
"Ingat pesanku untuk tidak bertindak gegabah karena musuh memiliki kekuatan yang misterius" pungkas Yuan Zang sebelum berlalu pergi.
Setelah kepergian orang-orang dari Aula Jiwa, Li Yuan berencana memasuki Sekte Angin Puyuh. Namun berbeda hal dengan gurunya, ia memilih untuk kembali ke Provinsi Naga Biru untuk berjaga-jaga jika Aula Jiwa mengacau di sana.
Sudah satu tahun lebih Li Yuan berpetualang di Provinsi Rajawali Emas, namun baru kali ini ia bisa menyambangi Sekte Angin Puyuh. Sebagai Sekte terbesar dan terkuat, ia merasa perlu menjalin komunikasi agar orang-orang dari Sekte Angin Puyuh dapat mengenalnya dan juga mengenal Klan Li.
Di Kota Nanguan sudah berdiri Klan Li di bawah asuhan Tetua Li Tianshu, jadi demi masa depan kedua belah pihak harus saling mengenal agar tidak timbul salah paham. Apalagi Li Yuan ingin membangun komunikasi bukan dengan jalan kekuatan, melainkan melalui pendekatan emosional.
Li Yuan mengikuti Lu Bin dan beberapa orang murid jaga untuk memasuki Sekte. Mulanya Li Yuan ingin segera memulihkan diri, namun ia juga masih penasaran dengan sosok Patriark dan para Tetua Sekte Angin Puyuh.
Li Yuan juga merasakan ada sebuah kekuatan yang tersembunyi di tempat ini, meski terlihat biasa saja namun salah satu karekteristik di dalam tubuhnya selalu bergetar dengan kuat seperti bertemu pasangannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Li Yuan dan Lu Bin tiba pada sebuah aula utama Sekte Angin Puyuh. Ada seorang Patriark serta lima orang Tetua yang sedang duduk namun berada pada ekspresi yang rumit, ada wajah kegalauan yang terpancar di wajah mereka.
Hingga tiba kedatangan Li Yuan, mereka mulai bersikap normal. Sementara mereka juga melihat Lu Bin dengan pemandangan yang berbeda seperti sebelumnya. Jika sebelumnya Lu Bin dan keempat rekannya dianggap sebagai pengkhianat Sekte, kini mereka merasa bersalah dan bingung hendak menjelaskan apa.
"Salam hormat pada Patriark dan para Tetua" sapa Lu Bin saat bertemu dengan para pimpinan Sekte.
"Bagaimana keadaan mu dan yang lainnya?" tanya Patriark Cai selaku pemimpin tertinggi di Sekte Angin Puyuh.
"Aku dan yang lainnya baik-baik saja. Kini kami berada di tempat tinggal Tuan Yue Feng di pusat Kota Nanguan" jawab Lu Bin dengan tenang.
"Bagus jika begitu, sebelumnya aku sangat menyesal tidak bisa melindungi Sekte, bahkan kalian harus bersusah payah untuk menyelamatkan diri" ujar Patriark Cai dengan raut muka bersedih.
__ADS_1
"Sudah lupakan saja Patriark, kami juga sangat mengerti akan musibah yang baru saja terjadi. Perkenalkan orang yang berada di sampingku adalah Pendekar Pedang Tiga Elemen, berkat tuan pendekar juga semua bencana yang meliputi Sekte Angin Puyuh berakhir" ucap Lu Bin dengan semangat, lalu memperkenalkan Li Yuan dengan hormat.
"Terimakasih atas pertolongan anda Tuan Pendekar" ucap Patriark Cai dengan sopan kepada Li Yuan.
Hal tersebut juga diikuti oleh para Tetua dengan ekspresi penuh hormat memandang Li Yuan.
"Tidak perlu sungkan, aku memang kebetulan sedang mencari mereka" ujar Li Yuan dengan merendah.
Melihat sikap Li Yuan yang tidak sombong meskipun ia masih muda membuat Patriark Cai menjadi takjub, ia sendiri sudah berusia lanjut namun tidak sering menemukan pendekar hebat yang masih memiliki etika kesopanan.
