
Aura keemasan memancar dari tubuh Biksu Chang Lin sesaat setelah Ia merapal mantera Lonceng Dewa. Aura itu kemudian membesar lalu membentuk sebuah Lonceng raksasa yang menyelimuti Ketiga orang itu.
Aura kekuatan Fu Ling mereda, tekanan dari jurus Jarum Pengikat jiwa terlihat melemah. Sepasang orang suami isteri itu terlihat mulai bisa berkonsentrasi mengobati Huang Bao.
WUSSS
Tiba-tiba selarik sinar merah melesat keluar dari bagian atas kepala Shi Tong. Sinar itu menghantam lonceng raksasa itu hingga terjadi ledakan sangat keras.
BLAAAR
Tubuh halus biksu Chang Lin terpental dan memuntahkan darah segar, sesaat kemudian tubuh halus itu menghilang kembali ke Tubuh Fana Biksu Sepuh itu. Aura berbentuk Lonceng pun menghilang sesaat setelah ledakan.
“Biksu Chang!” Qiu Heng yang berada disamping Tubuh Fana Biksu Chang Lin terkesiap, mendapati tubuh itu terkulai jatuh dengan mulut mengalirkan darah.
Sementara Shi Tong terlihat sedang meronta-ronta sambil memegangi kepalanya. “Tidak!! Aku tidak Sudi!” Namun sekuat apapun Ia meronta, Jarum pengikat Sukma terlalu kuat untuk Ia lawan.
AARRRGFGGHHH
Shi Tong menjerit keras, seraya melepaskan aura di Tahap Puncak Tingkat Dewa. Kedua matanya terlihat menyala, hal yang menunjukkan jika dirinya telah berada dalam kendali Gao Baidi.
BUGHHH
Tubuh Huang Bao terlempar dan kepalanya membentur tembok dengan keras. Untuk sesaat. semua orang terkesiap melihat hal tersebut.
Tetua Fu Xia yang pertama bergerak, Ia melesat ke arah Huang Bao yang telah kehilangan kesadarannya, akibat darah yang mengalir dari kepalanya yang retak.
Sesaat kemudian tubuh tokoh tua mengejang, lalu terkulai karena nyawanya telah melayang meninggalkan jasadnya.
Ying Yu yang melihat hal tersebut, menatap ke arah jasad Huang Bao dan kemudian menjerit histeris. Ia tak ingin percaya apa yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari Fu Ling yang kini sedang meronta menahan rasa sakit di kepalanya. Seperti halnya Shi Tong, Fu Ling tak kuasa melawan kekuatan hipnotis dari Gao Baidi melalui Jarum Pengikat Jiwa yang berada di kepala mereka.
Mata Fu Ling terlihat merah menyala, seperti halnya Shi Tong. Lalu terlihat Shi Tong melesat ke arah Qiu Heng dan hendak mencekik lehernya.
Tentu saja Qiu Heng yang telah kehilangan Kultivasi, tidak mampu menghindari serangan cepat dari Shi Tong. Namun sejengkal lagi tangan Shi Tong meraih lehernya, sebuah tendangan dari Tetua Fu Xia membuat Shi Tong menarik kembali serangannya.
Ledakan yang tadi terjadi, telah membuat ketua Sekte yang lain berdatangan ke tempat tersebut. Saat melihat Matriark Ying Yu sedang bertarung dengan Fu Ling, mereka pun menjadi heran.
Sementara Tetua Fu Xia yang sedang menghadapi serangan Shi Tong yang mengamuk, terlihat mulai terdesak hebat. Beberapa Ketua Sekte yang membantu, tak kuasa untuk menahan serangan Shi Tong.
__ADS_1
Kekuatan Shi Tong terus meningkat, demikian juga dengan Fu Ling. Dewi Kipas Pelangi yang juga berada di Tahap Puncak Tingkat Dewa, mulai terdesak.
Hal itu karena kekuatan yang Fu Ling tunjukkan, sudah jauh di atas kekuatannya. Semua orang akhirnya terpental dari menjauh dari sepasang Suami isteri tersebut.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?” Tetua Fu Xia yang baru saja bangkit, menatap suami adiknya itu dengan tatapan heran dan sedih.
Sesaat kemudian terdengar pekikan dari Ying Yu. Tubuhnya terpental dan membentur dinding ruangan dengan keras. Darah terlihat menetes dari sudut bibirnya.
Saat itu, Shi Tong dan Fu Ling kembali melesat ke arah lawan-lawan mereka. Namun mendadak tubuh keduanya terpental ketika sebuah cahaya hijau yang berpusar muncul di dalam ruangan tersebut.
“Paman! Bibi! Sadarlah!” Hao Long muncul dari pusaran cahaya hijau itu bersama Li Annchi dan Gao Bairi. Sesaat kemudian pusaran cahaya hijau itu pun menghilang.
“Chi’er … Sekarang saatnya kau gunakan kekuatan Mustika Giok Inti Es itu.” Li Annchi pun segera mengeluarkan Mustika Giok Inti Es dari cincin ruangannya.
Semua orang segera keluar dari dalam ruangan, saat tiba-tiba hawa sangat dingin memenuhi udara dalam ruangan tersebut. “Long … Kunci pergerakan mereka!”
Hao Long pun mengangguk seraya mengeluarkan aura kekuatan di Tingkat Dewa Sejati tahap Tiga.
Dinding Ruangan itu pun bergetar sebelum akhirnya pecah, atap bangunan terlempar ke udara dan terburai hancur sesaat setelah Hao Long mengeluarkan kekuatannya.
