
Lima orang Ketua Sekte yang belum mengetahui kemampuan Hao Long, melebarkan mata mereka dengan rasa takjub akan kemampuan yang dimiliki oleh pemuda itu.
Hong Jun, Patriark Sekte Pedang Emas, terlupa mengucapkan terimakasih saat melihat tetua sektenya telah pulih seolah tidak mengalami luka sama sekali.
Hal itu karena benaknya dipenuhi oleh firasat buruk. “Tetua Tan … Apa yang terjadi? Cepat katakan?!” Pria yang dipanggil Tetua Tan tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ampuni Aku Patriark … Mereka semua telah binasa! Termasuk Isteri dan Putera Anda.” Tubuh Hong Jun terduduk lemas. Kesedihan dan kemarahan terlihat di wajahnya, sesaat setelah Ia berteriak dengan pilu.
Semua orang terdiam menahan kemarahan dan kesedihan hatinya. Suasana sedih itu berubah ketika Tetua Tan menjelaskan bahwa Sekte berikutnya yang akan dimusnahkan adalah Sekte Pedang Bumi.
Patriark Ruan Bei yang adalah ketua Sekte Pedang Bumi, tersedak kaget. Tanpa sepatah katapun. Ia melesat keluar dari ruangan diikuti oleh kedua anggotanya.
Huang Bao dan Qiu Heng lalu mengejar dan menghentikannya. “Patriark Bei, Tunggulah sejenak, biar Aliansi ikut membantu Anda.” Selesai Huang Bao berkata, terlihat Hao Long dan yang lainnya telah menyusul mereka.
Hao Long memanggil Jin Shi dan segera melesat ke punggungnya bersama Li Annchi. Huang Bao, Qiu Heng, Patriark Ruan Bei dan kedua anggotanya, serta Patriark Hong Jun dan Tetua Tan segera ikut menyusul ke atas Punggung Singa Bersayap itu.
Dengan kecepatan yang dimiliki oleh Jin Shi saat ini, mereka satu jam lebih cepat sampai dari waktu yang ditempuh oleh Patriak Ruan Bei dengan kecepatan penuhnya.
Terlihat kepulan asap hitam membubumbung di angkasa, saat mereka telah berada seratus meter dari markas pusat Sekte Pedang Bumi. Wajah Ruan Bei memucat menyadari sesuatu yang buruk telah menimpa Sekte nya.
“Tidaakkk!!”
Teriakan keras Ruan Bei terdengar pilu. Hal itu terjadi setelah Ia menemukan jasad isteri dan kedua anaknya, terbujur kaku di atas tali gantungan yang menjerat leher mereka.
“Kita terlambat …” Hao Long mendesis dengan kesedihan yang mendalam, rahangnya menggembung dengan keras menahan kemarahannya atas pembantaian kejam yang ada di depan matanya.
Semua Anggota Sekte Pedang Bumi telah tewas dengan kondisi mayat yang sangat mengenaskan. Aroma daging manusia yang hangus terbakar, memenuhi udara.
Patriark Hong Jun, mendekati Patriark Ruan Bei yang duduk seraya memeluk kaki kedua puteranya. Tak ada kata yang terucap, hanya air mata yang mengalir tanpa bisa dicegah oleh dua Ketua Sekte itu.
Li Annchi sangat terguncang melihat ratusan mayat lelaki dan perempuan, tergeletak dengan darah yang masih saja mengalir.
__ADS_1
Huang Bao memejamkan matanya, sudah belasan kali Ia melihat pembantaian seperti ini selama hidupnya. Namun hatinya tidak sesedih dan semarah seperti saat ini.
Qiu Heng merasakan hal yang sama, namun Ia tidak terlarut akan situasi dihadapannya. Ia segera bergegas mencoba untuk mencari jejak ke arah mana kelompok pembantai itu pergi dari tempat tersebut.
Menyadari tindakan yang di lakukan oleh Dewa Tongkat Merah, Hao Long lalu memerintahkan Jin Shin untuk melacak kearah mana perginya para pembunuh keji itu.
Dengan indera penciumannya yang tajam dan pengalaman berburu mangsa ratusan tahun, lima menit kemudian Jin Shi telah kembali dan segera menemui Hao Long.
Ia mengatakan jika para pembunuh itu pergi ke arah barat daya, kurang dari satu jam yang lalu. Mendengar hal itu, Hao Long segera memberi tahu Huang Bao dan yang lainnya.
“Patriark Jun … Sebaiknya Anda menemani Patriark Ruan Bei di sini, biar kami ….” Kalimat Huang Bao terputus. “Tidak Ketua Huang, Aku akan ikut mengejar mereka.”
Ruan Bei yang terlihat marah, segera berdiri, lalu memerintahkan kedua anggotanya untuk berjaga di tempat tersebut.
