Legenda Li Yuan

Legenda Li Yuan
Pertemuan Teman Lama


__ADS_3

Tiga orang pemuda bermarga Fan juga tidak kalah terkejutnya, mereka bertiga yakni Fan Lau, Fan Rou dan Fan Chi segera menghentikan latihan mereka. Bersama Li Tong, mereka segera berlari meninggalkan Paviliun Bao Zi penuh semangat.


Dari kejauhan, Bao Zi hanya menggeleng kepala, dari sampingnya seorang wanita segera berkata, "Tampaknya dari awal kita tidak salah memilihnya. Dia selalu penuh misteri" ucapan Wu Niao memang benar.


Meskipun statusnya sebagai guru, Li Yuan belum mendapatkan teknik yang tepat. Bao Zi terkendala dengan kekuatan inti energi di dalam tubuh Li Yuan yang mengandung unsur petir. Ditambah elemen jiwanya yang misterius membuat Tetua Bao Zi semakin sulit mengembangkan bakat Li Yuan. Sebelumnya Bao Zi sempat ingin mengajak Li Yuan ke Provinsi seberang, mengarahkannya kepada Sekte yang tepat untuk mengembangkan kemampuannya. Sedangkan Sekte Laohu sendiri merupakan pembudidaya elemen tanah. Hal tersebut sangat bertentangan, secara teori elemen petir jelas lebih kuat dari elemen tanah.


Di Aula misi, Li Yuan masih menulis beberapa halaman cerita yang ia karang berdasarkan pengalamannya selama tiga tahun dirinya menghilang. Laporan ini juga yang akan menjadi bahan masukan atau pertimbangan bagi Sekte untuk mengembangkan misi ke depannya. Setelah Li Yuan selesai menyerahkan lembaran pertanggungjawaban, petugas tersebut membacanya dan mengernyitkan dahi beberapa kali.


Menurut catatan yang dibuat oleh Li Yuan, dirinya berhasil selamat dari serangan Harimau Emas karena Li Yuan beruntung. Ia tergelincir ke sebuah ngarai dan sempat pingsan beberapa hari. Setelah sadar Li Yuan menemukan sebuah Gua peninggalan seorang pertapa, lalu Li Yuan mendapatkan beberapa pengetahuan dan berkultivasi di sana tanpa menyadari waktu berlalu dengan cepat. Ia juga menceritakan kenaikan kultivasinya hingga ke Tingkat Pendekar Raja.


Setelah dirasa cukup menjalankan prosedur di Aula misi, Li Yuan hendak pergi untuk segera menuju paviliun Baozi.


Tap! Tap! Tap!


Dari arah pintu terdengar langkah kaki, terlihat Li Tong dan beberapa orang lainnya tiba. Salah satu diantara mereka tampak Tetua Jia Fu berada di posisi tengah.


Semua orang terkesima saat melihat Li Yuan dengan penampilan fisiknya, "Ah kau benar-benar kurang ajar, setelah tiga tahun menghilang penampilanmu semakin luar biasa saja" ucap Li Tong yang segera memeluk sahabatnya itu.


Di belakangnya, Fan Lau dan Fan Rou mendekati mereka lebih dekat. Hanya Fan Chi yang masih menahan diri karena ia wanita satu-satunya diantara mereka. Ada keheningan tercipta, wajah mereka terlihat larut dalam kesedihan yang bercampur dengan kebahagiaan.


Diantara mereka, tampak Li Yuan begitu mendominasi, fisiknya yang berbeda dengan yang lainnya membuat Li Yuan tampak lebih gagah.


"Ayo kita kembali ke tempat guru, sudah lama beliau memikirkanmu dan selalu membicarakanmu" ujar Li Tong di tengah suasana haru penuh bahagia tersebut.


Dalam pandangan Li Yuan, ia melihat Tetua Jia Fu yang tampak terdiam memperhatikan suasana pertemuan mereka.

__ADS_1


"Paman, apa kabar?" ucap Li Yuan yang kini semakin dekat ke arah Tetua Jia Fu.


"Seharusnya aku yang mengatakan demikian" ucap Jia Fu dengan pelan.


"Kabarku baik bahkan sangat baik" ucap Li Yuan dengan senyum ramahnya.


"Hmm.. Baguslah jika demikian. Aku sangat bahagia mendengarnya" ucap Jia Fu mulai menunjukkan senyumnya.


