
Matahari turun secara perlahan dan memunculkan senja merah, ada wajah keceriaan di wajah Yue Hao saat ia tiba di kediamannya. Entah mengapa sejak ia kenal dengan Li Yuan ada perasaan yang selalu muncul di dalam dirinya, malahan dalam beberapa hari terakhir ia selalu ingin bersama. Sebagai seorang wanita ia baru kali ini merasakan hal seperti sekarang, bayangan pria penolongnya kerap bermain dalam ingatannya.
Di sisi lain, Li Yuan tidak memahami kondisi yang dialami oleh Yue Hao. Kedekatannya selama beberapa waktu terakhir hanya sebatas hubungan pertemanan. Meskipun Yue Hao memiliki kesan yang baik di matanya, ia belum bisa menambatkan hati pada saat sekarang ini.
Selama beberapa hari terakhir di Kota Nanguan ia hanya banyak bersantai. Berkultivasipun hanya ketika malam saja, energi Qi di Kota Nanguan tidak setebal di Sekte Laohu. Oleh karena itu ia mulai mencari alternatif untuk mencari tempat yang mengandung esensi Qi lebih murni.
Sementara itu, Jia Hien dan Nu Nian hampir sampai di Kota Qinghai. Perahu terbang yang ia naiki masih mengudara, pemandangan Ibukota Qinghai membawa Jia Hien ke dalam berbagai perasaan. Baru satu bulan lebih ia meninggalkan Kota Qinghai, tetapi ia tidak banyak mengetahui perubahan besar yang terjadi. Terutama perubahan besar di Sekte Laohu, posisi ayahnya yang sudah menjadi Wakil Ketua Sekte.
Kota Qinghai memiliki kesibukan baik di siang maupun di malam hari, Kota ini terus hidup meskipun tidak sepadat Kota Jincheng pusat Kekaisaran Istana Langit. Lampu bersinar cukup indah seolah bergerak di antara kegelapan malam. Itu adalah pemandangan nelayan di Danau Biru, mereka melakukan penangkapan ikan di malam hari.
Saat bayangan perahu terbang membelah kegelapan langit Kota Qinghai, Jia Hien dan Nu Nian tersenyum bahagia. Bayangan kelam yang selama ini menghantui jiwa Jia Hien seakan terlupakan. Selama satu bulan ini ia menjadi budak nafsu Kaisar Tang Shiji tanpa lelah, ada penyesalan tetapi tidak bisa ia ucapkan. Kini ia kembali dengan status yang menggantung, malah bisa dikatakan ia seperti selir yang terbuang bukan permaisuri yang ia idamkan selama ini.
"Akhirnya kita tiba di Kota Qinghai" ucap Nu Nian dengan gembira.
Mereka berdua kemudian menaiki kereta kuda agar lebih cepat tiba, sementara beberapa orang pengawal sudah diperbolehkan meninggalkan Jia Hien. Keduanya merasa kurang nyaman jika selalu terus diikuti oleh pengawal. Apalagi kini mereka sudah berada di Kota Qinghai.
Keduanya lalu menggunakan kereta kuda. Ada banyak jasa penyewaan kereta kuda yang berada di sekitar stasiun perahu terbang. Mereka siap mengantarkan penumpang ke berbagai daerah tujuan di Kota Qinghai. Bahkan ada juga perahu air yang sederhana, hanya saja pada malam hari mereka tidak mengoperasikannya.
"Iya betul" jawab Jia Hien mengangguk ragu.
__ADS_1
Ada beban mental dalam dirinya, ke depannya ia harus bisa menahan diri dari gunjingan orang-orang di hari berikutnya.
"Sudahlah, kamu harus tetap optimis semuanya hanya butuh proses waktu yang lebih panjang saja. Sewaktu di rumah makan tadi, aku sempat mendengar jika kondisi Provinsi Rajawali Emas juga sedang mengalami ketegangan" ucap Nu Nian saat mereka melanjutkan perjalanan menuju Sekte Laohu.
"Dari mana kamu mendengar informasi tersebut?" tanya Jia Hien dengan penasaran.