Dari sebelas orang, kini hanya enam orang saja yang menaiki punggung Jin Shi. Dua anggota Sekte Pedang Emas dan tetua Tan, diperintahkan kembali ke sekte mereka untuk menjaga jasad rekan-rekannya agar tidak disantap hewan liar atau burung gagak.
Jin Shi bergerak dengan mengandalkan indera penciumannya yang sangat tajam.hal itu membuat laju geraknya, setengah dari kecepatan penuh yang dimiliki oleh Beast Tingkat Dewa itu.
“Ada apa Jin Shi?” Hao Long bertanya karena tiba-tiba Jin Shi berhenti tepat saat di depan mereka terlihat sebuah sungai yang besar.
Di saat Jin Shi berputar-putar diatas sungai besar untuk mencoba mencari petunjuk baru, Huang Bao berdiskusi dengan Patriark Hong Jun dan Ruan Bei.
“Apa!! Mereka menuju ke Sekte Golok Halilintar?!!” Huang Bao tercekat. “Itu baru dugaanku saja Ketua Huang.” Jawab Ruan Bei yang karena kesedihannya, baru menyadari jika arah barat daya adalah arah dimana Sekte Golok Halilintar berada.
“Kita harus secepatnya ke sana, Aku Yakin mereka mengetahui jika para ketua Sekte hari ini berada di Kuil Cahaya Abadi dan melakukan penyerangan secara besar-besaran ke masing-masing sekte.”
Mendengar ucapan Qiu Heng, wajah semua orang terlihat dipenuhi oleh kekhawatiran akan nasib Sekte Golok Halilintar. Hao Long bergegas memerintahkan Jin Shi untuk segera menuju ke arah barat dengan kecepatan penuhnya.
***
Saat beberapa jam lagi malam tiba, suasana sore di Sekte Golok Halilintar terlihat sudah sangat senja. Sesekali, kilatan petir melesat keluar dari mendung hitam yang merupakan ciri Khas dari Bukit Halilintar.
__ADS_1
Bukit Halilintar memang sebuah daerah yang dikenal jarang bercuaca cerah. Hanya beberapa jam saja matahari terlihat saat disiang hari. Yakni saat pagi hingga matahari tepat diatas kepala.
Selebihnya mendung akan menutupi wilayah tersebut hingga keesokan paginya. Hanya Ketua Ou Yang saja yang mengetahui rahasia dibalik semua peristiwa alam yang ganjil tersebut.
Rahasia itu, hanya diketahui oleh para pemimpin Sekte saja dan diwariskan secara turun temurun hingga pada pada Patriark saat ini, Ou Yang.
Suasana tenang di markas Sekte Bukit Halilintar sore itu, tiba-tiba terusik oleh suara lonceng tanda bahaya yang dibunyikan oleh penjaga gerbang secara cepat dan terus menerus.
Suara lonceng segera tertindih oleh suara panik para wanita yang meneriaki anak-anak mereka dan lalu membawanya ke sebuah goa rahasia yang mulut goa itu berada dalam sebuah bangunan dan ditutup oleh dinding kayu yang tebal
Sementara para Tetua dan murid-murid Sekte yang telah dewasa, segera mengambil senjata mereka dan berkumpul di alun-alun sekte.
BLAAMM
Suara Lonceng menghilang setelah ledakan keras menghantam lonceng besar yang tergantung diatas sebuah dahan dari pohon besar yang berada di puncak bukit halilintar itu.
Dari pusat ledakan melesat sangat cepat sesosok manusia yang mengenakan kain seperti sayap kelelawar di kedua lengannya.
“Tetua Fu Xia, Siapa yang berani menyerang sekte kita?!” Tanya seseorang kepada pria tersebut.
“Wakil Ketua Ou Jie, cepatlah tinggalkan tempat ini, mereka sangat banyak sekali dan aku merasakan banyak energi besar dari kelompok itu.” Fu Xia berkata dengan panik, apalagi setelah mengetahui Wakil Ketua Ou Jie menggelengkan kepalanya.
Adik kandung Ou Yang itu, bertekad untuk tidak akan meninggalkan sekte tersebut sekalipun nyawa sebagai taruhannya.
Lalu Ia segera memerintahkan seluruh anggotanya untuk bersiap menghadapi musuh yang sebentar lagi datang dari arah timur Bukit Halilintar.
JEDDAAAR!!
Sebuah Petir maha besar, terdengar menggelegar mengejutkan semua orang. Seumur hidupnya, baru kali ini Ou Jie dan yang lainnya mendengar petir sebesar itu.
“Petir Siapakah itu tadi?! Apa yang terjadi di balik bukit sana?!” Mata Ou Jie masih melebar saat Ia berkata demikian.
__ADS_1
Ia sempat melihat sebuah petir besar, melesat keluar dari puncak bukit, bukan dari mendung hitam yang berada di satu kilometer diatas mereka.
----------------------------O----------------------------