
Selepas berkata demikian, sosok manusia boneka itu segera melayang ke udara diikuti dua belas boneka lainnya. Meninggalkan Sekte Cahaya Abadi menuju ke arah barat.
Biksu Gao Han terlihat menghela nafas panjang. Hao Long bangkit dari duduknya dan menatap ketiga belas Pasukan Jaring Jiwa yang hampir tak terlihat lagi.
“Dunia Kuno ini begitu banyak jagoan yang memiliki kemampuan luar biasa. Aku harus secepatnya meningkatkan kekuatanku. Jika tidak, situasi genting seperti tadi akan terulang lagi.”
Bertekad demikian, membuat Hao Long memutuskan untuk segera mencari kedua sumber daya langka itu. Hal itu Ia kemukakan kepada Gurunya Ao Lang.
“lalu bagaimana dengan rencanamu ke Sekte Pulau Es Utara?” Hao Long tertegun sejenak, bimbang dengan pertanyaan yang diucapkan oleh gurunya.
Kepala Hao Long terasa sakit, begitu banyak hal yang harus Ia lakukan. Hal itu membuatnya terdiam mematung, larut dalam pikirannya sendiri.
“Long’er … Aku sarankan Kau temui lebih dulu temanmu di Sekte Pulau Es. Karena Jika Kau ingin mendapatkan dan menyerap kedua sumber daya itu, Kau membutuhkan bantuan energi dingin darinya.”
Perkataan Biksu Gao Han yang memahami kebimbangan Hao Long, membuat pemuda dari masa depan itu, menjadi tercerahkan pikirannya.
Ia pun memutuskan pergi ke Sekte Pulau Es Utara. Ao Lang yang ingin membantu Sang Murid, memutuskan untuk ikut serta.
Sempat terjadi ketegangan saat Hao Long memanggil Ji Shin. Beast Singa itu membuat para anggota dan Tetua Sekte ketakutan hanya dengan merasakan Auranya saja.
Mereka berdua pun meninggalkan Kuil Cahaya Abadi dengan duduk manis di atas punggung beast setinggi lima meter itu. Ji Shin melayang dengan kecepatan penuhnya.
Namun saat mendekati wilayah yang dikuasai oleh Sekte Tangan Dewa, firasat buruk menyelimuti benak keduanya. Hal itu bukan tanpa sebab.
Terlihat kepulan asap putih dari berbagai desa yang berada dalam radius lima hingga sepuluh kilometer dari pusat wilayah Sekte Tangan Dewa.
Hao Long tertegun saat menatap kepulan asap membumbung tinggi dari arah dimana bangunan Sekte Tangan Dewa berada. Firasat buruknya semakin menjadi-jadi.
Ia segera memerintahkan Ji Shin untuk berbelok arah ke kompleks bangunan Sekte Tangan Dewa. Dan Jantung Hao Long berdetak kencang setibanya di Aula Sekte yang telah porak-poranda.
__ADS_1
“Kakek Gu Bao!”
Ia berteriak histeris saat melihat tubuh Kakek Gu Bao tergeletak bersimbah darah. Saat memeriksa nadinya, Hao Long mendapati Kakek yang menolongnya dulu, masih hidup.
Segera Ia mengalirkan energi penyembuh Buah Persik Dewa. Dalam waktu setengah jam kemudian, kondisi Gu Bao telah melewati masa kristisnya.
Hao Long terduduk sedih mendapati kenyataan bahwa kultivasi Patriark Sekte Tangan Dewa itu telah musnah. Kemarahan bergejolak dalam tubuhnya.
Ia pun segera bangkit dan melayang, meninggalkan Gu Bao yang masih belum sadarkan diri. “Guru … Aku akan mencari kedua Saudara Angkatku. Mohon guru menjaga tubuh Kakek Gu Bao.”
Tanpa menunggu jawaban dari Ao Lang, Hao Long segera melayang meninggalkan tempat tersebut. Matanya terus jelalatan kesana kemari, memandangi tumpukan tubuh yang terlihat sudah menjadi mayat.
Ia terus berkeliling untuk mencari keberadaan Lai Ong dan Sheng Gu. Hampir seluruh tempat sudah Ia periksa, namun tubuh kedua saudara angkatnya itu, tidak terlihat sama sekali olehnya.
