Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
Labasha


__ADS_3

Di Dunia Elemen.


Long Bai yang saat itu sedang berkultivasi, tiba-tiba kembali merasakan firasat buruk sejak ketiga rekannya kembali ke kota masing-masing.


Tiba-tiba saja Ia merasakan dua Aura kekuatan besar mendatangi Kota Shanduan dengan sangat cepat. “Dua Aura kekuatan ini sangat besar sekali, melebihi Aura Kekuatan Penguasa Fung Jie. Siapa mereka?”


Long Bai segera bangkit dari duduknya dan mengenakan jubah lain yang Ia keluarkan dari Cincin Ruangnya. Jubah yang tadi Ia kenakan, telah menjadi debu, hangus terbakar oleh panasnya petir yang keluar dari tubuhnya.


Ia pun segera melesat keluar dari dalam ruang kultivasinya, dan melihat seluruh Tetua Klan telah berada di udara. Saat Long Bai melesat ke tengah-tengah mereka, sepasang suami isteri yang terlihat berusia dua puluhan tahun, telah tiba di depan mereka.


Mata Long Bai melotot lebar dengan tubuh yang seketika bergetar hebat, demikian juga dengan para Tetua Klan saat melihat apa yang ada di genggaman tangan pemuda tampan itu.


“Tidak mungkin! Kejam Sekali mereka!” Suara Long Bai terdengar bergetar, Ia tak ingin percaya bahwa Kepala dengan leher yang masih meneteskan darah itu adalah kepala Wushang.


“Jika tak ingin bernasib sama dengan orang ini dan seluruh penduduk Kota itu, lekas katakan siapa yang telah membunuh Hung Fei!”


Chao Cheng berkata seraya melempar kepala Wushang yang telah Ia penggal dengan menggunakan jari telunjuk tangan kanannya.


Long Bai segera menyambar kepala Wushang yang terlempar kepadanya dan segera merapatkan mata sosok Ketua Klan Elemen Tanah itu, yang telah tewas dengan mata melotot lebar.


“Saudara Wushang … Tidak Ku sangka tadi pagi adalah pertemuan terakhir kita.” Long Bai lalu memanggil seorang Tetua Klan dan menyuruhnya untuk memakamkan Kepala Long Bai.


Setelah Tetua Klan itu pergi, Long Bai menatap tajam ke arah Chao Cheng yang sedang tersenyum. “Tak perlu repot-repot menguburnya.”


Chao Cheng mengarahkan telunjuk tangan kirinya ke arah Tetua Klan yang membawa kepala Wushang untuk di makamkan.


WHUSSSS


BLAAMMM


BLAAAMM


Selarik sinar merah kehitaman, melesat keluar dari ujung jari Chao Cheng. Terjadi ledakan sangat keras, saat tubuh tetua itu meledak hancur.


Bukan hanya itu saja, cahaya merah kehitaman itu, terus melesat dan menghancurkan lima buah bangunan hingga rata dengan tanah.


Suara panik para penduduk kota Shanduan yang melihat puluhan orang tewas dengan tubuh berkeping-keping, seolah tidak terdengar oleh Long Bai dan yang lainnya.


Mereka sedang terpana dengan kekuatan sangat cepat dan besar, dari sosok pemuda tampan yang ternyata sangat kejam itu. Puluhan kultivator dari ratusan kultivator klan Petir, segera melesat kabur ke arah barat, barat daya dan barat laut kota Shanduan.


Thian Li hanya tersenyum sesaat sebelum tubuhnya menghilang dari samping sang suami.


Long Bai kembali terpana, saat melihat puluhan anggotanya yang kabur, telah berjatuhan dengan kepala terpisah dari badan mereka.


“Masih berani bungkam?! Cepat katakan Siapa orang yang telah membunuh Hung Fei!” Chao Cheng membentak Long Bai dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Long Bai menelan ludahnya, belum pernah seumur hidupnya Ia begitu merasa takut hanya karena tatapan mata manusia, apalagi tatapan dari seorang yang pantas menjadi cucunya.


