
"Hmm.. Menarik sekali" ucap Li Yuan singkat.
Setelah mengatakan hal tersebut ia mencoba menganalisanya sambil menyesap secangkir teh hangat.
"Jangan katakan jika kamu tertarik pada wanita itu" ucap Yue Hao membuyarkan perhatian Li Yuan.
"Jika semua wanita di dunia seperti dirimu, maka aku akan mempertimbangkan untuk melirik dirinya" ucap Li Yuan santai.
"Maksudmu aku tidak semenarik itu" tanya Yue Hao dengan mata melotot.
"Bagaimana orang akan tertarik padamu, nafsu makan mu terlalu mengerikan. Aku khawatir banyak pria yang akan jatuh miskin karena tidak sanggup membayar tagihanmu" ujar Li Yuan sambil terkekeh.
"Huh.. Dasar kamu. Lihat dirimu, mana ada lelaki sejati hanya minum teh" ucap Yue Hao dengan suara yang cukup keras.
Ia tidak marah, namun apa yang dikatakan oleh Li Yuan memang fakta yang tidak terbantahkan. Bahkan saat ini dirinya masih memegang sumpit yang mencapit daging.
Li Yuan hanya tersenyum kecut, memang selama ini ia tidak meminum arak seperti kebanyakan kultivator lainnya. Di dalam keluarganya, ia dididik untuk menjauhi arak, meskipun tidak dilarang tetapi ayahnya juga melakukan hal yang sama, tidak minum arak.
Sementara di sisi lain, saat Yue Hao selesai berkata, dengan cepat Jia Hien dan Nu Nian bereaksi. Keduanya segera memandang ke arah Yue Hao dan Li Yuan. Baik Jia Hien maupun Nu Nian serentak merasa kaget, pria yang saat ini menjadi perhatian netra mereka seolah tidak asing. Terutama Jia Hien, seperti ada pergolakan batin di dalam dirinya.
"Dia.. Apakah dia lelaki itu? Tapi bagaimana mungkin?" ucap Jia Hien tidak percaya.
Di sebelahnya tampak Nu Nian sedang menelisik, ia tidak akan lupa saat ia tengah putus asa dan ditolong oleh Li Yuan. Kelompok mawar hitam di Kota Yushu terlalu membekas dalam ingatannya.
Nu Nian hendak berdiri untuk menghampiri dan memastikan tentang identitas pria yang duduk tidak jauh darinya. Tetapi pada saat bersamaan muncul suara seorang lelaki dari arah belakangnya.
"Hai Nona cantik, bolehkah aku duduk di dekatmu" ucap seorang pria yang berusia sekitar tiga puluh tahunan.
Dibelakangnya ada lima orang yang menggunakan pakaian sama dengan pria tersebut, usia mereka juga rata-rata tidak berbeda jauh. Mereka adalah orang-orang dari Sekte Angin Puyuh yang kebetulan sedang bertugas meredam ketegangan keamanan Ibukota Nanguan.
"Maaf, kami sedang tidak mau diganggu" ucap Nu Nian.
__ADS_1
"Tidak ada yang berani mengganggumu Nona cantik, kami hanya ingin makan dan minum dengan tenang juga" ucap pria itu lagi.
"Masih banyak kursi dan meja yang kosong, tuan-tuan bisa bergeser ke arah sana" ucap Nu Nian sambil menunjuk ke sudut ruangan.
"Kami tetap ingin makan di sini" ucap pendekar lainnya.
"Apakah kalian tidak tahu siapa aku?" tiba-tiba terdengar suara Jia Hien dengan dingin.
"Aku tidak peduli siapa kalian. Kami hanya ingin makan di sini. Apakah salah?" jawab murid Sekte Angin Puyuh memberi alasan.
"Braakk"
terdengar suara telapak tangan Jia Hien menggebrak meja makan.
"Ka.. Kalian sungguh kurang ajar" raung Jia Hien.
Beberapa orang pengawal dari Istana Langit yang ditugaskan untuk menjaga Jia Hien segera menuju lantai dua. Setelah mendengar keributan, mereka dengan sigap mengelilingi murid-murid Sekte Angin Puyuh.
Di tempat duduknya, Li Yuan tengah asyik menyantap makanan. Melihat pemandangan di sekelilingnya membuat selera makannya berkurang.
