
“Sepertinya mereka akan mulai menyegel Raja Iblis Air.” Tan Long berkata saat melihat tangan Hao Long dan Li Annchi yang bergerak dengan gerakan yang sama.
Raja Iblis Air masih terlihat tenang. Ia sangat percaya dengan kemampuan-nya saat ini. Setelah berhasil menyerap kekuatan Iblis Es, Ia mampu mengalahkan Tan Long dan Li Daiyu yang selama ini Ia takuti.
Gelang yang berada di tangan Hao Long dan Li Annchi, bergetar seiring dengan gerakan memutar tangan kanan mereka. Dan hal berikutnya yang terjadi, membuat Raja Iblis itu terpana.
Dengan sombong Ia membiarkan energi berbentuk gelang menyelimuti dirinya dari arah atas dan bawah tubuhnya. Bahkan Ia sempat tertawa melihat apa yang Hao Long dan Li Annchi lakukan.
Namun setelah kedua energi berbeda warna dan hawa itu bertemu lalu bersatu, barulah Ia menyadari sesuatu yang membuat wajahnya memucat.
“Tidak! Jangan …”
Pekikan Raja Iblis Air tidak terdengar, karena tubuhnya telah berada dalam bola segel yang perlahan mengecil. Terlihat Ia berusaha menerobos keluar dari bola energi tersebut.
Namun usahanya sia-sia, yang terjadi justru sebaliknya. Saat tangannya menyentuh dinding bola energi itu, justru tenaganya seperti terhisap dan telapak tangannya tak bisa Ia lepaskan lagi.
Hal itu membuat tubuhnya semakin melemas, seiring bola energi yang mengecil dengan cepat hingga sebesar kepalan tangan Li Annchi yang segera meraihnya.
Keduanya menghampiri Tan Long dan Li Daiyu. Li Annchi menyerahkan bola energi tersebut kepada Sang Guru. “Chi’er .. mengapa kalian menyamar dengan wajah berbeda.”
Jika saja tidak mengenal aura keduanya, mungkin mereka tidak akan mengenali Hao Long dan Li Annchi yang wajahnya masih dalam penyamaran mereka. Li Annchi lalu menjelaskan bahwa semua itu rencana Hao Long.
“Begitu … walau kekuatan kalian sudah sangat tinggi, namun tetaplah berhati-hati. Chi’er keluarkan Pedang mu!”
Li Daiyu menerima Pedang Inti Es dari Li Annchi. Pedang itu adalah pedang yang sama dengan yang baru Ia gunakan. Dengan berhati-hati, Li Daiyu lalu menyatukan Bola energi itu dengan bilah Pedang Inti Es.
“Kau bisa memanfaatkan energi mereka untuk menyerang lawan, Pedang ini sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Berhati-hatilah menggunakannya karena Raja Iblis Air dan Ratu Iblis Es tersegel di dalamnya.”
Li Annchi mengangguk dan bertanya bagaimana mereka bisa keluar dari Alam Pertengahan dan mewujud seperti manusia yang masih hidup.
Tan Long yang menjelaskan, karena raut wajah Li Daiyu merona merah, tidak merona kuning seperti saat mereka masih dalam wujud roh.
“Begitu rupanya. Akhirnya pertanyaanku saat masih berada di masa depan, terjawab sudah.” Ucap Hao Long tersenyum puas. “Kapan Guru berdua akan menikah?”
Tan Long dan Li Daiyu tersedak nafas sendiri mendengar pertanyaan Hao Long. “Kami harus menyelesaikan satu tugas lagi, sebelum akhirnya bisa bersama di Alam Keabadian.”
Setelah beberapa menit berbincang-bincang, akhirnya mereka berpisah untuk terakhir kalinya. Setelah melepas pelukan pada murid-murid mereka, Tan Long dan Li Daiyu saling menggenggam tangan.
Tubuh keduanya menghilang bersama cahaya tujuh warna yang melesat ke angkasa dan menghilang di kejauhan.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Li Annchi. “Kita harus menemui Nenek itu terlebih dahulu.”
Li Annchi sebenarnya ingin bertanya sesuatu, namun Ia memilih diam mengikuti Hao Long yang telah melesat kembali ke Kota Kaiping.