Melihat Long Bai masih diam saja, Chao Cheng pun menjadi kesal. Ia melesat bagai kilat, dan menghabisi ratusan Tetua Klan bersama dengan isterinya Thian Li.


Wajah Long Bai memucat saat sepasang muda-muda itu melayang perlahan mendekati dirinya. Saat itulah Long Bai menyadari jika tak ada pilihan lain yang bisa Ia lakukan.


Long Bai mengerahkan seluruh energi qi-nya. Tubuhnya segera diselimuti energi berupa petir yang panjang kilatnya hingga sepuluh meter.


Chao Cheng Hanya tersenyum tipis sebelum berkata kepada Long Bai. “Ingin melawan? Keras kepala sekali Kau Pak Tua? Aku akan membuatmu menderita selama berbulan-bulan sebelum kau menemui ajalmu.”


Lon Bai yang sudah tak memiliki rasa takut akan kematian, terkesiap mendengar ucapan Chao Cheng. Dan saat Ia akan melepas serangan kepada pemuda itu, Chao Cheng telah menghilang dari hadapannya.


AARGGGGGHHH


Long Bai meraung keras, Ia jatuh tak sadarkan diri dengan tubuh yang masih diselimuti petir. Mungkin itu lebih baik baginya, karena Ia tidak melihat bagaimana jerit tangis ketakutan dari para perempuan dan anak-anak yang dibantai oleh Thian Li dan Chao Cheng dengan sangat kejam.


Kota Shanduan telah hening, saat Long Bai tersadar beberapa jam kemudian. Dan Ia hanya bisa tertunduk lesu, saat menyadari apa yang Ia alami.


***


“Hahahaha … Benarkah Kau Annabi? Bekas Ratu Dunia kami yang hanya pandai bersolek itu!”


Wajah Annabi seketika berubah warna setelah mendengar ucapan Sosok laba-laba di depannya. Ia tiba-tiba melesat sangat cepat ke arah Laba-laba yang baru saja menghinanya.


BUGHHHH


AARGGGGHH


Tubuh Laba-laba itu, seketika terjatuh dengan luka yang amat parah, sehingga Ia tak bisa lagi menguasai diri, saat tubuhnya yang meluncur deras ke sebuah pohon besar yang telah hampir mati dan tak memiliki daun.


Namun sebelum tubuhnya tertusuk oleh sebatang dahan lancip dari pohon itu, sebuah bayangan melesat cepat menahan tubuhnya dan melemparkan ke sebuah pohon yang dipenuhi dedaunan.


“Bodoh Kau Labadhu!” Sosok yang datang, memiliki tubuh yang jauh lebih besar dan warna tubuhnya juga berbeda, bukan hitam seperti ratusan laba-laba lain, melainkan berwarna merah darah.


“Kakak Labasha … beruntung sekali Kau datang…!” Labadhu tak kuasa lagi menahan sakitnya, Ia pun jatuh ke tanah dengan kondisi tak sadarkan diri.


Sesosok Laba-laba lain, menghampiri tubuh Labadhu dan memeriksanya. Setelah mengetahui adiknya hanya pingsan saja, Labasha segera melesat ke arah dimana Hao Long dan yang lainnya berada.


“Labasha! Berani sekali kau menolong anak buah mu yang kurang ajar itu!” Annabi membentak Labasha yang wajahnya menunjukkan kemarahan kepada Annabi.


Tentu saja Annabi terkejut melihat raut wajah marah yang ditunjukkan oleh Labasha. “Annabi! … Kau bukan Ratu kami lagi, Kau adalah buronan Istana Siluman. Kami sudah lelah bertahun-tahun mencarimu. Ternyata Kau datang sendiri pada kami Hahahaha.”


Tentu saja Annabi dan ke lima orang yang lainnya tidak begitu terkejut mendengar perkataan Labasha yang kemudian berkata lagi dengan congkaknya.


