
Setelah terjadi pergulatan di dalam pikirannya, Jia Hien segera mengambil keputusan.
"Baiklah aku akan menyerap kekuatan benda ini" jawab Jia Hien.
"Baik Tuan Putri, silahkan anda melakukannya di sini. Tempat ini akan aku lindungi selama engkau melakukan proses penyerapan" ucap Wuya.
Dengan memantapkan pendiriannya, Jia Hien segera mengambil posisi untuk segera menyerap Kristal Dansheng tersebut. Pada saat yang bersamaan, Wuya sang burung gagak terbang mengitari tubuh Jia Hien untuk membentuk pelindung selama dirinya menyerap Kristal Dansheng tersebut.
Sebuah energi kegelapan berbentuk kabut pekat segera merasuk ke dalam tubuh Jia Hien, detik berikutnya kekuatan Jia Hien mulai meningkat secara perlahan.
Di tempat yang berbeda, pergerakan orang-orang Aula Jiwa mulai memasuki Provinsi Rajawali Emas. Rencana yang dipimpin oleh salah seorang pimpinan lima pilar Aula Jiwa, dengan mudah memasuki Kota Nanguan.
Feng Mian berencana menyusup ke Sekte Angin Puyuh untuk menyelidiki keberadaan hewan mitologi burung Chong Min. Setelah mengetahui keberadaan hewan mitologi tersebut maka ia akan melakukan pergerakan bersama pimpinan Aula Jiwa. Sebagai salah satu tokoh dari lima pilar yang memiliki kekuatan Dewa Bumi, Feng Mian dengan mudah melakukan aksinya.
Para petinggi Aula Jiwa memiliki keahlian untuk mengendalikan orang lain serta mampu menyembunyikan kekuatannya. Dua kemampuan tersebut merupakan hal yang wajib dimiliki oleh para petinggi yang biasa disebut Tetua lima pilar.
Dua situasi berbeda yang baru saja terjadi tidak diketahui oleh Li Yuan yang masih berada di Desa Bambu Kuning. Kebersamaan dirinya dengan Fang Yin mulai ia rasakan penuh dengan suasana kehangatan.
Hingga malam harinya kedatangan Li Tong dan Fan Chi menambah semarak kebersamaan mereka. Tidak lama kemudian seorang pelayan keluarga Fang menghampiri mereka, sebuah perahu terbang sudah siap membawa mereka kembali menuju Kota Qinghai.
Karena hari sudah malam mereka akhirnya meninggalkan Desa Bambu Kuning dengan perasaan yang lebih baik.
"Yuan Gege, kamu benar-benar luar biasa. Kisah hidupmu bisa menginspirasi banyak orang" ucap Fang Yin dengan bangga.
"Itu hanya kebetulan saja, namun semua tidak lepas dari usaha kedua orang tuaku" sahut Li Yuan tampak merendah.
"Tetapi kamu benar-benar berbeda, rasanya aku adalah wanita yang beruntung bisa bersamamu" ujar Fang Yin sambil tersenyum bahagia.
"Bagaimana bisa dikatakan beruntung jika kamu sering aku tinggal" ucap Li Yuan sambil menggoda Fang Yin.
Mendengar perkataan dari Li Yuan membuat Fang Yin bersedih, besok adalah waktu bagi Li Yuan untuk kembali berpetualang tanpa tahu kapan kembali.
__ADS_1
"Malam ini aku ingin bersamamu" ucap Fang Yin dengan tatapan nanar.
"Iya.. " jawab Li Yuan singkat.
Detik berikutnya Fang Yin sudah berada di dalam pelukan Li Yuan. Sepanjang perjalanan menuju Kota Qinghai di atas perahu terbang keduanya mulai larut dalam perasaan. Tanpa terasa, Fang Yin sudah tertidur dengan pulas di bahu pemuda pujaan hatinya. Sementara Li Yuan hanya tersenyum ringan menghadapi sikap manja Fang Yin.
Jarak antara Desa Bambu Kuning ke Kediaman Klan Li di Kota Qinghai berkisar dua belas jam dengan kecepatan ringan. Bisa dipastikan mereka akan tiba di tempat tujuan saat menjelang pagi.
Pada siang hari kecepatan perahu terbang bisa mencapai titik maksimal, namun jika malam hari kecepatannya menjadi jauh lebih lambat demi menjaga keselamatan.
