
Berbarengan dengan kepergian Li Yuan untuk berkultivasi, Cheng Han dan Nu Hume sudah tiba di Sekte Laohu. Mereka berdua tiba menggunakan perahu terbang dari Asosiasi Keluarga Fang di Ibukota Qinghai.
Setelah tiba, Cheng Han segera melapor kepada para Tetua dan Ketua Sekte. Bersama Nu Hume ia melaporkan segala perkembangan yang terjadi di Kota Jincheng, terutama selama mereka berada di dalam Istana Langit. Tetapi Nu Hume tidak membicarakan tentang keadaan Jia Hien yang sesungguhnya. Ia sengaja tidak melaporkan situasi tersebut karena itu menyangkut hal pribadi dan menyangkut nama baik Jia Hien.
Saat melapor, Cheng Han dan Nu Hume tentu saja sangat terkejut. Meski di Aula utama Sekte tidak terdapat Patriark dan Tetua Bao Zi, namun mereka berdua dapat merasakan kekuatan yang setara dengan Patriark Bao Xiong. Ketujuh orang Tetua ini jelas sudah tidak berada pada ranah yang sama saat dirinya pergi. Namun saat ini ia tidak melihat kehadiran Tetua Jia Fu dibarisan para Tetua.
Tanpa bertanya lebih jauh di depan para Tetua, Cheng Han Nu Hume segera kembali ke Paviliun Tetua Jia Fu. Informasi dari murid yang lain, jelas Tetua Jia Fu kini tengah berada dalam kondisi pengasingan diri. Ada dua orang murid senior yang mengatakan hal tersebut.
Di sisi lain, saat ini di Kota Huanxie telah tiba rombongan murid-murid Sekte Laohu yang berasal dari Klan Li. Mereka adalah Li Ming dan tujuh orang anggota Klan Li lainnya. Dengan menggunakan seragam Sekte Laohu mereka berjalan dengan angkuh.
Menggunakan tiga buah Kereta Kuda, mereka berjalan beriringan dan tiba di kediaman Patriark Li Cuan dengan cepat. Berita kepulangan kedelapan pemuda Klan Li membuat heboh Patriark Li Cuan dan Tetua Li Chang.
Delapan orang dengan kekuatan ranah Pendekar Raja tengah duduk dengan rapi di Aula utama keluarga Klan Li. Tidak seperti sebelumnya, bangunan utama Klan Li mulai tidak terawat dengan baik. Meski tidak dalam kondisi memprihatinkan, namun jelas tidak bisa dikatakan dalam keadaan baik-baik saja.
"Salam pada Patriark" ucap Li Ming dan ketujuh pemuda lainnya. Suara lantang mereka menggema cukup keras, membuat para orang tua mereka bangga.
"Selamat datang kembali" ucap Patriark Li Cuan sambil menghampiri Li Ming dan yang lainnya.
"Kalian sudah tumbuh dengan begitu kuat. Aku bangga kepada kalian" ucap Patriark Li Cuan sambil menepuk pundak mereka satu per satu.
__ADS_1
Setelah melepas kerinduan, mereka semua mengadakan pertemuan di ruangan tersebut. Tampak Patriark Li dan beberapa orang Tetua lainnya menceritakan keadaan Klan Li selama beberapa tahun belakangan.
"Baiklah ayah, besok aku dan seluruh saudaraku akan datang ke kediaman Li Dan" jawab Li Ming dengan sombong.
Setelah mendengar gurunya serta para Tetua yang lainnya sudah berada pada ranah Pendekar Suci membuat Li Ming besar kepala. Dengan membawa nama gurunya dan Sekte Laohu akan mampu menekan orang tua Li Yuan tersebut.
"Tidak usah terburu-buru, kalian baru saja tiba. Sebaiknya kalian beristirahat dan bersantai dahulu" ucap Tetua Li Chang.
"Benar, sebaiknya kalian istirahat saja dulu. Masih banyak waktu untuk mengurusi mereka" ucap Patriark Li Cuan menguatkan perkataan Tetua Li Chang.
"Baiklah jika demikian" ucap Li Ming sambil memandang ke arah saudara-saudaranya.
Dengan mengandalkan elemen angin, Li Yuan membungkus tubuhnya dengan energi transparan. Dengan perlahan ia menuju pusaran air tersebut, pusaran dimana selama ribuan tahun telah membentuk Kristal Biru.
