
Hao Long akhirnya, memerintahkan Jin Shi agar mengambil arah memutar dengan melewati sebuah bukit di sebelah kanan mereka. Ia tidak ingin perjalan ke Bukit Halilintar terhambat karena harus bertarung terlebih dahulu.
Namun apa yang terjadi tidak sesuai dengan rencana Hao Long. Ketiga Aura itu kembali terasa di depan mereka. “Sepertinya mereka tak akan membiarkan kita lewat begitu saja.”
Hao Long membenarkan ucapan Tetua Fu Xia yang kini bisa merasakan kuatnya pancaran Aura dari tiga orang tersebut.
“Paman dan Adik Mey, silakan berangkat dulu Ke bukit Halilintar bersama Jin Shi. Aku dan Li Annchi yang …”
Ucapan Hao Long terhenti karena Li Annchi telah melesat terlebih dahulu meninggalkan dirinya. Hao Long pun segera berpamitan setelah berpesan kepada Jin Shi agar menuruti segala perintah Tetua Fu Xia.
“Apa yang terjadi dengan Annchi? Sejak kembali dari masa depan, Ia menjadi mudah sekali marah padaku. Apalagi sejak kami bertemu dengan Adik Mey.”
Hao Long yang berada seratus meter di belakang Li Annchi, segera mempercepat lajunya. “Annchi jangan gegabah!” Hao Long berkata setelah Ia berada di sisi kanan Li Annchi.
Li Annchi hanya mendengus kesal, Ia lalu mempercepat laju melayangnya setelah melihat tiga orang berada lima ratus meter di depan mereka, tepat di atas pucuk pohon tertinggi.
Keduanya berhenti sepuluh meter dari ketiga orang tersebut. Sesaat kemudian, Jin Shi pun tiba dan berhenti di belakang Hao Long.
“Paman Berangkat lah terlebih dahulu!” Perkataan Hao Long segera mendapat jawaban, tapi bukan dari tetua Fu Xia.
“Tidak ada yang boleh pergi dari tempat ini!” Satu dari tiga orang yang semuanya mengenakan jubah abu-abu, berkata dengan arogan.
“Siapa Kalian? Sehingga berhak melarang kami pergi dari sini!” Tetua Fu Xia yang kini berbicara kepada tiga orang yang terlihat seusia dengan dirinya.
“Kami adalah Tiga Angin Kematian, Murid dari Dewa Angin Hitam, Penguasa Kota Lipu. Kalian tidak bisa pergi sebelum menyerahkan semua cincin ruang kalian kepada kami.” Satu orang yang lain berkata dengan nada memerintah.
“Ambillah sendiri jika kalian mampu.” Ucapan Li Annchi yang ketus, membuat satu orang yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara dengan gusar.
“Nona … Aku tak akan meminta Cincin ruang mu asal kau mau menemani aku tidur semalam saja, bagaimana?” Ucapnya yang segera disambut tawa oleh kedua rekannya yang lain.
Rahang Hao Long menggembung. Kemarahannya menggelegak. Seketika itu juga tubuhnya menghilang dari pandangan.
PLAK PRAK
Dua suara tamparan yang keras, mengejutkan kedua orang lainnya. Apalagi setelah melihat apa yang terjadi dengan rekannya yang tadi baru berbicara. Wajah kedua orang itu pun memucat.
“Kultivator Tingkat Antara, berani sekali berbicara lancang pada Kekasih ku. Inilah akibat yang harus kalian terima!”
Setelah berkata demikian, Hao Long lalu melemparkan jasad pria tersebut yang kepalanya telah pecah, setelah Ia tampar sebanyak dua kali.
Tubuh orang itu segera melesat jauh dan akhirnya hancur berkeping-keping setelah Hao Long melepaskan energi dari telapak tangannya.
Dua orang yang lain segera melesat menjauhi Hao Long. Namun keduanya terkejut bukan kepalang, mendapati Hao Long telah berada di belakang mereka.
Salah satu dari mereka berhasil Hao Long cengkeram lehernya. Satu yang lain tiba-tiba wujudnya berubah menjadi seperti Angin yang kemudian melesat pergi dari tempat tersebut dengan sangat cepat.