Selain itu yang membuat Patriark Cai heran adalah pemuda tersebut mampu mengalahkan orang-orang Aula Jiwa yang bahkan dirinya tidak bisa menyentuhnya.
"Patriark, sepertinya anda terluka dalam yang serius" ucap Li Yuan tiba-tiba.
Li Yuan hanya tersenyum santai, sebagai pemilik karakteristik jiwa tentu saja ia dapat mengidentifikasi kekuatan serta kondisi seseorang.
"Patriark tidak perlu sungkan, jika berkenan aku akan mengobati luka Patriark" ujar Li Yuan menawarkan diri.
"Apakah itu tidak merepotkan tuan pendekar, karena aku tahu tuan pendekar baru saja bertempur melawan orang-orang Aula Jiwa" ucap Patriark Cai yang merasa tidak enak dengan dermawannya.
"Panggil saya Li Yuan saja, saya berasal dari Klan Li. Kebetulan kami juga baru bergabung di Kota Nanguan beberapa waktu lalu" ucap Li Yuan memperkenalkan jati diri dan asalnya.
"Apa hubunganmu dengan Li Chen?" tanya Patriark Cai.
__ADS_1
"Li Chen adalah kakek saya, ayah saya bernama Li Dan" jawab Li Yuan dengan sopan.
"Hahaha.. Ternyata kamu adalah cucu sahabatku" ujar Patriark Cai dengan senang.
Lima orang Tetua dan Lu Bin yang menyaksikan hal ini tentu menjadi heran, mereka jelas mengenal Patriark Cai yang selalu berwajah datar. Pembawaannya yang serius, membuat orang-orang tidak berani mengajaknya berbicara santai.
"Klan Li berasal dari Provinsi Naga Biru, melihat keberadaan kalian di Kota Nanguan maka aku bisa menebak jika kalian sedang menjalani rencana Li Chen sahabatku" ucap Patriark Cai yang kemudian diikuti dengan ekspresi sedih.
"Jika ia masih ada, tentu kami akan menjadi sahabat terbaik. Aku salut dengan pemikiran-pemikirannya yang sangat menginspirasi, namun sayang usianya tidak panjang" sambung Patriark Cai dengan kepala tertunduk.
Li Yuan yang melihat situasi seperti ini juga merasa bingung, ia tidak menduga jika kakeknya memiliki hubungan baik dengan Patriark Sekte Angin Puyuh. Berdasarkan catatan yang ia baca saat di Kota Huanxie, tidak menyebutkan jika ia memiliki seorang sahabat di wilayah ini. Adapun terkait pengembangan Klan Li adalah memang cita-citanya kakeknya.
Semua rencana dan upaya membangun Klan Li sejujurnya memang diadopsi dari ide-ide kakeknya, saat di kediaman kakeknya di Kota Huanxie ia membaca buku catatan dari kakeknya tersebut. Dalam buku itu tertuang banyak hal terkait cita-cita mulia kakeknya yang bernama Li Chen.
"Karena kamu adalah cucu dari sahabatku, maka kamu juga adalah cucu ku dan aku tidak akan segan lagi kepadamu" ucap Patriark Cai yang kini sudah bisa mengendalikan emosionalnya.
"Terimakasih kakek" sahut Li Yuan dengan sopan.
"Sebaiknya sekarang aku mengobati kakek, karena aku juga tidak bisa berlama-lama berada di sini. Aku mengkhawatirkan beberapa orang yang berada di Kota Nanguan yang kini aku tinggalkan" ucap Li Yuan dengan jujur.
"Baiklah jika seperti itu, sikapmu sama seperti kakekmu yang selalu mementingkan orang lain. Tapi untukmu, kamu harus memperhatikan kebahagiaan mu juga" ujar Patriark Cai.
Setelah mengatakan hal tersebut lalu Patriark Cai duduk bersila membelakangi Li Yuan, sementara posisi Li Yuan kini sedang berkonsentrasi mengalirkan energi Qi ke tubuh Patriark Cai.
__ADS_1
Patriark Cai terluka cukup serius akibat serangan jiwa yang sebelumnya menghantam dirinya. Perlawanan yang dilakukan oleh Patriark Cai sangat gigih, jika tidak maka mustahil ia akan terluka dalam seperti sekarang ini.