Dengan aura kekuatannya itu, Hao Long mengarahkan kedua telapak tangan nya ke arah Shi Tong dan Fu Ling yang baru saja terdorong ke belakang akibat diterpa aura kekuatan Hao Long.
Shi Tong dan Fu Ling berteriak keras. Keduanya meronta-ronta mencoba untuk melepaskan diri dari jurus Cengkeram Jari Naga yang Hao Long.
Li Annchi segera melesat ke belakang kedua orang itu, Ia pun menempelkan telapak tangan kirinya ke punggung Shi Tong. Tubuh Shi Tong tersentak sesaat setelah tersentuh telapak tangan Li Annchi.
Shi Tong, menjerit keras, sakit luar biasa Ia rasakan di kepalanya. Li Annchi yang mendapatkan penjelasan dari Gao Bairi, menarik keluar Jarum Pengikat Jiwa sepanjang lima centimeter itu.
Setelah Shi Tong jatuh tak sadarkan diri, Li Annchi lalu meremas jarum energi itu hingga meledak hancur. Hal yang sama segera Ia lakukan pada Fu Ling.
Hao Long menarik kembali jurusnya setelah melihat Li Annchi meledakkan jarum pengikat Jiwa yang Ia ambil dari kepala Bibi Fu Ling.
Dengan energi penyembuh Persik Dewa, Hao Long mengobati luka-luka sepasang suami isteri tersebut. Saat itu Hao Long tertegun mendengar ucapan Shi Tong.
“Long’er… Bunuhlah Aku! Aku tak kuasa untuk mengendalikan tubuhku sendiri hingga Sesepuh Huang Bao harus tewas di tanganku!”
Tubuh Hao Long bergetar, Ia sangat tidak menduga jika niatnya untuk mengobati orang yang sudah dianggapnya sebagai Kakek, ternyata malah membunuhnya.
Hao Long jatuh terduduk dengan tangan yang terkepal kuat. Li Annchi yang melihat hal itu, segera menenangkan Hao Long dengan memeluknya erat-erat.
__ADS_1
Di luar dugaan, Shi Tong melakukan tindakan nekat dengan mengalirkan energi besar ke telapak tangannya, lalu Ia hendak menampar kepalanya sendiri untuk mengakhiri hidupnya.
Namun tangannya tak mampu Ia gerakan, Sementara Gao Bairi menatapnya tajam. ”Apakah dengan membunuh dirimu sendiri, lalu orang bernama Huang Bao itu akan hidup kembali?!”
Shi Tong mengalihkan pandangannya, namun Ia menyadari jika sosok yang terlihat seperti Gao Baidi itu adalah Gao Bairi. “Sesepuh Bairi …??!”
***
Di kota berjarak hampir seribu kilometer dari Kuil cahaya Abadi, Wajah Gao Baidi terlihat menunjukkan kemarahan yang sangat besar.
“Bairi! … Selalu saja Kau berdiri dan melawanku!! Ayah kenapa Kau begitu kejam kepada kami!” Gao Baidi meraung marah.
Satu-satunya alasan kenapa Ia tidak membunuh Saudara kembarnya adalah karena Segel Kristal Jiwa yang berada di dalam tubuh mereka berdua. Segel yang ditanam oleh Ayah mereka sejak baru lahir.
Sang Ayah pernah berpesan bahwa mereka berdua harus saling melindungi satu sama lain. Apabila salah satu mati, maka yang lain akan ikut mati.
Entah apa alasan Ayahnya melakukan hal tersebut. Yang pasti, hal ini membuat Gao Baidi merasa kesal, seandainya saja tidak ada segel Kristal Jiwa itu di tubuh mereka, maka sudah sedari dulu Ia membunuh Saudara kembarnya itu.
Menurut penjelasan Ratu Iblis yang bersemayam dalam Pedangnya, Segel tersebut bisa saja di buang dari tubuhnya dengan sebuah racun.
Tapi Racun itu sangat sulit untuk dibuat, bahkan diperlukan bahan yang tidak sedikit dan juga langka, selain itu, diperlukan Alkemis racun yang hebat.
Saat terdiam memikirkan rencana selanjutnya, tiba-tiba masuk seorang tetua Sekte Pedang Api Hitam. “Patriark Xiong ada seorang perempuan bernama Diao Chi ingin bertemu Anda.”
“Diao Chi, Si Dewi Bunga Hitam? Apakah Ia Akan mengamuk kepada ku karena muridnya Jing Li telah tewas?” Xiong Hu berguman setelah menyuruh Tetuanya mengantarkan tamu mereka.
Sementara Gao Baidi tersenyum setelah mengetahui siapa yang akan datang. Ia memiliki ingatan Xiong Hu, sehingga sebuah rencana terbersit dalam kepalanya.
“Dewi Bunga Hitam memiliki kemampuan meracik racun yang hebat, Aku harap Ia bisa membuat racun dengan serbuk Kristal milikku ini. Dengan begitu, Aku bisa membunuh Bairi tanpa Aku harus ikut mati dengannya.”
***
Di saat yang sama dengan apa yang terjadi di Kuil cahaya Abadi, terjadi perdebatan besar di seberang lautan dari daratan Kuno.
Tempat tersebut adalah tempat dimana manusia Klan Pasir Neraka berada. Terlihat Sha Du sedang marah kepada Seorang lelaki Tua yang hanya diam sambil memejamkan matanya.
“Du’er Jaga Sikap mu! Seharusnya kalian bersyukur karena telah selamat dari kematian!” Ayah Sha Du terlihat marah melihat sikap puteranya kepada Paman mereka sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=-O-\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1