Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
100: Terjebak


__ADS_3

“Tidak sekarang, karena sepertinya mereka ingin menghabisi kita karena melihat apa yang mereka lakukan tadi.” Hao Long lalu mengambil jalan memutar. Namun begitu, Rao Di dan Tu Bei terus mengikuti mereka berdua.


Hao Long dan Li Annchi lalu memutuskan keluar dari kota Lipu melalui gerbang barat. Keduanya menyadari mereka tidak akan dilepaskan oleh kedua manusia kristal itu.


Rao Di dan Tu Bei terlihat senang saat melihat kedua orang yang mereka ikuti, keluar dari kota Lipu. Dengan begitu mereka bisa membunuhnya dengan leluasa.


Namun penjagaan di kota Lipu sedang di perketat. Hari ini tidak ada seorang pun yang diperbolehkan keluar dari Kota Lipu dengan alasan apapun.


Saat Itulah Hao Long mengetahui bahwa mereka berempat sedang dicari oleh aliansi Aliran Hitam.


“Apakah kedatangan kami tadi terlihat oleh mereka? Jika tidak, dari mana mereka mengetahui kalau kami sudah berada di kota ini?”


Menyadari hal itu, Hao Long mengajak Li Annchi agar segera kembali ke penginapan mereka. Ia mengkhawatirkan keselamatan Tetua Fu Xia dan Shi Mey.


Namun tidak diduga oleh keduanya, Rao Di yang ingin sekali membunuh mereka, melepaskan serangan tersembunyi dengan melesatkan serbuk Kristal Penghancur Raga.


Hao Long yang melihat hal itu, segera menggerakkan tangannya untuk memeluk Li Annchi seraya menepis serangan itu sehingga serbuk kristal Rao Di terpental dan mengenai beberapa orang anggota Aliansi.


Letupan kecil segera terdengar dari sekujur tubuh dua orang yang berada tak jauh dari Hao Long. Jeritan kedua orang itu, membuat anggota lainnya segera berdatangan.


“Long Apa yang kau lakukan?” Li Annchi merasa jengah dipeluk oleh Hao long di depan banyak orang.


“Tenanglah, Dua orang tadi melepaskan senjata rahasia menyerang kita. Dan aku menepisnya dengan memelukmu. Hal itu wajar dilakukan oleh suami kepada isterinya bukan?” Hao Long mempererat pelukannya di pinggang ramping Li Annchi.


Sementara Rao Di dan Tu Bei terkesiap melihat apa yang dilakukan oleh Hao Long, mereka akhirnya menyadari jika Sepasang suami isteri yang ingin mereka bungkam, bukan orang sembarangan.


“Ternyata mereka berdua seorang kultivator tingkat tinggi, Aku tidak bisa merasakan energi pria itu saat menepis seranganku.” Rao Di berkata seraya tersenyum.


Jarak dirinya dan ke dua orang yang sekarang telah tewas itu, terpaut lima meter saja. Hal yang membuat para anggota Aliansi segera mengepung Rao Di dan Tu Bei.

__ADS_1


“Siapa Kau?! Mengapa membunuh rekan kami?” Tanya seorang pria yang sepertinya adalah Tetua Sekte Rantai Besi seraya menghunuskan pedang ke wajah Rao Di. Hal itu Ia lakukan, karena sempat melihat Rao Di menggerakkan tangannya.


“Apa maksud Anda Tuan? Kenapa Aku yang Anda tuduh melakukan ini?” Rao Di memasang wajah takut walau suaranya terdengar lantang.


“Aku melihat mu menggerakkan tangan dan kedua rekan kami-tiba-tiba roboh dengan sekujur tubuh yang seperti itu.” Tetua Sekte Rantai Besi itu berkata dengan suara tegas.


“Benar Kami berdua juga melihatnya!” Dua orang Kakek yang tak lain adalah Patriark Cao Hung dan Patriark Peng Chu melesat turun dari udara.


“Kau menyerang suami isteri itu bukan?” Tanya Patriark Cao Hung sambil menunjuk ke arah Hao long dan Li Annchi yang pinggangnya masih dipeluk erat oleh Hao Long.


“Hahahaha … Begitu rupanya, jadi Aku tidak bisa mengelak lagi. “ Rao Di akhirnya mengakui semua perbuatannya. Namun bukan tanpa tujuan.


“Lalu mengapa Kau tak menahan pria itu? Dia yang telah menepis seranganku hingga mengenai kedua anak buah kalian. Dia seorang Kultivator yang menyembunyikan kekuatannya. Pasti mempunyai niat yang tidak baik juga bukan?”


