
Dalam sekejap, bilah pedang tersebut menari di udara dan bergerak dengan sangat cepat ke arah dua orang pendekar Tingkat Suci. Bau amis segera tercium di udara, tubuh dua orang pendekar suci tersebut terbelah menjadi beberapa bagian.
Detik selanjutnya, Li Yuan mengekstraksi udara dan mengalirkan energi panas. Potongan daging tersebut berubah menjadi butiran debu yang menghilang dalam kegelapan malam.
Angin malam berhembus dengan rasa panas di sekitar kedai makan, orang-orang yang melihat kejadian tersebut hanya bisa mematung.
"Li Tong, apakah kamu bisa membayangkan jika saudaramu melakukan hal yang sama saat turnamen di Sekte tadi pagi?" ucap Fan Chi dengan tatapan ngeri.
"Seperti yang pernah kubilang padamu, aku saja sebagai saudaranya sudah tidak tahu sampai dimana batas kekuatan dia" ucap Li Tong tak berdaya.
Li Tong tentu paham, kekuatan Li Yuan memang sangat mengerikan. Ia dapat melihat jika Pendekar Tingkat Suci saja hanya mainan di mata Li Yuan, itu berarti kekuatannya sudah jauh di atasnya.
Saat keduanya sedang berbicara, Li Yuan mulai memeriksa beberapa mayat untuk mencari identitas mereka. Terdapat beberapa token yang sama, lalu Li Yuan menyimpannya.
"Nona Fang, tolong periksa token ini" ucap Li Yuan sambil menyerahkan token yang baru saja ia dapatkan.
Sebelum Fang Yin bereaksi, tubuh Li Yuan sudah meninggalkannya. Pada saat ini Li Yuan segera mengangkat tangannya dan menggerakkannya ke seluruh jasad yang masih utuh.
Setelah beberapa gerakan, mayat-mayat tersebut terhimpun dalam satu tumpukan.
Li Yuan membentuk sebuah kubah dari lapisan angin untuk mengurung tumpukan mayat tersebut. Selanjutnya ia menyuntikkan karakteristik magma untuk menciptakan hawa panas yang luar biasa.
Bagaikan di dalam tungku perapian, seluruh jasad tersebut melebur menjadi abu kurang dari satu tarikan napas.
Melihat pemandangan ini, jelas membuat orang-orang teringat dengan sosok Pendekar Pedang Tiga Elemen. Ada ketakutan serta kekaguman pada diri mereka, namun tidak dapat mereka ungkapkan.
"Sudah selesai" ucap Li Yuan sambil menghela napas ringan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Li Yuan kepada Li Tong.
"Hanya butuh istirahat sebentar saja" jawab Li Tong.
"Sepertinya kita harus berlatih bersama, kekuatanmu masih belum stabil" ucap Li Yuan dengan sungguh-sungguh.
"Hahahaha... Itu tidak perlu, aku hanya harus membiasakan diri saja dan lebih sering berlatih tenaga dalam" ujar Li Tong sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ya sudah, tapi kamu harus berusaha lebih serius. Lihatlah di sampingmu Nona Fan hampir saja terluka" ujar Li Yuan sembari menyemangati Li Tong.
"Aku akan belajar dari hari ini, terimakasih atas bantuanmu" ucap Li Tong dengan tulus.
"Kamu ini lucu, ayolah jangan seperti itu" ujar Li Yuan kepada Li Tong.
Li Yuan kemudian berjalan menghampiri Fang Yin, ia lalu berkata. "Apakah kamu mengenali benda tersebut?"
"Token ini adalah milik orang-orang dari Istana Jenderal Wan Sui. Sepertinya mereka adalah pasukan khusus yang dimiliki oleh sang Jenderal" ucap Fang Yin.
Hmm.. Menarik!
"Baiklah mari kita segera kembali ke rumah makan Bunga Sutera saja untuk beristirahat" ajak Fang Yin menawarkan diri.
"Setelah rencana kita untuk makan bersama gagal, itu adalah satu-satunya ide yang bagus" jawab Li Tong dengan cepat.
Li Yuan hanya menggeleng kepala melihat kelakuan saudaranya itu, meskipun mereka adalah kultivator tingkat tinggi namun kebiasaan Li Tong masih belum bisa hilang.
