Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
031: Rumput Api Jiwa


__ADS_3

“Sesepuh … Di manakah Aku bisa menemukan Rumput Api Jiwa?” Pertanyaan Hao Long yang segera disampaikan kepada Ki Jogowono oleh Huang Bao, membuat Sosok penjaga Gunung Rakatao itu mengalihkan pandangan ke sebuah arah.


Tangannya segera menunjuk tepat di tengah Kawah yang sedang bergolak dan menebarkan hawa sangat panas itu.


Berdasar penjelasan dari Ki Jogowono, Huang Bao lalu menjelaskan kepada Hao Long bahwa Rumput Api Jiwa berada tepat di dasar kawah gunung ini.


Ia menyuruh Hao Long menggunakan Liontin Naga Api dengan meletakkannya di tengah-tengah kawah tersebut.


Sesaat kemudian terjadi pergolakan hebat pada Kawah Gunung Rakatao saat Liontin Naga Api melayang di atasnya tepat di tengah-tengah kawah tersebut.


Pergolakan kawah itu semakin cepat dan akhirnya terjadi pusaran magma kawah yang membuat Hao Long melotot lebar dengan hati-berdebar-debar saat melihat sebuah benda yang berada di dasar kawah yang kini telah terlihat.


Ia pun segera melesat ke dasar kawah dan memetik tiga dari tujuh helai rumput yang membara bagai sebuah api itu.


Setelah menyimpannya ke dalam cincin ruang, Hao Long segera kembali ke tepi kawah dan menarik kembali Liontin Naga Api yang kembali menggantung di lehernya.


Setelah mengucapkan terimakasihnya, dan berbincang-bincang hampir satu jam lamanya, mereka bertiga pun berpamitan kepada Ki Jogowono dan kembali ke utara dengan menunggangi Jin Shin.


“Tugas menjaga Zamrud Khatulis berakhir hari ini. Aku harus segera ke tempat itu. Semoga mereka belum ada yang menemukan lubang dimensi ruang dan waktu yang ada di sana.”


Ki Jogowono berkata dalam benaknya seraya memandang ke arah menghilangnya tubuh Jin Shin yang membawa ketiga orang itu kembali ke daratan kuno.


Dengan kecepatan yang melebihi kecepatan Jin Shin, Ki Jogowono melayang ke arah selatan dengan sebuah kekhawatiran di dalam hatinya.


“Semoga saja Bocah Naga itu bisa menembus batas Kultivator Dewa Tahap Puncak dan mencapai Tingkat Antara. Jika tidak, Dunia ini akan menderita ketika mereka datang.”


Setelah hampir satu jam melakukan perjalanan, Ki Jogowono akhirnya tiba di tempat yang Ia tuju. Dan dahinya pun mengerut dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran.

__ADS_1


“Aku terlambat … “ Desisnya. “Mereka berhasil menemukan Lubang Dimensi ini!”


Dahi Kultivator Dewa Tahap Puncak dan akan menembus Tingkat Antara itu, mengerut saat mendapati segel ilusi yang Ia buat, telah menghilang.


Segel itu untuk menyembunyikan sebuah Lubang Hitam dengan diameter sekitar sepuluh meter yang terlihat sangat aneh. Dimana terdapat ratusan benda putih bercahaya yang berbentuk bintang dengan ukuran yang bervariasi.


Setelah kembali membuat Segel Ilusi dan juga segel pelindung, Ki Jogowono terlihat menatap kosong ke arah hamparan gunung es yang menjulang tinggi dengan daratan yang seluruhnya berupa dataran es.


“Seandainya Putera Naga itu bisa menyelesaikan tugasnya untuk membawa Zamrud Tiwa. Maka lubang Dimensi ini bisa tertutup selamanya. Semoga Ia bisa menyelamatkan Puteri Naga secepatnya dan mengambil Zamrud Tiwa itu.”


Mata Tua Ki Jogowono menatap ke arah utara, ke tempat yang sedang dituju oleh Hao Long yang saat itu sedang mendapat penjelasan dari Huang Bao.


“Begitu rupanya … “ Hao Long menggumam setelah Huang Bao selesai menceritakan tugas yang Ki Jogowono berikan kepadanya. ”Jadi Aku harus membawakannya Zamrud Tiwa yang hanya bisa diambil oleh Annchi itu.”


