
"Baiklah guru, aku akan mempelajari kitab tersebut sesuai dengan apa yang guru perintahkan" ucap Li Yuan dengan sungguh-sungguh.
Setelah mengatakan hal itu Yuan Zang mengangguk senang, lalu ia pergi dan berkata.
"Aku akan kembali lagi tujuh hari mendatang" ucap Yuan Zang berbarengan dengan tubuhnya yang menghilang.
Li Yuan tampak tak berdaya, namun apa yang dikatakan oleh gurunya adalah sebuah kebenaran. Beberapa saat belakangan ini ia terlarut dalam buaian asmara, di balik permasalahan besar yang sedang mengancam dirinya masih sempat menikmati kesenangan jasmani.
"Huh" Li Yuan menghela napas panjang lalu berkata.
"Yin'er, Hao'er tolong dengarkan aku. Selama tujuh hari ke depan kalian jangan ke mana-mana dulu. Tetaplah di kediaman orang tuaku, selama waktu itu aku akan berlatih seperti apa yang guruku sampaikan barusan"
"Baik Yuan Gege" jawab keduanya dengan patuh.
Setelah mengatakan hal itu, tubuh Li Yuan langsung menghilang dari pandangan dua wanitanya. Di atas angin Li Yuan bergerak dengan sangat cepat menuju puncak Gunung Hua, tempat di mana ia pertama kali berlatih dan menjadi murid Yuan Zang.
"Akhirnya aku kembali lagi ke tempat ini" gumam Li Yuan sesaat dirinya tiba di depan sebuah kolam yang dahulunya ia gunakan sebagai tempat berlatih.
Ada rasa nostalgia ketika ia pertama kali berada di tempat ini, selama tiga tahun ia terisolasi dari dunia luar hingga ia dikira telah tewas saat menjalankan misi.
Tanpa membuang waktu lagi, Li Yuan segera melepaskan pakaiannya dan merendam dirinya ke dalam kolam energi tersebut. Ada rasa hangat dan nyaman saat tubuhnya berendam secara keseluruhan. Meskipun tidak seperti pertama kalinya, namun kolam energi tetap memiliki efek membangun vitalitas.
Li Yuan masih menyimpan beberapa Kristal Energi yang sebelumnya terdapat di dalam cincin penyimpanan Naga Bumi, ia segera mengeluarkan beberapa kristal energi tersebut untuk menunjang kultivasinya. Dengan menggunakan teknik Aura Naga, kristal energi tersebut segera bereaksi, hanya saja ia tidak merasakan fluktuasi energi yang mendalam.
Hari demi hari berlalu dan waktu pun berlalu dengan cepat. Li Yuan sudah tidak bisa menghitung berapa waktu yang ia butuhkan untuk menyerap kristal energi, hanya saja Ia merasakan waktu yang dibutuhkan untuk menyerap beberapa kristal energi terasa lebih lama dari sebelumnya.
Seiring berjalannya waktu, Li Yuan berhasil menyerap Kristal energi tersebut serta menyerap dua buah kristal ajaib. Itu adalah Kristal Ajaib keempat dan kelima yang sudah berhasil ia serap selama ini. Setelah menghabiskan waktu sekitar lima hari, Li Yuan membuka matanya. Ia mengalirkan Qi dalam tubuhnya, merasakan kekuatan barunya yang sangat dahsyat.
__ADS_1
"Hmmph.. Sepertinya aku sudah berada pada ranah yang berbeda" gumam Li Yuan pelan.
Ada raut kegembiraan yang terpancar di wajahnya, kekuatannya kini berkali-kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.
Setelah yakin dengan peningkatan kekuatannya, ia segera bangkit dari kolam energi dan menuju bibir Gua tempat di mana ia pernah tinggal.
Dari dalam cincin penyimpanannya, ia mengeluarkan sebuah kitab yang diberikan oleh gurunya. Meski terlihat kusam namun tulisannya masih terlihat dengan jelas, pelan-pelan ia membuka dan membaca isi kitab tersebut.
"Teknik Tebasan Jiwa"
Setelah membaca gambaran dari teknik tersebut alis mata Li Yuan terangkat, saat ini ia teringat jika pedang Tiga Elemen sedang dipinjamkan ke tangan Kaisar Ying Kai.
