
“Kakek …Fenomena apa ini?” Seumur hidupnya tinggal di Bukit Halilintar, Ou Yang baru kali ini melihat fenomena ganjil seperti itu.
Bukan hanya Ou Yang saja, semua orang yang melihat fenomena itu, terlihat takjub dan menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi.
Semuanya menatap ke arah Ou Feng yang sedang berusaha mengingat sesuatu. “Aah! … ini … Jadi begitu rupanya?”
“Apanya yang begitu Kek?” Ou Yang merungut kesal. Bukan jawaban yang di dapat, tapi perkataan yang membuat rasa penasarannya bertambah besar.
“Yang’er … Cobalah untuk memasuki pusaran awan itu. Jika dugaanku benar, Kau akan menemukan jalan masuk untuk mendapatkan Tombak Dewa Petir.”
“APA!” Ou Yang tersentak. “Apa Kakek ingin membunuhku?” Ia menatap pusaran mendung yang memiliki tujuh warna, yang juga mengeluarkan percikan petir berwarna sama.
Pusaran mendung itu, berputar dengan cepat sekali. Sesekali terlihat petir besar keluar dan kilatannya hampir menyentuh puncak bukit Halilintar.
“Apa Kau tak ingin mencoba peruntunganmu? Siap tahu Kau berjodoh dengan Tombak Dewa Petir itu.” Ucapan Sang Kakek, membuat Ou Yang menjadi bimbang.
Setelah memantapkan hati, Ia melesat ke udara dan mencoba memasuki pusat dari pusaran mendung tujuh warna yang berjarak hampir lima ratus meter di atas mereka.
JEDAAARRR!
Sebuah petir menggelegar dan nyaris mengenai Ou Yang. Hal itu membuat Patriark sekte Golok Halilintar menjadi ciut nyalinya dan melesat kembali.
Di saat yang bersamaan, Hao Long merasakan Zamrud Tiwa bergerak-gerak sendiri di dalam cincin ruangnya. Ia lalu mengeluarkan Zamrud itu dan sesuatu yang ganjil terjadi.
Zamrud Tiwa seolah tertarik dan Inti pusaran mendung perlahan terbuka. Tubuh Hao Long melesat seolah di tarik kekuatan besar yang tidak mampu Ia lawan, membuat wajahnya terlihat menjadi panik.
Li Annchi ingin mengejarnya, namun tiba-tiba Ia terjatuh dengan tangan kanan yang menyentuh tanah dengan cepat seolah-olah ada yang menariknya.
__ADS_1
“Mengapa begini? Ada apa dengan Zamrud Tiwa?” Li Annchi merasakan Zamrud Tiwa tiba-tiba bergerak yang membuat tangannya merasakan beban berat hingga akhirnyamenyentuh tanah.
Saat Ia menatap ke arah Hao Long, tubuh kekasihnya telah memasuki inti pusaran mendung pelangi dan hilang sesaat kemudian.
“Long! “ Li Annchi berteriak dengan penuh kekhawatiran. Demikian juga dengan yang lainnya. Bersamaan dengan menutupnya Inti pusaran mendung itu, tangan Li Annchi kembali menjadi ringan dan membuatnya bisa berdiri kembali.
“Apa yang terjadi dengan Long’er Sesepuh Ou Feng? Jelaskan kepada kami apa yang anda ketahui!”Ou Yang menatap ke arah Huang Bao, yang menurutnya tidak pantas berkata dengan suara keras seperti itu kepada Kakeknya.
Namun melihat sang Kakek hanya tersenyum sambil terus menatap ke arah mendung pelangi, Ou Yang pun menjadi kesal juga.
Ou Feng mengalihkan pandangannya ke puncak bukit Halilintar. Memahami kekhawatiran mereka, lalu Ia menjelaskan bahwa saat ini, Hao Long sedang memasuki alam lain dimana Tombak Dewa Petir berada.
“Kita tunggu saja, mungkin tidak lama lagi …. Ah lihat Long’er sudah keluar.” Semua orang menatap ke arah yang ditunjuk oleh Ou Feng.
Semua orang melihat ke puncak Bukit Halilintar, dimana terlihat Hao Long melayang mendekati mereka dengan membawa sebuah tombak di tangan kanan dan Zamrud Khatulis di tangan kirinya.
“Benar Patriark Yang … Ambillah. Ini milik Anda!” Hao Long mengulurkan tombak itu ke arah Patriark Sekte Golok Halilintar yang tersentak mendengarnya.
