Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
089: Tiga Pria Tudung Hitam


__ADS_3

Kota Kaiping adalah satu dari tujuh Kota besar di daratan kuno yang telah dikuasai oleh Aliran Hitam Pimpinan Xiong Hu. Sebagai kota besar, Kaiping memiliki bangunan yang megah dan berlantai lebih dari satu.


Penginapan sekaligus rumah makan, tersebar di berbagai bagian kota tersebut, salah satunya adalah Penginapan Heiying yang memiliki tiga lantai.


Pagi menjelang siang itu, sesaat setelah Hao Long dan Li Annchi memasuki ruang yang mereka sewa di penginapan Heiying, masuklah tiga orang yang mengenakan tudung hitam dan hanya menyisakan wajah mereka saja.


Setelah menempati sebuah meja, seorang pelayan datang. Ia bermaksud menanyakan sajian yang ingin dipesan oleh ketiganya. Namun perkataan pria bertudung itu, membuat wajah pelayan itu berubah.


“Suruh keluar Hei Jing untuk menemui kami, jika tidak, tempat ini akan kami ratakan dengan tanah.” Suara Arogan dan ucapan yang mengancam itu, terdengar jelas oleh semua orang yang sedang bersantap.


Satu persatu mereka meninggalkan ruang makan restoran Heiying dan pergi dengan wajah yang terlihat ketakutan. Mereka tidak cukup bodoh untuk mengetahui bahaya yang akan datang sesaat lagi.


Namun tidak dengan dua orang gadis bergaun putih yang terlihat sedang menikmati minuman di atas mejanya. Sementara di sisi yang berbeda, seorang Pria tua dan satu rekannya terlihat marah mendengar perkataan pria bertudung itu.


“Siapa Kau berani sekali berkata sombong seperti itu di Markas Sekte Elang Hitam!” Rekan pria itu berdiri seraya jarinya menunjuk ke arah pria bertudung hitam.


Pria bertudung tertawa dan menyadari jika semua pelayan telah mengeluarkan senjata mereka masing-masing. “Jadi Kau Tua Bangka yang bernama Hei Jing?”


Sosok pria tua itu tersenyum seraya berdiri dari duduknya.


“Ternyata informasi dari mata-mata ku benar adanya. Aku lah yang bernama Hei Jing. Apakah Aku sedang berbicara dengan salah satu dari tiga Pelindung Sekte Tapak Emas, sesepuh Gong Shun?”


Pria yang tadi berbicara berdiri seraya membuka tudung Hitam yang menutupi kepalanya. Terlihat sosok sepuh yang tidak berbeda jauh dengan Hei Jing.


“Kau sudah tahu namaku itu artinya Kau juga sudah tahu maksud kedatanganku bukan?”


Selesai berkata, Gong Shun melepaskan sebuah serangan berupa energi berbentuk tapak berwarna keemasan berukuran satu meter, yang melesat cepat ke arah Hei Jing yang sebelumnya telah waspada.


Patriark Sekte Elang Hitam yang merupakan anggota dari Tiga Belas Sekte Aliran Hitam, segera menangkis serangan itu dengan mengeluarkan energi berbentuk Cakar Elang berwarna hitam.

__ADS_1


Kedua energi itu akan bertemu di udara, namun melesat sebuah bola air dari arah di mana sosok gadis bergaun putih tadi berada.


Bola air besar membungkus kedua energi itu dan membawanya keluar melalui jendela hingga menghantam bangunan yang ada di depan Penginapan Heiying.


BLAAAAMMM


Suara menggelegar terdengar seiring dengan meledaknya ketiga energi itu saat menghantam bangunan di depan mereka yang perlahan runtuh dan membunuh semua orang yang berada di dalamnya.


Wajah Gong Shun terlihat kaget dengan apa yang baru saja terjadi, tidak menduga melihat hal yang seperti itu, setelah delapan puluh tahun hidupnya.


“Siapa kedua gadis itu? Mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa aku ukur.”


Dalam benaknya Gong Shun menyadari bahwa kedua gadis itu, memiliki kultivasi setidaknya di tingkat Dewa Tahap Akhir, satu tahap di atas dirinya maupun He Jing yang sama-sama berada di Tahap Dua Tingkat Dewa.