Li Yuan segera mengirimkan pesan jiwa kepada Ying Cushan jika saat ini dirinya sedang membutuhkan pedang tersebut. Ying Cushan kini berada di Istana Langit mendampingi Ying Kai bersama dengan orang-orang dari Sekte Laohu yang sebelumnya sudah bergabung dalam barisan kekaisaran Istana Langit.
Li Yuan mengangkat tangannya ke udara, mengeluarkan sebuah energi spiritual, cahaya putih menyelimuti dirinya. Bersamaan dengan itu, Pedang Tiga Elemen yang berada di Istana Langit bergerak sendiri lalu terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Luar Biasa, hanya sang penguasa yang mampu mengontrol pedang seperti itu" gumam Ying Kai.
Sebagai seorang mantan Jenderal besar Kota Jincheng, ia bukanlah orang yang dangkal dengan ilmu pengetahuan. Wawasannya sangat luas, tidak heran jika Li Yuan menunjuk dirinya sebagai Kaisar Langit.
"Tampaknya akan terjadi masalah besar, Tuan Li Yuan berpesan agar kita selalu waspada" ujar Ying Cushan memberi peringatan.
Tetua Jia Fu yang kini menjadi penasehat utama kerajaan segera berkata.
"Yang mulia Kaisar, jika Li Yuan sudah berkata seperti itu sebaiknya kita bersiap. Aku khawatir orang-orang dari Aula Jiwa mulai bergerak"
"Kau benar, segera sebar mata-mata untuk memantau wilayah Kota Jincheng dan kota-kota lainnya. Selain itu, aku akan menghubungi Patriark Sekte Api Abadi untuk meminta bantuan" ucap Kaisar Ying Kai dengan serius.
__ADS_1
"Baik Kaisar" jawab para bawahannya dengan penuh rasa hormat.
Di puncak Gunung Hua, kini Pedang Tiga Elemen sudah kembali berada di tangan Li Yuan kembali. Untuk mempelajari teknik pedang yang baru saja ia baca, dibutuhkan pedang berkualitas tinggi.
Teknik Tebasan Jiwa berbeda dengan jurus pedang lainnya, teknik yang ditinggalkan oleh sang penguasa Alam Langit sebelumnya lebih menekankan kepada kontrol Qi.
Berulang kali Li Yuan membolak-balikkan kitab yang tanpa judul tersebut, selain berisi tentang sebuah teknik beladiri, kitab tersebut juga berisi tentang beberapa petunjuk tentang tingkatan kultivasi.
Jika umumnya seorang kultivator mengerahkan Qi yang sangat besar pada saat menyerang lawannya, maka pada teknik ini Qi yang besar tersebut ditingkatkan hingga ke titik maksimal namun harus dibungkus dengan menyembunyikan hawa keberadaan. Konsep ini seperti menyatukan hawa panas dan dingin secara bersamaan tanpa merusak wadah, seperti dua karekteristik es dan magma yang saling berlawanan namun tidak berpengaruh terhadap tubuh Li Yuan.
Untungnya Li Yuan terbiasa dengan teknik penyembunyian tingkatan kultivasi yang ia pelajari dari kitab kaisar kematian.
Li Yuan berdiri lalu mengangkat pedangnya ke udara, energi yang besar segera ia alirkan ke dalam tubuhnya dan berpusat pada pedang.
"Dhuaar"
Sebuah cahaya pedang terbentuk dan menghancurkan sebuah tebing yang berada di dekat Li Yuan.
"Masih terlalu kasar" gumam Li Yuan sendiri.
Setelah melakukan tebasan demi tebasan, ia semakin cepat dan terbiasa menggunakan seni tebasan jiwa.
"Ahh.. Sepertinya ada kesalahan" ujar Li Yuan tanpa daya.
Walaupun saat ini ia bisa mengendalikan Qi di dalam tubuhnya namun hasil dari serangan tersebut masih terlihat kasar. Li Yuan menyadari jika semua serangan yang ia lakukan tidak lebih seperti tindakan seorang pendekar amatiran.
"Sepertinya aku perlu beristirahat sambil menenangkan diri" gumam Li Yuan dengan santai.
__ADS_1