Li Yuan bertindak nekat, ia mengabaikan Kristal Biru pemberian Naga Bumi. Bukan menyerapnya tetapi Li Yuan justru ingin menghadapi tekanan air yang dahsyat secara alami. Li Yuan ingin mengeluarkan bakat alaminya dengan mengandalkan Tubuh Kaisar Langitnya.
Li Yuan menarik napas, lalu tubuhnya mulai berada di tengah pusaran air. Tekanan yang ia rasakan sangat kuat, melebihi kekuatan angin ketika ia berada di kawah Gunung Hua. Dengan tekad yang kuat dan semangat yang membara, Li Yuan mencoba bertahan. Tubuhnya seperti tercabik-cabik monster ganas.
Dengan kekuatan fisiknya tentu ia masih bisa bertahan sampai batas tertentu. Setelah dirasa ia tidak kuat maka ia akan menghempaakan dirinya ke sisi mulut Gua untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1
Keadaan tersebut terjadi secara berulang, tampak tubuhnya mulai memar dan membiru. Pada tempo ini, ia masih belum bisa mengendalikan tekanan air dari dasar bumi. Daya dorong yang begitu kuat terus membuat Li Yuan merasa kepayahan. Kekuatan kultivasinya yang berada pada ranah Pendekar Suci Tahap Menengah membuatnya kesulitan bertahan dengan lebih lama.
Setelah mencoba berulang kali, Li Yuan hampir putus asa. Sudah seharian Ia mencobanya, energi fisiknya mulai terkuras habis. Saat ini ia sedang mengisi energinya kembali, tampak wajahnya terlihat pucat.
Dalam kondisi seperti ini Li Yuan tidak ada jalan pilihan selain meningkatkan ranah kultivasinya. Dalam keadaan duduk sila, ia mengeluarkan sebuah Kristal Perak yang terdapat dalam di dalam cincinnya. Saat ia akan menyerapnya ia terlihat ragu.
Batinnya masih menolak, ia masih bersikeras ingin mencoba lagi dengan mengandalkan kekuatan fisiknya kali ini. Tarik menarik antara hati dan pikiran membuat Li Yuan sedikit galau. Namun ia mengingat kembali saat Li Yuan menguasai elemen magma. Antara hidup dan mati energi dalam tubuhnya bekerja secara optimal.
Tiba-tiba ia bangkit dengan kepercayaan diri yang tinggi. Ia berkeyakinan akan mampu melewati masa-masa sulit seperti ini. Setelah menyimpan kembali Kristal Perak ke dalam cincin penyimpanannya, ia melangkah ke tempat dimana ia berlatih sejak awal.
Sambil mengedarkan Qi ke seluruh tubuhnya, perlahan energinya bergejolak di dalam dirinya. Elemen magma bekerja dengan memompakan panas ke seluruh tubuh, membuat Li Yuan terjaga dari hawa dingin.
Lalu elemen anginnya bekerja untuk melapisi seluruh tubuhnya dengan energi transparan.
Dengan keyakinan tinggi, Li Yuan kembali melangkah ke tengah pusaran air. Tekanan yang kuat terus membuat tubuhnya berada pada kondisi ekstrim. Tabrakan energi dari dalam tubuhnya terus terjadi setiap saat, memaksa Li Yuan terus membakar Qi nya ke titik yang lebih tinggi.
Setelah beberapa jam, kekuatan Li Yuan sudah mulai berkurang, Qi nya semakin menipis serta tubuh fisiknya semakin lemah. Perasaan putus asa kembali menghantui Li Yuan, hingga titik ini ia tidak dapat merasakan titik energi baru dalam tubuhnya. Tidak ada inti energi baru yang tumbuh membuat perjuangan Li Yuan sia-sia.
"Huh" Li Yuan kembali menghempaskan diri. Wajahnya kembali pucat dan tubuhnya mulai lemah. Ia menyerap batu energi dalam jumlah yang banyak hanya untuk mengganti Energi Qi. Sesekali Ia mengeluarkan buah Apel Hitam yang Ia kumpulkan saat di Gunung Hua. Pada saat seperti ini, buah Apel Hitam tersebut sangat membantu proses percepatan pemilihan energinya.
__ADS_1