"Oh iya, paman mendapatkan salam dari ayah. Jika semuanya lancar, maka ayah dan yang lainnya akan pindah dan menetap di Ibukota" ucap Li Yuan penuh semangat.


"Benarkah?" tanya Jia Fu dengan nada sedikit muram.


Melihat perubahan Tetua Jia Fu, Li Yuan memahaminya. Sejak awal ia dapat merasakan situasi wajah Tetua Jia Fu yang tidak baik-baik saja.


Kenyataan itu tidak akan berubah sampai kapanpun" ujar Li Yuan yang mencoba menyelami permasalahan Tetua Jia Fu.


"Huh" terdengar hembusan napas Tetua Jia Fu.


"Anak itu selalu gegabah terlalu cepat mengambil keputusan, sebelumnya aku sudah memperingatkannya untuk menunggumu. Tetapi keinginannya begitu keras, ia terlalu berambisi pada kekuatan dan kekuasaan" ucap Tetua Jia Fu dengan wajah tertunduk malu.


"Sudahlah paman, asalkan dia bahagia itu sudah cukup. Aku juga masih terlalu muda untuk membahas masalah itu yang masih terlalu jauh" ucap Li Yuan sambil tersenyum ringan.


Setelah diam sejenak, Li Yuan mengeluarkan sesuatu dari dalam Cincin Spiritualnya.


"Paman, terimalah hadiah kecil dariku. Sebelumnya aku mendapatkan keberuntungan. Selain ayah, aku juga menyiapkannya untuk paman" kata Li Yuan sambil memberikan sebongkah Kristal berwarna coklat tua.

__ADS_1


"Ini terlalu berharga, apakah tidak untukmu saja?" tanya Tetua Jia Fu dengan ragu-ragu.


"Aku belum membutuhkan ini, dan juga aku memiliki inti energi yang berbeda" ucap Li Yuan dengan sopan.


Sejenak Jia Fu terdiam, lalu ia berkata, "Apakah kristal pemberianku sebelumnya sudah kau serap?" tanya Jia Fu dengan penasaran.


"Ya itu sangat berarti, sebelumnya kristal tersebut telah memperkuat kemampuan teknik mentalku dengan signifikan" jawab Li Yuan dengan jujur.


"Baguslah jika begitu" kata Tetua Jia Fu dengan pandangan berbinar. Dalam hatinya ia hanya memastikan tentang elemen jiwa yang dikuasai oleh Li Yuan.


Setelah menerima pemberian Li Yuan, hati Tetua Jia Fu menjadi hangat. Pemberian Li Yuan memang sangat berharga, bahkan jika dibandingkan dengan mahar putrinya pemberian Istana Langit masih jauh berharga pemberian Li Yuan.


Setelah berbincang sejenak, Tetua Jia Fu memisahkan diri untuk kembali menuju paviliunnya. Sementara Li Yuan dan teman-temannya melanjutkan perjalanan ke Paviliun Bao Zi.


Li Yuan memperhatikan kekuatan Li Tong yang sudah berada di Tingkat Pendekar Raja, sedangkan tiga orang temannya yang lain masih berada di ranah Pendekar Bumi. Di sepanjang jalan menuju Paviliun Bao Zi, banyak para murid yang menatap Li Yuan dengan perasaan beragam, kebanyakan mereka cukup senang dengan kepulangannya ke Sekte Laohu.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Li Yuan dan teman-temannya tiba di sebuah pulau kecil dimana ia pernah tinggal sebelumnya, ini adalah Paviliun Bao Zi yang letaknya paling menjorok ke arah Danau Biru.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Li Yuan dapat melihat beberapa bangunan atau wisma yang biasa dijadikan tempat tinggal. Ada satu bangunan yang kini tampak lebih rapi, di depannya seorang lelaki tua dengan rambut putihnya berdiri sambil melipatkan kedua tangannya. Dia adalah Bao Zi, guru pertama Li Yuan.


"Salam hormat guru" ucap Li Yuan sambil menurunkan salah satu lututnya.


"Bangunlah, sekarang kamu sudah bertambah besar" ucap Tetua Bao Zi sambil tersenyum bahagia.


Di sampingnya tampak Wu Niao sang istri juga tampak tersenyum merekah, ia jarang berbicara namun setiap senyumannya jelas mengandung nilai yang sangat berarti bagi orang lain.

__ADS_1


__ADS_2