
Pada dasarnya Jia Hien merasa dipermainkan oleh Kaisar Tang Shiji. Sebelumnya ia sudah banyak memiliki harapan untuk membesarkan namanya serta akan dianggap memiliki kontribusi besar terhadap Sekte Laohu. Namun setelah mengorbankan dirinya, status yang ia harapkan tidak kunjung tiba.
Pada akhirnya Jia Hien ditemani oleh Nu Nian kembali ke Sekte Laohu. Mereka menggunakan Perahu Terbang Asosiasi Keluarga Fang yang umumnya menyediakan jasa transportasi antar Provinsi besar tersebut. Beberapa pengawal dari pihak Istana Langit juga ikut menemani kepulangan Jia Hien, namun tidak seperti di awal Kepala Kasim Istana tidak ikut menyertai.
"Jia Hien, apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Nu Nian saat berada di atas perahu terbang.
Nu Nian jelas mengetahui bagaimana Jia Hien diperlakukan saat mereka berada di Istana. Sebulan lebih Jia Hien menjadi kuda pacu Kaisar Tang Shiji, meskipun tidak ada kata pembatalan pernikahan namun status Jia Hien kini menjadi menggantung.
"Aku merasakan kekecewaan, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Jia Hien dengan tak berdaya.
"Sebaiknya kamu tenangkan diri dulu, kita bisa beristirahat di Kota Nanguan. Aku memiliki kenalan di sana, kebetulan perahu terbang akan transit di sana juga" ujar Nu Nian memberikan saran.
"Baiklah jika begitu, aku juga ingin menenangkan diri untuk beberapa saat" jawab Jia Hien.
Di Kota Nanguan, beberapa hari dari peristiwa tewasnya Xue Rengui membuat kondisi keamanan tidak menentu. Meskipun pihak dari Gubernur Yue Fei tetap memerintah seperti biasanya, namun perang dingin dengan Jenderal Chen Sheng semakin jelas terlihat.
Pada titik ini, posisi Gubernur Yue Fei menguat di mata penduduk Kota. Hal ini jelas terlihat dari pengaruhnya yang mulai berkembang setelah peristiwa beberapa hari yang lalu. Siapapun tidak mengira, jika ada sepuluh ribu lebih pasukan keamanan Kota Nanguan yang bergerak di bawah Xue Rengui akan gagal total.
Identitas pendekar sakti di keluarga Yue pun kini tengah diburu oleh banyak pihak, dari mana asalnya dan tujuannya datang ke Ibukota Provinsi Rajawali Emas.
Untuk meredakan ketegangan, murid-murid utama Sekte Angin Puyuh diterjunkan untuk melakukan pengawasan wilayah secara langsung. Adapun keberadaan Li Yuan yang terkenal dengan nama Yuanli masih bebas melakukan aktivitas di Kota Nanguan. Pihak Jenderal Chen Sheng sendiri belum melakukan pembalasan, berita yang terdengar mereka sedang menyusun kekuatan dan mencari tahu asal usul Yuanli.
"Yuanli, apakah kau mau ikut bersamaku?" terdengar suara Yue Hao di sebuah taman keluarga Yue.
"Apakah kau akan mengajakku melihat laut lagi?" tanya Li Yuan dengan santai.
"Bukan, aku ingin mengunjungi rumah makan Hei Xian" jawab Yue Hao.
"Apakah tempat yang sama dengan waktu itu?" ucap Li Yuan tampak berpikir.
__ADS_1
"Iya benar" jawab Yue Hao sembari tersenyum simpul.
"Baiklah nona muda, kebetulan aku juga sedang sedikit bosan" ucap Li Yuan dengan nada meledek Yue Hao.
Setelah beberapa hari berada di keluarga Yue, Li Yuan mulai akrab dengan Yue Hao. Ia menganggap Yue Hao sudah seperti sahabatnya. Namun tanpa Li Yuan sadari ada benih rasa suka di hati Yue Hao kepadanya.
Matahari bersinar condong ke barat saat Li Yuan dan Yue Hao berjalan bersama. Seperti biasa, keduanya tidak menggunakan kereta kuda. Mereka berjalan kaki dengan santai sambil menikmati pemandangan Kota.