"Sebaiknya kita pulang, tiba-tiba selera makanku menjadi hilang" ucap Li Yuan kepada Yue Hao.
Yue Hao tengah asyik menikmati makanannya, ia mengangguk ringan tanda setuju.
Li Yuan bangkit dan berjalan melewati meja yang ditempati oleh Jia Hien dan temannya.
Melihat kedatangan Li Yuan yang menghampiri mereka, tiba-tiba beberapa orang memandang ke arah Li Yuan dengan tatapan tidak tenang. Keringat dingin tiba-tiba membasahi dahi mereka dengan cepat.
"Kejadian sebelumnya aku tidak sempat berhitung kepada kalian, kini kalian mengganggu selera makanku. Jika kalian tidak menyingkir dan tidak memberikan kompensasi yang setimpal maka aku akan mencari kalian" ucap Li Yuan sambil berlalu mengikuti Yue Hao.
Mendengar ucapan Li Yuan, keenam murid tersebut gemetaran. Mereka masih ingat dengan jelas peristiwa di Kota Yingjian saat ada badai topan. Serta ditambah berita tewasnya ribuan pasukan keamanan Kota yang mencarinya di kediaman keluarga Yue.
__ADS_1
"Si.. Sial kenapa aku tidak menyadari ada Nona Yue di sini" umpat seorang murid paling senior tersebut.
"Ayo lekas turun, kita harus segera memberinya penjelasan" pungkasnya sambil turun untuk mengejar Li Yuan.
Jia Hien dan Nu Nian terkesiap, mereka berdua tidak menyangka jika para pendekar yang mencari gara-gara dengan mereka dengan cepat lari ketakutan.
"Kelihatannya pendekar muda itu orang terkenal di wilayah sini" ucap Jia Hien kepada Nu Nian.
"Sepertinya memang demikian, hanya dengan beberapa kata mereka langsung ketakutan" jawab Nu Nian dengan pelan.
Sebelumnya baik Jia Hien maupun Nu Nian sempat berpikiran jika orang itu adalah Li Yuan yang selama ini mereka kenal. Tetapi setelah peristiwa yang baru saja terjadi mengindikasikan hal yang berbeda. Setidaknya lelaki tersebut berasal dari kelompok yang sama atau merupakan putra bangsawan Kota Nanguan.
Sementara di luar rumah makan, pemandangan enam orang yang tengah panik begitu terasa. Tiba-tiba terdengar suara dari seorang pelayan rumah makan.
"Tuan-tuan, baru saja ada pesan untuk anda semua. Anda semua diminta untuk membawakan makanan yang sedang kami siapkan ke keluarga Yue" ucap seorang pelayan dengan tergesa-gesa.
"Huh... Untunglah jika hanya seperti ini" ucap murid yang paling senior diantara mereka.
"Sepertinya kita harus menjaga sikap mulai sekarang" ucap seorang dari kelompok murid Sekte Angin Puyuh tersebut.
"Keberadaan pendekar tersebut terlalu mengerikan, aku tidak habis pikir dari mana keluarga Yue merekrut pendekar sekuat itu. Apalagi ia masih sangat muda, tidak terbayang kekuatannya di masa depan" ucap murid yang lain menahan takut.
Di tempat lain, di sebuah sudut jalan Ibukota Nanguan tampak Yue Hao dan Li Yuan sedang berjalan santai.
"Yuanli, apakah kamu tidak keterlaluan memberikan mereka pelajaran seperti itu?" tanya Yue Hao yang merasa heran.
"Itu hanya pelajaran yang sangat ringan. Mereka adalah tumpuan Sektenya untuk berbakti pada masyarakat. Namun jika dibiarkan sikap mereka seperti itu maka niat baik mereka akan terkikis oleh perbuatan yang memalukan" ucap Li Yuan dengan serius.
"Sebagai garda terdepan Sekte, seharusnya mereka bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat jika tidak semena-mena" pungkas Li Yuan dengan serius.
Bagi Li Yuan, untuk menciptakan keadilan yang sebenarnya harus dimulai dari pribadi yang menegakkan keadilan itu sendiri. Secara sederhana ia harus memberikan contoh yang baik dan konsisten terhadap apa yang ia kerjakan sehari-hari.
__ADS_1