
Selama beberapa hari berikutnya, Li Yuan tenggelam dalam kultivasinya dan beberapa kali juga ia mengalami terobosan. Ia terus mengoptimalkan kondisi tubuhnya pada tingkat yang ekstrim demi mengejar harapannya. Dengan teknik kultivasi Aura Naga, Li Yuan terus menghisap energi alam yang ganas hingga udara di dalam kamarnya pun menjadi hangat akibat dari lonjakan energi yang ia miliki.
Hanya dalam waktu tujuh hari sejak ia mulai bangun dari komanya, Dantian di dalam tubuh Li Yuan telah kembali normal, bahkan tingkat kultivasinya meningkat dari yang tubuh sebelumnya miliki. Dengan mempelajari teknik napas aura naga, kini kultivasinya sudah berada di ranah Pendekar Raja Tingkat Akhir.
Di masa depan Li Yuan yakin akan mampu bangkit kembali menjadi yang terkuat dengan panduan tiga kitab tingkat dewa yang kini berada di dalam tubuhnya.
Setelah beberapa hari berkultivasi, Li Yuan kini dapat merasakan kembali peningkatan panca inderanya menjadi lebih baik. Sebelum Li Yuan membuka kedua matanya, ia mendengar suara ayahnya yang sedang berlatih beladiri di halaman rumahnya.
Ia membuka matanya, lalu mengalirkan Qi dalam tubuhnya dan merasakan kekuatannya sudah stabil. Selain itu, rasa laparnya juga kembali menghinggapi tubuhnya yang memang selama beberapa hari ini kosong belum terisi makanan.
Meskipun tidak seperti sebelumnya, kini dengan kebangkitan Qi nya ia lebih bisa mengontrol kebutuhan jasmaninya tersebut. Li Yuan kemudian melangkah keluar kamarnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menggunakan pakaian yang baru.
"Tuan muda, semakin terlihat lebih baik sekarang" ucap pelayan yang biasa melayani keluarga Li Yuan.
"Terimakasih bi" ucap Li Yuan dengan sopan.
Seperti biasanya, Li Yuan tidak melewatkan santapan hidangan yang sudah disiapkan ketika ia sedang membersihkan diri.
Setelah dirasa cukup Li Yuan kemudian melangkah keluar rumah untuk melihat ayahnya berlatih jurus pedang. Meskipun ia merasa asing dengan tubuh dan masa lalunya, namun ia belajar menerima keadaan. Identitas sebagai putra Penatua Li Fu, harus ia jalani dengan sebaik mungkin. Seandainya ia berkata yang sejujurnya pun tidak akan ada yang percaya, yang ada ia hanya akan dianggap sebagai orang gila.
__ADS_1
Sebagai seorang anggota Klan Li, jurus berpedang yang kini dilatih oleh ayahnya adalah jurus pendamping. Orang-orang di Klan Li umumnya melakukan jurus tangan kosong sebagai andalan mereka dalam bertarung, seperti yang dilakukan oleh Li Feng saat mengalahkan Li Yuan pada pertandingan uji bakat sebelumnya.
Melihat ayahnya berlatih, Li Yuan tidak enak hati untuk mengganggunya. Oleh karena itu ia ingin pergi ke pusat kota untuk mencari beberapa barang yang ia ingin beli.
Li Yuan memandang cincin penyimpanan yang melingkar di jarinya, selama bergabung dengan tubuh barunya ia belum sempat memeriksa isi di dalamnya. Kemudian setelah menyuntikkan sedikit Qi, ia memeriksa isi yang terdapat di dalam cincin penyimpanannya tersebut.
Sebagai seorang putra Penatua keluarga besar, Li Yuan tidak kekurangan uang. Di dalam cincin penyimpanannya yang berkelas rendah tersebut ia melihat beberapa tumpukan koin perak dan emas.
"Sepertinya pemilik tubuh masa laluku hidup berkecukupan" gumam Li Yuan di dalam hatinya.