Hampir sama dengan Kota Qinghai, Kota Nanguan juga memiliki aktivitas kesibukan seperti perdagangan dan bisnis lainnya. Ada juga tampilan seni bela diri yang pertontonkan. Umumnya mereka berasal dari sekte-sekte kecil untuk menarik minat masyarakat.
"Yuanli, apakah kamu merasa senang tinggal di Kota Nanguan?" tanya Yue Hao saat mereka berjalan mengarah ke rumah makan Hei Xian.
"Lumayan, Kota ini memiliki aneka makanan yang menarik" ucap Li Yuan ringan.
"Kenapa sih selalu makanan yang kau pikirkan? Apakah kamu tidak memikirkan yang lainnya?" tanya Yue Hao sedikit cemberut.
"Huh.. " Yue Hao menarik napas pendek dan mendengus kesal.
Tidak beberapa lama waktu berlalu, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan mereka, rumah makan Hei Xian.
"Selamat datang Nona Yue, silahkan masuk" ucap seorang pelayan yang sudah mengenali Yue Hao.
"Terimakasih" ucap Yue Hao sambil mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam.
Sementara Li Yuan mengikuti di belakang Yue Hao. Keduanya menuju lantai dua, tempat yang sama persis saat mereka makan terakhir kali.
Para pelayan bersikap lebih hormat dari sebelumnya, peristiwa kematian Xue Rengui bermula dari kelakuan putranya saat mengganggu seorang wanita di rumah makan ini. Oleh sebab itu, orang yang berada di samping Yue Hao adalah sosok yang tidak dapat mereka singgung. Pemuda dengan penampilan rupawan tersebut dapat menjelma menjadi iblis saat ia sedang marah.
"Nona Yue, apakah mau menu makanan seperti biasa atau ada variasi lain?" tanya pengelola rumah makan dengan sopan.
__ADS_1
Setelah mendengar kabar Yue Hao ke tempatnya, pengelola rumah makan tersebut segera turun tangan langsung untuk melayani Yue Hao.
Sebelum menjawab, Yue Hao melirik ke arah Li Yuan seolah meminta persetujuan. Li Yuan bereaksi dengan mengangkat kedua bahunya, seolah dia mengikuti apapun pilihan Yue Hao.
Sesaat setelah mereka memesan makanan, tiba-tiba dua orang wanita menuju lantai dua. Salah satunya memakai baju merah dengan aksesoris cukup mahal, sedangkan satunya memakai seragam setelan Sekte yang sudah tidak asing bagi Li Yuan.
Melihat penampilan keduanya, Li Yuan mengangkat alisnya lalu berpikir sejenak. Meskipun ia tidak dengan murid wanita di Sekte Laohu, namun wajah kedua orang yang sedang duduk tidak jauh darinya cukup familiar.
"Apakah aku masih kurang cantik?" tanya Yue Hao tiba-tiba.
"Maksudmu?" tanya Li Yuan dengan ekspresi bingung.
Ia sungguh tidak mengerti dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Yue Hao.
"Kamu melihat dua orang wanita yang baru saja tiba seperti belum pernah melihat wanita. Padahal aku selalu berada dekat denganmu, kukira kamu itu penyuka sesama jenis" ujar Yue Hao dengan tatapan tajam.
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu adalah orang yang mempekerjakan diriku, mana berani aku berbuat macam-macam padamu" jawab Li Yuan dengan asal.
"Huh.. Dasar lelaki sama saja tidak bisa lihat yang licin" ucap Yue Hao.
"Lagian, apakah kamu tidak tahu wanita itu?" tanya Yue Hao tanpa menunjuk ke arah Jia Hien dan Nu Nian.
"Tidak.. " jawab Li Yuan dengan menggeleng kepala.
"Mereka adalah dua orang murid Sekte Laohu dari wilayah selatan. Sepertinya mereka sedang beristirahat saat dalam perjalanan menggunakan perahu terbang dari Kota Jincheng" ucap Yue Hao.
"Lalu?" tanya Li Yuan penasaran.
"Salah satu dari mereka adalah calon istri dari Kaisar Tang Shiji, namun sepertinya ia akan dikembalikan ke asalnya. Sama dengan seorang wanita yang pernah mengalami nasib serupa di Kota Yunxi, sebelah barat daya Kota Nanguan" ujar Yue Hao dengan suara lembutnya.
__ADS_1