajurit tersebut menggunakan simbol Istana Kekaisaran Langit, ditambah dengan kehadiran seorang pria paruh baya dengan menggunakan pakaian kebesarannya, dia adalah Xie Taizong Jenderal Istana Langit dari Selatan.
"Tap!" Tap!"Tap!"
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah pria berumur enam puluh tahunan. Ia tampak tergopoh-gopoh menghampiri Jenderal Xie Taizong, lelaki tua tersebut sang Penguasa Kota Qinghai sekaligus ayah dari Fang Yin yaitu Fang Jing.
__ADS_1