Semua yang ada di tempat itu sangat terkejut melihatnya. Apalagi sesaat kemudian, angin tornado menggulung tubuh Hao Long dan segera membesar dan berputar dengan sangat cepat.
__ADS_1
Tubuh Hao Long terbawa putaran angin tornado itu hingga lebih dari dua kali, sebelum akhirnya Hao Long berhasil mempertahankan posisinya.
Sesaat kemudian terdengar raungan dari pusaran awan tornado yang tiba-tiba terbakar oleh api berwarna putih yang sangat terang.
Beberapa detik kemudian, angin tornado itu menghilang, memperlihatkan sesosok tubuh yang hangus terbakar dalam cengkeraman tangan Hao Long pada lehernya.
“Manusia Elemen Angin. Pantas saja mereka begitu sombong.” Ucap Hao Long sambil melempar Jasad hangus itu ke bebatuan di bawahnya hingga terburai.
***
“Siapa yang melakukan ini?” Suara Tetua Fu Xia terdengar geram, sesaat setelah mereka tiba di Bukit Halilintar yang kini menjadi gersang, seolah kebakaran besar telah terjadi di bukit itu.
Dari Ratusan bangunan, tidak ada satu pun yang berdiri dengan kondisi utuh. Hao Long pun menghela nafasnya.
“Sepertinya mereka berniat memusnahkan Sekte Halilintar. Beruntung Patriark Ou sudah memindahkan semua Anggota ke Kuil Cahaya Abadi.”
Hao Long mengamati puing-puing dengan seksama, untuk memastikan bahwa pembakaran itu baru terjadi beberapa hari yang lalu. Firasat buruk tiba-tiba membersit di dalam benak Hao Long.
“Paman, di mana goa yang paman katakan?” Tetua Fu Xia segera menunjuk ke arah selatan.
“Ada apa Long’er?” Tetua Fu Xia segera menyusul Hao Long yang telah melesat ke arah selatan diikuti oleh yang lainnya.
Hao Long menjelaskan secara singkat, dugaannya. Tapi Tetua Fu Xia membantah jika orang lain yang mengirim surat tersebut kepadanya.
Sesaat kemudian keempat orang itu telah berada di depan sebuah goa yang kini terlihat jelas setelah bebatuan yang biasa menutupinya pergi entah kemana.
“Sarang laba-laba ini sepertinya sudah sangat lama. Itu artinya tidak ada orang di dalam goa ini. Bukankah begitu Paman?”
Tetua Fu Xia menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Hao long dengan wajah yang berubah sedih. Namun tiba-tiba saja mereka melihat sesuatu yang mustahil.
Dua aura Kultivator Tingkat Dewa Tahap Menengah, memancar dari dalam goa setelah terjadi empat kali letupan di mulut goa yang tertutupi oleh sarang laba-laba itu.
“Ling’er? …” Tetua Fu Xia segera melesat setelah mengenali perempuan berusia sekitar empat puluhan tahun yang begitu mirip dengan Shi Mey.
“Xi Gege!” Sosok Fu Ling pun berteriak memanggilnya, sementara Shi Mey telah menangis dan melesat menghampiri mereka.
Pertemuan yang mengharukan orang tua dan anak itu, membuat Hao Long dan Li Annchi tiba-tiba merasakan kerinduan mereka kepada orang tua masing-masing.
“Annchi … “ Banyak hal yang ingin Hao Long ucapkan, namun isakan kerinduan Li Annchi pada keluarganya, membuatnya terdiam dan merasa bersalah. Ia pun memeluk Li Annchi yang segera menangis di dadanya.
“Long … Kapan kita kembali ke kehidupan kita yang dulu?” Pertanyaan Li Annchi semakin membuat Hao Long sedih.
Saat itulah mereka dikejutkan dengan munculnya tiga Aura Kultivator Tingkat Dewa Sejati yang rupanya telah mengepung mereka sedari tadi dengan teknik ilusi.
Teknik Ilusi yang begitu tinggi itu, bahkan membuat tetua Fu Xia dan Shi Mey kini dalam bahaya. Leher keduanya, kini berada dalam cengkeraman tangan dua orang yang menyamar sebagai Shi Tong dan Fu Ling.