"Mari ikuti aku" ujar Fang Yin sambil melangkah maju.
Li Tong segera menggenggam tangan Fan Chi dan berjalan di sebelahnya. Sementara Li Yuan berada paling belakang saat ketiganya mulai melangkah meninggalkan dirinya.
Ia sedikit iri dengan kebersamaan Li Tong dengan Fan Chi. Ingin dirinya juga seperti itu, namun ia sedikit canggung jika harus melakukannya dengan Fang Yin.
Di hati Li Yuan belum ada wanita yang bisa menambatkan hatinya. Meskipun ia dan Fang Yin sedikit memiliki perasaan, tetapi Li Yuan belum berani mengakuinya secara terang-terangan. Urusan hati biarlah mengalir apa adanya, perasaan ingin memiliki dan menjaga biarkan tumbuh secara alami.
"Kamu kenapa lama sekali" tiba-tiba terdengar suara Fang Yin dari arah depan.
"Kamu saja yang terlalu semangat jalannya, hingga tidak menghiraukan aku yang lemah ini" ucap Li Yuan seolah ia baru saja ditindas.
"Hah?... Sepertinya kamu perlu ku tendang" ucap Fang Yin dengan nada bercanda.
"Coba saja kalo berani" ucap Li Yuan mengejek.
"Siapa bilang aku tidak berani" ucap Fang Yin sambil menyingsingkan lengan bajunya.
__ADS_1
Kulit putihnya terlihat meski cahaya rembulan bersinar dengan redup.
"Aww.. "
Teriak Li Yuan saat jari-jari indah Fang Yin mendarat di pinggangnya.
"Kamu curang, kenapa malah mencubit ku" ujar Li Yuan dengan nada protes.
Namun ia tidak marah sama sekali, kebersamaannya dengan Fang Yin adalah peristiwa yang langka diantara keduanya.
Li Tong dan Fan Chi hanya tertawa pelan melihat tingkah keduanya. Selera humor yang dimiliki Li Yuan membuat keduanya terhibur, menghidupkan suasana jalanan Kota yang masih ramai.
Mereka tiba di rumah makan Bunga Sutera saat keadaan mulai sepi. Li Yuan juga sudah tidak mendapati anggota keluarganya serta tuan Fang Jing. Hari ini rumah makan Bunga Sutera memang tidak beroperasi seperti biasanya, hanya melayani makan bersama dua keluarga.
Li Yuan dan Li Tong segera menuju lantai dua, sedangkan Fang Yin dan Fan Chi segera menuju dapur untuk menyiapkan makanan. Tampak beberapa pelayan yang masih berjaga untuk membantu menyajikan makanan.
Tidak menunggu lama, dengan keahlian Fang Yin beberapa menu makanan tersaji dengan baik di atas meja makan.
"Ini adalah pertama kalinya aku makan di tempat ini. Selama ini aku hanya mendengar reputasinya saja, namun siapa sangka jika pemilik tempat ini akan menjadi saudaraku di masa depan" ucap Li Tong sambil memasukkan beberapa sendok makanan ke dalam mulutnya.
"Puufft"
Tiba-tiba Li Yuan menyemburkan teh yang baru saja ia sesap.
Melihat Li Yuan seperti itu, membuat ekspresi Fang Yin berubah. Ia merasa sedih lalu berbalik badan dan pergi menuju sudut jendela.
"Saudara Yuan, kenapa kamu seperti itu. Apakah kamu mau menyakiti perasaan Nona Fang?" ucap Fan Chi menegur sikap Li Yuan.
Sebagai sesama wanita, ia dapat merasakan jika Fang Yin terluka hatinya.
"Ayolah, bujuk lah Nona Fang" ujar Li Tong sambil menggerakkan bola matanya.
Li Yuan kemudian berdiri dan berjalan mendekati Fang Yin.
"Nona Fang tolong maafkan aku" ucap Li Yuan dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"Sudahlah lupakan, aku memang tidak layak untukmu" ucap Fang Yin tanpa basa basi.
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya kaget saja mendengar ucapan saudaraku" sela Li Yuan memberi penjelasan.