“Begitu rupanya!” Patriark Cao Hung baru memahami apa yang terjadi. “Tangkap juga suami isteri itu, biar kami berdua yang akan menangkap kedua orang ni.”


Puluhan orang anggota dan Tetua dari kedua sekte yang menguasai Kota Lipu itu, segera mengepung Hao Long dan Li Annchi, sementara Patriark Cao Hung dan Peng Chu bersiap melumpuhkan Rao Di dan Tu Bei.


Belum sempat Hao Long menyelesaikan kata-katanya, Li Annchi telah mengerahkan energi qi-nya yang berhawa sangat dingin. Suhu udara berubah menjadi sangat dingin hanya dalam hitungan detik saja.


Semua orang terkejut, dan berusaha menjauh, namun banyak dari mereka yang terlambat dan segera merasakan tubuhnya menjadi kaku karena dan perlahan membeku oleh Aura Li Annchi.


“Apa Kau juga ingin membunuh penduduk kota yang tidak bersalah Annchi?” Setelah melihat sekitar dua puluh orang yang mengepung mereka tewas dengan tubuh membeku, Hao Long mengingat Li Annchi.


Sementara Rao Di dan Tu Bei terkesiap merasakan terpaan Aura yang sangat dingin itu, demikian juga dengan Patriark Cao Hung dan Peng Chu.


“Bei … Mereka berdua ternyata… “ Tu Bei mengangguk seraya melesat dengan sangat cepat meninggalkan tempat tersebut disusul oleh Rao Di sedetik kemudian.


Patriark Cao dan Peng Chu kembali terkesiap melihat kecepatan gerak kedua orang yang hendak mereka tangkap tadi.

__ADS_1


Tubuh keduanya tak berhenti bergetar apalagi sesaat kemudian, Hao long melesat mengejar kedua orang itu dengan kecepatan yang jauh lebih cepat lagi.


“Apa Tujuan kalian mencari Kami berempat? Apa karena kematian dua orang yang tubuhnya bisa berubah menjadi Angin?”


Li Annchi bertanya dengan tatapan tajam ke arah kedua kakek yang sedang kebingungan dengan situasi yang mereka hadapi. Namun sebuah suara segera terdengar dari atas mereka.


“Tak Ku sangka ada juga manusia di dunia ini yang memiliki kultivasi tinggi di usia semuda dirimu Nona.” Suara tersebut berasal dari angin berwarna hitam yang berputar seperti tornado kecil.


Perlahan angin tornado hitam itu, melesat turun dan memudar berubah menjadi Sosok manusia yang tak lain adalah Qian Bhu.


Selang beberapa detik kemudian, angin tornado lain datang dan memperlihatkan wujud satu orang dari Tiga Angin Kematian yang sempat melarikan diri sebelumnya.


“Apakah dia salah satu dari keempat orang itu?” Tanya Qian Bhu kepada muridnya. “Benar Guru! Dia berada di sana saat itu.”


Wajah Qian Bhu berubah menjadi hitam, sebuah tanda jika Ia sedang marah besar. Hal itu membuat Patriark Cao Hung dan Peng Chu segera menjauh hingga lima puluh meter dari mereka diikuti oleh para Tetua mereka.


“Kasihan sekali, perempuan secantik itu harus mati dengan cepat.” Salah seorang Tetua berkata yang segera disambut oleh Tetua yang lain.


“Benar sekali, seandainya bukan Penguasa Qian Bhu yang menjadi lawannya, mungkin ada harapan perempuan itu masih hidup. Sayang Sekali Ckckck …”


Patriark Cao Hung dan Patriark Peng Chu hanya saling menatap. Menyadari kebodohan para Tetua mereka.


“Diamlah Kalian! … jangan remehkan perempuan itu! Bisa jadi dia yang akan membunuh Tuan Qian Bhu. Jika itu terjadi, kita harus segera pergi dari kota ini.”


Semua Tetua dan Anggota kedua sekte yang mendengar hal tersebut, tertegun mendengar ucapan Patriark Cao Hung.


Saat ini hanya kedua Ketua Sekte itu yang mengetahui berita jika Kota Kaiping telah berhasil dikuasai oleh Aliansi Aliran hitam yang dibantu oleh sepasang Kultivator muda yang memiliki kemampuan sangat tinggi.


Berita itu baru saja tiba dan keduanya belum sempat memberitahu Qian Bhu tentang hal tersebut.

__ADS_1


------------------------O-----------------------------


__ADS_2