“Benar … Aku tidak tahu makhluk apa yang akan datang melalui lubang dimensi ruang dan waktu itu. Yang pasti wajah khawatir yang ditunjukkan oleh Ki Jogowono yang sangat kuat itu, menandakan mereka yang akan datang pastinya memiliki kultivasi yang sangat tinggi.”


Huang Bao berkata dengan suara bergetar karena Ia menyembunyikan beberapa informasi dari Ki Jogowono. Hal itu Ia lakukan agar tidak membuat kekhawatiran besar melanda daratan kuno. Cukup dirinya saja yang tahu akan hal itu saat ini.


“Sesepuh Huang … Aku tidak bisa melakukannya di sini, atau sayap Jin Shin akan terbakar.” Hao Long terdiam sesaat. “Aku harus mendapatkan Ginseng Merah terlebih dahulu baru bisa menggunakan Rumput Api Jiwa dengan cara meraciknya bersama.”


Hao Long menjelaskan lebih lanjut bahwa


Jika hanya membuka satu titik saja, akan terjadi hal fatal pada tubuhnya. Kedua titik itu harus dibuka secara bersamaan dengan menggunakan energi murni dari kedua sumber daya tersebut.


Setelah mendengar Penjelasan itu, Huang Bao pun meminta Hao Long agar segera menuju ke tempat dimana Ginseng Merah berada.


“jangan Khawatir … Biar Aku yang akan mengurus Beast itu.” Huang Berkata meyakinkan Hao Long yang mengatakan jika tempat tersebut dijaga oleh Beast di tingkat Dewa.

__ADS_1


Arah terbang Singa bersayap itu, segera berubah menuju ke arah Barat karena saat ini mereka telah berada di tengah-tengah antara wilayah selatan dan daratan kuno.


Sudah hampir tiga jam mereka melakukan perjalanan ke arah barat, namun belum menjumpai lautan apalagi yang airnya berwarna semerah darah.


Yang mereka temukan justru sebuah Gunung yang menjulang seolah menembus langit dengan puncaknya yang dipenuhi oleh Salju menghadang tepat di depan mereka.


“Gunung Himalaya!!” Huang Bao baru tersadar akan hal tersebut. “Cepat putar ke arah kiri jangan melewatinya!”


Mendengar suara panik dari Pertapa Sakti Pulau Persik itu, Hao Long dan Ao Lang yang tertegun, segera memerintahkan Jin Shin untuk mengubah arah terbangnya.


Namun hal itu tampaknya sedikit terlambat, karena tiba-tiba dari arah depan bawah mereka, melesat lima buah tombak salju yang menderu sangat cepat ke arah tubuh Jin Shin yang mengaum keras karena terkejut mendapat serangan itu.


Huang Bao segera melesat, dengan kedua tangannya yang telah bersinar sangat terang karena telah dialiri energi qi dalam jumlah besar.


Ia segera melesatkan lima buah energi beruntun untuk menghadang ke lima tombak salju tersebut.


BUM!!


Lima ledakan beruntun terdengar sangat kuat menghasilkan fluktuasi udara yang membuat tubuh Jin Shin terpental hingga puluhan meter dengan Ao Lang dan Hao Long yang terlempar dari punggungnya.


Wajah pucat Huang Bao yang juga terlempar belasan meter akibat ledakan itu, membuat Ao Lang mendapat firasat buruk. Ia segera melesat mendatangi Huang Bao yang sedang menatap ke sebuah arah.


Selang beberapa detik kemudian, sesosok perempuan melayang perlahan dan berhenti dengan anggun di hadapan mereka.


“Apa tujuan kalian mendatangi tempat kami?” Suara perempuan bergaun putih dengan wajah yang sangat cantik itu, membuat Huang Bao mengerutkan dahinya.


“Kami tidak bermaksud mendatangi Anda Nyonya! Kami hanya lew… “Perkataan Huang Bao terputus. “Jangan Panggil aku Nyonya … Aku belum menikah!”

__ADS_1


Suara marah perempuan yang kini terlihat sangat gusar itu, membuat Huang Bao menggaruk mengelus jenggotnya dengan benak dipenuhi pertanyaan tentang siapa sosok perempuan tersebut.


-------------------------O------------------------------


__ADS_2