
Sebelum Li Yuan memasuki Gua, ia mengirimkan pesan melalui transmisi jiwa kepada Tetua Mo Cau yang baru saja tiba setelah mengantar Kado Istimewa ke Kota Jincheng. Li Yuan meminta Tetua Mo Cau untuk menyampaikan pesan agar ayahnya beserta Tuang Fang Jing menyusul ke tempat ini dengan membawa beberapa orang.
"Kalian siapa?" tanya Li Yuan saat mereka sudah melewati mulut Gua.
"Kami bertujuh orang berasal dari Bukit Harapan di wilayah Kota Xiening, keberadaan kami adalah sebagai pekerja bayaran untuk menggali batu energi di Gunung ini. Selain kami, teman-teman kami yang lainnya masih berada di dalam perut gunung ini" ucap pekerja tersebut dengan was-was.
"Bagaimana kalian bisa ketempat ini?" tanya Li Yuan mencari tahu.
"Kami dibawa oleh pasukan Jenderal Ibukota, hanya saja kami tidak tahu banyak" ucap pekerja itu sambil berjalan.
Di dalam Gua terdapat lampu yang menyala di sekitar dinding gua, jalan yang terbentuk pun terlihat rapi seperti pahatan yang dibuat oleh orang-orang yang profesional.
"Tolong selamatkan teman-teman kami juga" ucap pekerja itu lagi.
"Memangnya apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Li Yuan dengan penasaran.
"Besok adalah hari pergantian pekerja. Setiap satu tahun sekali akan terjadi pergantian dimana pekerja yang lama akan dibinasakan dan akan diganti dengan orang yang baru. Kami bekerja di sini namun hidup kami sudah ditentukan" jawab pekerja itu.
"Kejam sekali" ujar Fang Yin yang tidak bisa menahan kekesalan.
Ekspresi Li Yuan dan yang lainnya juga tidak jauh berbeda dengan Fang Yin, mereka semua merasa tindakan perburuhan semacam ini sangat kejam.
"Benda apa saja yang kalian temui di dalam sini?" tanya Li Yuan lagi.
"Kami hanya ditugaskan untuk mencari material batu energi kelas atas, kebetulan lokasi ini mengandung benda-benda tersebut dengan kualitas terbaik" kata pekerja itu dengan perasaan yang lebih baik.
Pekerja tersebut terus bercerita tentang kondisi mereka dan teman-temannya yang diperlukan tidak manusiawi, dengan hasil tambang yang berlimpah tetapi mereka tidak mendapatkan bayaran dan malah nyawa mereka yang terancam.
__ADS_1
Setelah mereka berjalan cukup jauh akhirnya mereka tiba di ujung Gua. Ada sekitar sepuluh orang pekerja yang sedang bekerja menggali tambang.
"Teman-teman akhirnya kita selamat" ucap pekerja tersebut kepada yang lain.
"Shoi Ming siapa yang kau bawa?" tanya salah satu dari kelompok pekerja.
"Mereka adalah penyelamat kita. Para pendekar yang selama ini mengintimidasi kita sudah tewas semua" jawan pekerja yang bernama Shoi Ming tersebut.
Mendengar ucapan Shoi Ming para pekerja merasa senang sekali, belasan orang itu kini berhamburan dengan rasa suka.
"Kalian tetap tenang, sebentar lagi kalian akan dikembalikan ke Kota Xiening. Namun sebelum itu tolong beritahu kami tentang apa saja yang terjadi di dalam sini" ucap Li Yuan menenangkan mereka yang masih dalam suasana kegirangan.
Shoi Ming dan seorang pekerja tampak saling pandang lalu salah satu temannya mengangguk.
"Karena kalian sudah menyelamatkan nyawa kami, maka kami akan memberi tahukan kepada kalian bahwa ada terowongan rahasia yang kami sembunyikan dari para pendekar. Rencananya kami akan membuat jalan untuk melarikan diri, namun tidak disangka kami justru menemukan material emas dan batu energi yang sangat banyak" jawab Shoi Ming sambil menunjuk ke arah batu yang memiliki tanda khusus.