__ADS_1
Saat tiba di kota Kaiping, keduanya berhenti di atas sebuah bangunan yang memiliki tanda berupa bebatuan bersusun tiga di depannya.
Setelah melepas topeng mereka, dan menunjukkan wajah yang sebenarnya, keduanya lalu melesat turun.
Hao Long mengetuk pintu sebanyak tiga kali dengan irama yang Ia ketahui dari Tetua Fu Xia. Saat pintu terbuka, terlihat wajah seorang Nenek yang sangat tua dan jelek.
“Siapa Anda? Ada tujuan apa mengunjungi gubukku?” Tanya nenek itu dengan suara yang bergetar. Hao Long dan Li Annchi menyadari sesuatu, jika suara nenek itu bukanlah suara seorang nenek.
Setelah Hao Long memberikan surat dari tetua Fu Xia, raut wajah nenek itu terlihat gembira setelah Ia selesai membacanya. Lalu meminta keduanya untuk segera masuk ke dalam ruangan.
“Tuan Muda Long, Nona Annchi, anda hendak minum apa?” Suara Nenek itu sedikit berubah. Membuat Hao Long dan Li Annchi tersenyum mendapati dugaan mereka benar.
Untuk memastikannya, Hao Long melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak boleh Ia lakukan. Ujung jarinya, bergerak membuat angin berpusar di bawah gaun lusuh yang dikenakan sang Nenek yang sedang membuatkan mereka minuman.
Angin itu membuat gaun bagian bawah tersingkap, terlihatlah betis yang berkulit putih dan sangat kencang layaknya betis seorang gadis belasan tahun.
Li Annchi terkejut, sama halnya dengan sang Nenek. Li Annchi melotot marah saat menyadari angin yang tiba-tiba muncul itu adalah ulah Hao Long. Namun Ia diam saja. “Awas Kau nanti Long!” ucapnya dalam hati.
“Tuan Muda Informasi apa yang akan anda kirim untuk Tetua Fu Xia.” Setelah menaruh dua gelas berisi seduhan daun teh, Nenek tersebut bertanya kepada Hao Long.
“Nen … Eh Nona Shi Mey, penyamaran anda sungguh sangat sempurna. Terbuat dari bahan apakah kulit tangan anda yang keriput ini?” Nenek Shi Mey terlihat terkejut.
“Apakah Tetua Fu telah memberitahu Anda jati diriku yang sesungguhnya?” Seingat Shi Mey, Tetua Fu Xia yang juga adalah gurunya, tidak pernah mengatakan kepada siapapun jika dirinya adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun.
Li Annchi segera menutup mulut Hao Long. “Long! … Bodoh sekali Kau!” Hao Long tertegun, menyadari Ia terlalu bicara terbuka.
“Mohon tunggu sebentar.” Tubuh Nenek Shi Mey segera melesat sangat cepat ke dalam sebuah ruangan, tidak berbeda jauh dengan kecepatan yang Tetua Fu Xia miliki.
Di dalam ruangan, Shi Mey sedang sibuk meredam debaran hatinya, Ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa untuk tidak berdebar hatinya, saat melihat ketampanan Hao Long.
Karena hal itu pula lah, suara seorang nenek yang sering Ia gunakan sedikit berubah. “Angin yang tiba-tiba muncul itu, pasti angin yang Ia buat.”
Menyadari Hao Long telah berbuat jahil dan mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, Shi Mey memutuskan untuk melepas topeng berwajah nenek keriput beserta kulit palsu di tangannya.
Setelah lima belas menit kemudian, Shi Mey keluar dari ruangan. Mata Hao Long melotot lebar. Li Annchi terpana sekaligus merasa sangat cemburu saat melihat raut wajah Shi Mey yang sebenarnya.
Kecantikan Shi Mey yang telah mengganti pakaiannya, tak kalah dari kecantikan yang dimiliki oleh Li Annchi, membuat Hao Long menatapnya lekat-lekat.
Shi Mey merasa canggung, Ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi jika seorang laki-laki melihat kecantikan wajahnya.
