Legenda Li Yuan

Legenda Li Yuan
Paviliun Angsa Emas


__ADS_3

Berbekal dengan kepercayaan diri yang tinggi, Liu Tsang langsung maju beberapa langkah hendak meninju Li Yuan, namun gerakannya terlihat sangat lambat di mata Li Yuan yang baru saja mengalami beberapa kali penerobosan. Tanpa memberi jeda kesempatan untuk menyentuh dirinya, Li Yuan segera melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Liu Tsang.


“Plak”


Suara tamparan yang keras terdengar nyaring membuat orang-orang yang berada di sekitarnya segera mengalihkan perhatian.


Liu Tsang segera terhempas beberapa langkah ke samping hingga tubuhnya terjatuh dan menyentuh tanah.


“Puufft”


Beberapa giginya rontok dan ia merasa seperti dihantam oleh kekuatan yang sangat besar, pikirannya pun seketika menjadi buntu.


Liu Tsang menatap Li Yuan penuh ketidak percayaan, dalam hatinya ia mengutuk bagaimana mungkin seorang kultivator seperti dirinya bisa dikalahkan oleh orang yang kemarin hampir mati. Lebih jauh lagi ia tidak percaya jika dirinya dikalahkan oleh seorang sampah, jadi untuk sementara ia berpikir jika dirinya sedang lengah.


Liu Tsang kemudian bangkit dan meludahkan darah, beberapa giginya yang rontok ikut terbawa dan membuat wajahnya terlihat jelek.


“Kamu hanyalah seorang sampah, beraninya kau memukulku” ucap Liu Tsang dengan tatapan ganas.


Setelah mengatakan hal tersebut, Liu Tsang terlihat makin serius dan segera memaksimalkan tenaga Qi nya hingga ke tingkat maksimal.


“Pukulan halilintar” raung Liu Tsang dengan keras.


Li Yuan menatapnya dengan santai, sambil meningkatkan kekuatannya ia juga bersiap mengeluarkan sebuah tinju dari tangan kanannya.


“Baaamm”


Ketika dua pukulan tersebut berbenturan, Li Yuan masih tampak tenang dan terlihat santai tanpa bergerak sedikitpun. Sementara Liu Tsang langsung melorot ke tanah sambil memegangi tangannya yang kesakitan, berbarengan dengan beradunya tinju mereka ia juga mendengar suara retakan yang berasal dari tangannya.


Dalam posisi setengah berlutut ia mendongakkan kepalanya dan menatap Li Yuan penuh dengan kengerian.

__ADS_1


“Bagaimana mungkin kekuatanmu malah bertambah kuat seperti ini” ucap Liu Tsang dengan penuh keterkejutan.


Namun Li Yuan masih tidak bergerak ataupun berbicara, dia hanya terus menatap Liu Tsang dengan tatapan mengintimidasi. Di matanya Liu Tsang hanyalah pecundang yang tak berguna sama sekali, jadi ia malas terlalu jauh berurusan dengan orang semacam itu.


Ditatap seperti itu tubuh Liu Tsang justru bergidik ngeri, perlahan ia mundur tiga sampai lima langkah. Liu Tsang merasakan tangannya seperti baru saja memukul batu yang sangat keras, meski malu ia ingin segera berlari meninggalkan Li Yuan.


Melihat pemandangan tersebut, para pengikut Liu Tsang juga mundur beberapa langkah, mereka ketakutan karena masih berada di ranah Pendekar Prajurit jelas bukan tandingan Li Yuan sama sekali.


“Bukankah itu Li Yuan yang dikabarkan telah cacat? Bahkan ia juga dikabarkan meninggal” ucap seorang penduduk yang Kota yang mengenalinya.


“Kupikir juga begitu, ternyata orang-orang Klan Li pintar bersandiwara” timpal warga lainnya.


“Sebaiknya kita tidak berurusan dengan Li Yuan” ujar seorang warga berikutnya.


Li Yuan tidak menghiraukan apa yang orang-orang perbincangkan, bahkan ia juga tidak peduli dengan omongan orang-orang Kota Qiang. Li Yuan juga belum siap untuk membuat masalah yang lebih besar, apalagi dalam ingatannya keluarga Liu Tsang adalah musuh bebuyutan dengan Klan Li akibat suatu hal yang belum ia ketahui.