"Baiklah jika begitu, mari kita kembali ke luar dan kalian juga agar membersihkan diri karena pihak Gubernur Provinsi langsung yang akan mengawal kalian pulang ke tempat kalian berasal" ucap Li Yuan.
"Jadi kalian berasal dari Kota Qinghai?" tanya Shoi Ming dengan wajah cerah.
"Ya benar, dan wanita yang berada di sebelahku adalah putri Tuan Fang Jing sendiri" jawab Li Yuan sambil tersenyum.
"Salam Nona besar" ucap para pekerja dengan kompak.
"Salam" jawab Fang Yin dengan sopan.
Setelah itu mereka berjalan keluar Gua setelah mengamankan hasil tambang yang mereka dapatkan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, rombongan Gubernur Kota bersama Patriark Klan Li tiba di ngarai di mana mereka berada. Tetua Mo Cau dan Ying Cushan juga ikut hadir bersama, keduanya tampak senang ketika melihat Li Yuan.
"Luar biasa, ini adalah harta Karun Gunung Guntur. Untungnya kita belum terlambat untuk menyelamatkan harta Karun ini" ucap Fang Jing dengan takjub.
Lagi-lagi Fang Jing diberi kejutan oleh pemuda yang kini bersama putrinya. Li Yuan tidak hanya ahli beladiri namun ia juga orang yang jenius, bahkan sifatnya yang menghormati keluarga membuat Fang Jing tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Pada saat berikutnya Li Yuan berpamitan kepada ayah dan juga tuan Fang Jing. Empat orang pemuda tersebut berencana untuk ke Desa Bambu Kuning untuk mengunjungi rumah Li Yuan yang lama. Tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang kedua orang tuanya.
Li Yuan juga mengatakan agar perahu terbang yang mereka naiki agar digunakan untuk mengantar para pekerja menuju Kota Xiening, serta harus memberikan mereka kompensasi yang sangat layak.
"Tuan pendekar terimakasih atas pertolonganmu, jika ada waktu berkunjunglah ke Kota Xiening. Kami akan sangat senang dengan kedatangan mu" ucap Shoi Ming sambil memberikan bungkusan kecil kepada Li Yuan.
"Apa ini, sebaiknya buat kalian saja" ucap Li Yuan berusaha menolak pemberian pekerja tersebut.
"Terimalah Tuan, aku juga tidak tahu benda apa ini. Sepertinya benda ini hanya cocok di tangan pendekar seperti Tuan" jawab Shoi Ming dengan tulus.
"Baiklah aku akan menerimanya. Kelak aku juga akan mampir ke Kota Xiening dan mencari kalian" ucap Li Yuan sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Tolong sampaikan salam ku pada keluarga kalian. Gunakan uang emas ini untuk modal usaha dan menafkahi keluarga kalian" pungkas Li Yuan sambil mengeluarkan bungkusan emas batangan yang ia miliki dari dalam cincin penyimpanannya.
Mereka semua tidak menolak pemberian Li Yuan, karena memang mereka selama satu tahun ini tidak mendapatkan bayaran dari orang yang mempekerjakan mereka di tempat ini.
Setelah itu, Li Yuan dan ketiga temannya berangsur pergi menuju Desa Bambu Kuning. Adapun masalah Gua Harta Karun, ia tidak mengkhawatirkan karena sudah ada ayahnya dan juga ayah dari Fang Yin. Keduanya orang yang sangat cekatan dalam mengurusi masalah seperti ini, jadi Li Yuan sudah menyerahkan urusan kepada orang yang tepat.
Fang Yin merasa takjub dengan tindakan pemuda yang ia kasihi, belum lagi kemurahan hatinya saat memberikan uang kepada para pekerja tanpa rasa berat sedikitpun. Seolah menurutnya uang bukanlah benda berharga di matanya.
Selama dalam perjalanan menelusuri perbukitan, udara yang asri masih dapat dihirup dengan baik oleh mereka. Terutama bagi Fang Yin dan Fan Chi, kedua wanita tersebut berkali-kali menunjukkan ekspresi kegembiraannya.
__ADS_1