"Sewaktu membayar tagihan, mulanya aku penasaran dengan pria yang tadi kita temui. Ternyata identitas pria tersebut sangat mengerikan, ia adalah pengawal pribadi putri Gubernur Provinsi Rajawali Emas" ujar Nu Nian dengan antusias.
"Lalu apa hubungannya dengan ketegangan situasi" tanya Jia Hien dengan nada cuek.
"Dengar dulu, menurut penuturan petugas rumah makan tersebut pria itu telah membunuh seorang kepercayaan Jenderal Langit wilayah Timur. Bahkan ia mampu menghadapi serangan dari sepuluh ribu prajurit keamanan kota. Padahal situasi ini terjadi saat Gubernur dengan Jenderal memiliki ketegangan dalam hubungan militer" ucap Nu Nian dengan nada serius.
"Apakah itu berarti ada pemberontakan?" tanya Jia Hien lagi.
"Cukup masuk akal, apakah kamu tidak merasa aneh?" tanya Jia Hien.
"Hmm.. Tidak" jawab Nu Nian.
"Memangnya kamu memiliki pemikiran lain?" ucap Nu Nian balik bertanya.
__ADS_1
"Mungkin ini hanya keinginan sang Gubernur untuk memiliki kekuasaan secara penuh. Dengan membunuh orang terdekat Jenderal Langit tentunya akan memberikan tekanan" jawab Jia Hien ringan.
Nu Nian hanya mengangguk ringan, ia tidak paham dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Jia Hien. Meski demikian ia memikirkan sesuatu lalu berkata.
"Aku menduga bahwa keahlian pengawal pribadi putri Gubernur tidak lazim, berdasarkan deskripsi dari petugas rumah makan ia memiliki tiga karakteristik elemen. Mungkinkah ia adalah Pendekar Pedang Tiga Elemen yang selama ini diburu oleh pihak Kekaisaran?" ucap Nu Nian dengan ekspresi bingung.
"Kamu itu terlalu berpikir jauh, kalau ia buronan itu bagaimana ia bisa bergerak bebas, bahkan ia bekerja sebagai pengawal pribadi putri Gubernur" ucap Jia Hien.
"Hahaha iya juga sih, aku juga sedari tadi memikirkan hal itu" kata Nu Nian.
"Bahkan aku sebelumnya sempat berpikir jika itu adalah Li Yuan" ucap Nu Nian sambil menutup mulutnya.
"Jangan sebut namanya lagi. Orang itu sudah mati, meskipun aku juga sempat berpikir demikian" ucap Jia Hien dengan dingin.
Baik Jia Hien maupun Nu Nian sampai sekarang belum mengetahui jika Li Yuan sudah kembali ke Sekte. Hanya Nu Hume dan Cheng Han yang mengetahuinya karena mereka kembali lebih awal. Namun keduanya tidak sempat bertemu dengan Li Yuan, saat mereka berdua kembali ke Sekte Li Yuan sudah kembali pergi menjalankan misi.
Ada sebuah misi rahasia Sekte yang sedang ia emban, bahkan seluruh teman dekatnya di Paviliun Bao Zi tidak ada yang mengetahuinya. Pada saat itu Nu Hume ingin mengucapkan terimakasih atas pertolongan Li Yuan sebelumnya.
Malam belum terlalu larut saat kereta kuda berhenti tepat di depan Sekte Laohu. Setelah keduanya turun, mereka segera bergegas masuk. Identitas keduanya sudah dikenal di Sekte Laohu sehingga mereka bisa melewati gerbang sekte dengan mudah. Keduanya tiba di Paviliun Jia, seperti yang mereka tinggalkan sebelumnya.
__ADS_1
Namun saat melihat tulisan pada papan nama telah berubah, alis mata Jia Hien sedikit terangkat. Tulisan "Paviliun Wakil Ketua Jia" membuat perasaan Jia Hien campur aduk. Selama ia berada di Sekte, ia tidak pernah mendengar ada jabatan Wakil Ketua.
Jia Hien dan Nu Nian dengan cepat mengabaikannya, mereka sudah tidak sabar ingin segera beristirahat. Perjalanan dari Kota Jincheng cukup melelahkan, selama dalam perjalanan tersebut keduanya tidak beristirahat. Kondisi Jia Hien yang sedang kurang baik, membutuhkan teman untuk bertukar pikiran.