Ou Yang meraih Tombak Dewa Petir dengan wajah yang terlihat gembira. Namun Wajahnya seketika berubah dan Ia memekik saat tangannya telah menggenggam gagang tombak pusaka itu.
Sebuah cahaya tujuh warna yang, segera memendar dari tombak dan dengan cepat menyelimuti tubuh Ou Yang lalu memasuki tubuhnya secara perlahan.
“Patriark Yang …bertahanlah!” Hao Long berkata seraya mengarahkan Zamrud Tiwa ke arah ujung tombak Dewa Petir. Wajah Ou Yang kembali tersentak kaget merasakan aliran energi panas merasuki tubuhnya.
Tubuh Ou yang bergetar hebat, keringat mengucur deras, Ou Jie yang tidak tega melihat kondisi kakaknya, mencoa menghentikan hal tersebut. Namun Ou Feng membentaknya.
Sesaat Kemudian Hao Long menarik kembali Zamrud Tiwa. Cahaya tujuh warna yang menyelimuti tubuh Ou Yang menghilang. Dan Ia terlihat keheranan merasakan tubuhnya dipenuhi oleh energi yang begitu besar.
__ADS_1
“Terimakasih Long’er!” Ou Yang akan segera berlutut untuk berterimakasih kepada Hao Long yang segera menahan dengan qi-nya. “Patriark Yang … Jangan Sungkan. Ini sudah takdir anda berjodoh dengan Tombak Dewa Petir ini.”
“Kakak … Kau beruntung sekali bisa berjodoh dengan pusaka Dewa itu.” Ou Jie yang juga merasa senang, segera berkata seraya menghampiri Kakaknya.
“Tidak ada keberuntungan di dunia ini. Keberuntungan selalu hasil dari puluhan atau ratusan perbuatan baik yang dilakukan di masa lalu. Demikian juga dengan kesialan. Ingatlah itu baik-baik Jie’er. Tetaplah berpijak pada kebenaran setidaknya pada kebenaran umum bukan pada benarnya sendiri atau kelompok.”
Ou Jie mengangguk mendengar nasihat Sang Kakek. Melihat hal itu, Ou Yang lalu mengeluarkan Golok Halilintar dan memberikan pada adiknya yang sangat Ia sayangi itu.
Ou Jie sangat gembira mendapat Golok Halilintar. Namun kegembiraanya segera terhenti karena tiba-tiba Bukit Halilintar bergoncang dengan hebat.
“Ada Apa ini?” Semua orang terkejut dan dan berteriak dengan panik.
Hanya Hao Long yang terlihat biasa saja. Bahkan Ia sedikit tersenyum dengan situasi yang membuat seluruh anggota Sekte Halilintar berlari keluar dari kediaman mereka.
“Long … Apakah Kau mengetahui kenapa bumi berguncang seperti ini?” Tanya Li Annchi yang sudah waspada dengan situasi terburuk yang mungkin saja terjadi.
“Tenanglah … Sebentar lagi juga selesai dan akan kembali seperti Semula.” Perkatan Hao Long yang diucapkan dengan santai, membuat Qiu Heng dan Huang Bao menatapnya dengan tajam.
Seperti yang dikatakan oleh Hao Long, guncangan itu semakin menghebat dan lalu berhenti secara mendadak dan tidak terjadi lagi hingga beberapa menit kemudian.
“Long’er jelaskan kepada kami, Apa yang baru saja terjadi.” Huang Bao tak dapat lagi menahan rasa ingin tahunya. Ia meyakini Hao Long mengetahui sesuatu berkaitan dengan gempa bumi hebat tadi.
Setibanya kembali di Ruang Jamuan lalu Hao Long menceritakan tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Dan setelah mengakhiri ceritanya, terlihat wajah tegang dari semua yang hadir di dalam ruang jamuan itu.
“Benarkah itu Long’er?!” Suara Huang Bao bergetar. Ia tidak menduga sama sekali, situasi semakin memburuk yang membuat tugasnya sebagai Ketua Aliansi Aliran putih akan semakin berat dan berbahaya.
“Aku hanya menceritakan ulang apa yang Dewa Petir ceritakan kepada ku, Kakek Huang.” Hao Long memastikan bahwa informasi itu bukanlah Ia reka sendiri atau hanya dugaannya.
__ADS_1
---------------------------O-----------------------------