“Akhirnya hari ini Aku akan bisa menangkap dirimu. Kalian semua! Tangkap perempuan ular itu dan para kecoa yang bersamanya!”

__ADS_1


“Kecoa!” Hampir bersamaan Beiju dan yang lainnya berkata demikian. Beiju yang terlihat kesal, segera mengubah ukuran tubuhnya hingga menjadi setinggi dua puluh lima meter.


“Apa Kau bilang tadi? Kecoa?? Bagiku kamulah yang kecoa itu, warna mu juga merah dan tubuhmu juga bau seperti kecoa yang tak pernah mandi!” Suara Beiju yang bertubuh raksasa menggelegar di udara


Selesai berkata begitu, Beiju segera melayangkan tongkat penguasa yang kini juga berubah panjangnya menjadi sekitar sepuluh meter.


Labasha yang terkejut melihat ukuran tubuh Beiju yang sangat besar, tersentak kaget saat tongkat besar Beiju sudah begitu dekat dengan dirinya.


Walau Ia berhasil menghindari pukulan Tongkat Beiju, namun angin dari serangan Tongkat Penguasa Dunia Org itu, membuat tubuh Labasha terpental hingga belasan meter.


Tiba-tiba Labasha tertawa kegelian saat merasakan ada sesuatu yang bergerak di bagian vital tubuhnya.


“Badan doang yang besar, ternyata barangnya kecil begini.” Kata Hao Long yang telah menarik keluar dengan paksa, sebuah benda sebesar jari tengahnya dari bagian belakang perut Labasha.


Labasha terkejut setengah mati saat mendapati barang sangat bertuah di tubuhnya itu, telah berada dalam genggaman tangan seorang manusia yang tak lain adalah Hao Long.


“Lepaskan! Jangan terus menariknya, nanti Aku tidak jadi Aku lagi!” Teriak Labasha panik. Hal itu membuat Hao Long tertegun sejenak dengan benak dipenuhi rasa penasaran.


“Aku tidak jadi Aku lagi??!! Sepertinya, benda ini akan berefek buruk baginya. Sebaiknya Aku tarik hingga lepas saja!”


AARGGGHH


“Jangan! … Hentikan”


Labasha menjerit histeris, saat Hao Long menarik paksa pusaka berharga miliknya. Annabi yang baru teringat sesuatu tentang hal itu, segera berteriak panik. “Tuang Long Jangan! Cepat Hentikan!”


Namun teriakan Annabi terlambat, Hao Long sudah menarik lepas alat reproduksi laba-laba jantan itu hingga mengeluarkan darah segar yang cukup banyak.


Labasha meraung sangat keras. Hao Long tersentak saat tiba-tiba merasakan energi sangat kuat, memancar dari tubuh Labasha hingga membuatnya terhempas jatuh dan hampir menabrak dedaunan yang berada satu meter lagi darinya.


“Apa yang terjadi?”


Hao Long terpana, matanya melotot lebar saat melihat tubuh Labasha diselimuti cahaya merah dan perlahan menyusut menjadi kecil disertai perubahan pada setiap bagian tubuhnya.


“Dia … Dia … Cepat pergi dari sini!” Annabi berteriak keras kepada yang lainnya. Hal itu membuat Ji Hua, Fung Jie, Li Annchi dan Beiju, terkejut dan keheranan melihat Annabi yang telah melesat meninggalkan mereka.


Sementara Hao Long segera melesat ke samping Beiju yang telah menggubah wujudnya menjadi setinggi Hao Long dan yang lainnya.


Sementara Annabi yang menyadari ke lima rekannya tidak mengikuti dirinya, segera berhenti dan membalikkan badannya.


“Bodoh! Mengapa mereka masih di sana? Mereka tidak tahu siapa yang akan mereka hadapi nanti!”


Setelah mengumpat kesal pada kelima rekannya, Annabi pun melayang kembali dengan hati yang was-was. Apalagi setelah melihat sosok Labasha yang telah berubah menjadi sosok lain yang tidak pernah ingin Ia temui selama hidupnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=-O-\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2