Setelah keluar dari kediamannya dan dengan mengandalkan ingatannya, Li Yuan berjalan menelusuri jalan yang akan mengarahkannya ke pusat kota Qiang.
Di masa lalu, Li Yuan lahir dan dibesarkan di kota Qiang. Meskipun lahir di kota besar, Li Yuan tidak memiliki teman atau saudara yang dekat kepadanya. Sikap ayahnya yang protektif serta lebih memfokuskan latihan beladiri, membuat Li Yuan benar-benar terlalu sibuk untuk mengejar kekuatan.
Bahkan sikap dinginnya tercipta kepada banyak orang, hanya kepada ayah dan pelayan rumahnya Li Yuan mau berbicara lebih banyak. Oleh karena itu tidak heran saat Li Yuan terluka tidak ada sahabat atau kerabat yang menengoknya. Meskipun ia termasuk pemuda berbakat di Klan Li, namun pengaruh Li Feng lebih dominan sebagai putra Patriark.
"Ho ho ho... Bukankah ini Li Yuan si pecundang? Aku tidak mengira kau masih hidup dan berani ke pusat Kota Qiang. Jika itu di masa lalu maka aku tidak akan berani terhadapmu, namun kini kau hanyalah sampah Klan Li" ucap seorang pemuda dengan arogan.
Sepertinya ada kekesalan di dalam diri pemuda tersebut saat melihat Li Yuan, ia ingin sekali menghajar Li Yuan pada saat ini. Bahkan beberapa orang pemuda yang mengikutinya juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Li Yuan tidak mengatakan apapun, sambil menatapnya dengan dingin ia sedang mencari informasi tentang pemuda yang sebaya dengan dirinya tersebut.
Menurut catatan informasinya, pemuda yang berada di hadapannya adalah Liu Tsang seorang tuan muda keturunan langsung Patriark Klan Liu. Ia merupakan pemuda berbakat yang sebelumnya sering ditindas oleh Li Yuan, tidak menutup kemungkinan hari ini ia akan menuntut balas.
Di masa lalunya, Li Yuan sempat beberapa kali memberikan pelajaran kepada Liu Tsang dan pengikutnya ketika mereka bertemu. Sebagai dua klan yang saling bermusuhan, tentu Li Yuan tidak ragu dalam melakukan aksi tersebut.
"Apa yang ingin kau lakukan?" terdengar suara Li Yuan dengan tatapan dingin.
"Kukira hanya kultivasi mu yang dihancurkan tetapi kau juga malah menjadi bodoh setelah dihajar Li Feng. Hari ini aku akan menghajar mu atau malah aku ingin menghabisi mu" ujar Liu Tsang dengan arogan.
Sebagai seorang pendekar yang sudah memasuki ranah Pendekar Raja tahap awal, Liu Tsang merasa yakin bisa menghabisi Li Yuan dengan mudah. Apalagi kini Li Yuan dikenal sebagai pemuda sampah Klan Li, membunuhnya pun tidak akan menjadi masalah bagi Klan Li yang memang sudah membuangnya.
Beberapa orang yang mengikuti Liu Tsang segera mengepung Li Yuan yang kini tampak seperti domba yang dikelilingi oleh serigala.
"Huh.. Sungguh malang anak tersebut" ucap beberapa orang yang sedang melintas.
Masyarakat Kota Qiang sudah tidak asing dengan pertikaian seperti ini, namun mereka bergeming ketika melihat pihak yang bertikai adalah orang-orang dari Klan Liu dan seorang pemuda Klan Li. Mereka adalah dua kekuatan keluarga yang tidak bisa diikut campuri oleh keluarga biasa, sehingga melihat hal ini orang-orang hanya terdiam.
Dalam waktu singkat banyak orang yang sudah berkumpul untuk menyaksikan hal tersebut. Meski mereka banyak yang mengenal Li Yuan namun kali ini mereka bertaruh untuk kemenangan Liu Tsang. Hal ini tentu saja terkait dengan luka dalam yang sebelumnya Li Yuan alami.
__ADS_1