Hanya saja seluruh kemampuan Li Yuan sebelumnya tidak dapat ia miliki kembali, meski demikian ia masih diuntungkan dengan tiga Giok Naga yang berhasil terserap ke dalam tubuhnya dan menimbulkan ingatan tiga kitab dewa.


“Tidak hanya di alam langit tetapi di alam fana pun hubungan keduanya tidak baik” gumam Li Yuan di dalam hati.


Li Yuan kemudian pergi meninggalkan Liu Tsang yang terluka, setelah tangannya patah diharapkan Liu Tsang akan berhenti menganggap remeh Li Yuan. Adapun jika Liu Feng ingin membalas dendam, maka Li Yuan tentu tidak akan gentar.


Sementara itu Liu Tsang yang merasa dirinya adalah putra seorang Patriark Klan Liu, memandang kepergian Li Yuan dengan penuh dendam.


“Suatu hari aku akan membalas mu” ucapnya pelan sambil menggertakkan gigi.


Beberapa orang pengikutnya segera memapahnya dan memberikan pertolongan untuk cedera yang dialami oleh Liu Tsang.


"Kalian kenapa bodoh sekali" umpat Liu Tsang kepada para pengikutnya.

__ADS_1


"Maafkan kami Tuan muda, kekuatan anak itu begitu kuat dan kami bukanlah tandingannya" jawab para pengikutnya dengan rasa bersalah.


"Dasar tidak berguna" umpat Liu Tsang dengan kesal.


Mendengar ucapan dari tuan mudanya, mereka tidak bisa berkata apa-apa. Selain menerima makian dari Liu Tsang, mereka juga tetap harus membawa pulang Tuan muda mereka.


Dari kejauhan tampak seorang gadis muda memperhatikan aksi yang baru saja dilakukan oleh Li Yuan, sebagai seorang putri pemilik rumah lelang Angsa Emas ia secara diam-diam mulai tertarik dengan Li Yuan.


“Menarik, orang yang sudah dikabarkan akan meninggal kini justru bisa melakukan hal yang mengejutkan” ucap Xiao Yie sambil tersenyum.


Li Yuan tentu tidak menyadari jika dirinya kini tengah menjadi pusat perhatian, yang jelas di dalam hatinya ia ingin orang-orang tahu jika dirinya bukanlah sampah. Ia juga tidak mau membuat ayahnya sedih terlalu lama, dengan kemampuannya berkultivasi menggunakan Aura Naga ia yakin semuanya akan berubah dengan cepat.


Setelah berjalan cukup jauh, Li Yuan berhasil menemukan tempat yang ia tuju. Sebuah bangunan yang cukup besar dan terdiri atas tiga lantai tersebut membuatnya terpukau. Ia melihat beberapa orang yang keluar masuk melalui pintu gedung yang bertuliskan Paviliun Angsa Emas, beberapa orang tersebut tampak familiar yang juga merupakan anggota Klan Li.


“Bukankah itu Li Yuan?” tanya seorang pemuda yang seumuran Li Yuan tersebut.


“Ya benar, itu adalah Li Yuan” jawab yang satunya lagi.


“Mau apa anak itu ke tempat ini? Bukankah ia lumpuh dan dikatakan hampir meninggal?" timpal yang lainnya dengan nada tidak suka.


“Hai kalian apa kabar?” sapa Li Yuan saat berpapasan dengan ketiga orang tersebut.


"Hah?"


Ketiganya terkejut dengan sapaan ramah dari Li Yuan. Pemuda yang dulu berbakat dan terkenal dingin kini menyapa mereka begitu saja. Sejenak ketiganya berpikir jika Li Yuan mengalami gangguan jiwa setelah luka-luka yang ia terima sebelumnya dari Li Feng.


Li Yuan dengan santai melewati ketiganya, lalu masuk ke dalam Paviliun Angsa Emas untuk melihat-lihat. Sebagai bangunan yang menyediakan kebutuhan para kultivator, tempat ini sering dikunjungi oleh para kultivator untuk mencari barang kebutuhannya.


Bahkan di lantai pertama tempat ini, terdapat pula arena pelelangan yang digelar setiap satu bulan sekali. Barang-barang yang dilelang adalah barang langka yang selama ini diburu dan dikoleksi oleh pihak tertentu. Seperti penemuan warisan makam kuno hingga bagian tertentu dari binatang spiritual yang jumlahnya sangat langka.

__ADS_1


__ADS_2