
"Terimakasih teman, kalian boleh kembali ke tempat kalian"
Belum hilang keterkejutan orang-orang melihat Liu Shimin dan kedua saudaranya, tiba-tiba terdengar kembali suara Li Yuan.
"Baik teman"
jawab para murid yang menjadi peserta turnamen.
Beberapa saat kemudian mereka kembali menuju ke barisan penonton dengan patuh. Sebagian wajah mereka tampak bengkak, bahkan wajah Jia Hien tidak jauh berbeda.
Para murid yang menonton benar-benar terkesiap, Li Yuan mengalahkan seluruh peserta dengan sangat mudah tanpa menyentuhnya sama sekali. Bahkan nasib Liu Shimin tidak jelas, entah masih hidup atau sudah mati. Jika masih hidup pun sepertinya mereka akan mengalami luka dalam yang sangat serius.
Tindakan Li Yuan kepada ketiganya sangat tegas, hal ini menandakan setiap orang tidak boleh merundung Li Yuan. Karakteristik es dan karakteristik jiwa yang baru saja ditunjukkan olehnya sudah sangat menakutkan. Padahal semua orang tahu jika Lo Yuan seperti tidak bergerak, ia sangat tenang dan santai seperti sedang menghibur diri.
Pada saat ini, Cheng Han dan kedua temannya menatap Li Yuan dengan lekat.
"Terimakasih" ucap Cheng Han dan yang lainnya lalu kembali ke barisan penonton.
Li Yuan hanya mengangguk pelan melihat Cheng Han beserta dua orang murid wanita yang sempat menemuinya. Mereka bertiga sudah dikenal Li Yuan, terutama Cheng Han yang merupakan murid senior yang mengantarkannya ke Paviliun Bao Zi saat pertama kali tiba di Sekte Laohu.
"Sudah selesai, turnamen ini dimenangkan oleh Li Yuan dari Paviliun Bao Zi" ucap seorang Tetua yang memimpin pertandingan sejak awal.
Suaranya cukup lantang, diiringi Qi membuat semakin nyaring terdengar di telinga orang-orang.
Li Yuan kemudian berjalan menuju tempat duduknya. Tampak Li Tong yang tersenyum lebar saat menanti kedatangannya.
"Aku kira kamu akan menggunakan atribut langka" ucap Li Tong saat menyapa Li Yuan yang baru saja duduk di kursinya.
__ADS_1
"Tapi kuakui caramu memberikan pelajaran kepada wanita itu boleh juga" ucap Li Tong kembali sambil tersenyum.
"Tidak, mereka semua bagian dari Sekte Laohu. Aku hanya memberikan mereka pelajaran saja. Terkait wanita yang kau maksud, aku tidak memikirkannya sama sekali" jawab Li Yuan santai.
Namun para Tetua yang mendengar ucapan Li Yuan justru berkeringat dingin. Walaupun mereka kini berada pada ranah Pendekar Suci, namun menghadapi serangan jiwa bukanlah perkara mudah. Teknik pengosongan jiwa yang baru saja Li Yuan praktekkan akan membuat lawannya bersedia bunuh diri dengan sukarela.
Beberapa orang Tetua memandang Li Yuan dengan kengerian, seolah leher mereka sedikit gatal mereka berupaya menutupinya. Tidak terbayang jika pedang yang menempel di leher mereka.
Ketua Sekte mengangguk puas, sebagai pembudidaya karakteristik jiwa ia tidak menduga jika Li Yuan memiliki bakat bawaan. Keadaan ini lebih menakutkan daripada pembudidaya biasa yang mengandalkan teknik.
"Aku harus bicara serius dengan anak itu" gumam Ketua Sekte dalam hati.
"Apakah hari ini kamu ada kesibukan?" tanya Li Yuan kepada sahabatnya.
"Tidak ada" jawab Li Tong singkat.
"Tentu saja, kebetulan malam ini akan digelar puncak festival Kota Qinghai. Aku ingin mengajak Fan Chi juga" sahut Li Tong dengan semangat.
"Baiklah jika begitu" kata Li Yuan sambil mengangguk setuju.
"Lebih baik kita berangkat lebih awal, aku khawatir Kota Qinghai akan terlalu ramai. Nanti akan sulit bagi kita untuk berkeliling" kata Li Tong memberi saran.