“Siapa Kalian, dan apa tujuan kalian melakukan semua ini?!” Hao Long bertanya seraya mengepalkan tangan kanannya.
__ADS_1
“Hahahaha … Tidak ku duga jika kalian berdua juga akan muncul juga di tempat ini, kematian Dou Ji Akan segera terbalaskan.” Sosok yang mereka kenali sebagai Due Hai tiba-tiba muncul dari balik sebuah pohon.
Ia lal berdiri di samping Sosok sepuh dan segera memberi hormat sebelum berkata padanya.
“Pemimpin Ketiga, perempuan itulah yang telah membunuh Dou Ji.” Tangan Due Hai menunjuk ke arah Li Annchi.
Sosok yang disebut sebagai Pemimpin ke tiga itu, memiliki kekuatan yang bersumber pada pikiran sehingga bisa mengendalikan orang yang terkena jurusnya tersebut.
Tidak seperti Dou Ji dan Due Hai, tiga orang yang kali datang, tidak mengenakan kristal pelindung kepala seperti keduanya. Menunjukkan mereka memiliki tingkat yang lebih tinggi dari Dou Ji dan yang lainnya.
“Menarik sekali, Aku ingin lihat apakah mereka bisa bertahan dari jurus Pikiran Menguasai Alam milikku.” Pemimpin Ketiga segera melangkah mendekati Hao long dan Li Annchi yang telah waspada sedari tadi.
“Long hati-hati … Aku merasakan orang ini sangat kuat sekali.” Li Annchi memperingatkan Hao long seiring dengan sesuatu terjadi di dalam dantiannya.
Sejak Roh Iblis Es terlepas darinya, Li Annchi merasakan Cincin ruangnya sering bergetar sendiri dan Pedang Inti Es bergerak ke sana kemari, ketika Ia sedang berhadapan dengan lawan.
Sama seperti saat ini, Pedang Inti Es bergerak ke sana kemari dan seolah meminta untuk dikeluarkan.
Kali Ini Li Annchi menurutinya, Ia lalu mengeluarkan Pedang Inti Es bersamaan dengan Pemimpin ketiga mulai melepaskan serangannya.
Hao Long menjerit keras, seraya memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit, saat energi tak kasat mata, menerpa kepalanya dan Li Annchi.
Berbeda dengan Hao Long, Li Annchi terlihat baik-baik saja. Hal itu tentu membuat Pemimpin ketiga terkejut melihatnya.
“Mengapa serangan ku tidak bekerja pada gadis ini? Aneh sekali.” Walau heran, namun Pemimpin Ketiga yang bernama Gao Baidi itu, semakin menguatkan energi serangannya.
LI Annchi mulai memahami apa yang terjadi pada Hao Long yang telah berguling-guling di tanah karena merasakan ribuan jarum seolah menusuk kepalanya secara bertubi-tubi.
“Long … Keluarkan Pedang Awan Api!” Teriak LI Annchi seraya mengerahkan kekuatan penuhnya untuk menghalau serangan energi tak kasat mata itu.
BRRUUSSSHH
Energi besar, tiba-tiba meledak dari tubuh Li Annchi yang membuat energi serangan Gao Baidi hancur meledak dan membuat Pemimpin Ketiga itu terpental belasan meter dari tempatnya berada.
Hao Long yang terbebas dari serangan energi pikiran yang tak kasat mata itu, segera mengeluarkan Pedang Awan Api dari Cincin Ruangnya.
Namun Ia terpana sesaat setelah melihat Li Annchi yang tubuhnya kini memancarkan cahaya putih serta Aura yang luar biasa dingin-nya.
Mata Gao Baidi melotot lebar. Dengan kekuatan pikirannya Ia memerintah dua anak buahnya untuk melepaskan kedua orang yang mereka cengkeram.
Lalu dengan sebuah teknik yang sangat menguras energi qi-nya Ia membawa tiga orang anak buahnya meninggalkan tempat tersebut dengan wajah yang terlihat jerih.
“Mustahil … Bagaimana bisa Ia berada di sini!” dalam benaknya Gao Baidi terus bertanya.
Kultivator Tingkat Dewa Sejati Level Lima itu, merasa beruntung bisa pergi dari tempat tersebut dengan membawa nyawanya.
----------------------------O----------------------------
__ADS_1