
Saat berikutnya ia berteriak. "Teknik Pengekang Jiwa"
Setelah mengatakan hal tersebut seluruh prajurit yang melayang tidak dapat bergerak, ada tatapan keputusasaan di mata mereka yang berjumlah ribuan orang. Detik berikutnya, tampak pedang tiga elemen melambai membelah udara di atas kepala Li Yuan.
Jenderal Chen Sheng semakin ketakutan, jelas ia merasakan jika pemuda yang di juluki sebagai pendekar pedang tiga elemen tersebut sedang mengekspos jati dirinya.
Sebuah kekuatan besar meledak di dalam tubuh Li Yuan, kali ini ia tidak menggunakan pedang untuk membunuh. Pada saat ini Li Yuan tengah mendorong energi magma dari pusat inti energinya yang selama ini tidak ia keluarkan secara maksimal. Gurunya pernah mengatakan untuk tidak mengeluarkan teknik tersebut jika tidak dalam keadaan terpaksa.
Pada saat ini hawa di sekitar kediaman Jenderal Chen Sheng berubah dengan ekstrim, dalam radius tertentu berubah menjadi panas. Dari telapak tangan kanan Li Yuan tercipta bola energi berwarna merah keemasan yang sangat besar.
Li Yuan lalu melemparkan energi panas tersebut ke atas udara yang kini terdapat ribuan prajurit yang sedang melayang.
"Boooommm"
Bola energi meledak dengan sangat keras dan menghancurkan tubuh para prajurit Jenderal Chen Sheng dalam satu pukulan. Tubuh mereka berubah menjadi serpihan debu yang diterbangkan oleh hembusan angin.
Bahkan saking dahsyatnya ledakan tersebut, seluruh bangunan yang berada di bawahnya ikut meledak dan hancur berkeping-keping lalu berubah menjadi percikan bunga api yang sangat mengerikan.
Dalam sekejap tempat yang semula megah dan indah, kini berubah menjadi seperti neraka dunia. Kerusakan yang ditimbulkan benar-benar sangat mengerikan. Beberapa sudut tercipta lubang yang cukup besar akibat serpihan dari bola energi yang meledak di tanah.
Yue Hao yang berada dalam perlindungan kubah es buatan Li Yuan tidak terlalu merasakan dampak berlebih. Hanya saja lapisan kubah es mulai menyusut dan ada hawa hangat yang merembes ke dalam kubah tersebut.
Sementara pemandangan Jenderal Chen Sheng sangat memprihatinkan. Meskipun ia sudah menciptakan lapisan energi pelindung untuk mengurangi efek ledakan bola energi yang dihempaskan oleh Li Yuan, tubuhnya masih terluka dengan parah dan pakaiannya terlihat compang-camping.
Dari kejauhan pasukan yang dipimpin oleh Yue Fei menjadi terkejut. Untuk sesaat mereka menghentikan langkah untuk menyaksikan sebuah ledakan yang sangat dahsyat menggema di seluruh pusat Kota Nanguan.
"Ayah, sepertinya ledakan itu berasal dari kediaman Jenderal Chen Sheng" ucap Yue Feng yang ikut dalam aksi penyelamatan adiknya.
Sebagai kakak, tentu Yue Feng akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan adik satu-satunya tersebut.
"Sepertinya begitu, ayo kita bergerak lebih cepat" ucap Yue Fei dengan cemas.
__ADS_1
Ia memikirkan keselamatan putrinya yang kini berada di tangan Jenderal Chen Sheng. Dengan semangat membara ia menghentakkan kudanya lebih kencang, jarak tempat tinggal Jenderal Chen Sheng hanya tinggal beberapa ratus meter lagi.
Melihat efek serangannya barusan, Li Yuan sedikit tercengang. Pukulan tunggal yang ia keluarkan di udara sekali pun memiliki efek merusak yang luar biasa. Padahal ia juga tidak mengeluarkan kekuatan penuhnya.
Li Yuan perlahan menghentakkan kakinya, ia melangkah maju ke depan. Bersamaan dengan hentakan kakinya, seketika lapisan es putih yang sangat dingin muncul di tanah. Setiap langkahnya, Qi dingin menyebar dengan cepat untuk memadamkan beberapa titik api yang tercipta akibat ledakan dahsyat tadi.