"Baiklah jika demikian" ucap Li Yuan.
Keakraban keduanya tanpa sadar dipandang sinis oleh Jia Hien. Kejadian di dalam lapangan bela diri terlalu cepat, bahkan ia tidak menyadari perubahan yang menyebabkan dirinya menahan malu akibat tindakan bodoh menampar wajah sendiri di depan khalayak umum.
Seluruh harga dirinya benar-benar remuk saat ini, setelah statusnya yang digantung oleh Kaisar Langit ia juga harus menerima kenyataan jika orang yang pernah ditolaknya kini menjadi sosok yang tidak bisa ia gapai.
__ADS_1
Bahkan Li Yuan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik keturunan bangsawan dan pejabat penting. Apa yang pernah dikatakan Li Yuan dengan kata menyesal, baru kini dirasakan Jia Hien secara telak dan menyeluruh.
Kegiatan turnamen masih tetap dilanjutkan dengan beberapa atraksi masing-masing perwakilan Paviliun untuk unjuk kemampuan. Mereka berlomba teknik dalam penguasaan atribut tanah.
Pada saat ini, Li Yuan tengah berbicara dengan Ketua Sekte Laoho. Keduanya berbicara empat mata di kediaman pribadi Patriark Bao Xiong.
"Ada apa Patriark?" tanya Li Yuan saat mereka sedang berbincang.
"Hal ini berkaitan dengan bakat karakteristik jiwa yang kau miliki, setiap orang memang memiliki kekuatan jiwa namun semua itu bergantung pada kekuatannya. Adapun bakat bawaan sepertimu adalah sangat langka. Jika bukan karena keturunan, mungkin sulit didapatkan"
"Apakah kamu pernah mendengar Aula Jiwa?" tanya Patriark Bao Xiong dengan wajah serius.
"Pernah, tetapi aku tidak tahu lebih jauh" jawab Li Yuan dengan sungguh-sungguh.
"Aula Jiwa dipimpin oleh Yaoguai, bakatnya dalam mengolah jiwa sangat menakutkan. Keberadaannya juga masih misteri, mereka disebut sebagai kelompok terlarang. Keahlian mereka dalam menyamar dan menggerakkan diri seseorang mirip dengan keahlian yang baru kau perlihatkan tadi" ucap Patriark Bao Xiong dengan hati-hati.
Mendengar ucapan Patriark Bao Xiong, perlahan Li Yuan teringat akan bakatnya. Kemampuan jiwanya tumbuh saat ia berada dalam hidup dan mati saat ia diserang oleh Tetua Mo Cau. Yang ia ingat hanyalah bayangan ibunya yang terus menarik jiwanya dari pengaruh pengekangan jiwa. Jika benar yang dikatakan oleh Patriark Bao Xiong, maka ini sama saja keberadaan ibunya tidak sesederhana yang terlihat.
Ibunya Li Yuan yang bernama Xu Zuhui hanyalah wanita biasa keturunan keluarga Xu. Bahkan keluarga Xu bukanlah keturunan ahli bela diri. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari kaum cendekiawan. Bahkan kakeknya Li Yuan yang bernama Xu Futian adalah salah satu pejabat di Kota Xiening.
"Apakah keberadaan mereka berbahaya?" tanya Li Yuan dengan penasaran.
"Keberadaan mereka sangat berbahaya, aku justru menduga jika Sekte Api Abadi sendiri berada dibawah pengaruh Aula Jiwa. Meski kemungkinan ini kecil, namun hal ini tidak bisa dianggap biasa. Orang-orang Aula Jiwa tidak berminat dengan kekuasaan, eksistensi mereka justru lebih kepada mengganti peradaban" jawab Patriark Bao Xiong dengan ekspresi cemas.
"Mereka akan membiarkan kita saling berperang satu sama lain, dengan berkurangnya jumlah populasi maka mereka akan lebih mudah menjalankan doktrinnya" sambung Patriark lagi.
"Aku tidak pernah mendengar hal-hal seperti itu pada catatan ilmu pengetahuan, doktrin apakah yang dimaksud?" tanya Li Yuan dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
__ADS_1