“Tua Bangka He, Apa kau ingin menghancurkan markas mu sendiri dengan bertarung di dalam sini?” Gong Shun tertegun melihat gadis itu berbicara kasar kepada Hei Jing yang wajahnya terlihat jerih.


Niu Ing lalu memalingkan wajahnya ke arah Gong Shun. “Dasar Kalian Tua Bangka, jika kalian masih ingin bertarung, keluarlah dari bangunan ini. Pergilah ke bukit di luar tembok Kota. Aku tak ingin bangunan kota di bawah kekuasanku ini hancur.”


Gong Shun dan kedua rekannya terkejut mendengar perkataan kasar Niu Ing. Namun He Jing dan salah satu Tetuanya, terkejut karena tidak menduga bahwa Niu Ing terdengar tidak akan membantunya.


Namun setelah mendapatkan kedipan mata dari Niu Ing, He Jing pun segera mengajak Gong Shun untuk menyelesaikan permasalahan mereka.


Di saat yang bersamaan, Hao Long dan Li Annchi telah tiba di tempat itu. Keduanya sempat melihat ke arah mana lima orang yang akan bertarung itu pergi.


Melihat datangnya dua tamu yang menginap di hotel mereka, para pelayan segera memasukkan kembali senjatanya dan mempersilakan Hao Long untuk duduk.


Hao Long sebenarnya berniat duduk, namun Ia membatalkannya, saat mendengar pembicaraan kedua gadis bergaun putih.


“Kakak … Apakah Kau tidak akan membantu Patriark He Jing? Aku merasa dua orang teman si tua bangka tadi, jauh lebih kuat dari Patriark He Jing.”

__ADS_1


Niu Ing menghela nafas panjang. “Tentu saja aku akan membantunya. Tapi aku membiarkan mereka pergi dulu. Ayo kita menyusulnya, mungkin saat ini mereka telah tiba di bukit itu.”


Setelah kedua gadis itu pergi ke arah yang sama, Hao Long pun memutuskan untuk mengikuti mereka. Ia dan Li Annchi merasa pernah melihat ke dua gadis tersebut, namun terlupa dimana tempatnya.


Keduanya pun pergi ke arah utara, di mana kedua perempuan tadi melesat ke sebuah bukit yang terletak satu kilometer dari tembok kota.


“Long … Akan sangat lama mencapai bukit itu jika kita kesana dengan berjalan kaki.” Li Annchi yang merasa bahwa salah satu dari kedua pihak yang berseteru adalah orang aliran putih, menjadi khawatir.


“Kita akan melayang rendah, setelah melewati pepohonan di luar gerbang kota itu. Ingat … Kita sedang menyamar sebagai pedagang biasa.”


Setelah menjelaskan bahwa mereka berniat jalan-jalan untuk menikmati keindahan pemandangan di luar tembok kota, keduanya pun diizinkan keluar dari gerbang kota yang dijaga anggota Sekte Elang Hitam itu.


Setelah berada di balik pepohonan yang berjarak lima puluh meter dari gerbang kota, Li Annchi dan Hao Long segera melesat sangat ke bukit itu.


Apa yang dikhawatirkan Li Annchi, mendekati kenyataan. Setibanya di sana, dua orang yang bertarung melawan dua gadis berwajah hampir serupa itu, terlihat sedang terdesak hebat.


“Manusia Elemen Air? Aku ingat sekarang. Mereka adalah murid dari perempuan bernama Shu Lin dari dunia lain.” Li Annchi melesat memasuki arena pertarungan, setelah Ia berkata demikian.


Hal itu karena salah satu kakek yang tadi bertudung hitam, akan segera dihujani dengan serangan jarum air yang telah Li Annchi dan Hao Long ketahui keganasan racunnya.


WHUSSS


Serangan dari jurus Tapak Dewi Es yang Li Annchi gunakan, segera membekukan energi dari jurus Jarum Air milik Niu Yie yang terkejut mendapati serangan sangat cepat yang tidak Ia duga.


Dahi Niu Yie berkerut. “Siapa Kau? Apakah Kau teman Kakek itu?” Li Annchi yang telah berada lima meter di depan gadis bergaun putih itu, segera menjawabnya.


“Aku tidak tahu siapa Kakek ini, Aku hanya mengetahui siapa dirimu. Dan Kau harus dibinasakan karena sudah tidak bisa dibina lagi menjadi perempuan baik-baik.”


----------------------------O----------------------------

__ADS_1


__ADS_2