"Am.. Ampuni aku" terdengar suara lirih dari Jenderal Chen Sheng.
Li Yuan menatap penuh kebencian ke arah Jenderal Chen Sheng, kemudian ia melangkah mendekat.
"Buuggh"
Sebuah pukulan telak mendarat di perut Jenderal Chen Sheng, membuatnya terhempas beberapa meter ke belakang sebelum menyemburkan seteguk darah dari mulutnya.
Bersamaan dengan hal itu Yue Fei dan pasukannya tiba di gerbang pintu masuk kediaman Jenderal Chen Sheng dan segera menuju tempat tinggal utama.
"Siapa yang telah menghancurkan tempat ini?" ucap Yue Fei pelan sambil bergidik ngeri.
Namun anehnya mereka tidak melihat pasukan Jenderal Chen Sheng yang berjumlah ribuan orang tersebut. Hal ini yang semula mereka bersiaga penuh, kini menurunkan kesiagaannya.
"Ayah lihatlah"
Ucap Yue Feng sambil menunjuk ke arah Li Yuan yang sedang menghantam tubuh Jenderal Chen Sheng yang terlihat memprihatinkan.
Tatapan mata Yue Fei bersinar cerah, ia melihat sosok pemuda yang sudah ia kenal, kemudian ia berkata ke arah pasukannya.
"Berhenti! Kalian semua tunggu saja di sini sambil berjaga".
Lalu Yue Fei, Yue Feng dan pendekar ahli keluarga Yue melangkah maju mendekat ke arah Li Yuan.
"Sepertinya kita tertinggal sebuah pertunjukan besar" ucap Yue Fei kemudian dengan senang.
__ADS_1
Para pengikutnya hanya bisa mendengarkan tanpa berani menyelanya. Pemandangan yang mereka saksikan benar-benar mengerikan, seluruh bangunan yang berada di tempat ini telah luluh lantah dan kini sudah terbungkus oleh lapisan kristal es.
"Tolong maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengganggu keluarga Yue Fei di masa depan" ucap Jenderal Chen Sheng yang masih dalam kondisi telentang setelah terkena pukulan Li Yuan.
Li Yuan hanya menyeringai dengan senyum dinginnya lalu melangkah kembali mendekati tubuh Jenderal Chen Sheng. Sambil mengangkat kaki kanannya lalu ia menekuk lututnya.
"Buuggh"
Sebuah tendangan keras menghantam kepala Jenderal Chen Sheng hingga terpendam ke dalam tanah.
Ada rasa sakit yang tidak terkira yang dirasakan oleh Jenderal Chen Sheng, ia yang selalu diperlakukan terhormat kini terlihat sangat menyedihkan.
Meskipun tindakan Li Yuan barusan tidak membunuhnya, namun ia juga merasakan sakit yang tidak terkira. Kekuatan Li Yuan berada jauh di atasnya, tentu ia merasakan intimidasi yang luar biasa.
Baru saja Jenderal Chen Sheng hendak mengalirkan Qi untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya, tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam tubuhnya.
"Buuggh"
Dengan sangat cepat kepala Jenderal Chen Sheng terangkat karena merasakan sakit di perutnya.
Kali ini pukulan Li Yuan menghancurkan pusat energi yang bersumber di perutnya. Secara perlahan, Jenderal Chen Sheng merasakan penderitaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Bunuh aku" ucapnya dengan nada lemah dan putus asa.
"Nyawamu belum waktunya terlepas. Kau akan mati di kampung halamanmu tidak di tempat ini" ucap Li Yuan dengan dingin.
Mendengar ucapan Li Yuan membuat Jenderal Chen Sheng semakin ketakutan, sebagai seseorang yang berasal dari Kota Jincheng ia memiliki harkat dan martabat yang tinggi.
"Tolong jangan lakukan itu" ucapnya dengan ekspresi yang menyedihkan.
Jenderal Chen Sheng ingin mengambil pedangnya untuk bunuh diri, namun pada saat ini hati dan pikirannya sudah tidak dapat mengendalikan anggota tubuhnya lagi.
__ADS_1