Setelah setengah perjalanan, Fang Yin terbangun dengan wajah tersenyum. Saat matanya terbuka, Li Yuan masih berada dalam dekapannya membuatnya merasa sangat bahagia.
"Kenapa kau terbangun?" ucap Li Yuan yang menyadari pergerakan tubuh Fang Yin.
"Sepertinya aku tidur cukup lama, namun aku merasakan hal yang sangat nyaman" ujar Fang Yin sambil meremas tangan pria yang ia sayangi.
"Istirahatlah, kamu hari ini tampak lelah" ucap Li Yuan dengan lembut.
"Aku tidak mau waktu berlalu dengan cepat" ujar Fang Yin.
Keesokan paginya mereka tiba di Kota Qinghai dan langsung menuju kediaman Patriark Li, rumah orang tua Li Yuan.
Di kediaman keluarga Li Yuan, tampak Tetua Li Tianshu dan beberapa kerabat lainnya sudah bersiap. Sesuai jadwal yang sudah ditentukan, mereka akan ikut Li Yuan bersama menuju ke Provinsi Rajawali Emas.
"Salam Tetua" ucap Li Yuan dengan sopan.
"Sepertinya kalian baru saja melakukan perjalanan cukup jauh" ucap Tetua Li Tianshu kepada Li Yuan dan beberapa orang lainnya.
"Kami baru saja tiba dari kediaman kami yang lama di Desa Bambu Kuning" jawab Li Yuan.
"Tetua aku akan pamit dulu kepada ayah dan ibu. Setelah itu kita akan segera berangkat" ucap Li Yuan kemudian.
__ADS_1
"Apakah kita akan menumpang perahu terbang itu" tanya Tetua Li Tianshu kemudian.
"Tentu saja Tetua" sahut Fang Yin dengan tanggap.
"Apakah tidak merepotkan Nona Fang?" tanya Tetua Li Tianshu dengan sungkan.
"Tentu saja tidak, betul kan Yuan Gege?" kata Fang Yin sambil menarik tangan Li Yuan dengan lembut.
"Iya betul" jawab Li Yuan dengan ekspresi heran.
Kemudian Li Yuan dan Fang Yin masuk ke dalam kediaman keluarganya. Setelah beberapa kalimat terucap, Li Yuan pamit kepada keluarganya.
"Apakah Yin'er akan ikut menemani diri mu hingga Kota Nanguan?" tanya ibunya Li Yuan.
"Tidak Bu, untuk sementara biarkan saja ia tinggal di sini bersama Yu'er" ucap Li Yuan sambil memandang lembut ke arah Fang Yin.
"Tampaknya kalian sudah mulai saling ada kecocokan" ujar Xu Zuhui ibu dari Li Yuan.
Li Yuan hanya terdiam, namun gestur tubuhnya tidak mengingkari perkataan ibunya.
Di sisi lain, wajah Fang Yin tampak tersenyum mengembang. Ada kebahagiaan di hatinya, tidak ada hal lain yang membahagiakan hati seorang wanita ketika ia bisa diterima dengan baik oleh keluarga calon suaminya.
"Sepulang dari tugas yang akan kamu lakukan, maka hubungan kalian harus meningkat. Aku dan Tuan Fang akan membuatkan surat pertunangan untuk kalian dalam waktu dekat" ucap Li Dan dengan tersenyum cerah.
Li Yuan terdiam, ia tidak lagi menolak dengan alasan yang halus. Meskipun sebenarnya ia belum siap ke arah yang serius, namun hubungan kedua keluarga sudah berjalan dengan sangat baik mustahil Li Yuan untuk merusaknya.
'Baiklah ayah dan ibu, aku hendak berangkat sekarang. Tetua Li Tianshu sudah menunggu dengan kesal" ujar Li Yuan sambil memberikan alasan dengan sembarang.
Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan kepada keluarganya, wajah Fang Yin tampak memerah lalu ia memeluk tubuh pria yang ia kasihi dengan erat.
"Jangan pernah lupakan aku, di sini aku akan menantikan kepulangan diri mu" ucap Fang Yin dengan tatapan berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku berjanji padamu" jawab Li Yuan singkat sambil mendaratkan sebuah ciuman pertamanya ke kening Fang Yin.
"Aku pergi" ucap Li Yuan berikutnya sambil bergerak ke luar menuju Tetua Li Tianshu dan yang lainnya.