
Pada saat yang bersamaan, para petinggi Klan Li dan Gubenur Provinsi Fang Jing masih berada di bekas tempat tinggal Jenderal Wan Sui. Berdasarkan kecurigaan Fang Jing selama ini, mereka memeriksa gudang rahasia bersama-sama.
Sumberdaya yang selama ini menjadi andalan Provinsi Naga Biru ternyata ditumpuk oleh Wan Sui. Batu-batu spiritual kelas atas menggunung tinggi di gudang penyimpanan, bisa dipastikan jika ini adalah barang tambang dari Kota Huanxie.
Sebagai orang yang pernah tinggal di Desa Bambu Kuning, Kota Huanxie jelas Li Dan dan Li Ching sangat mengenali karekteristik tambang yang dihasilkan oleh Gunung Guntur.
"Ini adalah batu energi yang ditambang dari pegunungan Guntur. Dari mana Jenderal Wan Sui memiliki akses terhadap batu energi ini?" ucap Li Dan dengan heran.
Li Dan adalah orang yang menemukan pusat tambang tersebut, sebelum diambil alih oleh penguasa Kota Huanxie dan ia mendapatkan presentase dari hasil tambang batu energi. Bahkan karena hal ini juga dirinya dipanggil kembali ke keluarga pusat untuk tinggal di Kota Huanxie.
Fang Jing juga tersentak kaget melihat tumpukan batu energi yang begitu banyak. Kecurigaannya selama ini kini terbukti, jika penunjukkan Jenderal Langit dari Sekte Api Abadi bertujuan untuk memupuk sumber energi Sekte tersebut.
"Sepertinya kita harus menginvestigasi orang-orang yang terlibat serta motifnya" jawab Li Ching dengan semangat.
"Kau memang benar, jika ada keterlibatan orang-orang Provinsi Naga Biru maka sama saja ia sudah berkhianat pada tanah airnya sendiri" sahut Fang Jing dengan penuh murka.
Kemudian ketiganya menginventarisasi barang-barang yang berada di gudang harta. Kekayaan yang ditumpuk oleh Jenderal Wan Sui dan Jenderal langit sebelumnya benar-benar luar biasa. Jika mereka menumpuk koin emas serta batangan emas, maka jumlah yang beredar di masyarakat akan semakin langka. Jika sudah langka maka nilai ekonomisnya pun mulai tinggi mencekik leher.
Pada saat ini Li Yuan sedang dikeremuni oleh pasukan bayangan, setelah mau mengikuti saran mereka Li Yuan digiring menuju perahu terbang. Namun sesaat akan menjalankan rencananya Li Yuan menghubungi Tetua Mo Cau, lalu memintanya untuk datang menemuinya di stasiun perahu terbang.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Mo Cau tiba di tempat yang dimaksud oleh tuannya.
Melihat Li Yuan sedang berjalan dengan diikuti oleh beberapa orang yang misterius membuat hati Mo Cau bertanya-tanya. Ia tidak mengerti tentang maksud tuannya memanggil dirinya ke tempat ini.
Dalam waktu berikutnya, Li Yuan sudah berada di atas perahu terbang yang akan menuju Kota Jincheng. Tanpa menunggu lama, Tetua Mo Cau segera menyusulnya menuju perahu terbang.
"Tunggu, anda mau kemana?" tanya salah seorang pasukan bayangan menghentikan langkah Tetua Mo Cau.
__ADS_1
"Aku mau naik ke atas perahu terbang untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Jincheng" ucap Tetua Mo Cau memberi alasan.
"Mohon maaf tuan, perahu ini sudah dipesan secara khusus oleh kami. Jadi perahu terbang ini tidak melayani penerbangan secara umum" jawab orang tersebut dengan angkuh.
Tetua Mo Cau mengernyitkan dahi, setelah mendapatkan kristal energi dari Li Yuan setahun yang lalu, kekuatan Tetua Mo Cau sudah berada di ranah Pendekar Suci. Diperlakukan seperti itu oleh pendekar langit membuatnya sedikit tidak suka.
"Sejak kapan perahu terbang ini bisa dipesan secara pribadi? Bahkan Klan Li saja yang sudah memiliki kerjasama dengan Asosiasi Keluarga Fang masih mengijinkan orang lain menumpang" ucap Tetua Mo Cau dengan nada bicara yang cukup keras.