“Kecantikanmu akan membuat seorang laki-laki mengabaikan dunia, Mey’er. Sama halnya seperti yang terjadi pada Ibumu.” Ucapan Tetua Fu Xia yang sekaligus pamannya dari pihak ibu, kembali terngiang di telinga Shi Mey.
Perkataan Kakak dari ibunya itulah yang membuat Shi Mey selalu menyamar menjadi seorang Nenek.
__ADS_1
Shi Mey lalu Duduk di meja di mana Hao Long masih terpana akan kecantikannya. Li Annchi yang kesal segera menginjak Kaki kiri Hao Long.
“Eh iya … Eh apa yang kau tanyakan tadi.” Li Annchi dan Shi Mey tertawa melihat wajah bloon Hao Long saat tergeragap kaget.
Hao Long menggerutu kesal, menyadari keterpanaannya telah membuat Ia bersikap bodoh. “Maafkan Aku … Aku tidak menyangka, ternyata Nona Shi Mey sangat cantik sekali.”
Tatapan membunuh segera Hao Long rasakan dari Li Annchi. Sementara Wajah Shi Mey merona merah mendengar pujian Hao Long.
Suasana pun menjadi canggung untuk sesaat, namun segera berubah ketika sebuah ketukan dengan irama yang sama, terdengar dari pintu depan.
Shi Mey melangkah, Ia tahu benar siapa yang datang. “Mey’er … “ Untuk sesaat Tetua Fu Xia terkejut melihat Keponakan-nya tidak dalam penyamarannya.
“Ah Tuan Muda Long. Anda di sini rupanya.” Fu Xia menyadari apa yang terjadi.
“Tetua Fu … Ada berita apa, sehingga anda datang menyusul kemari?!” Tanya Hao Long.
Setelah duduk, Fu Xia lalu menjelaskan jika Ia diperintah oleh Ketua Huang Bao untuk datang ke Kota Kaiping lebih dulu dan menemui dirinya.
Aura Iblis yang mencekam dari arah kota Kaiping serta informasi dari tiga Pelindung Sekte Tapak Emas, membuat Huang Bao khawatir.
“Aku telah menjelaskan rencana kita kepada mereka. Saat ini Ketua Huang dan yang lainnya sedang bergerak kemari untuk mengambil alih kota Kaiping.”
Di akhir penjelasannya Tetua Fu Xia berkata sesuatu yang sebenarnya akan Hao Long sampaikan dengan menemui Shi Mey. Hal itu pun segera dijelaskan oleh Hao Long.
“Oh begitu rupanya…” Ucapnya sambil menatap Shi Mey. Tetua Fu Xia pernah muda, Ia menyadari jika keponakan satu-satunya itu telah menaruh hati pada Hao Long.
Hal itu terlihat dari dandanan cantik Shi Mey yang membuat Ia teringat akan Adik perempuan yang sangat Ia sayangi.
Terlihat kesedihan di wajahnya, mengingat sang adik dikabarkan tewas dalam sebuah tugas rahasia bersama suaminya belasan tahun lalu.
Dua puluh menit kemudian, Hao Long berdiri. Ia merasakan Aura Ketua Huang Bao dan lainnya telah berada di dekat kota Kaiping.
Namun Ia juga merasakan beberapa Aura yang sangat kuat dari arah yang berlawanan.
“Mereka telah datang, mari kita menemui Kakek Huang dan yang lainnya.” Hao Long berdiri seraya melirik Shi Mey yang wajahnya terlihat sedih.
Apalagi sesaat kemudian, Tetua Fu Xia menyuruh Shi Mey agar menyamar menjadi berwajah seorang nenek dan melarangnya ikut bersama mereka.
Hal itu demi menjaga kerahasiaan Shi Mey sendiri dan juga demi keselamatannya. Mengingat kultivasi Shi Mey masih berada di Tingkat Langit Tahap Menengah.
Li Annchi melihat Hao Long melirik ke arah Shi Mey, Ia pun menjadi sangat kesal. “Awas kau Long. Kalo nanti malam minta, enggak akan Aku kasih!” Gerutunya dalam hati.
---------------------------O----------------------------
__ADS_1