Ada kesedihan yang kemudian tertimpa sebuah harapan. Jika tubuh mereka tidak ditemukan dari ribuan jasad yang tergeletak, maka ada kemungkinan keduanya masih hidup.
Hao Long pun segera kembali ke tempat dimana gurunya berada. Ia gembira melihat Kakek Gu Bao telah bangun dari pingsannya.
Gu Bao memaksakan dirinya untuk tersenyum mendengar pertanyaan Hao Long yang dipenuhi dengan kemarahan.
“Long’er … Kemarin sore sekelompok orang yang mengenakan topeng harimau hitam, mendatangi tempat ini. Uhuk .. Uhuk.”
Setelah batuknya mereda, Gu Bao lantas melanjutkan penjelasannya. Kelompok itu terdiri dari tujuh orang yang memiliki kemampuan setidaknya di tingkat Pendekar Langit.
Mereka sangat marah dengan apa yang terjadi pada komandan Pasukan Topeng Darah Hitam dan datang untuk membalas dendam.
Anggota dan Tetua Sekte Tangan Dewa pun dibantai habis-habisan oleh ke tujuh orang tersebut. Seluruh bangunan dihancurkan. Dirinya pun tak berdaya menghadapi Komandan Pasukan Harimau Hitam yang sangat kuat.
“Kurang ajar! Siapapun mereka, aku pasti akan menuntut balas atas kekejaman ini!” Hao Long mengepalkan tangannya, rahangnya menggembung menahan kemarahan besar.
__ADS_1
Gu Bao Lalu mengeluarkan sebuah kitab usang dari balik jubahnya. “Long’er … Pelajarilah Kitab Tinju Dewa Bumi ini. Habisilah mereka dengan jurus terkuat Sekte Tangan Dewa. Dengan begitu, Aku akan tenang di alam sana.”
Hao Long yang baru saja meraih Kitab Pusaka itu, terkejut mendengar ucapan dari Kakek Gu Bao.
“Kakek? Apa mak ….”
Ucapan Hao Long terhenti saat tiba-tiba hal tak terduga terjadi tepat di depan matanya. Ia termenung dengan tubuh bergetar saat menyadari apa yang baru saja dilakukan oleh Kakek Gu Bao.
Air mata Hao Long tak tertahankan lagi, menetes pelan dari kelopak matanya saat menyadari Kakek yang menyayanginya itu, memilih mati.
“Long’er … Bagi seorang Kultivator, kehilangan kultivasinya lebih buruk dari kematian itu sendiri. Ia juga tak ingin hidup dengan beban dan rasa bersalah atas kematian seluruh anggotanya.”
Ao Lang menenangkan Hao Long yang masih terduduk dengan tubuh bergetar menahan kesedihannya. Sungguh beberapa hari ini, Ia mengalami hal yang tidak pernah diduga akan terjadi dalam hidupnya.
Setelah memakamkan jasad Kakek Gu Bao dan seluruh anggota Sekte dengan bantuan Ji Shin dan Ao Lang, sore hari itu juga mereka bertiga meninggalkan tempat tersebut.
Hao Long berharap dirinya masih bisa bertemu dengan Sheng Gu dan Lai Ong yang belum diketahui keberadaannya.
Sepanjang perjalanan, Hao Long terduduk diam. Ao Lang memahami apa yang sedang dialami oleh muridnya itu. Ia memilih rebahan di atas punggung Ji Shin dan beristirahat dengan tidur lelap.
Setidaknya besok pagi mereka baru akan tiba di Pulau Es Utara. Karena Hao Long meminta Ji Shin untuk terbang perlahan-lahan.
Tatapan mata Hao Long terlihat dipenuhi kemarahan. Tidak Ia sadari, bahwa apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini, akan mengubah jiwanya secara perlahan namun pasti menjadi sosok yang kejam.
“Manusia di masa ini, begitu buas dan keji. Nyawa manusia seolah tidak ada harganya sama sekali. Belas kasih terhadap mereka yang keji hanya akan membuat orang tak berdosa menjadi korban.”
Hao Long teringat perkataan Kakek Gu Bao, saat memintanya berhati-hati ketika dulu akan berangkat ke Kuil Cahaya Abadi.
Hao Long mengepal tangannya kuat-kuat. Tekadnya pun semakin membara untuk menjadi orang terkuat di jaman ini. Tekad yang akan membawanya pada pertarungan hidup dan mati kelak dikemudian hari.
__ADS_1
--------------------------O--------------------------