Protes yang diutarakan oleh Tetua Mo Cau telah menarik perhatian beberapa Pendekar Suci yang mengapit Li Yuan.
"Segera bereskan orang itu jangan sampai membuat gaduh" ucap salah seorang pemimpin pasukan bayangan.
"Baik tuan" jawab seorang pria dengan hormat.
Li Yuan hanya tersenyum ringan saat melihat kegaduhan yang dibuat oleh Tetua Mo Cau. Pada kesempatan ini, ia sebenarnya ingin juga melihat kemajuan Tetua Mo Cau. Menurut rencana, Ketua Mo Cau akan membantu paman Li Ching dalam mengurus keamanan Kota Qinghai.
Tetua Mo Cau menoleh ke arah sumber suara, lalu tersenyum dingin. Ia sama sekali tidak menganggap serius keberadaan orang tersebut.
Tanpa basa-basi lagi Tetua Mo Cau segera mengarahkan kekuatannya untuk menyerang orang yang semula menegurnya.
"Bugh"
Sebuah tinju mengenai orang tersebut, membuatnya terhempas beberapa meter sebelum tewas dengan luka dalam.
Meskipun Tetua Mo Cau bukanlah ahli beladiri fisik seperti pada umumnya, namun jika hanya melawan pendekar tingkat langit ia masih dengan mudah menghabisinya.
"Sialan" umpat seorang pendekar ahli dengan ranah Tingkat Suci yang hendak menghampiri Tetua Mo Cau.
__ADS_1
"Ciiih.." Tetua Mo Cau mendengus dingin, lalu memandang tajam ke arah pendekar ahli yang hendak mendekatinya.
"Teknik Pengekang Jiwa" ucap Tetua Mo Cau mengangkat sudut bibirnya dengan pelan.
Dengan tenang, Tetua Mo Cau mengarahkan fokus serangannya kepada beberapa orang. Selain pendekar tingkat suci yang baru saja tiba di hadapannya, masih ada lima orang Pendekar Langit yang berada di dekatnya.
Tiba-tiba perasaan dingin merasuki tubuh para pasukan bayangan, mereka diam dan tak bisa bergerak. Jiwa mereka seperti terikat rantai yang sangat kuat, menahan tubuh fisik mereka untuk bergerak.
Di mata mereka terlihat perasaan ingin memberontak, namun semakin keras mereka mencoba semakin sakit mereka rasakan.
"Aarrgghh"
Detik berikutnya wajah mereka pucat seperti kehabisan udara untuk bernafas, lalu tubuh mereka ambruk ke bawah.
Teriakkan beberapa pasukan bayangan mengagetkan para anggota pasukan bayangan lainnya. Hal ini membuat kewaspadaan mereka terbagi menjadi dua, yaitu mengawasi pendekar pedang tiga elemen serta seorang pria paruh baya yang baru saja datang membuat kekacauan.
"Hati-hati orang itu berasal dari Aula Jiwa, kita tidak bisa melawannya dengan mudah" ucap pemimpin pasukan bayangan memperingati anggotanya.
Li Yuan sedikit mengerutkan dahi, kata Aula Jiwa tidak asing baginya. Beberapa hari sebelumnya Patriark Bao Xiong telah memperingatkan dirinya tentang Aula Jiwa, bahkan Li Yuan kembali terusik tentang karekteristik jiwa yang dimilikinya.
Dalam dua hari ini, ia belum sempat menanyakan tentang elemen jiwa kepada ibunya. Ia dilupakan oleh beberapa urusan yang datang tiba-tiba.
"Biarkan aku saja yang menghadapinya" ucap pemimpin pasukan bayangan.
Di pasukan bayangan sendiri hanya dirinya yang memiliki karakteristik jiwa, kekuatan mental yang dapat mempengaruhi orang lain.
Sebelum bergerak maju menuju Tetua Mo Cau, pemimpin pasukan bayangan berniat mengunci jiwa Li Yuan agar tidak melakukan perlawanan atau melarikan diri. Dengan cepat ia meningkatkan energi jiwanya yang berpusat di kedua bola matanya.
__ADS_1